Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Kemarahan Tuan Alfaruk


__ADS_3

Sementara dari balik pintu kamar yang setengah terbuka, Bella hanya bisa menghela napas ketika mendengar janji Karen.


Ya Tuhan ... bucin sekali perempuan itu. Padahal usianya sudah hampir mendekati setengah abad, tapi kenapa berpikir tak pernah memakai logika? Mau sampai kapan dia menyakiti perasaannya dengan mencintai pria yang tidak pernah mencintainya? batin Bella seraya menutup pintu kamar Karen.


.


.


Pagi yang indah dengan udara segar perkampungan, membuat Hanapi tersenyum tipis menyambutnya. Semenjak dokter menyatakan tubuhnya sehat, Hanafi semakin bersemangat untuk menyambut harinya. Rasanya, dia seperti terlahir kembali ke dunia. Dengan tekad yang semakin kuat, Hanafi pun selalu berusaha untuk melakukan saran dokter agar cepat pulih seperti sedia kala.


"Sudah, Yah. Jangan terlalu diporsir, nanti kecapean loh." Halimah mengingatkan suaminya yang sedari tadi berlari kecil di halaman depan rumah.


"Iya, Bu. Satu putaran lagi, ya. Mumpung kondisi Ayah lagi fit," jawab Hanafi.


Halimah tersenyum. Dia kembali melakukan aktivitas paginya dengan menjemur pakaian. Sejak tidak ada Niram, dia melakukan pekerjaan rumah tangganya seorang diri.


Selesai menjemur pakaian, Halimah kembali ke dapur. Dia menyiapkan segelas air putih yang wajib dikonsumsi suaminya setiap pagi.


"Minum dulu, Yah!" seru Halimah, memanggil suaminya.


Hanafi tersenyum. Pria paruh baya itu pun berlari kecil mendekati istrinya yang sudah terlebih dahulu duduk di teras.


Hanafi meraih gelas besar yang disodorkan istrinya. Sepersekian detik kemudian, dia mereguk isi gelas itu hingga tandas.


"Ah, rasanya segar sekali," ucap Hanafi seraya meletakkan kembali gelasnya ke dalam nampan.


Halimah tersenyum melihat sikap suaminya. Wajahnya terlihat segar, tidak pucat seperti saat sedang melakukan pengobatan jalan. Sepertinya, kesembuhan sang suami sudah mencapai 80 %.


"Oh iya, Bu. Apa Ibu sudah menanyakan kepada Niram, kapan dia mau pulang kampung?" tanya Hanafi.


"Belum, Yah. Ibu belum sempat bertanya, takut mengganggu pekerjaan Niram juga," sahut Halimah.


"Ah iya, Ibu benar. Seharusnya kita tanyakan kepada Niram, kapan jadwal libur bekerjanya. Biar kita tahu kapan bisa menelepon dia dengan santai. Ayah sudah sangat merindukan dia, Bu," tutur Hanafi.


"Iya, Ibu juga merindukan dia, Yah. Entah kapan kita bisa bertemu dengannya. Sepertinya, dia sudah sangat sibuk," timpal Halimah.


"Sebenarnya, Bapak penasaran dengan pekerjaan Niram, Bu. Selama ini, dia selalu mengirimi kita uang yang banyak. Semoga saja, Niram tidak terjerumus ke dalam hal yang tidak diinginkan," lanjut Hanafi.


"Hus, Yah! Jangan ngelantur ah, kalau ngomong. Niram kita itu anak yang baik. Tidak mungkin dia menjual akidahnya hanya demi uang," tukas Halimah.


"Iya, Bu. Ayah percaya itu. Oh iya, Bu. Kapan-kapan, kita pergi ke kota, yuk. Untuk nengok Niram," ucap Hanafi.


"Boleh, tapi tunggu Ayah sembuh total, ya. Setelah itu, kita rencanakan untuk menjenguk Niram di kota," pungkas Halimah.


.

__ADS_1


.


Kicau burung kecil terdengar saling bersahutan di luar jendela kamar rawat Niram. Yura mengerjapkan mata setelah merasakan pergerakan seseorang. Rupanya, Niram telah bangun dan tengah diperiksa oleh salah seorang perawat.


"Bagaimana keadaan teman saya, Sus?" tanya Yura.


"Alhamdulillah, tekanan darahnya normal. Denyut nadinya juga cukup stabil. Tinggal pemulihan saja," tutur perawat itu.


"Kapan saya bisa pulang, Sus?" Niram ikut bertanya.


"Nanti ya, Mbak. Menunggu kunjungan dokter terlebih dahulu. Jika dokter menyatakan Mbak baik-baik saja dan mempersilakan Mbak pulang, maka Mbak bisa pulang hari ini juga. Akan tetapi, jika dokter mengatakan masih rawat inap, maka Mbak harus mematuhi dokter dan menginap di sini barang sehari atau dua hari lagi," tutur perawat itu.


Niram diam. Sesaat, dia melirik brankar kosong yang semalam ditempati oleh Alfaruk.


"Pa-pasien di sana, a-apa sudah diperbolehkan pulang?" tanya Niram kepada perawat itu.


"Belum, Mbak. Tuan Alfaruk hanya dipindahkan ke ruang VVIP atas permintaan keluarganya," jawab perawat.


"Ke-luarganya?" ulang Niram.


"Ya, subuh tadi istrinya datang dan meminta kami memindahkan pasien," papar perawat.


"Sudahlah, Nir. Lu enggak usah cemaskan dia. Ada yang lebih wajib dan lebih berhak untuk mengurusi teman lu itu," tukas Yura.


Niram diam.


Niram hanya bisa menganggukkan kepala.


"Tidak usah khawatir, Sus. Saya yang akan mengawasi dia supaya makan dengan teratur," janji Yura.


"Ahahaha,... terima kasih, Mbak. Kalau begitu, saya permisi dulu," pungkas perawat tersebut.


.


.


Di ruang VVIP.


Karen masih setia menunggui suaminya yang masih terlelap. Meskipun di dalam hati, Karen merasa khawatir atas apa yang akan terjadi jika suaminya terjaga. Namun, dia sudah berjanji untuk selalu menjaga Brama.


"Permisi, Bu. Ini ada obat untuk tuan yang tidak tersedia di rumah sakit ini. Untuk itu, kami hendak meminta keluarga pasien untuk mencarikannya," ucap perawat senior.


Karen mendengus kesal. "Apa tidak ada perawat lain yang bisa disuruh untuk membelinya keluar? Anda tahu, 'kan, jika saya sedang menunggui suami saya," ucapnya.


"Maaf, Bu. Para perawat sedang melakukan tugasnya masing-masing. Lagi pula, bukan kewajiban kami untuk membeli obat yang tidak tersedia di sini. Jadi mohon kerjasamanya," ketus perawat senior itu.

__ADS_1


"Astaga ... rumah sakit macam apa ini," gerutu Karen seraya beranjak dari tempat duduknya.


Setelah mengambil secarik kertas yang berisikan resep obat untuk suaminya, Karen pun pergi meninggalkan Brama yang masih terpejam.


.


.


Beberapa jam telah berlalu. Kunjungan dokter pun sudah dimulai. Kini, Niram tengah diperiksa oleh dokter yang bertugas pagi ini.


"Bagaimana, Dok? Apa dia baik-baik saja? Apa sudah boleh pulang hari ini?" cecar Yura kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa Niram.


"Alhamdulillah, dia baik-baik saja, tapi mohon maaf ... untuk saat ini saya belum bisa mengizinkan dia pulang. Kondisi kehamilannya sangat rawan. Apalagi, terdapat luka memar di sekitar dinding rahim. Meskipun pendarahannya sudah berhenti, tapi kami perlu memantau perkembangan janinnya untuk beberapa hari ke depan. Setelah benar-benar tidak ada masalah, baru saya akan mengizinkan pasien untuk pulang," tutur dokter yang memeriksa Niram.


Di luar kamar, jantung seseorang berpacu dengan cepat mendengar berita kehamilan pasien yang sedang terbaring di dalam ruang rawat. Secepat kilat, Alfaruk membuka pintu kamar ruang rawat Niram.


"Apa kau hamil?" tanya Alfaruk, menatap tajam kepada wanitanya.


Niram diam. Dia merasa bingung harus menjawab apa.


Alfaruk mengalihkan pandangannya kepada dokter. "Apa benar, dia sedang hamil?" tanyanya.


"Benar, Tuan. Saat ini, usia kehamilannya memasuki trimester kedua," jawab dokter tersebut.


"Berapa bulan?" Alfaruk kembali bertanya.


"Jika dilihat dari hasil USG, sekitar empat, menjelang lima bulan," jawab dokter.


Bola mata Alfaruk membulat sempurna mendengar keterangan dari dokter.


"Kau boleh pergi sekarang," perintahnya kepada dokter tersebut.


"Saya permisi," balas dokter tersebut, keluar dari kamar rawat Niram.


Alfaruk menatap tajam kepada kekasih gelapnya. Wajahnya terlihat memerah. Kedua rahangnya mengeras karena menahan amarah.


"Dasar pengkhianat! Kau mengandung anak orang lain di saat bersamaku. Benar-benar murahan!" teriak Alfaruk, murka.


"Ma-maafkan aku, Mas. A-aku sendiri tidak tahu jika aku tengah mengandung," ucap Niram.


"Cukup, Niram! Dasar pembohong! Aku tidak akan pernah sudi berhubungan lagi dengan pembohong sepertimu. Tidak akan!" teriak Alfaruk yang langsung keluar kamar.


"Tunggu, Mas! Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya!" teriak Niram yang langsung beranjak dari tempat tidur untuk mengejar Alfaruk.


Namun, Alfaruk malah mempercepat langkah kakinya. Dia terlihat sangat marah setelah mendengar kabar kehamilan wanita kecilnya. Rasanya, Alfaruk seperti sedang dikhianati saja. Panggilan Niram di ambang pintu pun, tidak dia hiraukan.

__ADS_1


__ADS_2