Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Menghilang


__ADS_3

Baik Brama ataupun Karen, mereka sudah tidak bisa mencegah keinginan putrinya lagi. Keduanya merasa senang setelah mendengar keputusan Natasya untuk kembali kuliah. Akan tetapi, mereka tidak pernah menyangka jika Natasya menginginkan kuliah di tempat yang begitu jauh.


Untuk sejenak, Brama dan Karen hanya bisa saling pandang. Mereka kebingungan entah bagaimana harus menjawab permintaan putri semata wayangnya.


"Apa Papa bisa berdiskusi dulu dengan mama kamu, Nak?" pinta Brama kepada anaknya.


"Terserah, Papa saja!" ucap Natasya, "tapi suka tidak suka, Papa sama Mama harus bisa menerima keputusan Tasya!" tegasnya seraya beranjak dari sofa.


"Tasya, tung–"


Panggilan Karen terhenti ketika sang suami menyentuh lengannya.


"Sudah, Ma. Tidak usah dipaksakan lagi," sahut Brama. "Mungkin, kita memang harus ikhlas menerimanya," imbuhnya seraya menghela napas.


"Tapi, Pa ... Jogja itu sangat jauh, loh. Mama khawatir, selama ini Tasya enggak pernah jauh dari kita," tukas Karen.


"Papa tahu, Ma. Tidak perlu cemas, bukankah tadi Tasya bilang jika dia ingin berkuliah di tempat Ahsan? Kita titipkan saja pada Ahsan dan kakeknya," tutur Brama.


"Tapi, Pa ... enggak enak juga jika kita harus merepotkan orang lain," lanjut Karen.


"Untuk sementara waktu saja, Ma. Lagi pula, dengan sifat manjanya Tasya, Papa yakin kalau dia tidak akan bisa bertahan lama kuliah di sana," papar Brama penuh keyakinan.


"Hhh ... semoga saja, Pa," timpal Karen sembari menghela berat napasnya.


.


.

__ADS_1


Tiba di tempat kerja, Halim memutuskan untuk pergi ke pantry setelah melakukan finger print. Dia bermaksud untuk menemui Ega dan menanyakan kabar keponakannya. Siapa tahu saja, Ega mengetahui tentang keberadaan Niram dari suaminya. Bukankah Niram bekerja di kantor yang sama dengan suaminya Ega? pikir Halim.


Tiba di pantry, Halim mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Ega. Namun, di antara para OG yang sedang mempersiapkan diri untuk bekerja, wanita yang memiliki postur tubuh agak sedikit pendek itu, sama sekali tidak nampak.


Ish, apakah Ega tidak masuk hari ini? batin Halim.


Merasa tidak menemukan orang yang dicarinya, Halim pun membalikkan badan hendak keluar dari pantry. Namun, baru saja kakinya melangkah, tiba-tiba Halim mendengar suara yang sudah tidak asing lagi dari ruang ganti. Ah, rupanya orang yang dicarinya sedang berganti pakaian. Halim pun kembali ke pantry dan menyeduh secangkir kopi pahit sembari menunggu Ega keluar.


Sepuluh menit berlalu. Setelah selesai berganti pakaian, Ega keluar dari kamar ganti. Ega mengayunkan langkah menuju loker untuk menyimpan pakaian. Sesaat kemudian, dia menuju lemari tempat penyimpanan gelas untuk menyiapkan minuman para karyawan kantor.


"Ga!" panggil Halim.


Panggilan Halim sontak membuat Ega menoleh. Namun, sedetik kemudian wajah Ega terlihat masam ketika mengetahui orang yang memanggilnya. Bahkan Ega pun terlihat memalingkan wajah dan kembali fokus menyeduh teh ke dalam beberapa cangkir.


Hakim terkejut mendapati sikap Ega yang seolah tidak menyukainya. Eh, apa salah gue? batin Halim.


Saat dimintai pertolongan pun, dia termasuk anak yang suka menolong. Namun, entah kenapa hari ini dia kelihatan sinis seperti itu? pikir Halim.


Karena merasa penasaran, Halim kemudian mendekati Ega. Dia menarik salah satu kursi dan menyimpannya di depan meja panjang tempat Ega membuat teh manis. Sejurus kemudian, Halim duduk di atas kursi tersebut.


"Ga, Abang boleh nanya sesuatu enggak?" ucap Halim, memecah kesunyian di antara mereka.


Ega menoleh. Keningnya berkerut mendengar ucapan Halim yang menurutnya aneh. Namun, karena masih merasa kesal dengan keputusan laki-laki itu, Ega kembali mengabaikan perkataan Halim.


"Please, Ga. Ini penting sekali. Menyangkut hidup dan mati Abang," lanjut Halim.


Ega hanya memutar kedua bola matanya. Dia merasa jengah dengan ocehan Halim.

__ADS_1


"Mau ya, Ga?" bujuk Halim.


"Huft!"


Ega membuang napas dengan kasar. Dia pun menoleh dan menatap tajam ke arah Halim. Sungguh, raut wajahnya sangat tidak sedap dipandang mata, membuat kedua bahu Halim bergidik karena merasa ngilu melihat tatapan tajam milik Ega.


"Kamu kenapa sih, Ga? Kok mukanya masam begitu, kek buah belimbing wuluh aja," gurau Halim, berharap Ega akan berubah sikap. Setidaknya wanita beranak satu itu akan tersenyum seperti biasanya.


"Abang yang kenapa? Ega sudah bilang jika lowongan pekerjaan itu hanya untuk cleaning service. Giliran mendapatkan panggilan, tapi Abang ngoceh enggak jelas. Ya kalau emang enggak mau dimasukin, ya enggak usah masuk. Enggak usah juga Abang ngehina pekerjaan itu panjang lebar. Ega, 'kan jadi malu sama suami Ega," sahut Ega berapi-api.


Eh, apa maksudnya ini? Enggak dimasuki? Apa itu artinya ... Niram enggak jadi ngambil pekerjaan itu? batin Halim menatap Ega penuh selidik.


"Tunggu, Ga! Abang enggak ngerti maksud Ega. Ya Ega, 'kan tahu kalau minggu kemarin, Abang mengikuti pelatihan di Cibubur. Jadi Abang enggak tahu apa-apa soal pekerjaan yang diterima ponakan Abang. Tadi Ega ngomong enggak dimasukin? Memangnya apa yang enggak dimasukin, Ga? Apa ponakan Abang enggak jadi wawancara di tempat lakinya Ega?" tanya Halim, menelisik.


"Enggak! Ponakan Abang membatalkan interview secara sepihak. Ya Ega sih enggak masalah kalau ponakan Abang nggak mau kerja di sana, tapi enggak usah ngata-ngatain Ega juga. Niat Ega cuma pengen nolongin ponakan Abang biar dapet pekerjaan. Ya mana Ega tahu kalau ponakan Abang itu alergi kotor," gerutu Ega panjang lebar.


"Ish, ini maksudnya apa sih, Ga? Abang makin enggak ngerti," tukas Halim.


"Udah, ah! Intinya ponakan Abang tuh sombong. Pilih-pilih jabatan aja. Harusnya tahu diri kalau ijazah SMA di kota itu enggak berlaku buat jadi manager. Jangankan manager, jadi staf biasa aja seribu satu!"


Ega mendengus kesal. Tak lama berselang dia mengambil nampan yang sudah terisi penuh oleh beberapa cangkir teh. Tanpa berpamitan, Ega membawa nampan itu keluar dari pantry.


Tinggal Halim yang masih duduk melamun di kursinya. Dia masih berusaha untuk mencerna perkataan Ega. Jika Niram tidak bekerja di perusahaan itu, lantas di mana dia sekarang? batin Halim.


Panggilan di walkie talki miliknya, seketika membuyarkan lamunan Halim. Sesaat kemudian, Halim menerima panggilan tersebut dan langsung keluar pantry. Pikirannya masih kalut dengan menghilangnya Niram.


Sebenarnya, Halim ingin segera mencari Niram. Ya, meskipun Halim tidak tahu harus ke mana mencari keponakannya itu. Namun, Halim pun tidak bisa mengabaikan pekerjaannya. Apalagi, dia baru saja diangkat menjadi kepala divisi keamanan.

__ADS_1


Hhh ... sebaiknya setelah pulang kerja nanti, aku coba mencari Niram.


__ADS_2