
"Maaas! Imaaas!" teriak Halim memanggil istrinya.
Mendengar suara suaminya yang begitu menggelegar dari teras depan, membuat wanita hamil itu berdiri seketika. Dengan raut wajah yang terlihat kesal dan bibir menggerutu, Imas melangkahkan kaki menuju teras depan.
"Ada apa sih, Bang?" tanya Imas, sedikit sewot.
"Lihat mereka!" perintah Halim. "Apa kamu mengenal mereka?" tanya Halim kepada istrinya.
Imas diam. kedua tangannya hanya bisa memainkan ujung dasternya di kiri dan kanan. Ekspresi wajahnya terlihat semakin kesal. Kemarin dia sudah meminta waktu selama dua hari. Akan tetapi, entah kenapa orang-orang suruhan Bos Engkong malah balik terus ke rumahnya.
Aish, menyebalkan! gerutu Imas dalam hatinya.
"Jawab Imas!" teriak Halim yang mulai merasa kesal dengan diamnya sang istri. "Apa kamu kenal dengan kedua orang ini?" tekan Halim kepada istrinya.
"I-iya, Bang. I-imas ke-nal salah satu dari mereka," jawab Imas terbata.
"Astaghfirullahaladzim, Maaas ...!" guman Halim seraya menjambak kasar rambutnya. "Jadi benar, kamu punya utang kepada rentenir itu?" tanya Halim yang ingin mendengar jawaban langsung istrinya hanya untuk lebih meyakinkan dirinya lagi.
"Ma-maafkan Imas, Bang," jawab Imas lirih. Dia tidak menyangka jika kebohongannya akan terbongkar pagi ini.
"Ya Tuhan, Imas!" pekik Halim.
Halim sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rasanya ia ingin bertanya tentang utang itu. Namun, ketika Halim melihat orang-orang memperhatikan dirinya. Dia pun sadar jika rumahnya telah menjadi pusat perhatian para tetangganya.
Halim kembali menatap kedua orang itu.
"Baiklah, Bang. Jujur saja saya tidak tahu tentang utang istri saya. Tapi saya pasti akan bertanggung jawab terhadap apa yang istri saya perbuat. Saat ini, saya tidak memiliki uang sebanyak itu. Tolong beri saya tenggang waktu untuk bisa melunasinya," tutur Halim panjang lebar.
"Tidak bisa!" tegas pria botak.
Halim menghela napas. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana membayar utang istrinya yang berjumlah puluhan juta.
"Jika Abang tidak memberikan tenggang waktu kepada saya, gimana mungkin saya bisa membayar utang istri saya sebanyak puluhan juta," keluh Halim.
"Ucok!" panggil pria botak itu kepada temannya.
"Iya, Bang!" jawab orang yang bernama Ucok seraya mendekati pria botak itu.
"Cepat lucuti perhiasan wanita itu!" Tunjuk pria botak itu kepada Imas.
"Eh, enak saja! Enggak-enggak!" pekik Imas seraya memegang kalung dan gelangnya.
Akan tetapi, pria yang bernama Ucok tidak menggubris perkataan Imas. Dia mengayunkan langkahnya mendekati Imas. Dengan cekatan, kedua tangan Ucok menyambar perhiasan-perhiasan yang Imas kenakan.
"Diam!" teriak Ucok saat Imas berusaha memberontak.
__ADS_1
Tubuh Imas yang terhalang perut gendutnya tentu saja sangat kesulitan untuk bergerak. Tak ingin membahayakan kondisi kandungan istrinya, Halim mencoba bernegosiasi dengan pria yang sedang memaksa melucuti perhiasan Imas.
"Tunggu, Bang! Biar saya saja yang melakukannya," kata Halim.
"Ish, enggak Bang. Perhiasan ini punya Imas!" pekik Imas yang lagi-lagi menutupi lehernya.
Halim tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap tajam kepada istrinya. Meskipun tidak tega, tapi semua ini terjadi karena ulah istrinya sendiri.
"Bang, ini punya Imas!" Lagi-lagi Imas berteriak, berusaha mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
"Berikan!" perintah Halim, dingin.
Mendapatkan tatapan tajam dari suaminya. Imas tak mampu berkutik lagi. Meskipun tidak rela, tapi dia melucuti perhiasannya satu per satu.
Halim menyerahkan perhiasan itu kepada pria botak. Senyum menyeringai terlihat dari si pria botak.
"Hmm, anggap saja perhiasan ini untuk membayar bunga minggu sekarang," kata si pria botak itu.
"Apa? Bunga mingguan?" tanya Halim terkejut.
Sagar tidak menjawab. Dia hanya terus menyeringai seraya berlalu pergi dari depan rumah kontrakan Halim.
Setelah kedua penagih utang itu pergi. Halim membalikkan badannya. Rasanya dia ingin mencaci maki sang istri. Namun, saat melihat anak dan keponakannya sudah berdiri di ambang pintu, halim mengurungkan niatnya.
Halim melirik penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah waktunya untuk pergi bekerja.
"Baik, Paman," sahut Niram.
Niram kembali masuk. Beberapa menit kemudian, dia keluar dan segera menyerahkan jaket milik Halim.
"Kamu sudah siap, Ram?" tanya Halim.
Niram mengangguk.
"Ayo, Paman antarkan sampai lampu merah depan," ajak Halim.
Niram kembali mengangguk. "Niram pergi dulu, Tan."
Niram mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan bibinya. Namun, Imas malah menepis tangan Niram. Sepertinya, dia masih merasa kesal atas sikap Halim yang sudah mengambil keputusan sepihak dengan menyerahkan perhiasan yang dimilikinya.
"Sudah, Niram. Ayo naik, nanti Rayyan bisa terlambat masuk sekolah!" teriak Halim yang sudah duduk di atas motornya.
"Baik, Paman."
Sepeninggal suami dan anaknya. Imas kembali memasuki rumah. Wajahnya terlihat merah karena menahan amarah. Dengan menghentak-hentakkan kaki, Imas berjalan memasuki kamar.
__ADS_1
Brak!
Tiba di kamar, Imas membanting pintunya. Bukan hanya pintu yang menjadi sasaran amarah Imas, semua barang yang ada di meja rias pun tak ketinggalan. Imas meluapkan semua rasa kesalnya pada barang-barang yang ia temukan di atas meja rias. Satu per satu, dia melemparkan peralatan makeup seraya terus mengumpat.
"Lihat saja, akan aku balas lebih menyakitkan lagi dari ini, Halim!"
.
.
Halim menghentikan motornya di depan sebuah SD negeri. Sesaat kemudian, Rayyan turun. Dia mencium punggung tangan ayahnya sebelum memasuki gerbang sekolah.
"Belajar yang rajin ya, Nak. Jangan dulu pulang sebelum Papa jemput," pesan Halim kepada anaknya.
"Iya, Pa," jawab Rayyan.
Setelah memastikan Rayyan memasuki halaman sekolah, Halim pun melajukan kembali motornya. Hingga tiba di lampu merah pertama, Halim kemudian menghentikan motornya.
"Kamu enggak apa-apa kalau turun di sini, Ram?" tanya Halim.
"Tidak apa-apa, Paman," jawab Niram.
"Memangnya, di mana kamu janji ketemuan sama teman kamu itu?" Halim kembali bertanya.
"Di halte bus Sarinah, Paman," jawab Niram.
"Ya sudah, kalau begitu, biar Paman antar ke sana," lanjut Halim.
"Tidak usah, Paman. Lagi pula, jalannya berlawanan arah dengan kantor Paman. Niram takut Paman terlambat ke kantor. Biar Niram naik bus saja," sahut Niram.
"Baiklah, Paman berangkat dulu. Hati-hati di jalan ya, Nak," ucap Halim seraya menyalakan kembali mesin motornya.
"Tunggu, Paman!" seru Niram.
Sontak Halim mematikan mesin motornya lagi.
"Do'akan Niram, Paman. Semoga kali ini Niram bisa mendapatkan pekerjaan," kata Niram.
Halim tersenyum. Dia kemudian mengusap pucuk kepala keponakannya.
"Tentu saja, Ram. Paman akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu."
"Terima kasih, Paman. Kalau begitu, Paman boleh pergi sekarang. Hati-hati di jalan," kata Niram, tersenyum sumringah.
Halim mengangguk. Dia pun melajukan motornya.
__ADS_1
"Ayo, semangat Niram," gumam Niram seraya menyeberangi jalan untuk menaiki angkot yang akan membawanya ke halte bus.