
Ahsan sangat terkejut ketika seseorang menggenggam tangannya begitu kuat. Dia pun menoleh untuk melihat siapa orang yang berani menyentuhnya tanpa permisi. Ahsan tertegun saat melihat seorang gadis terbaring pucat pasi di brankar yang tengah melintas di sampingnya.
Gadis itu seperti sedang mengatakan sesuatu. Namun, Ahsan tidak bisa mendengarnya. Ahsan kemudian sedikit membungkukkan badan untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh gadis itu. Namun, sedetik sebelum itu terjadi, seorang wanita paruh baya memutus genggaman tangan mereka.
"Ish, lepaskan! Apa kamu tidak tahu jika dia sedang membutuhkan pertolongan secepatnya!" dengus wanita paruh baya itu, "cepat jalan!" imbuhnya memberikan perintah kepada kedua perawat yang mendorong brankar Niram.
Ahsan terkesiap. Kejadiannya begitu cepat, hingga dia tidak mampu berbuat apa-apa.
Ya Tuhan, sebenarnya apa yang diucapkan oleh gadis itu? Kenapa matanya terlihat begitu sayu? batin Ahsan, menatap brankar yang semakin menjauh.
"Kita pergi ke mana lagi Den Ahsan?" tanya Pak Gun.
Pertanyaan Pak Gun sontak memutus pandangan Ahsan pada brankar yang berbelok menuju ruang pemeriksaan.
"Eh, kenapa Pak?" tanya Ahsan.
Pak Gun tidak begitu mendengar apa yang Ahsan tanyakan. Pria paruh baya itu hanya sibuk menepuk-nepuk telinganya yang kembali berdengung hebat.
Ahsan merasa iba melihat kondisi orang yang mengasuhnya semenjak kecil. Ia pun segera menggandeng tangan Pak Gun dan mengajaknya menuju poli THT.
"Ayo, Pak!"
__ADS_1
.
.
Hari ini merupakan hari terakhir Halim mengikuti pelatihan kepemimpinan. Acara yang sebelum dijadwalkan untuk satu minggu, ternyata harus dipercepat karena kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Sebentar terang, sebentar hujan badai.
Dan hari ini, entah kenapa perasaan Halim begitu tidak nyaman. Bahkan, Sugistiawan yang tak lain partner tim Halim sempat menegurnya beberapa kali.
"Yang fokus dong, Lim. Ini ujian terakhir kita, memangnya tidak sayang kalau sampai tidak lulus?"
"Iya, Bang. Saya enggak tahu nih, kok perasaan saya enggak enak banget," jawab Halim.
"Hmm, mungkin saja, Bang," sahut Halim.
"Ya sudah, ayo kita fokus lagi menjawab survei lingkungan. Ingat Lim, pertanyaan pada sesi ini sangat menjebak. Jadi kita harus hati-hati membacanya, supaya bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Aku mau, kita datang bersama, dan juga pulang bersama," lanjut Sugistiawan, memberikan semangat untuk rekan satu timnya.
"Iya, Bang."
Halim kembali berusaha fokus pada lembaran soal yang berada di hadapannya. Namun, bayangan Niram kembali berkelebat dalam benak Halim. Tiba-tiba saja dia merasa gelisah dan mencemaskan keadaan Niram. Tidak seperti biasanya, hari ini Halim sangat merindukan gadis cilik yang dia asuh sejak bayi di saat kakaknya pergi ke sawah.
Ya Tuhan, tolong jaga keponakan hamba, batin Halim.
__ADS_1
.
.
Setelah mengantarkan anaknya ke sekolah, Imas melanjutkan perjalanan menuju rumah ayahnya. Hatinya berbunga-bunga setelah ayahnya mengatakan sudah mengambil uang hasil menjual Niram.
Awalnya, kemarin siang Imas ingin menemui ayahnya untuk mengambil bagian. Namun, tiba-tiba saja perutnya terasa kram, Imas pun mengurungkan niatnya.
Tiba di rumah sang ayah, Imas tidak mengetuk pintu ataupun mengucapkan salam. Pintu rumah terbuka, karena itu Imas menyelonong masuk.
"Huh, sudah kek kadal saja," sungut Noor yang melihat anak tirinya masuk tanpa permisi.
Imas tersenyum manis kepada ibu tirinya. Hari ini, hatinya sangat senang setelah semalam sang ayah memberitahukan jatah bagiannya. Karena itu, dia tidak punya waktu untuk melayani kesinisan sang ibu tiri.
"Aih, ditegur malah cengengesan. Emang udah gesrek tuh, otaknya," cibir Noor.
"Terserah Ibu ... hari ini lu bisa ngoceh sepuas hati, gue enggak peduli! Lu omongin gue, gue bodo amat. Lu ngehina gue, gue bodo amat, lu munafik ma gue, gue bodo amat. Bahkan lu mati pun, gue mah bodo amat!" balas Imas bernyanyi seraya berlenggak-lenggok seolah sedang mengejek cibiran Noor.
Wanita paruh baya itu pun hanya menjulurkan lidahnya menanggapi sikap anak tirinya.
"Dasar gila!"
__ADS_1