Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Tangkapan Sempurna


__ADS_3

Ahsan tidak bisa membujuk sahabatnya lagi. Pertengkaran di depan kedua mata Natasya, telah mematahkan bujukan Ahsan terhadap Natasya beberapa jam yang lalu.


"Sorry!" ucap pelan Ahsan saat membonceng Natasya keluar dari halaman rumah Natasya.


"Enggak pa-pa, San. Bukan salah lu juga," sahut Natasya, berbicara tanpa semangat.


Ahsan tahu jika perasaan sahabatnya saat ini sedang kacau balau. Karena itu, pemuda berjambang tipis itu pun menepikan motornya di sebuah jembatan layang yang berada di kawasan Jakarta Pusat.


Tanpa menunggu perintah, Natasya turun dari motor Ahsan. Dia menginjakkan kakinya di atas trotoar. Kedua tangannya memegang pembatas jembatan. penglihatannya mulai buram karena terhalang kabut air mata.


Ahsan yang memperhatikan rasa kecewa Natasya, segera menghampirinya. Dia merangkul pundak sahabatnya.


"Menangislah jika lu emang pengen nangis, Sya," ucap Ahsan.


Natasya menggelengkan kepala. Dadanya terasa sesak, seolah terimpit beban yang begitu berat.


"Atau lu pengen teriak? Luapkanlah! Di sini lu boleh teriak sekencang-kencangnya. Gue yakin, enggak bakalan ada orang yang merhatiin lu di sini," oceh Ahsan.


"Aaargh! Brengseeeekk!!"


"Astaghfirullah! Enggak di kuping gue juga kali, Sya!"


Ahsan menggerutu kesal ketika Natasya dengan sengaja berteriak tepat di depan telinganya. sedangkan gadis bertubuh sintal dan berambut pirang bergelombang itu, hanya bisa tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Ahsan yang berubah kecut


"Thanks, San!" ucap Natasya.


"thanks? For ...?"


"Makasih karena selalu ada si samping gue setiap saat," sahut Natasya.


"Hahahaha, kepaksa juga, Neng. abis gue nggak punya temen lagi selain lu," gurau Ahsan.


"Ajig! Kampret lu!" gerutu Natasya, mengerucutkan bibirnya.


Ahsan kembali merangkul Natasya. "Canda atuh, Neng! sekarang kita ke mana? Ke rumah lu, apa kost-an?" tanya Ahsan.


"Kost-an aja, San."


.


.


Keesokan harinya. Setelah mengantarkan anaknya ke sekolah, Imas kembali ke rumah. Entahlah, sepertinya hari ini dia memiliki energi baru. Sehingga begitu bersemangat dalam menyambut hari Senin.

__ADS_1


"Gimana, Ram. Apa sudah siap?" tanya Imas begitu tiba di rumahnya.


"Sedikit lagi, Tan. Niram belum ngepel lantai," jawab Niram.


"Tapi lantainya udah disapu, 'kan?" lanjut Imas.


"Sudah, Tan," jawab Niram.


"Ya sudah, ngepelnya besok saja. Takut kesiangan juga. Ayo, bersiap-siaplah!" perintah Imas.


Sebenarnya Niram merasa heran dengan perintah Imas. Bukannya semalam Imas bilang, kafenya buka siang? Tapi entah kenapa sang bibi terlihat begitu terburu-buru hendak mengantarkan dia pergi.


"Buruan! Kok malah, bengong!" tegur Imas yang seketika membuyarkan lamunan Niram.


"Eh, i-iya Tante. Niram ke belakang dulu untuk menyimpan ini," jawab Niram seraya menunjukkan sapu dan pengki di kedua tangannya.


"Ya udah, buruan sana!" Imas kembali memberikan perintah.


Dengan tergesa-gesa, Niram kembali ke belakang untuk menyimpan kedua benda tersebut. Setelah itu, dia mencuci tangan dan berlari ke kamar untuk berganti pakaian.


Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap bagi seorang Niram Kirana. Penampilan yang sederhana tanpa make up pun, sudah membuat gadis itu sangat cantik dan menarik.


Niram meraih surat lamaran yang sudah dipersiapkan semalam dari atas dipannya. "Bismillahirrahmanirrahim ... semoga bisa diterima bekerja. Aamiin," gumam Niram sebelum akhirnya keluar dari kamar.


.


.


"Siap, Mpok!" jawab si tukang ojek.


Tak lama kemudian, tukang ojek tersebut memanggil rekannya yang lain. Setelah ojeknya siap, Imas dan Niram menaikinya.


"Tempat biasa ya, Bang!" lanjut Imas.


"Oke, Mpok!"


Niram menautkan kedua alisnya melihat interaksi antara sang bibi dengan si tukang ojek. Hmm, mungkin itu ojek langganan tante Imas, karena itu mereka terlihat akrab sekali, batin Niram tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, kedua ojek itu melaju cukup kencang. Jalanan terlihat lengang, karena jam kantor sudah dimulai. Akhirnya, setelah setengah jam berlalu, kedua ojek tersebut berhenti di depan sebuah rumah yang halamannya... hmm, sudah bisa dipastikan, sangat berantakan.


"Ayo turun!" titah Imas kepada keponakan suaminya.


Niram menurut. Dia pun turun dari atas boncengan. Setelah membayar ongkos ojeknya, Imas mengajak Niram memasuki halaman rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Paaak! Bapaaak!"


Imas berteriak kencang begitu menginjakkan kakinya di teras rumah. Niram sangat terkejut melihat sikap bibinya.


Astaghfirullah, bukankah tante bisa mengetuk pintunya jika sudah sampai? Kenapa harus berteriak-teriak seperti ini? Uuh, mengundang perhatian para tetangga saja, batin Niram sembari mengedarkan pandangannya.


Jujur saja, Niram merasa risih ketika harus menjadi pusat perhatian para tetangga di sekitar rumah yang terlihat kotor dan bau itu.


"Huh, dasar anak bar-bar! Tidak bisakah lu ketuk pintu dulu, ucap salam dulu saat masuk rumah orang tua, hah!" tegur Noor seraya berdiri di ambang pintu.


"Ih, minggir! Gue enggak nyari lu!" ujar Imas seraya mendorong kasar bahu ibu tirinya ke samping kanan.


"Aih, dasar anak kurang didikan! Enggak ada akhlak sama sekali!" dengus Noor, seraya mengusap-usap bahu kanannya yang terasa nyeri setelah menghantam kusen pintu.


Niram terpaku melihat ulah kedua wanita berbeda generasi itu. Apa cara bersikap wanita kota memang seperti ini? Yang muda tidak memiliki hormat kepada yang tua, sedangkan yang tua hanya bisa membentak-bentak yang muda.


"Astaghfirullah!" gumam Niram seraya mengelus dadanya.


Mendengar gumaman seseorang, Noor baru sadar jika ada seorang gadis cantik berhijab tengah berdiri tak jauh dari hadapannya.


"Eh, siape lu?" tanya Noor menatap Niram dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


"Sa-saya Niram, Bu," jawab Niram, mengulurkan tangan.


Tentu saja Noor tidak sudi untuk berjabat tangan dengan orang asing. Keningnya mengernyit, pertanda dia semakin penasaran dengan sosok gadis itu.


"Saya keponakannya paman Halim, suaminya tante Imas," lanjut Niram.


"Oh, ponakan si Halim," ulang Noor, "lah, elu ngapain kemari?" tanya Noor.


Jujur saja, Noor sendiri merasa heran dengan kedatangan Imas yang membawa keponakannya. Selama ini, yang dia tahu, Imas tidak pernah menyukai keluarga dari suaminya yang kampungan. Namun, sekarang entah kenapa anak tirinya datang dengan membawa keponakan suaminya.


Hmm, apa si Imas sudah berubah pikiran dan mulai menerima keluarga dari lakinya? batin Noor, masih menelisik perempuan yang mulai berdiri risih di hadapannya.


"Se-sebenarnya ... tante Imas mau mengajak saya ke kafe temannya, Bu. Kata tante Imas, temannya yang memiliki kafe, sedang mencari karyawan untuk bekerja di sana. Tante Imas menawari saya pekerjaan tersebut, dan hari ini kami hendak ke kafenya untuk melamar pekerjaan," papar Niram.


Mendengar jawaban Niram, Noor menyeringai. Dia mulai bisa mencerna apa maksud kedatangan Imas dengan gadis berhijab itu.


Hmm, buah jatuh emang enggak pernah jauh dari pohonnya. Pinter juga lu, Neng, nyari mangsa, batin Noor, kembali menatap Niram dengan senyum penuh misteri.


Sementara itu, dari balik pintu ruang keluarga, Sukma tersenyum senang melihat mangsa yang dibawa anaknya.


"Uuh, tangkapan sempurna, Neng!"

__ADS_1


__ADS_2