Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Mencari Mangsa


__ADS_3

Natasya hanya bisa terbengong mendengar ajakan Ahsan yang penuh dengan semangat. Entah kenapa, dia melihat Ahsan begitu antusias sangat mendengar niatnya untuk memperkenalkan seorang wanita. Padahal, sebelum-sebelumnya, Ahsan tidak pernah bersikap seagresif ini jika hendak diperkenalkan dengan seorang gadis.


"Lu, sehat, 'kan, San?" tanya Natasya seraya meraba kening Ahsan dengan punggung tangannya.


"Ih, apaan sih lu, Sya. Gue masih waras kali," tukas Ahsan, menepis tangan sahabatnya.


"Hehehe, maaf ... gue cuma kaget aja," timpal Natasya. "Ya udah, yuk berangkat!" lanjut Natasya.


"Ketemu temen lu?" Ahsan kembali bertanya.


"Enggak, ke mall aja. Gue udah enggak punya peralatan mandi," sahut Natasya yang sontak membuat bola mata Ahsan mendelik.


.


.


Malam semakin larut. Imas masih terlihat gelisah. Dia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Dengkuran halus sang anak yang biasanya dia tegur karena menggangu, kini dia abaikan begitu saja.


Saat ini, pikiran Imas benar-benar buntu. Dia sudah tidak punya jalan lain untuk menghindari utangnya terhadap Bos Engkong. Ribuan kali pun Imas menagih kepada kedua orang tuanya, jawaban mereka masih tetap sama. Tidak ada.


Imas menarik napas panjang. Sepersekian detik kemudian, dia mengembuskan napasnya begitu kasar. Semua rasa, kini bercampur aduk di dadanya. Imas mendengus kesal saat mengingat kembali asal muasal dia meminjam uang kepada rentenir itu.


Dulu, Imas tergiur dengan bagi hasil yang dijanjikan ayahnya tentang bisnis ayam petelur. Nyatanya, jangankan bagi hasil, modal bisnis pun melayang sudah. Karena faktanya, sang ayah justru menjadikan uang modal usaha, sebagai modal judi di beberapa perjudian sabung ayam.


Huh, tidak ada cara lain. Besok aku harus kembali ke rumah bapak dan menekannya. Jika tidak, lama-lama bandaku bisa habis karena menutupi bunga pinjaman, gerutu Imas dalam hatinya.


Saat menjelang tahrim, Imas baru bisa memejamkan kedua matanya. Dengkuran halus pun mulai terdengar saling bersahutan di kamar yang hanya berukuran 2x2 meter.


.


.


"Hei, Melda! Perempuan seperti apa yang kamu sajikan padaku, Hah?! Tidak adakah yang lebih muda lagi?" teriak seorang pria tua menggerutu kesal.

__ADS_1


Sejurus kemudian, pria tua itu mendorong keras tubuh seorang wanita berpakaian seksi hingga jatuh terjerembab di atas lantai.


"Ish ...."


Wanita itu meringis dan segera mencari pegangan untuk berdiri. Namun, tiba-tiba datang seorang wanita yang juga sudah cukup tua, menghampiri pria itu di kamarnya.


"Maaf, Bos. Akan saya ganti dengan yang baru," ucapnya sambil membungkuk berulang kali sebagai ungkapan permintaan maaf.


"Ya sudah, cepat keluarkan koleksi terbaik kamu!" titah si pria tua.


"Ba-baik, Bos," sahut wanita yang dipanggil Melda.


Sesaat kemudian, Imelda mengedipkan mata kepada ajudan setia yang selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Seolah sudah memahami isyarat yang diberikan, si pria bertubuh tinggi tegap itu pun, pergi ke sebuah ruangan yang cukup luas.


Entah apa yang dia lakukan di sana. Hanya saja, tak lama berselang, keluarlah sekitar sepuluh orang perempuan dengan wajah yang dipoles make up tebal dan mengenakan pakaian dengan bahan yang sangat irit.


Sedikit tergesa-gesa, si ajudan yang bernama Togar, segera menghampiri Imelda di kamar tamunya.


"Mereka sudah siap, Mam," bisik pria tinggi itu di telinga Imelda.


Togar membawa kesepuluh wanita itu untuk memasuki kamar. Satu per satu, dengan gaya berlenggak-lenggok bak peragawati, para wanita itu memasuki sebuah kamar yang cukup luas.


Ada ranjang berukuran king size, sofa panjang lengkap dengan mejanya. Alat-alat elektronik berikut lemari pendingin, tersedia juga di sana. Tak lupa, sebuah bilik kamar mandi berdindingkan kaca transparan, menjadi sebuah ciri khas tersendiri bagi kamar-kamar di sebuah rumah bordil milik Mami Imelda yang berada di kawasan kota.


Dengan bertelanjang dada, pria tua yang dipanggil Bos itu berjalan mendekati kesepuluh wanita yang sudah berjejer rapi. Senyum menyeringai pun terukir di kedua sudut bibirnya yang kehitaman akibat terlalu sering merokok.


Tanpa tahu malu, pria tua itu bahkan berani mengendus-endus ceruk leher beberapa wanita. Hmm, sudah seperti anjing yang mengendus mangsanya saja.


Kedua bola mata pria tua itu, seolah hendak keluar saja, ketika melihat beberapa bagian tubuh yang menonjol dari kesepuluh wanita tersebut. Air liurnya seperti sudah ingin menetes saja, saat dengan tidak tahu malunya, dia menarik belahan dada para wanita yang berpose sedemikian rupa.


Namun, setelah mengamati dengan seksama para wanita bertubuh sintal itu, tak satu dari mereka yang membuat sesuatu di balik celana pendek yang dia kenakan, berdiri tegak.


Dengan sangat kasar, pria itu menarik wanita pertama yang dia dorong tadi. Dengan ekspresi wajah yang sulit digambarkan, pria tua itu pun kemudian melucuti pakaian si wanita hingga tak tersisa sehelai benang pun di sana.

__ADS_1


Masih dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Pria tua itu berjalan menuju rak televisi. Sedetik kemudian, dia menyalakan televisi yang menayangkan saluran musik dengan volume yang cukup kencang.


"Menarilah!" perintah pria tua kepada wanita bayaran yang sudah berdiri tanpa busana.


Si wanita terlihat canggung karena harus menari telanjang dengan ditonton rekan-rekan satu profesi. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Pria tua itu sudah membayarnya, dan dia harus menuruti apa yang menjadi kehendak pria tersebut.


"Kau lihat ini, Melda!" Tunjuk si pria tua pada bukit kembar yang sudah sedikit menurun.


"Apa masih ada rasa untuk benda yang sudah lembek seperti ini?" ucap si pria tua seraya memainkan dua benda yang sudah tidak dihalangi kacamata berenda.


Sedetik kemudian, si pria tua menarik tangan wanita itu hingga berbalik dan memunggungi para wanita yang masih berjejer rapi.


"Lihatlah kedua bokongnya. Apa bokong seperti ini pantas kau jajakan padaku. Huh, tidak ada kenyal-kenyalnya sedikit pun?"


Pria itu terus mencecar si wanita dengan hinaan bertubi-tubi.


Tak sanggup mendapatkan perlakukan buruk dari pembelinya, si wanita itu pun mendorong tubuh pria tua tersebut. Sedetik kemudian, dia menarik sprei dan membalut tubuhnya menggunakan sprei tersebut.


"Cukup, Tuan. Jika kau hina aku, itu artinya kau menghina dirimu sendiri. Apa kau sendiri tidak sadar dengan kulit tubuhmu yang sudah keriput itu?!" ucap si wanita.


Plak!


Sahutan telapak tangan, terdengar keras di ruangan itu.


"Bubar semuanya! Bubar!"


.


.


Hingga mentari mulai menampakkan sinarnya. Imelda tidak mampu memejamkan mata. Pertunjukan semalam telah membuat hatinya gusar.


Karena sinar barang dagangannya yang sudah redup, Imelda pun harus kehilangan pelanggan dan menanggung kerugian yang cukup besar dalam semalam. Jika terus seperti ini, maka lama-lama usahanya akan bangkrut.

__ADS_1


"Huh, aku harus pergi ke perkampungan untuk mencari mangsa baru!"


__ADS_2