Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Kebahagiaan Hanafi dan Halimah


__ADS_3

Halim mengembalikan ponsel ke dalam saku celana dinasnya. Sejenak, dia menarik napasnya dalam-dalam. Masih mencoba untuk mengingkari kesalahan yang telah dia buat barusan.


"Tidak! Ini hanyalah sebuah usaha aku untuk menyenangkan hati Ceu Halimah. Karena jujur saja, aku tidak bisa membayangkan kesedihan dia kalau mengetahui Niram belum mendapatkan pekerjaan. Dia pasti akan merasa kecewa. Belum lagi kepada ayahnya saat ini. Kang Ana bisa anfal jika mendengar semua kebenarannya. Tidak! Aku tidak bisa mengambil risiko sejauh ini," gumam Halim, mencoba menyangkal perbuatannya yang telah membohongi sang kakak.


Ketika Halim sedang asyik dalam lamunan. Tiba-tiba intercom di ruangannya berbunyi.


"Pak Halim. Tolong ke ruangan saya!"


"Baik, Bu!" sahut Halim.


Tak ingin membuat atasannya menunggu lebih lama. Halim pun segera beranjak dari tempatnya. Ketika dia sampai di lobi kantor, dia berpapasan dengan Dea.


"Pak Halim!" panggil Dea seraya berlari mendekati Halim.


"Iya, kenapa Neng?" tanya Halim.


"Bapak dipanggil Bu Mona. Katanya suruh menghadap sekarang juga di ruangannya," sahut Dea.


"Iya, Neng. Ini Bapak mau ke ruangannya Bu Mona," jawab Halim.


Dea tersipu malu. "Oh, ya sudah kalau gitu. Silakan dilanjut," katanya.


Halim tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Setelah Dea pergi, Halim pun kembali melangkahkan kaki menuju lantai dua.


Tok-tok-tok!


Setibanya di depan ruang manager, Halim mengetuk pintu.


"Masuk!" perintah Mona dari dalam ruangan.


Halim pun menurut. Dia membuka pintunya dan mengucapkan salam kepada atasannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, selamat siang, Bu!" sapa Halim.


"Wa'alaikumsalam. Siang juga Pak Halim, ayo silakan duduk!" titah Mona.


Halim melangkahkan kakinya lebih maju lagi. Sesaat kemudian, dia menarik kursi di hadapan meja kerja Mona dan segera mendudukinya.


"Begini Pak Halim. Rencana pelatihan kepemimpinan yang akan dilaksanakan minggu depan, rupanya dipercepat. Jadi, besok Pak Halim sudah harus berangkat ke bumi perkemahan Mandalawangi Cibodas yang lokasinya berada di kaki Gunung Gede Pangrango. Bapak tahu, 'kan tempatnya?" tutur Mona.


"Iya, Bu. Saya tahu. Kebetulan dulu waktu saya mengikuti pendidikan dasar dari yayasan, pelatihannya juga di sana," jawab Halim.


"Ah syukurlah kalau Bapak sudah tahu tempatnya. Jadi begini, dari pihak kantor, kami akan memberikan semua kebutuhan Bapak selama mengikuti pelatihan di sana. Dimulai dari biaya transport dan biaya akomodasi Bapak. Hanya saja, kami tidak bisa mengantarkan Bapak ke tempat itu. Kami hanya akan memberikan Bapak surat perjalanan dinas dan juga surat instruksi untuk mengikuti pelatihan yang bisa Bapak tunjukkan kepada tim panitia di sana," papar Mona panjang lebar, "Bapak paham?" imbuhnya.


"Siap, Bu! Saya paham!" jawab Halim seraya menegakkan duduknya.


Mona tersenyum melihat kesigapan Halim. Sesaat kemudian, dia mengeluarkan tiga buah amplop dan menyodorkannya ke arah Halim.


"Ini kedua surat dan juga bekal untuk Bapak. Semoga sukses," kata Mona.


Mona tersenyum. "Silakan, Pak."


.


.


Di lain tempat.


Dengan tergopoh-gopoh, Halimah memasuki rumahnya. Kabar yang diberikan Halim barusan, merupakan kabar terbaik yang pernah Halimah dengar.


"Yah! Ayah!" panggil Halimah sambil berteriak-teriak karena rasa bahagia yang membuncah di dadanya.


Di kamar. Hanafi yang sedang memejamkan matanya, sontak mengerjap mendengar teriakkan sang istri. Dia berpikir mungkin sesuatu terjadi pada istrinya. Hanafi bangun dan hendak beranjak dari tempat tidur. Namun, sebelum dia berdiri, Halimah sudah membuka pintu kamarnya dengan cukup kasar.

__ADS_1


Hanafi terkejut. Dahinya mengernyit saat melihat sang istri berdiri di ambang pintu. Yang lebih mengherankan lagi, senyum lebar terukir jelas di raut wajah istrinya. Hanafi pun semakin menautkan kedua alisnya.


"Ada apa, Bu?" tanya Hanafi.


"Ada dua kabar gembira yang ingin Ibu sampaikan kepada Ayah," sahut Halimah dengan napas tersengal.


Hanafi semakin tidak mengerti. Namun, mendengar kata gembira. Tidak dipungkiri jika Hanafi ikut senang mendengarnya. Meskipun dia belum tahu kabar gembira seperti apa yang hendak istrinya sampaikan.


Halimah mendekati Hanafi. Dia menjatuhkan diri di depan Hanafi seraya menatap laki-laki tua yang teramat sangat dicintai meskipun sudah terlihat keriput di wajahnya.


"Kabar gembira yang pertama, alhamdulilah ... Halim mendapatkan kenaikan jabatan di kantornya, Yah!" seru Halimah.


"Subhanallah ... walhamdulillah, Bu. Akhirnya anak itu berhasil meraih impiannya," sambut Hanafi dengan penuh keharuan karena merasa bahagia. "Lalu, kabar gembira yang kedua?" tanya Hanafi.


"Kabar gembira yang kedua, anak kita ...."


Halimah menjeda kalimatnya. Dan tentunya hal itu membuat Hanafi semakin merasa penasaran.


"Anak kita kenapa, Bu?" tanya Hanafi.


"Anak kita, emmh ... dia sudah mendapatkan pekerjaan, Yah," sahut Halimah.


Kedua bola mata Hanafi terlihat berkaca-kaca. Kebahagiaan yang dia rasakan di hatinya, tidak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata. Hanya kedua bahunya saja yang bergerak naik turun setelah mendengar kabar gembira yang kedua.


Ya, orang tua mana yang tidak bahagia ketika mendengar anaknya sudah bisa belajar untuk mandiri.


Halimah yang bisa melihat tubuh kurus suaminya berguncang, segera memeluk Hanafi dengan erat. Rasa haru benar-benar menyelimuti hati keduanya.


"Rasanya seperti mimpi saja, Bu. Bayi yang aku timang setiap malam, kini sudah besar dan bisa mencari penghasilan sendiri," bisik Hanafi, serak.


"Iya, Pak. Ibu tahu," sahut Halimah.

__ADS_1


Untuk beberapa menit, kedua orang tua itu saling berpelukan dan meluapkan kebahagiaan yang dia rasakan detik ini.


__ADS_2