Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Keterlaluan!


__ADS_3

Subrata terus menggerutu ketika pesawatnya delay. Dering ponselnya tidak pernah berhenti. Namun, saat dia ingin menjawab panggilan tersebut, lagi-lagi sambungannya terputus. Hujan begitu deras, sehingga sinyal di ponselnya hilang.


Sudah hampir satu jam keberangkatan pesawat menuju Jogja mengalami penundaan. Alasannya, karena cuaca sedang buruk.


Uuh, entah Tuhan memiliki rencana apa. Padahal waktu berangkat dari rumah, cuaca terlihat baik-baik saja. Tak ada mendung sedikit pun, meskipun langit gelap karena suasana malam. Subrata pun semakin menggerutu kesal.


Pria tua yang masih nampak tegap itu pun kembali berjalan ke meja informasi.


"Permisi, Mas. Kira-kira kapan pesawatnya bisa mengudara?" tanya Subrata.


"Mohon maaf, Tuan. Cuaca sedang begitu buruk malam ini. Bahkan, kami mendapatkan informasi, sedang terjadi hujan badai di rute yang hendak dilalui pesawat. Kami sendiri tidak tahu kapan hujan badai itu akan berhenti," tutur pemuda yang berjaga di bagian informasi.


"Apa itu artinya ... tidak bisa diprediksi lagi, kapan pesawat akan berangkat?" tanya Subrata ingin memastikan jawaban.


"Kita lihat saja satu jam ke depan, Tuan. Jika cuaca masih belum stabil juga, mungkin penerbangan ditunda sampai esok hari," jawab petugas informasi.


"Apa?!"


.


.


Kania masih terus mondar-mandir di ruang keluarga, membuat sang ayah menautkan kedua alisnya. Sedangkan putranya, masih tetap fokus menonton TV. Meski sesekali melirik ke arah Kania.


"Duduklah, Nduk! Bapak pusing lihat kamu mondar-mandir begitu. Ono opo to, Nduk? Ket maeng kok yo ketoke gak tenang ngunu?" (Ada apa toh, Nak. Dari tadi kok kelihatan cemas gitu?)


Darma bertanya kepada putri semata wayangnya.


"Ini, Pak ... mas Kusuma dari tadi tidak bisa dihubungi. Nia khawatir terjadi sesuatu sama dia," jawab Kania.


"Hmm ... mungkin bojomu lagi dalam pesawat, Nduk. Itu mangkanya ponsel dia tidak aktif. Tenang saja," lanjut Darma.


"Iya, Pak ... semoga saja. Uuh, awas saja kalau sampai dia tidak merayakan lebarannya di sini," dengus Kania merasa kesal.


Ahsan hanya bisa menghela napas. Jika sampai ayahnya tidak datang malam ini, itu artinya, dia akan kembali merayakan idul Fitri tanpa sang ayah.


"Astaghfirullah ... bahkan suasana panti asuhan saja masih terasa hangat ketimbang di rumah gedong ini," gerutu Ahsan, berlalu pergi dari hadapan kakek dan ibunya.


"Mau ke mana kamu, Le?" tanya Damar kepada cucunya.


"Ahsan ngantuk, Mbah. Ahsan mau pergi tidur, takut kesiangan shalat ied, besok," sahut Ahsan.

__ADS_1


"Ya sudah, tidurlah!" lanjut Damar.


Untuk sejenak, pria yang usianya sudah di atas kepala tujuh itu, hanya bisa menarik napas panjang. Dia merasa prihatin melihat reaksi cucunya. Sejak istrinya meninggal, sang cucu berubah menjadi lebih pendiam lagi. Hari-harinya hanya dihabiskan di kamar untuk mempelajari qiraat.


"Ahsan pergi pasti karena dia merasa kecewa sama ayahnya, Pak," kata Kania.


"Sudah, biarkan saja, Nduk. Namanya juga anak-anak. Besok pasti dia ceria lagi," jawab Damar.


"Ish, Bapak. Ahsan itu sudah bukan anak kecil lagi. Usianya sudah 22 tahun," tukas Kania.


"Ya, terus?" tanya Damar.


"Huh, semua ini memang gara-gara mas Kusuma. Sebagai seorang ayah, dia memang tidak pernah bisa diandalkan. Keterlaluan!"


Kania mendengus kesal. Dan rasa kesal Kania sepertinya sudah mencapai puncaknya.


"Wes to, Nduk, ojo nesu wae (Sudah Nak, jangan marah-marah terus) sebaiknya kamu istirahat sekarang, biar besok pagi terlihat segar. Bukankah esok kita akan merayakan hari kemenangan? Kalau bojomu datang, biar nanti Gun yang akan membukakan pintu," perintah Damar kepada anaknya.


"Iya, Pak," sahut Kania.


Wanita yang masih terlihat segar meskipun telah memasuki usia lima puluh tahunan itu, mulai menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarnya. Dalam hati, dia terus menggerutu akan sikap sang suami.


.


.


Insha Allah ... Insha Allah ... Insha Allah ... you'll find your way. 🎶


Lirik lagu milik Maher Zain terus menggema di kamar Niram. Lirik yang dia jadikan sebagai nada dering di ponselnya, sontak membuat Niram membuka kedua matanya. Bibirnya sedikit mengerucut menyadari jika ini masih terlalu malam untuk terjaga.


Niram menyalakan lampu duduk di atas nakas. Sedetik kemudian, dia meraih ponsel yang terus melantunkan lagu favoritnya. Dahi Niram sedikit mengernyit ketika mengetahui nama si pemanggil.


"Ish, ada apa mas Subrata menelepon aku di jam segini?" gumam Niram.


Niram mulai bangun. Sejenak, dia mengatur posisi duduknya agar merasa nyaman. Tak lama setelah itu, Niram kemudian mengangkat telepon dari salah satu pengguna jasanya.


"Halo, Mas!" sapa Niram.


"Di mana kamu?" Subrata melayangkan pertanyaan tanpa basa-basi.


"Aku sedang di rumah, Mas," jawab Niram.

__ADS_1


"Hmm, baguslah! Aku pikir kamu sedang melayani para pria hidung belang," ejek Subrata di ujung telepon.


Niram diam. Hatinya sakit mendengar perkataan yang begitu merendahkan harga dirinya. Namun, Niram tidak mampu menyahut kalimat-kalimat sinis yang terlontar untuk dirinya. Karena pada kenyataannya, profesi Niram sebagai wanita penghibur, telah membuat harga dirinya hancur tak bersisa.


Bagi masyarakat, Niram hanyalah sampah. Tidak sedikit orang-orang mencibir dan bahkan menghina dirinya. Termasuk para pria hidung belang yang mencicipi tubuhnya.


"Kenapa diam? Marah?" tanya Subrata di seberang telepon.


"Hhh ... aku tidak marah, Mas. Aku sadar dengan pekerjaanku sendiri. Akan tetapi, jika Mas menelepon aku hanya untuk menghina, maaf ... aku tidak punya waktu untuk melayaninya," ucap tegas, Niram.


"Hahaha,... Niram-niram ...."


Terdengar tawa keras dari ujung telepon. Tawa yang penuh dengan ejekan. Namun, Niram masih berusaha untuk tidak menghiraukannya.


"Ya sudah, tidak usah dibahas pula," lanjut Subrata. "Datanglah ke hotel Grand, sekarang juga!"perintah Subrata.


Kening Niram mengernyit ketika mendengar perintah Subrata. Hmm, untuk apa dia memberikan perintah kepadaku? Bukankah dia sedang berada dalam perjalanan pulang ke Jogja?" batin Niram


"Aku tunggu dalam waktu satu jam. Kamu harus sudah berada di hotel ini!" tegas Subrata, kembali memberikan perintah.


"Maaf, Mas, Niram tidak bisa," jawab Niram.


"Hei ... apa maksud kamu tidak bisa?" tukas Subrata yang sedikit terkejut mendengar jawaban Niram.


"Jam kerja Niram sudah selesai. Lagi pula ... untuk apa Mas menyuruh Niram ke hotel, sedangkan Mas sendiri sedang dalam perjalanan pulang kampung ke Jogja?" celetuk Niram.


"Pesawatku delay. Kemungkinan penerbangan ditunda sampai esok. Cepat kemarilah dan temani aku!" Subrata kembali memberikan perintah.


"Tidak bisa, Mas!" ulang Niram.


"Tapi Kenapa? Apa alasannya hingga kamu tidak bisa datang?" desak Subrata.


"Pengasuh anakku sudah pulang kampung, jadi aku tidak bisa meninggalkan anakku sendirian di rumah," tutur Niram.


"Huh, sudah aku bilang sedari dulu ... simpan anakmu di panti asuhan! Dengan begitu, kamu tidak akan punya alasan untuk tidak melayani aku!" teriak Subrata, terdengar mendengus kesal.


Mendengar ucapan tidak masuk akal dari pelanggannya. Niram pun mulai jengkel.


"Keterlaluan kamu, Mas!" seru Niram yang sedetik kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Niram menatap sang buah hati yang masih terlelap begitu nyenyak. Sepintas, kenangan lama kembali berkelebat dalam ingatannya. Kenangan saat dia tidak menginginkan anak itu pun, kembali hadir dalam memori Niram.

__ADS_1


__ADS_2