
Setelah melewati perjalanan kurang lebih selama 45 menit, Imas tiba di sebuah rumah sederhana yang tampak acak-acakan. Rumput liar yang mulai meninggi. Tanaman hias yang layu dan sebagian mengering. Bahkan sampah plastik terlihat berserakan di mana-mana. Halaman rumah itu tampak kotor. Seperti tidak berpenghuni saja.
Imas membayar ongkos ojeknya. Lepas itu, dia kemudian memasuki halaman rumah tersebut. Untuk sesaat, Imas mengedarkan pandangannya. Kedua bahunya terlihat bergidik saat mengamati halaman rumah yang lebih mirip disebut tempat pembuangan sampah. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita hamil itu. Namun, sedetik kemudian dia kembali mengayunkan langkah kakinya menuju teras.
Tok-tok-tok!
Imas mengetuk pintu rumah bercat hijau yang warnanya telah pudar. Tak lama berselang, pintu rumah pun terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya berambut pendek yang sudah dipenuhi uban.
"Astaga, Imas ... anak Ibu! Ah, akhirnya kamu datang juga untuk menemui Ibu," tutur wanita paruh baya itu seraya merangkul tubuh Imas. "Ibu kangen sekali sama kamu, Nak," imbuhnya.
Imas hanya tersenyum kecut mendengar pengakuan rindu dari ibu tirinya.
Cih, kangen dari mana? Bukankah selama ini, wanita itu tidak pernah mempedulikan keberadaanku. Kalau bukan karena perintah bapak, tidak akan sudi aku datang ke rumah ini dan berpura-pura baik di hadapanmu, batin Imas, menatap ibu tirinya.
"Bapak mana, Bu?"
Bukannya menanggapi rasa rindu sang ibu, Imas justru malah menanyakan keberadaan ayahnya.
"Hmm, di mana lagi dia berada kalau bukan di meja judi," jawab Noor, ibu tirinya Imas.
"Huft!"
Imas membuang napasnya dengan sangat kasar. Entah bagaimana lagi dia harus bersikap terhadap sang ayah. Entah kenapa pria tua itu seperti tidak pernah ada kapoknya sama sekali. Meski sudah sering keluar masuk penjara akibat berjudi. Namun, dia masih tetap melakukan perbuatan hina tersebut.
"Ih, kenapa Ibu tidak melarang dia untuk balik lagi ke sana?" gerutu Imas, kesal.
"Ya mau gimana lagi, Mas, Ibu juga senang kalau bapak kamu menang. Jadinya enggak bisa ngelarang-ngelarang bapak kamu. Lagi pula, kalaupun dilarang, dia pasti marah dan malah membalik-balikan perkataannya ke Ibu," tutur Noor, santai.
"Huh, sama saja. Punya orang tua kok kelakuannya bejat semua!" sungut Imas semakin terlihat kesal.
Noor hanya tersenyum tipis menanggapi wajah Imas yang semakin ditekuk.
"Oh iya, mana uang yang dipinjam Ibu tiga bulan yang lalu? Imas sudah berulang kali ditagih sama anak buahnya Bos Engkong," kata Imas, mengemukakan alasannya datang ke rumah orang tuanya.
"Ibu enggak punya uang. Kamu dulu yang bayarin, deh!" titah Noor, santai.
__ADS_1
"Ish, Ibu ... Imas juga enggak ada duit," tukas Imas, kesal. "Sudah belasan minggu Imas bayar bunganya. Lama-lama duit Imas habis juga. Ibu enggak lihat, nih!" Tunjuk Imas kepada tangan dan lehernya. "Perhiasan Imas juga sudah ludes buat nutupin bunga utang Ibu sama bapak," imbuhnya.
Noor hanya bisa menarik napas panjang. Sejurus kemudian, dia membuang napasnya cukup kasar seraya menatap tajam anak tirinya.
"Terus, Ibu harus bayar pakai apa? Pakai daun?" ketus Noor sambil melengos meninggalkan anak tirinya.
Imas semakin mengerucutkan bibirnya. Dia menggerutu kesal. Akhirnya, sumpah serapah pun, meluncur bebas dari bibir Imas.
"Huh, bener-bener, ya ... punya orang tua kok, hobinya nyusahin anak!" gumam Imas.
Karena tidak mendapatkan hasil, Imas pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
"Percuma jauh-jauh aku datang kemari. Buang-buang duit saja!" dengus Imas semakin merasa kesal.
.
.
Sementara itu, di lain tempat.
"Permisi, Pak! Apa benar di kantor ini sedang ada lowongan pekerjaan?" tanya Magdalena kepada salah seorang penjaga keamanan yang sedang bertugas.
"Benar, Neng," jawab si penjaga keamanan yang jika dilihat dari name tag-nya bernama Ali. "Apa Neng-eneng Ini ingin melamar pekerjaan?" tanya Ali.
Niram dan Magdalena mengangguk.
"Kalau begitu,. Neng coba saja masuk ke dalam dan tanyakan langsung kepada bagian resepsionis." Tunjuk Ali ke lobi kantor.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas informasinya," ucap Niram seraya sedikit membungkukkan badan.
"Sama-sama, Neng. Semoga sukses," sahut Ali memberikan support kepada kedua wanita itu.
Sesaat kemudian, Niram dan Magdalena mulai menaiki dua buah anak tangga untuk masuk ke lobi kantor berita yang cukup terkenal di kota Jakarta.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis yang diketahui dari papan namanya, bernama Hana.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Saya ingin menanyakan terkait lowongan pekerjaan di kantor ini. "Apa masih ada?" tanya Niram, sopan.
"Oh, tentu masih ada, Mbak. Memangnya Mbak- Mbak ini berniat untuk melamar dengan posisi cleaning service di sini?" tanya Hana.
"What?! Cleaning servis?" pekik Magdalena.
Hana dan Niram yang mendengar teriakkan Magdalena. Sontak terkejut dan menatap heran kepada gadis yang memiliki body yang cukup berisi.
"Iya, benar. Posisi lowongan pekerjaan di sini memang untuk cleaning service, Mbak," ulang Hana, menjelaskan.
"Emh ... tunggu sebentar ya, mbak. Saya minta izin sebentar, mau membicarakan hal yang penting dengan teman saya," pinta Magdalena.
"Eh iya, silakan Mbak!" jawab Hana.
"Sini, ikut!" ujar Magdalena seraya menarik Niram untuk keluar dari kantor.
Dengan raut wajah kebingungan. Niram mengikuti langkah kaki sahabatnya ke luar lobi.
"Ada apa sih, Len?" tanya Niram, heran.
"Enggak, aku cuma mau tahu aja, memangnya lowongan pekerjaan di sini hanya untuk cleaning service saja, Ram?" tanya Magdalena.
Niram mengangguk.
"Astaga ... Ya sudah, pulang yuk!" ajak Magdalena lagi.
"Loh, kok pulang sih, Len. Kita, 'kan mau ngelamar kerja," tukas Niram.
"Aish, lu serius mau jadi cleaning service?" tanya Magdalena.
"Memangnya kenapa, Len? Enggak ada salahnya juga, 'kan kalau kita kerja jadi tukang bersih-bersih," tutur Niram.
"Emang enggak salah sih, tapi, 'kan itu pekerjaan rendah banget, Ram. Bisa jatuh harga diri kita jika bekerja sebagai tukang bersih-bersih kantor," ucap Magdalena. "Huh, apa bedanya dengan pembantu!" ketus Magdalena.
"Enggak pa-pa, Len. Yang penting halal. Lagi pula, tinggi rendahnya harga diri seseorang, tidak ditentukan oleh sebuah pekerjaan yang digelutinya. Namun, oleh sikap dan tutur kata kita." tegas Niram. "Ya udah, masuk yuk!" anaknya.
__ADS_1
Magdalena hanya melongo melihat Niram begitu bersemangat untuk melamar pekerjaan meski hanya sebagai seorang cleaning service.