
"Niram! Niram!"
Imas berteriak keras memanggil keponakan suaminya. Tak lama kemudian, Niram datang menghampiri Imas di ruang tengah. Dahi Niram mengernyit ketika melihat bibinya sudah berpakaian rapi.
"Tante mau pergi ke mana? Bukankah perut Tante masih terasa sakit?" cecar Niram.
"Ke mana pun gue pergi, itu bukan urusan lu. Ngarti!" bentak Imas. "Tugas lu sekarang, beresin nih rumah. Abis itu, lu anterin si Rayyan ke sekolah. Paham!" imbuhnya.
"Baik, Tan," sahut Niram.
"Satu lagi! Kalau ada orang yang nanyain gue, lu bilang aja, kalo dari kemaren gue nggak ada pulang. Bisa, lu?!"
Niram hanya terdiam. Sedari kecil dia tidak pernah berbohong. Kedua orang tuanya pun tidak pernah mengajarkan dia untuk berbohong.
"Ih, ngarti kagak, lu?" seru Imas.
"Maaf, Tan. Sedari kecil Niram enggak pernah diajarkan untuk berbohong," jawab Niram yang berusaha menolak halus permintaan bibinya.
"Grrr ... terserah lu dah!" timpal Imas, geram.
Tak ingin membuang waktunya dengan perempuan yang selalu dia anggap kampungan, Imas pun segera pergi dari rumahnya.
Brak!
Imas menutup pintu depan dengan sangat keras. Membuat kedua bahu Niram bergidik seketika karena terkejut. Dia tidak menyangka jika penolakannya akan membuat bibinya begitu marah.
"Huh, apa susahnya berbohong sedikit saja. Bukannya ini juga demi kebaikan," gerutu Imas dari teras depan.
Niram yang masih bisa mendengar gerutuan sang bibi, hanya bisa menghela napas panjang.
Entah untuk kebaikan atau bukan, yang namanya berbohong, tetap saja dosa, batin Niram tersenyum kecut.
.
.
Sementara itu, di lain tempat.
"Stop di sini!" perintah Imelda kepada ajudannya.
Togar segera menepikan mobilnya di sebuah jalan perkampungan di pinggiran kota Jakarta.
"Mamih yakin, enggak mau ditemani?" tanya Togar terlihat cemas.
"Enggak usah. Ini kampung kelahiran Mamih, jadi Mamih tahu warganya seperti apa," jawab Imelda.
"Ya sudah. Kalau gitu, Togar tunggu di sini saja. Telepon saja Togar kalau Mamih butuh sesuatu," lanjut Togar.
__ADS_1
Imelda hanya tersenyum mendengar perhatian dari anak buahnya. Setelah selesai bercakap-cakap dengan Togar, Imelda pun turun dari mobil mewah yang dikendarainya.
Wanita paruh baya yang mengenakan make-up tebal dan pakaian serba ketat, terus mengayunkan langkahnya menuju sebuah perkampungan yang berada di belakang apartemen mewah pinggiran ibu kota.
Senyum Imelda terbit tatkala melihat sekumpulan gadis berseragam Pramuka, berpapasan dengannya.
"Hmm, ranum sekali," gumam Imelda.
Namun, saat Imelda hendak mendekati gadis-gadis itu, terdengar seseorang memanggil namanya.
"Mamih!" teriak Noor yang tanpa sengaja melihat Imelda sedang berjalan di depannya.
Imelda sontak menoleh. Dia sedikit menggerutu karena teriakan seseorang yang sangat dikenalinya.
"Ish, nih orang ya, sudah dibilangin enggak usah manggil Mamih kalau lagi di kampung. Pada kabur, 'kan target gue?" gerutu Imelda sembari melangkahkan kaki mendekati kawan karibnya.
"Astaga Mamih ... gue seneng bisa ketemu lu di sini," pekik Noor.
Imelda hanya tersenyum mesem mendengar perkataan Noor yang terdengar merayu. Hmm, pasti ada maunya nih emak-emak. Kembali Imelda menggerutu dalam hatinya.
"Kok tumben lu ke sini, Mih?" tanya Noor lagi.
"Ini kampung gue, Noor. Tempat tinggal gue. Emang gue enggak boleh, maen ke kampung gue sendiri?" balas Imelda sengit.
"Eh, bukannya gitu, Mih. Gue heran aje. Lu datang kemari, pasti ada maunya. Emak bapak lu udah enggak ada. Enggak mungkin juga lu mau ziarah ke makam emak bapak lu. Jangan-jangan, lu datang ke sini buat nyari manga baru. Bener, 'kan dugaan gue?" cerocos Noor tanpa jeda.
"Lu bawel amat sih, Noor! Gue sengaja datang ke sini tuh karena gue kangen ama elu. Ya udah, ke rumah lu, yuk!" ajak Imelda sembari menggandeng tangan Noor.
Noor sendiri hanya membulatkan kedua bola matanya mendengar ucapan Imelda. Huh, pake ngeles, lagi, gerutu Noor di dalam hatinya.
.
.
Di rumah Sukma.
Dari kejauhan, suara cempreng Imas sudah terdengar begitu berisik. Namun, tak ada satu pun tetangga yang berniat mendekati rumah tersebut.
"Huh, drama apalagi tuh si Sukma ame anaknye," ucap salah seorang tetangganya.
"Hhh, biasalah ... namanye juga keluarga penuh sensasi. Kagak anaknya, bapaknya, emaknya pun kek gitu semua," timpal tetangga yang lain.
Mendengar teriakkan begitu keras dari rumah Sukma, satu pun tak ada tetangga yang peduli. Bahkan, mereka lebih memilih mengerjakan pekerjaannya ketimbang harus melihat apa yang terjadi pada bapak dan anak itu.
"Sudah gue bilang, gue kagak ade duit, Mas," jawab Sukma seraya mengeluarkan kantong celananya yang kosong melompong.
"Ih Bapak, kemaren, 'kan Imas udah bilang kalau Bapak harus nyediain duitnya sekarang. Ya Bapak usaha, kek. Minjem ke tetangga kek, mulung kek, mo ngerampok sekalipun, Imas kagak peduli. Nyang penting duitnya ada nih hari!" cerocos Imas, begitu kerasnya.
__ADS_1
"Eh di rumah lu ada apaan, Noor?" tanya Imelda yang bisa mendengar lengkingan seorang perempuan dari kejauhan.
"Biasalah ... palingan laki gue lagi debat ma anaknya," jawab Noor.
"Terus, kita jadi enggak ke rumah lu?" tanya Imelda lagi.
"Jadilah ... ayo!"
Noor menarik tangan Imelda untuk lebih mendekati rumahnya. Tiba di depan rumah, Noor mengetuk pintu rumah yang posisinya memang sudah terbuka.
"Hey, halo ...! Volume suaranya bisa dikecilin enggak? Noor kedatangan tamu penting nih. Mo ngobrol!" teriak Noor.
Sukma dan Imas sontak menoleh begitu mendengar suara Noor dari arah pintu rumah. Imas menautkan kedua alisnya karena tidak mengenali tamunya si ibu tiri. Lain lagi dengan pria tua, berambut plontos. Dengan sumringah, dia berjalan menghampiri Noor dan Imelda.
"Hai, Mamih Imel tersayang ... hmm, ada apa gerangan kau berkunjung ke kampung kite? Apa kau kehabisan anak perawan di rumahmu?" Sambut Sukma yang membuat mata Imelda mendelik seketika.
Imas semakin menautkan kedua alisnya. Akan tetapi, dia tidak berani bertanya meskipun rasa penasaran tentang wanita menor itu, membuncah di hatinya.
"Udeh, Bang. Enggak usah lu goda terus dia. Kita dengerin dulu apa yang mo diomongin ma dia. Keknya, si Mamih lagi ada masalah, nih," celetuk Noor.
"Kalian laki bini ... emang kagak ada akhlaknya ma temen sendiri. Ngoceh mulu dari tadi! Emang salah, kalau gue pengen refreshing di kampung gue sendiri?" kata Imelda geram.
"Kagak salah sih, tapi ya kebiasaan lu, 'kan kek gitu. Coba lu cerita ma kite. Ya siapa tahu kita bisa bantu," lanjut Sukma.
"Hhh, lu bener Suk. Usaha gue emang lagi sepi. Pelanggan gue pada kabur karena enggak puas sama dagangan gue," keluh Imelda.
"Hahaha ... lagian lu kagak pernah nurut apa kata gue, Mel. Gue, 'kan dah bilang, remajain dagangan lu setiap setahun sekali. La elu sih, ngeyel," ejek Sukma.
"Eh kampret! Gue ke sini tuh buat nyari solusi, bukan buat nerima ledekan elu!" Sarkas Imelda seraya melempar heels-nya ke arah Sukma.
"Lagian ... emang lu pikir gampang nyari anak perawan? Orang nyari janda yang mau diajak kerja seperti itu juga, susahnya ... minta ampun. Lu juga tahu, 'kan, ngebujuk tuh perempuan-perempuan buat kerja di tempat gue." Imelda kembali mengeluh.
"Terus, sekarang apa mau lu?" tanya Noor.
"Ya apa lagi, nyari perempuan buat kerja di tempat gue lah," jawab Imelda.
"Gadis atau janda?" timpal Sukma.
"Aih, lu kate judul lagu, Bang?!" tukas Noor.
Sukma hanya tergelak mendengar ucapan istrinya.
"Jadi, mau dicarikan yang seperti apa?" Sukma kembali bertanya.
"Bawakan beberapa orang gadis untuk gue!" perintah Imelda.
"Hmm, tapi selalu ada harga untuk setiap barang yang mulus," lanjut Sukma.
__ADS_1
"Atur aja!"