Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Kunjungan Karen


__ADS_3

Pukul 5 sore, jam tugas Halim telah selesai. Seperti biasa, Halim menyimpan peralatan tugasnya ke dalam loker miliknya. Ketika dia membuka loker, tampak ketiga amplop yang tadi disimpannya, menyembul dari balik jaket yang juga tersimpan di sana.


Halim tersenyum. Dia pun mengambil ketiga amplop tersebut. Dua amplop putih, dia simpan di atas tas ranselnya. Sedangkan, amplop berwarna coklat dia masukkan ke dalam saku jaket. Dengan wajah sumringah, Halim keluar dari pos penjaga. Bel pergantian shift telah berbunyi, Halim mengayunkan langkahnya menuju tempat parkir.


Tiba di sana, dia segera mengenakan helm. Sesaat kemudian, mesin motor mulai menyala. Halim pun segera melajukan motornya keluar dari halaman kantor tempat dia bekerja.


Sepanjang perjalanan pulang, senyum Halim tak pernah lepas dari bibirnya. Berbagai rencana berseliweran di kepala Halim. Setelah semua ini, Halim yakin kalau kehidupannya akan semakin membaik. Dia tidak menyangka jika kehamilan kedua istrinya, membawa keberuntungan dalam hidup Halim.


"Hmm, Tuhan memang Maha Tahu. Semula, aku tidak yakin apa aku bisa menghidupi ketiga anakku kelak kalau hanya dengan mengandalkan gaji seorang satpam saj. Namun, ternyata Tuhan telah mempersiapkan segalanya," gumam Halim.


Tanpa terasa, Halim tiba di sebuah gang kontrakannya. Halim pun membelokkan kendaraannya. Setelah beberapa meter melaju, Halim tiba di rumah kontrakannya.


Halim mematikan mesin motor dan mendorong kendaraan beroda dua itu untuk memasuki teras rumah. Di sanalah, Halim memarkirkan motornya.


"Assalamu'alaikum!" sapa Halim.


"Wa'alaikumsalam," jawab seseorang dari dalam rumah.


Pintu terbuka. Tampak Niram dan Rayyan berdiri untuk menyambut kedatangan Halim. Hmm, meskipun baru beberapa minggu bertemu. Namun, hubungan kedua anak itu sudah sangat dekat saja. Seperti saudara kandung.


"Waduh, anak Papa sudah ganteng banget, nih," puji Halim kepada Rayyan. "Tumben sudah mandi, Nak," imbuh Halim saat melihat putranya sudah mengenakan piyama.


"Hehehe, iya Pa. Soalnya Ray kalah taruhan sama kak Niram," jawab Rayyan, sembari terkekeh.


"Taruhan?" ulang Halim, mengernyit.


"Hehehe, itu Paman. Mengisi teka teki silang," timpal Daniar sembari terkekeh pula.


Halim tersenyum melihat tingkah aneh anak dan keponakannya itu.


"Ngomong-ngomong, di mana mama kamu, Ray?" tanya Halim kepada putranya.


"Mama ada di kamar, Pa. Katanya perut Mama sakit," jawab Rayyan.

__ADS_1


"Sakit? Sakit kenapa?" tanya Halim, kaget.


"Entahlah, Paman. Tadi waktu nonton TV, tiba-tiba saja tante menjerit kesakitan seraya memegangi perutnya. Setelah itu, di pun pergi ke kamar dan meminta kami untuk tidak mengganggunya," papar Niram.


"Ya sudah, kamu tolong pindahkan ini ke dalam piring ya, Ram. Paman mau lihat tante kamu dulu," kata Halim sambil memberikan sebuah kantong plastik berwarna hitam.


.


.


Ketukan pelan di pintu kamar Ahsan, membuat pria berjambang tipis itu segera beranjak dari tempat tidur. Dia melangkahkan kaki membuka pintu kamarnya. Tampak seorang wanita paruh baya berdiri di hadapan Ahsan.


"Mbok Jum, ada apa?" tanya Ahsan, merasa heran dengan kedatangan ibu asuhnya ke kamar.


"Maaf mengganggu waktu istirahatnya, Den. Itu, emh anu ... di bawah ada tamu yang mau ketemu Den Ahsan," jawab Mbok Jum.


Ahsan menautkan kedua alisnya. Dia melirik jam dinding di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam lewat beberapa menit. Entah siapa tamu yang berkunjung di malam-malam begini. Saat Ahsan hendak bertanya, tiba-tiba teriakan sang ibu terdengar dari lantai bawah.


"Saaan, buruan turun! Tante Karen udah lama nungguin kamu, loh!" teriak Kania begitu menggema.


Mbok Jum yang masih bisa mendengarkan gumaman anak asuhnya, hanya menggelengkan kepala. "Maaf, Den. Mbok juga tidak tahu."


"Baiklah, Mbok. Tolong bilang sama mami, Ahsan ganti baju dulu bentar, Mbok," pinta Ahsan kepada ibu asuhnya.


"Baik, Den," jawab Mbok Jum.


Setelah Mbok Jum pergi, Ahsan kembali ke kamar. Dia segera mengganti sarung dengan celana santainya. Lepas itu, Ahsan keluar kamar untuk menemui sahabat ibunya yang merupakan ibu dari sahabatnya sendiri.


"Selamat malam, Tan," sapa Ahsan begitu tiba di ruang tamu.


Ahsan mendekati Karen dan membungkuk untuk mencium punggung tangannya. Tak lama berselang, dia pun duduk di samping ibunya.


"Ahsan, maafkan Tante jika kedatangan Tante mengganggu istirahat kamu. Tapi Tante tidak punya pilihan lain. Tante benar-benar mencemaskan Tasya. Tante khawatir dengan keadaannya, San," ucap lirih Karen dengan suaranya yang cukup serak. Hmm, sepertinya dia habis menangis.

__ADS_1


"Tidak usah khawatir, Tan. Natasya baik-baik saja," jawab Ahsan.


"Apa kamu tahu di mana dia tinggal saat ini?" tanya Karen.


"Ahsan tahu, Tante," jawab Ahsan.


"Bisa kamu antarkan Tante ke sana, San? Tante sangat rindu padanya," pinta Karen penuh harap.


"Maaf, Tante. Ahsan tidak bisa melanggar janji Ahsan kepada Natasya. Dia bilang, untuk saat ini dia hanya ingin sendirian. Jadi, sebaiknya Tante beri dia waktu," jawab Ahsan.


"Tapi Tante hanya ingin tahu keadaan dia, San. Tante janji, Tante tidak akan mengungkit soal kuliah ataupun perjodohan lagi," ucap Karen.


"Maaf, Tante. Ahsan tidak berani," sahut Ahsan.


"Sudah, Jeng. Biarkan saja Natasya sendiri dulu. Mungkin dia memang sedang butuh waktu untuk merenung. Lagian, Tasya itu anak tunggal. Dia terbiasa hidup mewah. Saya yakin, suatu saat dia akan merasa tidak kerasan dan memilih kembali ke rumah," timpal Kania.


"Aku enggak yakin, Jeng. Tasya itu anak yang keras kepala dan susah diatur. Dia selalu melakukan apa pun yang dia suka. Aku hanya khawatir saja jika dia salah bergaul," balas Karen.


"Tidak Tante, meskipun keras kepala. Namun, Natasya gadis yang memiliki pendirian. Ahsan yakin, dia bisa menjaga diri," imbuh Ahsan.


"Tapi sebagai seorang ibu, tetap saja Tante merasa khawatir, San," lanjut Karen.


"Nak, apa kamu tidak bisa membujuk teman kamu itu untuk pulang?" tanya Kania, menatap putranya.


"Ahsan sudah coba, Mi. Tapi Natasya tidak mau pulang," jawab Ahsan.


"Ya sudah, bujuk lagi, Nak. Siapa tahu besok dia mau pulang," perintah Kania.


"Tapi Mi?"


"Sudah, San. Besok kamu bujuk lagi Tasya untuk pulang. Emangnya kamu enggak kasihan sama Tante Karen? Gimana kalau nasib Tante Karen itu menimpa Mami? Emang kamu enggak sedih ngelihat Mami ditinggalkan anaknya sendirian di rumah?" cecar Kania kepada putranya.


Hmm, mana ada mami bakal cemas seperti itu. Orang selama Ahsan mondok saja, Mami enggak pernah jenguk, batin Ahsan tersenyum kecut.

__ADS_1


"Iya, nanti Ahsan coba bujuk Natasya lagi, Tan," jawab Ahsan mengalah. "Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, Ahsan permisi. Assalamu'alaikum!" pungkas Ahsan.


Setelah dipersilakan, Ahsan pun kembali ke kamarnya.


__ADS_2