
Halimah membantu suaminya untuk berdiri. Setelah berpamitan, pasangan suami istri yang sudah melebihi paruh baya itu, keluar dari ruang pemeriksaan.
"Ayah tunggulah di sini, biar Ibu tebus obatnya dulu di apotek," ucap Halimah seraya membantu suaminya untuk duduk di kursi tunggu.
Hanafi mengangguk. Dia kemudian mendaratkan bokongnya di kursi besi yang berjejer di ruang tunggu. Setelah memastikan suaminya merasa nyaman, Halimah pun pergi ke loket apotek untuk menyerahkan resep dari dokter.
Halimah menunggu untuk beberapa saat. Sembari menunggu, dia mengeluarkan ponsel pemberian anaknya. Halimah mencoba menghubungi Niram untuk memberi tahu perkembangan kesehatan sang suami kepada anaknya.
Kening Halimah berkerut tatkala sambungan teleponnya tidak mendapatkan jawaban. Sejenak, dia melirik jam dinding yang ada di puskesmas. Penunjuk waktu berhenti di angka 12 lewat 20 menit.
"Hmm, mungkin Niram masih bekerja," gumam Halimah.
"Bapak Hanafi!" panggil petugas apotek.
Sontak Halimah beranjak dari tempat duduk dan mendekati loket pengambilan obat. Setelah mendengarkan keterangan dari petugas, Halimah kemudian memasukkan obat tersebut ke dalam tasnya.
Selesai mengambil obat suaminya, Halimah pun kembali menuju tempat tunggu untuk menjemput sang suami.
.
.
Di lain tempat.
"Apa lu udah siap, Nir?" tanya Yura yang melihat Niram masih duduk termenung di tepi ranjang.
Mendapatkan pertanyaan Yura, Niram langsung mendongak. Dia menatap Yura dengan tatapan yang membuat Yura merasa prihatin.
"Bagaimana jika aku memang hamil, Mbak?" tanya Niram.
Yura kemudian berjongkok di hadapan Niram. Dia menggenggam kedua tangan sahabatnya itu.
"Tidak usah khawatir, Nir. Semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Yura.
"Tapi, Mbak ...."
"Tenanglah. Gue akan selalu ada buat lu. Kita hadapi kehidupan ini bersama-sama, oke?" lanjut Yura.
Niram mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita berangkat!"
Yura memapah Niram menuju teras depan. Dia meminta Niram untuk duduk. Tak lama berselang, taksi online yang dipesan Yura pun datang. Dengan telaten, Yura kembali memapah Niram untuk memasuki taksi online-nya.
.
.
Tok-tok-tok!
Halim mengetuk pintu ruang kerja atasannya.
"Masuk!" perintah Mona dari dalam ruangannya.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu terbuka. Halim pun meminta izin untuk masuk.
"Ada apa, Pak Halim?" tanya Mona.
"Emh, Maaf, Bu. Jika diperkenankan, saya hendak meminta izin untuk pulang duluan," tutur Halim, cemas.
"Memangnya ada apa, Pak Halim?" tanya Mona.
"Saya baru saja mendapatkan telepon dari sekolah anak saya. Katanya, putra saya mengalami muntah-muntah di sekolah, Bu. Dan sekarang, pihak sekolah sedang membawanya ke rumah sakit. Saya hendak melihat anak saya di rumah sakit, Bu," tutur Halim.
"Oh, ya sudah kalau begitu, sebaiknya Bapak segera ke rumah sakit. Tapi sebelumnya, tolong perintahkan salah satu anak buah Bapak untuk menghandle semua pekerjaan Bapak hari ini," jawab Mona.
"Iya, Bu. Saya sudah meminta Akhtam untuk menggantikan saya," jawab Halim.
"Ya sudah, kalau semuanya sudah aman, Bapak boleh pergi. Bagaimanapun, anak harus diutamakan terlebih dahulu," lanjut Mona.
"Iya, Bu. Terima kasih atas pengertiannya. Kalau begitu, saya pamit undur diri."
Setelah dipersilakan pulang, Halim pun melajukan kendaraannya menuju rumah sakit umum tempat anaknya diperiksa.
.
.
Di poli kandungan.
Niram sudah tidak mampu lagi mendengar penuturan dokter kandungan. Kepalanya mulai terasa berat. Matanya berkunang-kunang. Tubuhnya semakin lemas. Kabar kehamilan yang baru saja didengarnya, seolah-olah telah mencabut ruh dari raganya. Napasnya semakin terasa sesak. Seketika tubuh Niram pun jatuh terkulai.
"Eh, Niram!" pekik Yura.
"Astaghfirullah, dia kenapa, Ra?" tanya dokter kandungan tersebut.
"Ish, kok Dokter malah tanya saya, sih? Bukannya Dokter yang tahu kondisi pasien?" dengus Yura terlihat kesal.
"Ya sudah, mari kita baringkan dia, Ra," lanjut dokter kandungan itu.
Dengan susah payah, Yura dan dokter kandungan yang bernama Dokter Suhendar, membaringkan tubuh Niram di atas ranjang pemeriksaan. Dokter Suhendar pun kembali memeriksa detak jantung Niram. Sejenak, dokter paruh baya itu menautkan kedua alisnya ketika mendapati detak jantung Niram yang tidak beraturan.
"Sepertinya dia merasa shock dengan kehamilannya, Dok," ucap Niram.
"Shock?" ulang Dokter Suhendar, "bukankah seharusnya dia senang mendengar berita gembira ini?" imbuhnya.
"Te-tentu saja dia senang, Dok. Saking senangnya, dia sampai terkejut dan pingsan mendengar berita kehamilannya," timpal Yura.
"Ah, iya. Mungkin dia terharu karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," lanjut Dokter Suhendar.
"Yup! Bisa jadi," sahut Yura, tak ingin membuat dokter kandungan itu merasa curiga dengan keadaan Niram yang sebenarnya.
"Umh ...."
Saat Yura dan Dokter Suhendar sedang bercakap-cakap, tiba-tiba Niram menggumam. Rupanya dia sudah siuman. Sontak Dokter Suhendar dan Yura mengalihkan pandangannya kepada Niram.
__ADS_1
"Apa lu baik-baik saja, Nir?" tanya Yura.
Niram mengangguk.
"Sebaiknya, Mbak diopname dulu barang semalam dua malam," saran Dokter Suhendar.
"Tidak, Dok. Saya mau pulang saja," tolak Niram.
"Baiklah, saya tidak bisa memaksa. Namun, jika memang ingin rawat jalan, sebaiknya Mbak turuti perkataan saya. Minum obat dan vitaminnya secara teratur, makan makanan yang bergizi seimbang, cukup istirahat, dan jangan lupa ... harus rutin periksa kandungan sebulan sekali. Mengerti!" ucap Dokter Suhendar penuh penekanan.
"Baik, Dok. Saya mengerti," jawab Niram, lirih.
"Dokter tenang saja, saya yang akan menjadi suster pribadinya adik saya," imbuh Yura sambil membusungkan dada.
"Hahaha, ... saya percaya sama kamu, Ra!" balas Dokter Suhendar.
Setelah memberikan resep obat dan vitamin, akhirnya Dokter Suhendar mengizinkan pasiennya untuk pulang.
.
.
Di depan apotek. Halim menyipitkan matanya ketika melihat seorang gadis yang tengah duduk. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat. Namun, raut wajahnya mengingatkan dia kepada sang ponakan yang telah lama hilang.
"Ish, tidak mungkin gadis itu Niram. Gaya pakaiannya pun tidak sama dengan Niramku," gumam Halim mencoba menyangkal penglihatannya.
"Niram Kirana!"
Panggilan di loket apoteker seketika membuat degup jantung Halim berdetak kencang. Dia mengedarkan pandangannya, melihat siapa orang yang hendak maju ke depan untuk memenuhi panggilan tersebut.
Kening Halim mengernyit, tatkala dia melihat orang asing yang berjalan menuju loket pengambilan obat.
"Ish, ternyata bukan Niram keponakanku. Uh, kenapa namanya bisa sama," gumam Halim terlihat kecewa.
"Sakit, Pa," rengek Rayyan sambil memegang perutnya.
"Iya, sabar ya, Nak. Kita tunggu obatnya dulu, setelah itu, kita pulang dan beristirahat," jawab Halim, mencoba menenangkan putranya.
"Denger ya, Niram. Pokoknya gue enggak mau denger bantahan lu lagi. Lu harus banyak istirahat supaya anak yang ada dalam kandungan lu, bisa tumbuh dengan sehat," ucap Yura sambil memapah Niram berjalan.
"Iya-iya, Mbak," jawab Niram.
Halim terkejut mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya. Sontak dia mendongak untuk melihat si empunya suara. Keningnya mengernyit tatkala melihat dua orang gadis berambut panjang tergerai.
Bu-bukankah Niram mengenakan hijab? Ta-tapi kenapa suaranya mirip sekali dengan keponakan aku? batin Halim.
Untuk memastikan penglihatannya, Halim berteriak memanggil nama keponakannya.
"Niram!"
Salah satu dari kedua gadis berbalut pakaian ketat itu menoleh.
Deg-deg-deg!
__ADS_1