Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Mencari Pekerjaan


__ADS_3

Selesai shalat asar, Ahsan meraih mushaf kecil yang selalu menemaninya. Dia pun mulai melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan nada yang dipelajari di pondok pesantren binaan kakek dan neneknya. Sejak memutuskan untuk tinggal bersama kakek neneknya, Ahsan memiliki cita-cita menjadi qori terbaik di negerinya.


Selesai mengaji, Ahsan menyimpan mushaf-nya ke dalam laci. Saat hendak menutup laci meja belajarnya, mata Ahsan terkunci pada gelang rantai yang terletak di atas binder kecil. Ahsan pun meraih benda tersebut.


Ahsan mengayunkan langkah menuju ranjang. Dia duduk seraya menyandarkan punggungnya. Ahsan pun mulai mengamati benda yang dia ambil dari laci tadi.


Satu per satu, dia eja huruf-huruf yang tergantung pada sebuah gelang rantai. Ya, gelang yang dia temukan seminggu yang lalu. Saat tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis.


"N, I, R, A, M," eja Ahsan, "Niram ... hmm, apa pemilik gelang ini bernama Niram" gumamnya.


Tanpa sadar, seulas senyum tipis tergambar dari raut wajah Ahsan yang meneduhkan. Entah Tuhan memiliki rencana apa untuknya kelak, hingga takdir membuat Ahsan menemukan gelang beruntaikan sebuah nama.


Tok-tok-tok!


Ketukan di pintu kamarnya, memaksa Ahsan menyudahi lamunan. Ahsan menaruh gelang tersebut di bawah bantal. Dia pun mulai beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu kamarnya.


Ceklek!


Pintu terbuka. Tampak seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu kamar Ahsan.


"Apa kabar, Nak?" tanya pria itu seraya merentangkan kedua tangannya.


"Alhamdulillah, kabar Ahsan baik, Pi," jawab Ahsan, mendekati sang ayah. Untuk sejenak, ayah dan anak itu pun saling berpelukan.


"Apa kamu akan lama tinggal di sini?" tanya Tuan Kusuma.


"Kenapa? Apa Papi keberatan?" Ahsan balik bertanya.


"Hahaha, ... kamu itu ngomong apa, Nak. Papi hanya bertanya saja," ucap sang ayah.


"Mungkin selama libur semester saja, Pi," jawab Ahsan.


"Segera selesaikan kuliah kamu, San. Papi sudah cape, sudah ingin pensiun saja," kata Tuan Kusuma.


"Ish, Pi. Ahsan sudah bilang jika Ahsan tidak tertarik dengan dunia Papi," jawab Ahsan, pasti.


"Lantas, siapa yang akan melanjutkan usaha Papi, Nak? Apa kamu tega, jika bisnis yang Papi bangun bertahun-tahun, harus berhenti karena tak ada pewaris?" tanya Tuan Kusuma seraya menatap sendu anaknya.

__ADS_1


Ahsan hanya bisa menarik napas dalam-dalam. "Kita bicarakan lagi setelah Ahsan lulus kuliah, Pi. Saat ini, Ahsan hanya ingin belajar qiraat dulu dengan benar," pungkas Ahsan yang membuat papinya bungkam seketika.


.


.


Sementara itu, di rumah kontrakan Halim.


Selepas magrib, semua anggota keluarga berkumpul untuk makan malam. Tidak terkecuali dengan Niram. Meskipun sikap Imas masih terlihat judes, tapi dia tidak melarang Niram untuk bergabung makan malam bersama mereka.


"Sabar ya, Ram. Teman Paman yang bekerja di pabrik konveksi, belum menghubungi Paman juga," kata Halim, memulai pembicaraan.


"Iya, Paman. Tidak apa-apa," jawab Niram.


"Kamu coba cari kerja sendiri dong. Jangan mengandalkan paman kamu terus," timpal Imas.


"Iya, Tan. Rencananya juga begitu. Jika diizinkan, besok Niram ingin mencari lowongan kerja. Boleh, 'kan, Paman?" pinta Niram, harap-harap cemas.


"Ish, Ram ... bukannya Paman tidak mau mengizinkan, tapi kamu masih baru di kota ini. Nanti bisa kesasar. Kota ini begitu luas, dan kamu sama sekali belum mengenal jalanan di kota ini," tutur Halim mengungkapkan kecemasannya.


"Udah deh, Bang. Enggak usah lebay begitu! Niram enggak bakalan mungkin bisa mengenal jalanan di sini jika dia emang enggak pernah keluar rumah. Biarkan saja dia mengenali lingkungannya. Toh dia bukan anak kecil yang bakalan lupa jalan pulang," tukas Imas yang merasa tidak suka suaminya terlalu mencemaskan Niram.


"Tante benar, Paman. Lagi pula, Niram sudah besar. Tidak mungkin kesasar juga. Niram janji, Niram akan mengingat semua jalan yang ada di kota ini. Bila perlu, Niram akan mencatatnya, hehehe,..." gurau Niram sembari terkekeh.


"Ya sudah, tapi ... tolong jaga diri baik-baik ya, Nak. Jangan ladeni orang yang menegur kamu. Terlebih lagi para berandalan yang suka nangkring di ujung gang depan," lanjut Halim.


"Baik, Paman," jawab Niram.


Selesai makan malam, Niram membereskan meja makan. Dia menyimpan lauk pauk yang tersisa ke dalam lemari makanan. Lepas itu, dia mengumpulkan piring kotor dan mencucinya.


Niram begitu sibuk membereskan dapur, sementara Imas, dia hanya ongkang-ongkang kaki saja di ruang depan sambil menonton sinetron kesukaannya.


Selesai dengan urusan dapur, Niram pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu, dia pergi ke kamarnya dan mulai menunaikan shalat isya. Di sujud terakhirnya, Niram selalu berdo'a untuk kebaikan dan keselamatan diri juga kedua orang tuanya.


Masih dengan mengenakan mukena, Niram meraih tas jinjingnya. Dia mulai mengeluarkan berkas-berkas yang dia butuhkan untuk melamar pekerjaan esok hari. Sebenarnya, Niram telah membuat CV. Namun, CV itu menjadi tidak berlaku di saat Niram gagal mendapatkan pekerjaan yang ditawarkan Halim.


Niram mengeluarkan lembar surat lamarannya. Dia meremas kertas tersebut. Sedetik kemudian, Niram mengambil kertas folio dan mulai menulis surat lamaran kembali.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu. Niram menandatangani surat lamaran yang telah dibuatnya.


"Semoga saja ada rezekinya," gumam Niram seraya memasukkan surat lamaran tersebut berikut berkas-berkas penting sebagai syarat melamar pekerjaan, ke dalam sebuah amplop besar berwarna coklat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tak ingin terlambat bangun esok hari, Niram pun segera melepas mukena dan menyimpannya pada tempatnya. Sesaat kemudian, dia membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur busa yang mulai menipis. Niram mulai melantunkan do'a sebelum akhirnya dia terlelap merangkai mimpi.


.


.


Keesokan harinya.


"Jam berapa kamu berangkat mencari pekerjaan, Ram?" tanya Halim.


Niram yang sedang mengepel lantai, sontak mendongak. Tampak Halim yang sedang mengenakan kaos kaki karena hendak pergi bekerja.


"Seberesnya di rumah saja, Paman," jawab Niram.


"Ya sudah, ingat pesan Paman ya. Hati-hati!" ucap Halim penuh penekanan.


"Siap, Paman!" jawab Niram.


Halim berteriak memanggil istrinya. Setelah Imas keluar, Halim pun berpamitan kepada sang istri.


"Hati-hati di rumah ya, Ma. Banyak-banyak olahraga, ngepel ... biar lahirannya lancar," pesan Halim.


Imas hanya tersenyum kecut menanggapi pesan suaminya.


Setelah selesai membereskan rumah kontrakan sang paman. Niram bersiap-siap untuk mencari pekerjaan. Niram memang belum tahu hendak ke perusahaan mana dia mencari pekerjaan, karena Niram sendiri belum mengenal perusahaan-perusahaan yang ada di lingkungan sekitarnya.


Meskipun nantinya Niram tidak mendapat pekerjaan di hari ini. Namun, setidaknya Niram akan belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


"Niram pergi dulu, Tan," pamit Niram kepada bibinya.


"Ya sudah, sana pergi!" usir Imas.


Hmm, Bukannya do'a, hanya usiran yang Niram dapatkan dari sang bibi. Miris memang. Namun, semua itu tidak menyurutkan langkah Niram untuk mencari pekerjaan. Dengan menggunakan rok panjang dan blouse bermotif bunga sakura, Niram pun melangkahkan kaki keluar dari rumahnya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim."


__ADS_2