
“Mas, aku minta maaf jika aku memang tidak pernah bisa membahagiakan kamu,” bisik Karen di telinga suaminya.
Alfaruk yang tengah memejamkan mata setelah melakukan kegiatan panasnya bersama sang istri, hanya bisa tersenyum tipis. Pernikahan yang tidak diingankannya pun sudah terjadi selama 25 tahun. Bahkan dia sudah punya anak dewasa. Tidak mungkin juga Alfaruk masih mempermasalahkan hal yang sama.
“Tidurlah, sudah malam." Hanya itu yang bisa Alfaruk katakan setiap kali Karen ingin berbicara dari hati ke hati.
.
.
Di sebuah kamar hotel, Niram terlihat gelisah menunggu pria hidung belang yang telah memberikan sejumlah uang muka melalui rekeningnya. Mungkin Niram sudah terbiasa untuk mekakukan hubungan intim. Namun, dengan orang yang berbeda, ini adalah pengalaman pertamanya.
Apakah rasanya akan senyaman yang sudah diberikan mas Alfaruk? batin Niram semakin gelisah.
Ceklek!
Tiba-tiba seorang pria bertubuh gempal, membuka pintu kamar. Matanya langsung menatap nyalang melihat penampilan Niram yang cantik dan menggairahkan.
“Kau sudah membersihkan tubuhmu?” tanya pria paruh baya itu dengan nada mengejek.
“Sudah, Tuan,” jawab Niram.
“Hahaha, ... pintar sekali," lanjutnya seraya tertawa terbahak-bahak.
Niram bergidik geli ketika melihat deretan gigi si pria yang tampak kekuningan. Seperti yang tidak pernah menggosok gigi saja, atau mungkin pria itu seorang perokok aktif dan peminum kopi.
Tanpa aba-aba, tanpa pemanasan, tiba-tiba pria itu menerjang Niram hingga Niram terjengkang.
“Humph ….”
Niram mencoba melepaskan diri dari ciuman si pria yang sangat rakus. Bau alkohol yang keluar dari mulunya, membuat perut Niram sontak bergejolak.
Tak tahan dengan baunya, Niram pun mendorong tubuh laki-laki paruh baya tersebut.
“Kau menolakku, hah?” tuduh pria itu memasang muka garang.
“Bu-bukan seperti itu, Tuan. Aku hanya kaget saja. Lagi pula, Tuan tidak memberikan aku jeda untuk bernapas. Aku, 'kan kehabian napas. Kalau sudah seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa bergairah membalas ciuman Tuan," jawab Niram mendayu.
Niram sengaja memasang jurus manja untuk meluluhkan hati pria iu.
__ADS_1
"Hahaa, ... kau benar juga. Baiklah, kita tidak perlu tergesa-gesa. Lagi pula, malam ini masih sangat panjang untuk kita lewati. Tetaplah di sini, aku ke kamar mandi dulu untuk buang hajat," titah pria itu.
Niram mengangguk. Sesaat setelah pria itu pergi, Niram mengeluarkan sebutir permen untuk meredakan gejolak di perutnya.
"Uuh, napasnya bau sekali," gumam Niram seraya membekap mulutnya karena merasa hendak muntah.
Selesai menuntaskan hajatnya, pria itu kembali ke kamar tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhya. Perutnya yang buncit, terekspos sempurna. membuat Niram kembali bergidik.
Astaga … kenapa hari pertamaku bekerja, begitu sial sekali, rutuk Niram dalam hatinya.
“Kau yang buka baju, atau aku yang harus membukanya?” tanya laki-laki itu seraya menaikturunkan kedua alisnya.
“Bi-biar saya saja," sahut Niram yang mulai berdiri dari atas ranjang.
Karena tidak tahan berlama-lama dengan pria paruh baya itu, Niram segera menanggalkan seluruh pakaianya. Dia ingin waktu cepat berlalu, agar bisa cepat menuntaskan pekerjaannya.
“Apa Tuan sudah siap?” tanya Niram seraya merangkak ke atas ranjang.
Sejenak, kening pria itu berkerut melihat keanehan pada tubuh Niram. Namun, dua bongkahan padat yang sedang membelakanginya. Membuat gairahnya memuncak. Dengan cepat, dia menyergap Niram dari arah belakang.
Jleb!
Namun, tak berapa lama, pria itu menarik diri dan mendorong tubuh Niram hingga Niram tersungkur di atas ksur.
“Apa kau sedang hamil?” teriak pria itu murka.
Niram membalikan badannya. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Sreet!
Pria itu menarik kasar selimut yang dipakai Niram. Sejenak, dia menelisik beberapa bagian tubuh Niram, mulai dari dada, pinggul dan juga perutnya.
“Sudah aku duga. Kau sedang hamil, 'kan? Jawab!” bentak pria terebut.
Niram diam. Melihat wajahnya yang berubah sangar, nyali Niram pun menciut.
“brengsek! Aku mengeluarkan uang banyak hanya untuk tubuh yang sudah berisi? Sial! Benar-benar sialan! Kau membongi aku. Berani kau membodohi aku, hah!” pria itu masih berteriak tapat di depan wajah Niram. Bahkan , ludahnya pun hingga mengenai wajah niram.
“Apa kau tidak bercermin terlebih dahulu sebelum menjajakan tubuhmu itu, hah?” lanjut pria itu seraya menghempaskan wajah Niram.
__ADS_1
"Lihatlah tubuhmu yang tak berbentuk itu! Bokong kayak bakul. Pinggul lebar, perut buncit. Cih, benar-benar bikin mual perutku saja. Bahkan bentuk tubuh istriku yang sudah tua saja masih jauh elok dipandang daripada tubuhmu yang seperti Babon."
Pria itu terus menghina Niram tiada ampun. Bahkan dia berani membanding-bandingkan Niram dengan istrinya di rumah.
Sakit! Tetu saja hati Niram terasa sakit mendapatkan perlakuan kasar secara psikis dari pria tersebut. Tak sanggup mendengar ejekannya lagi, Niram kemudian memunguti pakaiannya satu per satu. Tak lama berselang, Niram pergi ke kamar mandi untuk mengenakan kembali pakaiannya.
Dengan berurai air mata, Niram mulai mengenakann pakaiannya satu per satu. Setelah selesai, Niram kembali ke kamar.
“Kembalikan uang muka yang sudah aku transfer!” teriak pria paruh baya itu. sepertinya, dia tidak ingin merasa rugi dengan transaksi yang telah dilakukannya.
Niram tidak ingin memperpanjang masalah lagi. Dia merogoh ponselnya dari dalam tas. Sedetik kemudian, Niram membuka aplikasi pelayanan bank dan mentrasnfer sejumlah uang yang tadi dia terima sebagai uang muka.
Pria itu terlihat menyeringai senang. Sesaat kemudian, seorang wanit yng usianya tak jauh beda dengan Niram, memasuki kamar hotel.
"Sayang!" ucap perempuan itu, bergelayut manja dalam pelukan si pria. Matanya mendelik ke arah Niram seolah sedang mentertawakann keberadaannya.
“Pergilah, kau sudahudah tidak diperlukan lagi di sini!” usir perempuan itu, menyeringai.
Tanpa banyak bicara, Niram keluar dari kamar hotel. Air mata sudah tidak mampu dia bendung lagi. Tak ingin menjadi pusat perhatian, Niram mempercepat langkahnya agar segera sampai di lobi hotel.
Benar-benar malang nasib Niram malam ini. bukan uang yang dia dapatkan, tapi malah hinaan dan cacian yang tidak ada habis dari pelanggan yang telah membelinya.
Berselimutkan kesedihan, Niram terus melangkahkan kaki menyusuri trotoar. Hatinya benar-benar hancur. Hinaan yang dia dapatkan malam ini, telah meruntuhkan semua rasa percaya dirinya.
.
.
Yura mengerjapkan mata ketika tenggorokannya terasa kering. Dia melirik botol air minum yang selalu tersedia di atas nakas. Yura pun bangun untuk mengambil air minum tersebut.
Saat dia tengah menenggak isi botol, tiba-tiba dia mendengar bunyi pintu yang dibuka secara paksa. Yura terkejut, dia lantas keluar kamar untuk melihat siapa yang datang di tengah malam begini.
“Astaga, Niram!” pekik Yura.
Dengan sempoyoongan, Niram berjalan mendekati Yura. Tangan kanannya mencekik botol minuman keras. Sedangkan tangan kirinya, dia kibas-kibaskan seraya terus mengoceh.
“Dasar pria botak tidak tahu diri! Pria gendut bergigi kuning. Berani dia ngatain aku buncit. Padahal dia sendiri buncit. Memangnya kenapa kalau aku hamil? Kenapa kalau perutku buncit, bokongku seperti bakul dan pinggulku lebar? Apa urusannya denganmu? Jika memang tidak ingin memakai jasaku, tidak usah menghinaku seperti itu. Punya apa kau menghinaku, hah? Atas dasar apa? Huh, dasar pria gendut!"
Niram masih terus maracau. Sesekali dia menenggak minumannya. Setelah itu dia kembali mengumpat seseorang. Sumpah serapah meluncur bebas dari bibirnya. Hingga beberapa menit kemudian, Niram menjatuhkan diri di atas sofa.
__ADS_1
“Apa salahku, Mbak? Apa salahku? Huhuhu,…”