
Entah kenapa, malam ini Hanafi sulit sekali untuk memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, seolah terimpit beban yang begitu berat.
Tiba-tiba saja, dia teringat akan putri semata wayangnya. Kerinduan semakin membuncah tatkala bayangan Niram mulai menari-nari di pelupuk mata.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak? Sudah lama Ayah tidak mendengar kabar kamu. Apa kamu betah tinggal di kota? Apa kamu baik-baik saja hidup di sana?" gumam Hanafi seraya meneteskan air mata.
Halimah yang melihat kedua bola mata suami berkaca-kaca lagi, hanya bisa menghela napas. Dia sadar jika saat ini Hanafi sedang merindukan anaknya.
Apa sebaiknya aku hubungi Halim saja, untuk menanyakan kabar Niram? batin Halimah yang merasa khawatir dengan keadaan suami.
.
.
Trek!
Kedua bahu Niram bergerak ke atas saat mendengar kunci pintu kamar terbuka. Pori-porinya seketika meremang membayangkan pria yang akan menyentuhnya dengan sengaja di malam ini.
Bayangan sosok pria bertubuh tinggi tegap mulai mendekat. Niram beringsut. Di sama sekali tidak ingin melihat bagaimana rupa Tuan Alfaruk itu.
"Hmm, sangat cantik," puji orang yang bernama Tuan Alfaruk dengan suara beratnya.
Niram semakin menundukkan kepala. Dia tidak punya kekuatan untuk menatap sosok pria yang berada di hadapannya. Niram takut kekuatannya akan runtuh jika harus bertatap wajah dengan pria yang akan menjamahnya malam ini.
Syerr!
Darah niram berdesir ketika merasakan sentuhan tangan dingin di pipi kanannya.
"Kenapa harus kau sembunyikan wajah cantikmu itu, Nona?" tanya pria itu seraya menarik dagu Niram.
Mau tidak mau, Niram menoleh dan beradu pandang dengan orang yang hendak membayar jasanya.
Deg-deg-deg!
Jantung Niram berdegup kencang melihat wajah pria itu. Pria dewasa yang usianya sebentar lagi mungkin akan mencapai kepala lima. Akan tetapi, wajah tampannya masih begitu kentara. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat dia masih terlihat gagah. Apalagi dada bidangnya, jelas menggambarkan keperkasaan pria itu.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? batin Niram.
Sementara Alfaruk merasa kebingungan. Entah kenapa, wanita yang hendak menjadi pelepas penatnya kali ini. Terasa begitu berbeda. Dia tidak selincah wanita biasanya, tidak seagresif wanita lain yang pernah memuaskan dahaganya. Meskipun pakaian yang dia kenakan begitu menantang kejantanannya. Namun, sendu di wajahnya, membuat Alfaruk merasa enggan untuk menerkamnya dengan buas.
"Apa ini pengalaman pertama kamu?" tanya Alfaruk.
Niram bergeming. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Ini memang pengalaman pertama. Namun, bukan yang pertama tubuhnya dinikmati oleh seorang pria. Niram tidak biasa untuk berbohong. Namun, dia takut tamunya kecewa setelah mengetahui keadaan Niram yang sebenarnya.
Tiba-tiba, kata hati Niram berbisik.
Hei! Kenapa harus memikirkan perasaan pria itu. Bukankah dia juga pria brengsek yang sering menikmati tubuh para wanita? Bedanya, dia membayar untuk hal tersebut. Ayolah, Ram. Dia bukan suami kamu, dan kamu tidak perlu merasa tak enak hati karena tidak pernah memberikan kesucianmu? Bukankah kamu datang ke sini hanya untuk bekerja, bukan bercinta atas dasar suka sama suka?
Niram tersenyum tipis. Perlahan dia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Alfaruk tersenyum senang. Itu artinya, dia mendapatkan seorang gadis sebagai pelepas lelahnya. Uh, betapa beruntungnya.
"Jadi, kau masih perawan?" Alfaruk kembali bertanya.
Kedua orang tua Niram, tidak pernah mengajarkan berbohong kepada dirinya. Karena itu, Niram menggelengkan kepala. Masa bodoh dengan rasa kecewa sang tamu. Niram pun tidak ingin bermain rasa dalam melakukan pekerjaan ini.
Melihat bahasa tubuh Niram, Alfaruk sontak menautkan kedua alisnya. Dia bersungut pelan karena teka-teki yang dibuat si wanita malam itu.
"Katanya pengalaman pertama, tapi bukan perawan. Huh, apa mak–"
"Saya korban rudapaksa!" jawab Niram memotong kalimat Alfaruk dengan sangat tegas.
Deg!
Alfaruk sangat terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa ratusan wanita yang pernah dia bayar untuk melayani hasratnya. Namun, baru kali ini dia Bertemu dengan wanita korban rudapaksa yang harus melayani birahinya. Sial, tentunya akan sulit sekali untuk melakukannya, dengus Alfaruk dalam hati.
Pulanglah! Aku tidak ingin bersenang-senang dengan mayat hidup!" ejek Alfaruk.
"Anda hanya perlu menyentuhku, dan biarkan bahasa tubuh kita saling mengenali satu sama lain!" ucap Niram.
Wow! Satu kalimat yang tiba-tiba membuat darah Alfaruk berdesir hebat. Sontak dia menatap tajam ke arah Niram.
Biarkan bahasa tubuh saling mengenali. Uh, ungkapan yang begitu bagus. Sepertinya, ini akan jauh lebih menantang daripada wanita-wanita yang pernah aku bayar. Monolog Alfaruk di dalam hati.
"Apa kau yakin?" tanya Alfaruk memastikan.
Niram mencoba menatap bola mata kecoklatan milik pria itu.
"Baiklah, Nona ...."
"Niram. Namaku, Niram.
"Ya, Nona Niram. Kita akan mulai malam ini dengan perlahan. Tak perlu ada kata-kata, hanya bahasa tubuh kita yang akan berbicara. Setuju?" sahut Alfaruk.
Niram hanya menganggukkan kepalanya menanggapi kalimat Alfaruk.
"Tidak usah khawatir, aku akan membuatmu merasa nyaman dengan pengatuan malam ini. Perlahan, tapi pasti ... aku akan membuatmu menjadi lihai dalam pekerjaanmu," bisik Alfaruk seraya mengendus ceruk leher Niram yang menyimpan sejuta aroma.
"Kalau begitu, buatlah aku menjadi seorang profesional dalam pekerjaan ini, Tuan," sahut Niram, memberanikan diri.
Alfaruk tersenyum lebar. Dia semakin mendekatkan wajahnya. Sedetik kemudian, Alfaruk menyambar bibir tipis Niram yang dipoles warna merah.
Sejenak, Niram hanya bisa mematung. Sungguh, dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya berciuman. Akan tetapi, sapuan lembut indera perasa laki-laki itu, telah membuat gelanyar aneh di sekujur tubuh Niram.
"Ish."
Niram sedikit meringis saat deretan kecil milik pria itu menggigit ujung bibir bawahnya. Mau tidak mau, Niram sedikit membuka bibirnya dan membiarkan indera perasa si lelaki, mengeksplor seluruh rongga mulutnya.
Sejenak, lelaki itu menghentikan ciumannya. Dia membiarkan Niram untuk mencerna apa yang sudah dia lakukan. Sesaat, matanya menatap lembut wanita berwajah teduh itu.
__ADS_1
"Apa kau sudah memahami pelajaran yang pertama?" tanyanya.
Niram mengangguk pelan.
"Ingin mempraktikkannya?" lanjut Alfaruk.
Sekali lagi, Niram mengangguk.
Tanpa menunggu waktu, Alfaruk kembali meraup penuh bibir Niram yang rasanya semakin kenyal. Senyumnya terbit tatkala gadis kecil itu mulai mengimbangi isapannya. Permainan indera perasa Alfaruk, kini dibalas sempurna oleh Niram. Hingga tak membutuhkan waktu lama, ciuman lembut itu pun, berubah menjadi sebuah ciuman yang penuh tuntutan.
"Jangan dipikirkan. Cukup dirasa dan dinikmati. Biarkanlah bahasa tubuh yang berbicara!"
Kalimat itu selalu menggaung jelas di telinga Niram. Kalimat yang dijadikan Niram sebagai kekuatan untuk menjalani profesinya.
Tanpa terasa, mahkota Niram sudah terasa basah. Niram terkejut. Ish, apa aku pipis? batin Niram.
Merasa terkejut dan malu, sontak Niram mendorong bahu pria itu hingga sedikit terjengkang.
Alfaruk terkejut. Dia menatap garang ke arah Niram.
"Ma-maaf, Tu-tuan. Se-sepertinya sa-saya pi-pis di ce-lana," cicit Niram terbata.
"Hahahaha,..."
Alfaruk tertawa keras mendengar alasan Niram mendorong tubuhnya. Ish, benar-benar anak yang sangat polos, pikir Alfaruk.
Tak ingin kehilangan kesempatan dalam permainannya. Alfaruk kembali mendekati wajah Niram.
"Kau ingin tahu sejatinya pipis di celana?" tanya Alfaruk menyeringai.
"Ma-maksud, Tu-tuan?" tanya Niram seraya menautkan kedua alisnya.
Alfaruk mendorong tubuh Niram hingga terjerembab ke belakang. Sedetik kemudian, kedua tangannya menarik jenjang mulus kaki Niram hingga menekuk. Alfaruk menyingkap dress bawah Niram dan menampakkan segitiga berenda berwarna hitam. Dengan sigap, Alfaruk menarik kain berenda itu hingga terlepas. Suguhan penuh kenikmatan, terlihat mulus di hadapannya.
Biarkan bahasa tubuh berbicara, rasakan dan nikmatilah! batin Niram yang mulai merasakan sensasi hebat saat indera perasa Alfaruk bermain di dalam kubangan kecil miliknya.
Suara-suara yang tidak pernah dia gumamkan seumur hidupnya, kini mulai lolos dari bibir mungil Niram. Tubuhnya mulai bergetar hebat tatkala Niram merasakan sesuatu yang asing. Entahlah, tidak ada yang bisa menggambarkan rasa yang sedang dia rengkuh saat ini. Rasa aneh yang bisa membuat sekujur tubuhnya melemas seketika.
"Tu-tuan, sa-saya su-sudah ti-dak tahan lagi. Se-sepertinya sa-saya ingin pi– umphh!"
Kalimat Niram terpotong oleh ciuman yang mendarat di bibirnya. Dengan rakus Alfaruk kembali meraup bibirnya. Bahkan kini, tangan nakal Alfaruk dengan cekatan mulai membuka kain yang melekat di tubuh Niram hingga polos.
Alfaruk melepaskan ciumannya. Hasrat bercinta sudah mencapai puncak kepalanya. Namun, Alfaruk tidak ingin semuanya berakhir cepat. Terlebih lagi, santapan di hadapannya begitu lezat.
Hup!
Alfaruk membopong tubuh polos gadis yang tengah memejamkan matanya itu. "Kita nikmati di kamar, Sayang," bisiknya lembut di telinga wanita malamnya.
Niram tidak berdaya. Dia merasa malu karena telah bertelanjang bulat di hadapan seorang lelaki. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Karena itu dia hanya mampu memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Tiba di kamar. Dengan penuh kehati-hatian, Alfaruk membaringkan wanitanya. Sejenak, dia pun membuka helaian kain yang melekat di tubuhnya. Hingga sepersekian detik kemudian, Alfaruk mencumbu setiap inci tubuh molek nan mulus milik wanita setengah suci itu.
"Tidak usah takut, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu. Akan aku buat kamu merasa nyaman dengan penyatuan kita. Ini memang bukan pengalaman yang pertama bagi kita. Namun, ini adalah malam pertama kita, dan aku ingin kita menikmatinya penuh kesan!" kata Alfaruk sesaat sebelum dia melesatkan senjatanya.