Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Merasa Nyaman


__ADS_3

Jantung Halim berdegup kencang tatkala salah satu dari perempuan yang berpakaian serba ketat itu menoleh. Tak salah lagi, dia memang Niram, pikir Halim.


Begitu juga dengan Niram, jantungnya berirama tak beraturan ketika melihat bayangan paman yang dihormatinya, sedang berdiri tegak tak jauh dari hadapannya.


"Pa-paman," gumam Niram yang masih bisa didengar oleh Yura.


"Apa? Jadi dia paman lu?" pekik tertahan Yura.


Niram tidak menjawab pertanyaan Yura. Dia malah mengajak Yura untuk segera pergi.


"Ayo, Mbak. Kita pergi dari sini!" ucap Niram seraya membalikkan badannya.


Sungguh, Niram tak kuasa melihat tatapan heran dari pamannya. Niram tidak sanggup jika harus melukai hati sang paman.


"Niram tunggu, Nak!"


Halim hendak mengejar Niram. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika pegawai apotek memanggil nama putranya. Dengan sangat terpaksa, Halim kembali ke loket apotek untuk mengambil obat anaknya.


Di luar rumah sakit, Niram masih tergesa-gesa berjalan menjauhi rumah sakit. Tiba di tepi jalan raya, kedua perempuan itu menghentikan sebuah angkutan umum yang melintas di hadapan mereka. Tak lama kemudian, mereka menaiki angkot tersebut.


.


.


Pikiran Halim benar-benar tidak tenang setelah melihat penampakan Niram. Keponakan yang dulunya dibanggakan karena imannya yang teguh, entah kenapa kini terlihat berbeda.


Tak ada lagi hijab yang menutupi aurat rambut di kepalanya. Tidak ada lagi pakaian longgar yang menutupi lekuk tubuhnya. Justru yang ada sekarang, adalah Niram yang terlihat berani dan terbiasa mengenakan pakaian yang memperlihatkan lekukan tubuhnya.


Ya Tuhan ... ada apa denganmu, Nak? Apa yang tidak paman ketahui selama ini? Apa kamu telah salah memilih teman? Apa kamu telah salah menjalani pergaulan?


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Halim. Hatinya terasa sakit setelah melihat bentuk Niram yang sudah seperti perempuan kota yang terlalu berani mengekspos tubuhnya.


"Astaghfirullahaladzim!" gumam Halim.


Sesaat kemudian, Halim menuju loket pendaftaran untuk mengecek alamat pasien yang bernama Niram Kirana, keponakannya.


.


.


Tiba di rumah.


"Kenapa lu malah lari darinya?" tanya Yura.

__ADS_1


"Aku tidak sanggup membuat dia kecewa, Mbak," jawab Niram.


"Ish, Nir. Harusnya lu hadapi dia. Lu bongkar kedok bininya sama paman lu, biar dia tahu kelakuan bejat bininya itu!" dengus Yura, kesal.


"Aku tidak ingin mereka bertengkar gara-gara aku, Mbak," lanjut Niram.


"Astaga, Niram ...! Ih, lu tuh, ya ... masih aja mikirin orang lain. Kalau memang mereka bertengkar, itu bukan karena elu, tapi karena sifat bininya yang serakah. Lu tuh korban, Niram. Korban! Jadi lu punya hak untuk meminta pertanggungjawaban bininya paman lu!" teriak Yura seraya mengepalkan kedua tangannya. Yura sendiri merasa gemas dengan sikap Niram yang terlalu baik.


"Kalaupun Imas bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya, apa kesucianku akan kembali? Kalaupun Imas memohon ampun, apa bisa menghilangkan janin yang ada di dalam kandunganku? Kalaupun mereka bertengkar bahkan sampai berpisah? Apa bisa mengembalikan waktu sebelum aku mengalami pelecehan? Tidak, Mbak! Semuanya tidak akan pernah kembali seperti semula!" pekik Niram. "Aku tidak memikirkan paman. Aku sama sekali tidak peduli dengan bibi yang telah menjualku. Satu-satunya yang aku pedulikan, adalah Rayyan. Mbak bisa bayangkan, bagaimana nasibnya anak itu jika sampai kedua orang tuanya berpisah. Mbak bisa bayangkan, bagaimana dia akan terpukul jika mengetahui perbuatan keji ibu yang selalu dipujanya. Aku tidak bisa mempertaruhkan masa depan Rayyan, Mbak. Aku tidak mau hidup Rayyan hancur dengan semua kenyataan pahit yang aku derita," tutur Niram panjang lebar.


"Huft!"


Yura hanya bisa membuang napas dengan kasar. Bagaimanapun, dia harus menghormati keputusan sahabatnya itu.


"Ya sudah, ganti baju dan beristirahatlah! Biar aku belikan makanan untuk kita," perintah Yura.


.


.


Di salah satu kamar hotel yang berada di Dubai, tampak seorang pria sedang mengemasi pakaiannya. Senyumnya tidak pernah lepas dari kedua sudut bibir tebalnya. Sesekali, bibir itu bersenandung menandakan hatinya begitu gembira.


"Mau ke mana kamu, Mas?" tanya Karen, sang istri.


"Tapi ini belum genap seminggu, Mas," tukas Karen.


"Lantas?" lanjut Brama, masih terlihat asyik memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Aku belum mengunjungi semua sanak saudaraku," lanjut Karen.


"Itu urusanmu. Sudah aku bilang, aku datang kemari untuk urusan bisnisku. Jika kau memang ingin pergi mengunjungi saudaramu, pergilah sendiri! Tidak perlu menunggu urusanku selesai. Aku tidak punya banyak waktu untuk menemani kamu berkeliling."


"Tapi Mas, jika kita tidak pergi bersama, mereka akan mengira hubungan kita tidak harmonis," tukas Karen.


"Lantas apa masalahmu? Kau tahu seharmonis apa hubungan kita, lalu apa peduliku jika mereka memiliki pemikiran seperti itu. Sudah aku putuskan, malam ini, aku akan kembali ke Indonesia. Jika kau masih betah tinggal di sini, silakan! Aku tidak akan memaksamu untuk pulang bersamaku. Paham!" tegas Brama.


Selesai membereskan pakaiannya. Brama pun segera pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Tega kamu, Mas. Aku tahu pernikahan kita hanya sebuah rasa pamrih. Namun, setidaknya kamu bisa sedikit bersandiwara di hadapan keluarga besar papaku, batin Karen seraya menitikkan air mata.


.


.

__ADS_1


Dering ponsel Niram kembali menjerit. Niram yang sedang membaca novel, segera meraih ponselnya. Nama Alfaruk tertera di layar ponsel. Membuat kedua sudut bibir Niram terangkat.


"Sore, Mas!" sapa Niram sesaat setelah teleponnya tersambung.


"Selamat sore bidadari kecilku," rayu Alfaruk di ujung telepon.


Niram tergelak manja mendengar rayuan gombal pria dewasa itu.


"Ada apa Mas menelepon?" tanya Niram.


"Mas rindu kamu, Sayang," rajuk Alfaruk.


"Idiiih, manjanya ..." ledek Niram, "iya, Mas. Niram juga rindu," imbuhnya.


"Ya sudah, malam ini Mas tunggu di apartemen, ya," kata Alfaruk.


"Apartemen?" ulang Niram.


"Iya, Sayang. Apartemen kamu," sambung Alfaruk.


"Maksudnya?" Niram kembali bertanya.


"Mas baru saja membeli sebuah apartemen untuk kamu, Nir. Kebetulan, Mas berhasil memenangkan tender dari perusahaan kolega Mas yang berada di Dubai," papar Alfaruk.


"Waaah ... selamat ya, Mas. Hmm, Mas memang hebat. Pebisnis sejati! Niram bangga sama, Mas," puji Niram tulus.


"Terima kasih, Sayang," sahut Alfaruk.


Pujian yang sangat sederhana, yang hanya terucap lewat kata-kata. Akan tetapi, pujian ini telah membuat hati Alfaruk melambung tinggi. Dia merasa dihargai sebagai seorang lelaki sejati. Karena itulah, Alfaruk merasa nyaman bersama Niram.


"Ya sudah, Mas shareloc alamat apartemennya. Nanti malam Mas tunggu. Dandanlah yang cantik. Kamu enggak lupa merawatnya, 'kan, Nir?" ucap serak Alfaruk di ujung telepon.


"Tenang saja, Mas. Semuanya terjaga hanya untuk Mas," jawab Niram, manja.


"Terima kasih, Sayang. Mas tutup teleponnya ya!"


Tanpa menunggu balasan, sambungan telepon pun terputus.


.


.


Di sebuah unit apartemen mewah. Alfaruk tersenyum seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sudah terisi peralatan rumah tangga yang cukup mewah. Dia merasa bangga karena telah berhasil membeli sebuah apartemen untuk wanita simpanannya.

__ADS_1


"Ini akan menjadi tempat singgah yang paling nyaman untukku. Terlebih lagi jika Niram sudah menempatinya. Sungguh, perempuan itu, meskipun usianya masih belia, tapi dia tahu bagaimana caranya membuat aku merasa nyaman saat bersamanya. Ah Niram ... Niram kecilku," gumam Alfaruk tersenyum lebar.


__ADS_2