
Niram tiba di halte bus bertepatan dengan Magdalena yang baru turun dari motor. Sesaat kemudian, kedua sahabat baru itu pun saling berpelukan.
"Apa kabar, Ram?" sapa Magdalena.
"Alhamdulillah baik, Len," jawab Niram.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Sebenernya aku khawatir banget kalau kamu sakit, Ram," ungkap Magdalena.
"Aih, kenapa bisa berprasangka seperti itu?" tanya Niram seraya menautkan kedua alisnya.
"Emh ... soalnya, kemarin wajah kamu kelihatan pucat banget, Ram. Mungkin karena kepanasan dan habis berjalan kaki cukup jauh juga, kali," jawab Magdalena.
"Hmm, bisa jadi juga, Len,"timpal Niram.
"Awalnya aku ingin menanyakan kabar kamu. Eh, enggak tahunya aku lupa nanyain nomor HP kamu. Hehehe, ..." ujar Magdalena, terkekeh. "Mana, sini nomor teleponnya! Biar aku save," lanjut Magdalena.
Niram tersenyum tipis seraya berkata, "Maaf, Len. Aku enggak punya HP."
Mendengar jawaban Niram, Magdalena hanya terbengong. Astaga! Hari gini kok masih ada orang yang enggak punya HP. Padahal, HP sudah menjadi sebuah budaya di masyarakat sekarang. Rasanya aneh dan hambar jika harus hidup tanpa memegang benda pipih pintar tersebut. Mungkin seperti itulah perkiraan Magdalena.
"Ya sudah, kita ke mana dulu nih?" tanya Magdalena memecah keheningan.
"Emm ... kamu tahu alamat ini enggak, Len?" tanya Niram.
Magdalena mengambil secarik kertas yang disodorkan sahabatnya. Dahi Magdalena sedikit mengernyit saat mencoba mengingat alamat yang tertera di kertas itu.
"Sepertinya aku tahu alamat ini, Ram. Memangnya, kenapa dengan alamat ini?" tanya Magdalena.
"Kata pamanku, di kantor ini ada lowongan pekerjaan, Len," jawab Niram.
"Benarkah?" Wajah Magdalena terlihat sumringah. "Kalau gitu, ayo kita ke sana Ram!" ajaknya.
Niram mengangguk. Dia kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Magdalena yang berjalan menuju jembatan penyeberangan.
.
.
Puas memporak-porandakan isi kamarnya, Imas lantas pergi ke kamar mandi. Di sana, dia hanya membasuh muka serta menggosok gigi saja.
Sejak hamil anak kedua dan dinyatakan kembar. Entah kenapa Imas begitu meringis terhadap air. Rasanya, pori-pori di tubuh Imas terasa sangat sakit jika terkena air, sekalipun itu air hangat.
Selesai melakukan kedua rutinitas tersebut, Imas kembali ke kamarnya. Dia pun berganti pakaian dengan mengenakan pakaian yang cukup rapi.
Peralatan make-up yang ia lemparkan ke sembarang arah, dia punguti kembali. Imas mulai memoles wajahnya dengan make-up natural.
Selesai berdandan, Imas menyambar tas tangan yang tergantung di samping lemari. Setelah itu, dia keluar dari kamarnya.
Imas mengambil kunci yang tergantung pada sebuah paku di dekat saklar. Setelah dia keluar rumah, Imas pun mengunci pintunya rapat-rapat. Tiba di ujung gang, Imas menaiki ojek yang sedang mangkal.
__ADS_1
"Jalan Delima, Pak!" kata Imas seraya menepuk pelan bahu si abang ojek.
"Siap, Mpok!" sahut si abang ojek.
Tak lama berselang, ojek pun melaju menuju alamat yang disebutkan Imas.
.
.
Halim sedikit terlambat tiba di kantornya. Kening rekan kerja Halim pun mengernyit ketika melihat Halim baru melakukan finger print. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul 08.20.
"Tumben lu telat, Lim?" tegur Akhtam.
"Tadi ada sedikit urusan di jalan, Tam," jawab Halim seraya membuka jaket dan menyampirkannya pada sandaran kursi.
"Jangan bilang kalau lu mampir dulu ke rumah jande," ledek Akhtam.
"Mana ada!" tukas Halim. "Gue mah orangnya setia, Tam. Biar kata punya bini cerewet juga," imbuhnya.
"Hahaha, ..." Akhtam tertawa, "terus, kenapa lu telat?" tanyanya.
"Tadi ada sedikit masalah di rumah. Terus, gue juga harus antar ponakan yang mau cari kerja. Ya, terlambat jadinya," jawab polos Halim.
"Jadi, ponakan lu belum dapat kerja juga?" tanya Akhtam.
"Ya, kamu sendiri tau lah ... kalau zaman sekarang ini, susah banget cari kerjaan," kata Halim.
Halim hanya tersenyum kecut mendengar ucapan rekan kerjanya.
"Pak Halim, dipanggil Bu Mona di ruangannya."
Tiba-tiba salah satu karyawan di bagian administrasi menghampiri pos penjagaan keamanan dan memanggil Halim.
"Dipanggil Bu Mona?" tanya Halim sembari mengernyitkan keningnya.
Dea –staf administrasi– mengangguk.
"Maaf, Mbak. Ada apa Bu Mona memanggil saya, ya?" tanya Halim.
Dea mengulum senyum. "Maaf, Pak. Dea kurang tahu, tapi Pak Halim diperintahkan untuk menemui beliau di ruangannya saat ini juga," jawab Dea.
Halim dan Akhtam saling pandang.
"Apa mungkin gara-gara gue terlambat barusan, Tam?" tanya Halim.
Akhtam tidak menjawab. Dia hanya menggedikkan kedua bahunya menanggapi ucapan Halim.
"Ya sudah Pak, kalau gitu Dea pamit dulu. Mau balik kerja lagi," pamit Dea.
__ADS_1
Setelah Dea pergi, Halim hanya bisa bergeming di tempat duduknya. Entah kesalahan seperti apa yang telah dia lakukan sehingga manager memanggilnya.
Satu-satunya kesalahan yang aku lakukan hanyalah keterlambatan aku tiba di kantor. Itu pun terjadi hari ini. Namun, apa mungkin hanya karena hal itu, pihak manager memanggilku? Kenapa aku tidak ditegur atau diberikan SP 1 saja, bukan malah langsung dipanggil seperti ini? batin Halim.
"Sebaiknya lu temuin dulu Bu Mona, Lim. Jangan sampai beliau marah karena lu telat nemuin dia," saran Akhtam.
Halim mengangguk. "Oke, Tam. Gue pergi dulu."
Halim mengayunkan langkah kakinya menuju ruangan manager yang berada di lantai dua. Tiba di sana, Halim mengetuk pintu ruangan atasannya.
"Masuk!" Terdengar perintah tegas suara wanita dari dalam ruangan.
Halim menekan gagang pintu dan membukanya. "Maaf, Bu. Apa Ibu memanggil saya?" tanya Halim.
"Masuklah Pak Halim!" perintah Mona.
Halim melangkahkan kaki memasuki ruangan manager.
"Silakan duduk!" lanjut Mona memberikan perintah lagi.
"Terima kasih, Bu," jawab Halim seraya menduduki kursi yang berada di depan meja Mona.
"Apa Pak Halim tahu, kenapa saya memanggil Bapak kemari?" tanya Mona, menatap tajam kepada Halim.
Mendapatkan tatapan tajam bak sebilah anak panah yang siap melesat, membuat nyali Halim menciut seketika. Sudah menjadi rahasia umum jika Mona adalah seorang manager yang tegas, disiplin, dan juga berprinsip. Dia pasti akan memberikan sanksi sepadan kepada karyawan yang tidak mematuhi aturan kantor.
"Ma-maaf, Bu. Saya tidak tahu," jawab Halim yang kemudian menundukkan kepalanya.
Melihat gelagat Halim seperti itu, Mona merasa sedikit curiga. Jangan-jangan, penjaga keamanan itu telah berbuat salah, pikir Mona.
"Ada apa, Pak Halim? Kenapa wajah Bapak terlihat pucat seperti itu? Apa Bapak sakit?" tanya Mona bertubi-tubi.
"Ti-tidak, Bu. Sa-saya baik-baik saja," jawab Halim terbata. "Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Saya janji, kejadian pagi ini tidak akan terulang lagi."
Karena merasa bersalah akibat melanggar aturan kantor, Halim pun menceritakan keterlambatannya pagi ini. Tak lupa, dia juga menceritakan alasan keterlambatannya secara detail.
Mona tersenyum tipis. Apa yang akan aku lakukan saat ini berarti sudah sangat tepat. Selain memiliki kinerja yang bagus, Pak Halim juga ternyata orang yang sangat jujur, batin Mona.
"Baiklah Pak Halim, saya sangat mengapresiasi kejujuran Pak Halim hari ini, dan hal itu membuat saya semakin yakin atas keputusan saya untuk mempromosikan Bapak sebagai kepala divisi keamanan di kantor ini," tutur Mona.
"Ma-maksud Ibu?" tanya Halim, heran.
"Maksud saya ... setelah menjalani pendidikan latihan kepemimpinan selama dua minggu, maka Bapak resmi naik jabatan menjadi kepala bagian keamanan di kantor kita ini," jawab Mona, memperjelas pernyataannya.
"Be-benarkah?"
Mona mengangguk. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas ketika melihat raut wajah Halim yang terharu sekaligus kebingungan.
"Selamat ya, Pak Halim!" lanjut Mona seraya mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... Masya Allah ... Subhanallah ... terima kasih, Bu!"
Halim menyambut uluran tangan managernya seraya mengucap syukur.