
Di dalam kamar. Halim membereskan pakaian yang akan dia butuhkan selama menjalani pelatihan nanti. Sebenarnya, sebagai seorang suami, Halim sangat mengharapkan antusias sang istri dalam mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan Halim selama tinggal di bumi perkemahan. Namun, mendengar istrinya mengeluh sakit perut, Halim pun tidak tega dan terpaksa menyiapkan kebutuhannya sendiri.
"Berapa lama Abang tinggal di sana?" tanya Imas yang sedang berbaring sambil mengusap-usap perutnya yang semakin membuncit saja.
"Satu minggu, Ma," jawab Halim. Kedua tangannya masih sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Terus, kalau Imas lahiran, Abang enggak ada dong," rajuk Imas, Masih mengusap perutnya.
"HPL kamu, 'kan masih lama, Dek. Masih dua minggu lagi. Abang keburu pulang kok, kalau kamu lahiran," jawab Halim.
"Ih, jangan terlalu percaya sama HPL, Bang. HPL 'kan bisa saja maju," rengut Imas seraya memonyongkan bibirnya.
"Hmm, berdo'a saja biar HPL-nya bisa dimundurkan," gurau Halim.
"Aish, Abaaang ... mana bisa..." rengek Imas.
Halim mendaratkan bokongnya di tepi ranjang. Sejenak, dia mengambil jaket yang tersampir pada sandaran kursi rias. Halim pun mengeluarkan amplop coklat dari dalam saku jaket tersebut.
"Ini buat kebutuhan rumah selama seminggu. Tolong atur-atur dengan baik, Ma," kata Halim seraya menyerahkan amplop coklat itu kepada istrinya.
"Apa itu, Bang?" tanya Imas mengerutkan keningnya. "Sekarang, 'kan bukan waktunya Abang gajian," lanjut Imas.
"Sebenarnya, itu biaya transportasi dan juga akomodasi dari kantor buat Abang, selama mengikuti pelatihan di bumi perkemahan nanti. Namun, Abang pikir kamu lebih memerlukan uang ini dibandingkan Abang," lanjut Halim.
Dengan tersenyum lebar, Imas segera menyambar amplop tersebut. Cemberut di bibir yang tadi dia pasang, seketika sirna sudah saat melihat lembaran uang yang berwarna merah dari dalam amplop.
"Makasih, Bang."
.
__ADS_1
.
Di lain tempat.
Hanafi dan Halimah seakan mendapatkan secercah harapan saat mendengar anaknya telah bekerja.
"Ayah senang, Bu. Akhirnya keputusan Ayah mengizinkan Niram pergi ke kota, membuahkan hasil juga," kata Hanafi merasa bangga.
"Iya, Yah. Semoga saja, ini menjadi awal perubahan hidup kita ke depannya," timpal Halimah.
Hanafi tersenyum kecut. Sebenarnya, jauh di lubuk hati Hanafi, dia merasa tidak tega membiarkan anaknya bekerja hanya untuk menafkahi orang tua.
Namun, Hanafi tidak berdaya. Penyakit tuberculosis yang dideritanya beberapa tahun lalu, telah menggerogoti daya tahan tubuh Hanafi. Sehingga dia tidak mampu lagi mencari nafkah untuk keluarganya.
Hanafi merutuki keadaannya. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu mengubah fakta jika dirinya sudah tidak berguna menjadi seorang kepala keluarga. Perih. Tentunya hanya rasa perih yang mampu bergemuruh di dadanya tatkala melihat anak istrinya bekerja.
"Huh, benar-benar lelaki tua yang bodoh!" gumam Hanafi mendengus kesal.
"Sudah, Yah. Tidak usah memulai lagi. Napas Ayah bisa sesak kalau terus-terusan mengingat takdir Ayah. Bagi aku dan Niram, kamu adalah seorang kepala rumah tangga yang sangat baik. Suami dan ayah yang sempurna dan bertanggung jawab bagi kami," tutur Halimah.
Hanafi semakin tersenyum kecut mendengar perkataan istrinya.
"Sudah malam, sebaiknya Ayah tidur. Hmm, sekarang Ayah bisa tidur nyenyak karena sudah mendengar kabar tentang putri kesayanganmu," gurau Halimah.
Lagi-lagi Hanafi tersenyum tipis menanggapi gurauan sang istri.
.
.
__ADS_1
Hari masih pagi. Kicauan burung pun baru bersahutan. Namun, lengkingan Kania mengalahkan kicauan burung nuri milik suaminya.
"Astaga, Mami! Ini bukan hutan, ya. Enggak usah teriak-teriak seperti itu!" tegur Tuan Kusuma.
"Lagian, siapa suruh kamu tidur di sini?" omel Kania.
"Ish, Papi ini suami kamu, Mi. Ya wajar kalau Papi tidur di sini," lanjut Tuan Kusuma terlihat kesal.
"Hmm, baru ingat kalau sekarang itu Papi suaminya Mami. Uuh, kemarin-kemarin ke mana aja, Pi? Apa hanya karena ada Ahsan, Papi ngakuin Mami lagi sebagai istri kamu? Huh, dasar pria bermuka dua!" dengus Kania dengan sangat kesal.
"Terserah!" jawab Tuan Kusuma sambil beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Huh, selalu saja seperti itu. Su'udzon! Padahal aku hanya mencoba untuk saling memahami saja. Tapi entah kenapa dia sulit sekali memahami aku. Semakin lama, aku semakin tidak betah tinggal satu atap sama dia. Tuan Kusuma mengeluh dalam hatinya.
Sementara, Ahsan yang mendengar keributan kedua orang tuanya, hanya bisa menghela napas. Sungguh, dia tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang selalu memiliki waktu untuk bertengkar. Sedangkan untuk bercengkerama dengannya, waktu mereka sepertinya sangat padat.
Memori Ahsan kembali pada masa kecilnya yang terasa kurang menyenangkan. Masa kecil yang dia habiskan dengan kesendiriannya. Orang tua Ahsan terlalu sibuk dengan karirnya masing-masing. Ayah yang memiliki sebuah pabrik kayu olahan, dan juga Ibu yang selalu melakukan pemotretan ke sana kemari.
Tak ingin mendengar keributan kedua orang tuanya lagi, Ahsan pun mengayunkan langkahnya menuju garasi. Dia hendak menemui sahabat masa kecilnya untuk menyampaikan amanat dari Karen.
"Ahsan pergi dulu, Mbok," pamit Ahsan yang tidak ingin merusak suasana pagi kedua orang tuanya yang sedang berdebat.
"Iya, Den. Hati-hati di jalan."
.
.
Pukul 9 pagi, Halim tiba di bumi perkemahan Mandalawangi. Setelah melakukan daftar ulang, Halim segera menuju tenda bernomor sembilan. Halim tersenyum melihat angka favoritnya.
__ADS_1
"Hmm, semoga angka ini membawa keberuntungan bagiku," gumam Halim.
Tak berapa lama kemudian, seorang pria yang usianya hampir sama dengan Halim, memasuki tenda yang sudah ditempati oleh Halim . Sepertinya, pria ini yang akan menjadi teman seperjuangannya.