
Niram menautkan kedua alisnya ketika kedua perempuan yang berpakaian elegan, menatapnya penuh selidik. Dia merasa tidak mengenali perempuan-perempuan itu. Namun, entah kenapa kedua perempuan itu bisa berdiri di depan unit apartemennya.
Sementara, di sisi lain. Karen tampak terkejut mendapati gadis belia yang hanya berbalut selimut. Usia Karen sudah tidak muda lagi. Melewati rumah tangga selama 22 tahun, membuat Karen bisa menebak apa yang telah gadis itu lakukan hingga hanya bisa mengenakan selimut saja untuk menutupi tubuhnya.
"Maaf, Bu. Sebenarnya Ibu siapa? Ada keperluan apa Ibu datang ke unit saya?" Niram kembali bertanya.
"Sa-saya ... sebenarnya sa-ya ...."
Belum selesai wanita itu menjawab, tiba-tiba dia mendengar suara seorang lelaki dari dalam kamar unit gadis itu.
"Apa sudah kamu suruh pulang temanmu itu, Yang?" teriak Alfaruk dari dalam kamar.
Darah Karen seketika bergejolak hebat
mendengar teriakan suaminya dari dalam kamar apartemen gadis belia itu. Tak ayal lagi, Karen memasuki apartemen Niram untuk memergoki perbuatan mesum suaminya.
"Eh, tunggu!"
.
.
Di supermarket.
"Hmm, sepertinya semua camilannya sudah lengkap nih," gumam Yura seraya memperhatikan barang belanjaannya dalam troli yang sedang dia pegang.
"Kacang! Eh, aku sama sekali belum membeli kacang. Uh, padahal itu yang terpenting untuk menemani nonton film," sungutnya seraya kembali menuju rak yang memajang kacang-kacangan berbagai merk.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Yura pun kembali mendorong trolinya menuju meja kasir.
"Huh, panjang sekali antreannya," dengus Yura seraya menghela napas.
Sambil menunggu antrean, Yura mencoba menghubungi Niram untuk mengabari keterlambatan dia datang ke apartemen.
"Aish, kenapa tidak diangkat juga nih bocah?" sungut Yura seraya menatap layar ponselnya.
Sekali lagi, Yura menekan nomor kontak sahabatnya. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban dari si pemilik nomor. Ah, mungkin dia sedang di kamar mandi, pikir Yura.
"Gerak dong, Mbak. Diem bae!" celetuk salah seorang costumer yang sedang ikut mengantre di belakang Yura.
Wanita yang memiliki body bak gitar Spanyol itu, hanya memutar kedua bola matanya, menanggapi celetukan seorang pria yang sedang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Iya-iya, sabar dong!" ucap Yura yang langsung mendorong troli untuk mendekati meja kasir.
.
.
Di apartemen pribadi Niram.
Wanita yang berusia sekitar 45 tahunan itu masih terus melangkahkan kakinya menuju kamar Niram.
"Hei, apa yang Anda lakukan?" teriak Niram. "Apa Anda tidak punya sopan santun sehingga memasuki kediaman orang tanpa permisi!"
Kembali Niram berteriak. Dia merasa kesal dengan tingkah wanita tidak sopan itu. Niram merasa kesulitan untuk melangkah karena tubuhnya terbalut selimut sampai betis.
"Hei, tunggu! Anda tidak bisa masuk kamar orang begitu saja. Itu melanggar privasi!"
Niram hendak menghampiri wanita itu. Namun, wanita yang lain mencekal pergelangan tangannya hingga dia kesulitan untuk bergerak.
"Dobrak pintunya, Ren!" teriak Bella.
Di dalam kamar. Mendengar keributan dari luar, seketika dahi Alfaruk pun mengernyit. Alfaruk meraih handuk yang tergantung di hunger. Dia kemudian melilitkan handuk tersebut pada tubuh bagian bawahnya yang tidak mengenakan apa-apa. Setelah itu, Alfaruk membuka daun pintu.
"Mas Bram?" gumam Karen yang seketika memotong kalimat Alfaruk.
"Kau? Sedang apa kau di sini?" tanya Alfaruk yang mencoba menguasai kegugupannya.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu, Mas! Sedang apa kamu di tempat perempuan tidak tahu diri itu?" teriak Karen histeris. "Apa kamu berselingkuh dengannya? Apa dia wanita simpanan kamu?" cecar Karen, masih dengan berteriak.
"Sudahlah! Tidak perlu membuat keributan di tempat orang lain. Pulanglah!" perintah Alfaruk begitu santainya.
Mendengar pertengkaran kekasihnya dengan wanita yang tidak dia kenal, kedua lutut Niram mulai melemas. Niram sepertinya mulai menyadari siapa perempuan yang memaksa masuk ke dalam unit apartemennya.
"A-apa dia istrinya mas Alfar," gumam Niram yang masih bisa didengar oleh Bella.
"Ya! Dia istri sahnya dari Tuan Alfaruk Brama!" tegas Bella, "dan kau siapa? Selingkuhannya? Simpanannya? Atau kau hanya seorang wanita penghibur yang disewa Alfaruk untuk memenuhi hasratnya? Cih, menjijikkan!" Hina Bella seraya menghempaskan tangan Niram.
"Apa, Mas? Kau menyuruh aku untuk pulang? Kau sendiri bagaimana? Apa kau masih ingin menghabiskan malam dengan perempuan itu, meskipun telah aku pergoki? Astaga, Mas! Sebenarnya, terbuat dari apa hati kamu itu!" teriak Karen, mulai tidak bisa membendung emosinya.
Karen mengayunkan langkah kakinya mendekati Niram. Kemarahannya semakin memuncak saat dia melihat jejak merah di sekitar dada dan leher gadis itu. Jejak siapa lagi kalau bukan jejak kepemilikan yang ditinggalkan suaminya.
"Berani-beraninya kau menggoda suamiku, hah!"
__ADS_1
Plak!
Sebuah tamparan keras, mendarat di pipi kiri Niram.
"Karen!" teriak Alfaruk yang langsung menghampiri kedua perempuannya.
Dengan sigap, Alfaruk meraih Niram dan menyembunyikannya di belakang punggung.
"Kau sudah gila, hah?" teriak Alfaruk di hadapan istrinya.
"Ya, aku gila!" pekik Karen seraya menjambak rambutnya sendiri. "Aku gila karena perbuatan kamu, Mas! Di saat seperti ini pun, bahkan kamu tega berteriak kepadaku di hadapannya. Apa harga diri seorang istri lebih rendah daripada simpanan suaminya, Mas?!"
"Cukup Karen! Jangan memancing emosiku. Pergilah!" perintah Alfaruk.
"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum memberikan pelajaran kepada pelakor terkutuk itu. Sini kamu!"
Emosi yang telah menguasai Karen, membuat dia seperti orang yang kesetanan saja. Dengan kuat, dia menyambar pergelangan tangan Niram dan menariknya. Berulang kali Karen menjambak rambut Niram dan mendorong tubuhnya hingga Niram jatuh terjengkang.
Alfaruk sudah berusaha untuk mencegah kebrutalan Karen. Namun, tenaga Karen yang sedang dikuasai amarah, begitu kuat. Sampai Alfaruk kewalahan dan tak mampu berbuat apa-apa saat tubuh Niram diinjak-injak oleh sepatu wedges Karen.
"Tolong, jangan sakiti sa-saya," ucap Niram seraya menutup perutnya dengan kedua tangannya.
Namun, Karen tidak peduli. Dia masih melayangkan tendangan demi tendangan di perut Niram
"Karen, hentikan!" teriak Alfaruk, memeluk Karen dari arah belakang.
Dengan sigap, Alfaruk menghempaskan wanita itu hingga terjerembab di atas sofa. Dia hendak menggendong Niram yang sudah tidak berdaya akibat serangan Karen. Namun, ....
Prak!
Sebuah vas bunga menghantam bagian kepala belakang Alfaruk hingga pria itu jatuh tak sadarkan diri di atas tubuh Niram yang sudah melemah. Darah bercucuran dari kepala belakang Alfaruk.
Melihat suaminya jatuh bersimbah darah, Karen terkesima. Dia tidak menyangka jika dia sanggup melukai orang yang begitu dia puja.
"Astaga Karen! Kau membunuhnya?" pekik Bella.
"Ti-tidak! A-aku tidak bermaksud membunuhnya," ucap Karen terbata-bata.
"Sudahlah! Ayo kita pergi! Sebelum orang lain mendengar kegaduhan di sini!" ajak Bella seraya menarik tangan sahabatnya.
Karen yang sedang kebingungan, hanya bisa mengikuti langkah sahabatnya ke luar dari unit wanita simpanan suaminya.
__ADS_1