
Brugh!
Barang belanjaan Yura, jatuh berantakan saat seseorang menabraknya tanpa sengaja.
"Ish, kalau jalan lihat-lihat dong! Enggak punya mata lu, ya!" dengus Yura terlihat sangat kesal.
"Ma-maaf," balas Karen.
Karen hendak berjongkok untuk membantu Yura membereskan barang belanjaannya. Namun, seretan tangan Bella memaksa Karen untuk mengurungkan niatnya. Dengan langkah terseok-seok, Karen kembali mengikuti Bella hingga keluar dari apartemen.
"Ish udah salah, enggak mau tanggung jawab lagi. Dasar orang kaya! Seenaknya saja!" sungut Yura sembari terus memunguti barang belanjaannya.
"Biar saya bantu, Mbak," ucap salah satu cleaning service apartemen yang merasa kasihan terhadap Yura.
"Ah ya, terima kasih," jawab Yura tanpa menoleh sedikit pun kepada pria yang tengah membantunya.
Setelah selesai membereskan barang bawaannya, Yura kembali mengayunkan langkah menuju unit apartemen sang sahabat. Tiba di depan unit apartemen milik Niram, kening Yura mengernyit saat melihat pintu apartemen sedikit terbuka.
"Aih, kenapa sikap ceroboh nih anak enggak pernah ilang-ilang juga? Ngapain sih, ngebiarin pintu terbuka kek gini? Gimana kalau ada orang jahat yang masuk tiba-tiba?" gerutu Yura seraya mendorong daun pintu lebih lebar lagi dengan menggunakan ujung kaki kanannya.
Yura terkesiap melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Brak!
Barang belanjaan yang sedang dipegangnya pun, terlepas dari tangannya tatkala Yura melihat Niram dan Alfaruk tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.
"Astaga! Niram!" pekik Yura yang segera menghambur ke arah Niram dan kekasih gelapnya.
"Ya Tuhan ... apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa seperti ini?" racau Yura.
Dengan sisa kekuatan yang masih dimilikinya, Yura mendorong tubuh tegap Alfaruk yang tengah menindih sahabatnya. Untuk sesaat, Yura hanya bisa celingak-celinguk tanpa tahu harus berbuat apa, harus meminta tolong kepada siapa.
"Ambulan! A-aku harus segera memanggil ambulan kemari. Ya, aku tahu ... aku membutuhkan ambulan untuk saat ini," gumam Yura seraya mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya.
.
.
Sementara itu, di pusat jalanan ibu kota, tampak Bella melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Malam semakin larut, jalanan pun mulai lengang. Karena itu, hanya dengan melewati satu jam saja, Bella sudah tiba di sebuah taman kota yang mulai sepi pengunjung.
__ADS_1
"Kamu mau aku antarkan pulang, Ren?" tanya Bella kepada sahabatnya.
Karen diam. Lidahnya terasa kelu. Bayangan sang suami yang bersimbah darah, masih terus menari-nari di kedua pelupuk matanya.
"Apa dia akan baik-baik saja, Bel?"
Bukannya menjawab, Karen malah balik bertanya kepada sahabatnya. Dia terlihat gugup. kedua tangannya gemetar dan wajahnya pun terlihat pucat.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Karen, Bella hanya mendengus kesal. Entah kenapa sahabatnya yang satu ini begitu bodoh. Berulang kali terluka, tapi masih terlihat mendambakan laki-laki tersebut.
"Aku tidak tahu, Ren. Sudahlah, lupakan saja. Untuk apa kamu memikirkan pria yang sudah melukai perasaan kamu," sahut Bella.
"Tapi Bel, aku ... aku tidak bisa. Ba-bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? A-aku akan mati jika dia meninggalkan aku." Lirih Karen.
"Astaga, Ren ... aku benar-benar tidak habis pikir sama kamu," pekik Bella seraya menepuk jidatnya. "Ya sudah, sebaiknya aku antar kamu pulang," imbuhnya.
"Bel! Bo-bolehkah aku menginap di rumah kamu? Se-setidaknya sam-pai aku mendengar kabar tentang mas Bram," pinta Karen.
"Baiklah. Kamu bisa menginap di rumahku sesuka hatimu, tapi aku mohon ... lupakan laki-laki pengecut itu, Ren! Dia sama sekali tidak pantas untuk kamu!" tegas Bella.
Karen hanya tersenyum tipis mendengar ketegasan sahabatnya.
.
.
Yura berjalan mondar-mandir di ruang UGD. Setelah tiba di rumah sakit, tim medis langsung memberikan tindakan kepada Niram dan Alfaruk.
Setelah hampir satu jam ditangani, Niram dan Alfaruk akhirnya dipindahkan ke ruang rawat. Yura meminta perawat untuk memberikan kamar yang sama kepada mereka berdua. Tujuannya tidak lain, supaya Yura lebih mudah memantau perkembangan kedua orang itu.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian bisa terluka seperti ini?" Monolog Yura seraya menatap kedua orang yang masih tertidur karena pengaruh obat.
Niram mengalami pendarahan yang cukup hebat. Namun, beruntung janin yang dikandungnya begitu kuat, hingga masih bisa diselamatkan. Sedangkan Alfaruk, pria itu hanya mengalami luka robek di bagian kepala belakangnya.
"Umh!"
Niram bergumam lirih sesaat setelah tersadar. Dia kemudian membuka matanya. Menatap kosong langit-langit kamar rawat.
"A-aku di mana?" gumam Niram.
__ADS_1
Yura menoleh ketika mendengar suara Niram. Dia beranjak dari tempat duduknya dan segera menghampiri sahabatnya itu.
"Ah syukurlah lu udah sadar, Nir. Gue bener-bener cemas ngelihat kondisi lu tadi," ucap Yura seraya menggenggam tangan Niram.
"A-ku di mana, Mbak?" Niram kembali bertanya kepada sahabatnya.
"Lu sedang berada di rumah sakit, Nir," jawab Yura.
Niram mengedarkan pandangannya. Dia terkejut melihat kekasih gelapnya tengah terbaring berbalutkan perban di kepalanya.
"Ma-mas Alfar! A-apa yang terjadi sama mas Alfar, Mbak?" tanya Niram.
"Entahlah, gue sendiri enggak tahu, Nir. Begitu gue tiba di apartemen, gue lihat lu dan pria itu tengah pingsan berlumuran darah. Gue enggak tahu apa yang sudah terjadi sama kalian, tapi gue nemuin vas bunga yang sudah pecah tak jauh dari tempat pria itu pingsan," tutur Yura.
Sontak ingatan Niram pun kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu.
"Di-dia telah mengetahui semuanya, Mbak. Dia memergoki kami," jawab Niram.
"Dia? Dia siapa, Nir?" tanya Yura.
"Istri sahnya mas Alfar."
Yura cukup terkejut mendengar kebenaran yang disampaikan oleh Niram. Itu artinya, pemukulan terhadap Alfaruk juga pasti dilakukan oleh istri sahnya.
"Astaga, Nir ... Gue enggak tahu kalau semuanya akan berakhir seperti ini," ucap Yura.
Niram hanya tersenyum kecut. Dia kembali melemparkan pandangannya kepada lelaki dewasa yang masih terbaring lemah.
"Apa dia baik-baik saja? Apa lukanya cukup parah?" cecar Niram kepada Yura.
"Dia lelaki tangguh, Nir. Pasti akan selalu baik-baik saja" jawab Yura. "Ini sudah sangat malam. Tidurlah! Aku akan menjaga kamu di sini," pungkasnya.
.
.
Sementara itu, di dalam kamar. Karen masih berdiri di balik jendela kamar yang menghadap ke taman belakang. Kegelapan malam telah menyelimuti bumi, sehingga dia tidak bisa melihat indahnya hamparan bunga berwarna-warni di balik jendela itu.
Karen menengadahkan wajahnya. Berharap dia bisa menghentikan air mata yang terus saja luruh di kedua pipinya. Karen tidak ingin lemah. Dia tidak ingin menangis lagi. Terlebih ... untuk seorang pria pengkhianat seperti suaminya.
__ADS_1
Namun, cinta telah membuat Karen menjadi buta. Sehingga hatinya masih terikat kepada laki-laki yang telah menorehkan begitu banyak luka.
"Tolong selamatkan dia, Tuhan. Aku berjanji, aku akan berusaha untuk melupakan semua kejadian ini, asalkan engkau menyelamatkan satu-satunya pria yang aku cintai. Aku mencintainya Tuhan, sangat mencintainya."