Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Wawancara


__ADS_3

Niram menyusuri gang kecil. Sesekali dia menundukkan kepala karena masih merasa asing di tempat ini. Puluhan pasang mata yang sedang beraktivitas di sekitar gang, menatap heran kepada Niram. Memang sudah lebih dari satu minggu Niram tinggal di kota ini. Namun, dia sama sekali tidak pernah keluar rumah. Karena itu, warga sekitar pun hanya bisa menatap gadis berkerudung itu seraya mengernyitkan kening mereka.


Keluar dari gang, Niram mulai berjalan menyusuri trotoar. Ada banyak gedung-gedung menjulang tinggi di seberang jalan. Niram pun mulai memberanikan diri untuk menyeberangi jalan raya ibu kota.


"Akan aku coba mencari pekerjaan di tempat terdekat dulu. Kalau tidak ada, perlahan aku akan mencarinya di tempat yang agak jauh," gumam Niram.


Setelah berjalan sejauh beberapa ratus meter. Niram melihat sebuah papan pengumuman bertuliskan 'Ada Lowongan'. Niram tersenyum tipis. Dia kembali mengucapkan basmalah sebelum mengayunkan langkah kakinya memasuki gedung perkantoran tersebut.


"Permisi, Pak!" sapa Niram kepada seorang satpam yang sedang berjaga di depan kantor yang memiliki lantai 25 tingkat.


"Iya. Ada apa, Dek?" tanya penjaga keamanan yang dilihat dari name tag-nya bernama Mukhsin.


"Nama saya Niram," ucap Niram memperkenalkan dirinya, "emh ... saya ingin menanyakan tentang papan pengumuman di sana." Tunjuk Niram pada papan di depan gedung perkantoran.


"Terus?" tanya si penjaga keamanan, tanpa basa-basi.


"A-apakah lowongan pekerjaannya masih berlaku?" tanya Niram sedikit ragu setelah mendengar suara kaku si penjaga keamanan.


"Apa kamu tidak lihat gerombolan orang di sana?" tanya Mukhsin seraya menunjuk sekumpulan orang berlainan jenis sedang berkumpul di samping gedung.


"Iya, Pak. Saya melihatnya," jawab Niram, "memangnya, siapa mereka, Pak?" Niram kembali bertanya.


"Mereka itu adalah orang-orang yang hendak melamar pekerjaan di sini. Seperti kamu juga," jawab Mukhsin.


"Sebanyak itu?" ucap Niram, terkejut.


"Ya. Jika kamu memang berminat untuk mencoba melamar pekerjaan di kantor ini, pergilah dan ikut antre di sana!" perintah Mukhsin.


Untuk sejenak, Niram hanya terpaku melihat puluhan atau bahkan mungkin ratusan orang yang berkumpul dan membuat beberapa kubu. Namun, sudah terlanjur datang juga. Tidak ada salahnya Niram mencoba melamar pekerjaan itu, pikirnya.


Sesaat kemudian, Niram kembali menatap Mukhsin untuk mengucapkan terima kasih. Setelah berpamitan kepada penjaga keamanan tersebut, Niram pun melangkahkan kaki mendekati sekumpulan orang-orang yang tampak sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Niram melihat jejeran kursi plastik yang sebagian besar telah terisi kandidat pelamar. Namun, ada juga di antara para pelamar itu yang berjongkok seraya berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran kecil.


Niram memang bukan gadis yang terlalu pandai beradaptasi. Karena itu, dia hanya duduk di sebuah kursi kosong di bagian paling belakang.


"Mau ngelamar juga, Dik?" tanya seorang penjaga keamanan yang bertugas untuk menjaga para pelamar agar tetap kondusif.

__ADS_1


"Iya, Pak," jawab Niram.


"Sebaiknya, Adik serahkan CV Adik dulu di meja depan sebelum ditutup waktunya," saran penjaga keamanan itu.


"Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya," jawab Niram.


Tak lama kemudian, Niram mengayunkan langkahnya menuju sebuah meja yang terpajang di depan pintu samping kantor ini. Setelah selesai, Niram pun kembali ke tempat tadi.


Niram duduk di kursi tunggu. Sesekali dia membenarkan kerudungnya dan menarik roknya yang sedikit terangkat hingga menampakkan betis mulus berwarna putih. Niram lupa, dia tidak mengenakan kaos kaki seperti biasanya saking terburu-buru keluar dari rumah.


Niram mengedarkan pandangannya. Begitu banyak gadis cantik yang memiliki berbagai macam gaya rambut dan pakaian. Terlihat sangat modis, berbanding terbalik dengan dirinya yang begitu sederhana.


Hmm, meskipun dia merasa asing di tengah kerumunan gadis-gadis cantik bermake-up tebal, tapi dia tidak boleh merasa rendah diri. Dia harus bisa membuktikan jika dia mampu bertahan hidup di kota metropolitan ini.


"Kamu mau ngelamar kerja juga?" tanya seorang gadis cantik tinggi semampai dengan rambut panjangnya yang tergerai dan hanya dihiasi jepitan rambut berbentuk bunga di bagian tepi depan.


Niram menoleh gadis yang duduk di sampingnya. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan dirinya. Hanya saja, make up natural yang dia kenakan, membuat dia terlihat sedikit lebih dewasa dari Niram.


"Eh, i-iya, Mbak. Sa-saya ingin mencoba melamar di sini," jawab Niram, sedikit gugup.


"Niram," jawab Niram singkat sambil menerima uluran tangan gadis itu.


"Oke, Niram. Mulai sekarang kita berteman," ucap Magdalena menjabat tangan Niram.


Niram mengangguk dan tersenyum. "Teman," ulangnya.


Mereka pun tergelak bersama.


"Oh iya, Nir. Kamu sudah lama berhijab?" tanya Lena.


"Lumayan, sih. Sejak aku SMP, jawab Niram.


"Oh. Tapi, Nir ... apa nggak sebaiknya kamu melepas hijabmu saja?" kata Lena.


Niram menautkan kedua alisnya saat mendengar perkataan Lena. Ish, kenapa bisa-bisanya, Lena berkata seperti itu? batin Niram.


Melihat Niram yang hanya diam saja menanggapi perkataannya, seketika Lena sadar jika dia telah melukai perasaan teman barunya itu.

__ADS_1


"Maaf, Nir. Kamu pasti tersinggung dengan perkataan aku, ya?" ucap Lena.


"Tidak apa-apa, Len. Aku hanya terkejut saja mendengar saran kamu itu," kata Niram berlapang dada.


"Sebenarnya, aku tidak bermaksud mencampuri atau mengomentari cara berpakaian kamu. Semuanya hak kamu. Tapi di kota besar seperti ini, penampilan selalu menjadi penilaian yang utama. Setiap perusahaan akan menilai penampilan terlebih dahulu sebelum skillnya. Ya ... meskipun nggak semua perusahaan di kota ini seperti itu. Hanya saja, sebagian besar memang rata-rata seperti itu. Apalagi perusahaan besar," tutur Lena mencoba menjelaskan alasan dia menyarankan Niram untuk membuka kerudung.


Tak ingin mendapatkan predikat sahabat yang buruk, Niram mendengarkan penuturan teman yang baru saja dikenalnya. Meskipun dalam hatinya dia bertekad kuat jika jalan yang dia pilih, adalah jalan yang terbaik untuknya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. Satu per satu, para peserta dipanggil untuk memasuki ruang HRD. Tak ketinggalan dengan Niram. Meskipun dia menjadi pelamar yang terakhir. Namun, perkantoran ini masih bersikap adil untuk memanggil semua nama yang tertera pada CV yang masuk.


Niram membuka pintu ruangan HRD. Semua orang tampak terkejut begitu melihat Niram menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Ada yang sedikit tersenyum geli melihat tingkah Niram yang menurutnya lucu. Namun, ada juga yang memasang muka kecut karena merasa tidak dihargai dan dianggap tidak penting dalam mewawancara para pelamar.


"Masuklah!" perintah orang yang merasa tidak dihargai itu.


Niram mengangguk. Sesaat kemudian, dia memasuki ruangan tersebut. Namun, bukannya duduk. Niram malah berdiri di depan para staf yang akan mewawancarainya.


"Duduklah!" perintah seorang wanita yang telah berumur, tapi terlihat masih segar.


"Terima kasih, Bu," jawab Niram seraya menarik kursi dan mendudukinya.


"Niram Kirana." Baca wanita itu pada CV yang dilayangkan Niram ke perusahaan ini. "Apa benar itu nama kamu?" lanjutnya.


"Benar, Bu," jawab Niram, tegas.


Untuk sejenak, wanita itu menelaah CV Niram. Begitu juga dengan dua staf laki-laki yang melihat-lihat lampiran berkas sebagai penunjang lamaran Niram.


"Nilai prestasi kamu cukup bagus, Niram. Tapi kamu, 'kan tahu jika posisi yang sekarang, itu merupakan posisi yang minimal tingkat pendidikannya adalah D3," tutur wanita itu.


Niram hanya bisa sedikit menundukkan kepala, karena memang dia tidak membaca persyaratan lainnya yang telah ditentukan pihak perusahaan.


"Akan tetapi, jika dilihat dari riwayat pendidikan kamu. Sepertinya kamu orang yang cukup cerdas. Karena itu, kami ingin memberikan satu kesempatan kepada kamu untuk bisa bergabung di perusahaan kami. Hanya saja ...."


Staf wanita itu merasa tidak tega untuk mengatakan sesuatu kepada Niram. Jujur saja, di antara sekian banyaknya para pelamar, hanya Niram lah yang memiliki nilai kelulusan bagus. Bahkan di atas rata-rata. Jika dipertahankan dan diarahkan dengan benar. Maka Niram sangat cocok dengan lowongan pekerjaan di sini. Namun, penampilan Niram telah menodai nilai sempurna yang telah diberikan kepadanya.


"Hanya saja apa, Bu?" tanya Niram penasaran.


"Kamu harus melepaskan kerudungmu itu."

__ADS_1


__ADS_2