Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Pertanyaan yang Sama


__ADS_3

Jantung Halim selalu berdegup kencang ketika mengingat kalimat demi kalimat yang dilontarkan Yura, yang merupakan sahabat Niram.


Dari Yura lah Halim mengetahui semua kebenaran yang telah disembunyikan oleh istrinya. Halim merasa sakit. Begitu sakit karena ternyata sang istri yang telah menghancurkan masa depan keponakannya sendiri.


Sejak saat itu, Halim pun tidak pernah punya wajah lagi untuk menemui Niram. Ya! Dia pengecut! Dia bahkan sangat pengecut untuk menemui Niram dan meminta maaf atas semua kesalahan istrinya.


Halim takut lepas kendali. Apalagi setelah mengetahui pekerjaan Niram lepas mengalami rudapaksa. Halim mengutuknya. Namun, dia tidak punya kekuatan untuk menarik Niram dari kubangan dosa itu. Terlebih lagi, secara terang-terangan Niram mengakui jika dia menyesal ikut Halim ke perantauan.


"Allahuakbar .... Allahuakbar ...."


Azan subuh mulai berkumandang. Halim pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hari ini, bersama anaknya dia akan kembali melaksanakan shalat ied di masjid terdekat.


.


.


Di kampung. Hanafi dan Halimah harus menelan kekecewaannya kembali. Ini tahun ketiga, baik Niram ataupun Halim sama sekali tidak merayakan lebaran di kampung halaman.


"Sebenarnya ada apa, Yah? Kenapa mereka itu seolah kompak sekali tidak ingin merayakan lebarannya di kampung halaman. Orang yang jadi TKW aja inget mudik. Lah ini, tibang Jakarta doang, masa sulit sekali untuk mendapatkan tiket bus," keluh Halimah seraya melipat mukenanya.


"Sudahlah, Bu. Mungkin mereka masih sibuk. Halim bekerja sebagai keamanan, tentunya tanggung jawab dia lebih besar, Bu. Sedangkan Niram sendiri, kabarnya kantor tempat dia bekerja begitu ketat. Bosnya Niram itu seorang Cina. Ya, Ibu sendiri tahu kan, bagaimana disiplinnya mereka," jawab Hanafi panjang lebar.


"Uh, tetep aja enggak masuk akal, Yah," gerutu Halimah.


"Sudah, Bu. Enggak baik ngedumel terus. Ayo, sebaiknya sekarang kita pergi ke masjid. Biar kebagian tempat di dalam," pungkas Hanafi.


Halimah mengangguk. Setelah mempersiapkan sajadah dan mukenanya, Halimah mengikuti Hanafi yang sudah terlebih dahulu keluar rumah. Mereka hendak melakukan shalat Ied bersama di masjid kampung.


.


.

__ADS_1


Di kediaman Niram.


Baby G terlihat masih tidur nyenyak di atas ranjang ibunya. Biasanya, bayi montok itu selalu terbangun ketika azan subuh berkumandang. Namun, kali ini sepertinya jagoan Niram sangat memahami kesibukan ibunya dalam mempersiapkan hari raya. Hingga bayi itu masih asyik merangkai mimpinya.


Selesai salat subuh, Niram berbenah. Dia menata makanan yang dia masak dan dia makan sendiri di meja makan. Tahun ketiga berlebaran di perantauan, semuanya masih tetap sama. Tidak akan ada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Di kawasan perumahan ini, semua penghuninya memang sangat sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Selesai urusan dapur. Niram kembali ke kamar untuk melihat apakah anaknya sudah bangun atau belum. Dan sepertinya, panggilan alam di pagi hari, membuat bayi gembul itu membuka matanya.


Celoteh kecil keluar dari bibir mungilnya. Niram tersenyum dan segera menghampiri ranjang.


"Selamat pagi tampannya Ibu," sapa Niram seraya duduk di depan putranya.


Sembari memasukkan jari ke dalam mulutnya, bayi gembul berjenis kelamin laki-laki itu terus berceloteh. Membuat ibunya semakin gemas.


"Uh, bau. Baby G pup, ya?" ucap Niram seraya membuka popok anaknya.


Niram lantas melipat popok kotor itu untuk dibuang ke tempat sampah. Dia pun membersihkan sisa-sisa kotoran anaknya. Setelah itu, Niram menggendong baby G ke kamar mandi untuk dibersihkan.


Setengah jam telah berlalu. Mulai dari memandikan, memakaikan pakaian dan menyuapi anaknya, semuanya dia lakukan sendiri. Hingga setelah anaknya siap, Niram pun meraih kantong mukenanya. Ya, hari ini tekadnya sudah bulat. Apa pun yang terjadi dalam hidupnya, Niram tidak pernah melalaikan salat. Entah itu salat wajib, ataupun sunah.


Satu per satu, Niram menyalami para tetangganya. Hingga dia tiba di hadapan nenek tua, penduduk asli perumahan yang sudah ada jauh sebelum perumahan itu berdiri.


"Loh, ku kagak pulang lagi, Nir?" tanya nenek tersebut.


Namanya Jubaedah. Penduduk asli Betawi di tempat Niram tinggal.


"Enggak, Nek," sahut Niram.


"Ish, pegimana sih, lu kagak kangen ape, ma emak bapak lu. Apalagi, si Ghio udah gede, udah bisa diajak momobilan. Kagak usah takut masuk angin lagi," oceh Jubaedah.


Niram hanya tersenyum kecut. Sudah dua kali lebaran dia mendengar pertanyaan yang sama dari orang yang sama.

__ADS_1


Terus, apa urusannya sama elu kalau gue enggak pulang, ketus Niram dalam hati.


Ya, selalu dalam hatinya. Sejak mengalami kejadian pahit dalam hidupnya, Niram berubah menjadi tipikal orang yang menutup diri.


Allahuakbar ... Allahuakbar ... Allahuakbar ....


Beruntung gema takbir berkumandang. Niram pun mempunyai alasan untuk terhindar dari rasa penasaran nenek tua itu.


.


.


Di rumah orang tua Kania.


Selesai shalat Ied. Kania dan keluarganya sarapan bersama. Tidak ada pembicaraan yang mengiringi santap pagi mereka. Semuanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


Ahsan terlihat kecewa karena tidak bisa merayakan lebaran bersama sang ayah. Sedangkan Kania, dia masih sangat kesal karena suaminya selalu saja seperti ini. Lebih mementingkan urusan bisnisnya ketimbang urusan keluarga.


"Setelah ini, kita akan nyekar ke makam eyang putri. Kalian bersiap-siaplah!" ucap Darma kepada anak dan cucunya.


"Baik, Pak," jawab Kania.


Sementara Ahsan. Pemuda itu sama sekali tidak menyahuti ucapan sang kakek. Dia hanya memainkan makanannya sembari menopang dagu. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.


"Kamu kenapa toh, Le? Kok makanannya cuma diaduk-aduk begitu, nanti enggak enak loh," tegur Darma kepada cucunya.


Ahsan mendongak. Dia tersenyum tipis seraya menjawab. "Enggak apa-apa, Eyang. Ahsan cuma enggak selera makan aja," jawab Ahsan. "Mungkin karena kebiasaan puasa masih kebawa juga," sambungnya.


Darma hanya tersenyum menanggapi jawaban cucunya.


"Meskipun begitu, tapi ya harus diusahakan sarapan juga, Le. Awali pagi dengan sarapan, karena kita tuh ndak tahu apa yang akan kita hadapi di hari ini." Nasihat Darma.

__ADS_1


"Enggih, Eyang," jawab Ahsan.


"Ya sudah, cepat habiskan makanan kalian. Mumpung masih pagi juga, kita nyekar dulu sebelum keliling kampung!" perintah Darma.


__ADS_2