
Niram mengucap syukur atas keberhasilan Halim yang sudah naik jabatan. Dan dia juga merasa bangga atas keberhasilan Halim dalam bekerja di kota sebesar Jakarta. Lain halnya dengan istrinya Halim. Imas terkesan biasa saja mendengar kabar kenaikan jabatan suaminya. Sepertinya, kabar bahagia yang dibawa sang suami tidak berpengaruh apa-apa pada suasana hati Imas yang sedang kacau akibat perbuatan kedua orang tuanya.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Nanti selepas shalat magrib, kita akan rayakan kebahagiaan kita," pungkas Halim mengajak istri dan keponakannya masuk.
.
.
"Apa Halim masih belum memberikan kabar, Bu?" tanya Hanafi.
Entahlah. Malam ini Hanafi begitu merindukan suara anaknya yang selalu bersenandung shalawat.
Halimah yang sedang menyiapkan makan malam, hanya bisa menghela napas. Hampir setiap waktu, suaminya itu selalu menanyakan hal yang sama.
Halimah paham dengan apa yang Hanafi rasakan. Jika boleh jujur, Halimah juga merasakan kerinduan yang sama besarnya dengan kerinduan yang dirasakan oleh suaminya. Karena, ini adalah pertama kalinya dia terpisah jauh dengan darah dagingnya.
"Sabar atuh, Yah. Mungkin Halim sedang sibuk. Kalau ada waktu senggang, dia pasti menghubungi kita," kata Halimah.
"Iya, Bu. Ayah juga sudah sabar, tapi entah kenapa rasa kangen di hati Ayah tidak bisa dibawa kompromi untuk bersabar," sahut Hanafi.
"Hhh, memangnya Ayah pikir, Ibu juga tidak merindukan Niram? Ibu rindu, Yah. Sangat rindu. Bagaimanapun, Ibu telah mengandung dan menyusui anak itu. Tentu saja ikatan Ibu dan Niram jauh lebih kuat daripada Ayah. Hanya saja, Ibu tidak mau kalah oleh rasa rindu yang akan menenggelamkan akal waras kita," tutur Halimah, panjang lebar.
Hanafi hanya menarik napas panjang. Harus dia akui bahwa apa yang dikatakan istrinya sangat benar. Jangan sampai kerinduan mengikis akal sehatnya, pikir Hanafi.
"Ya sudah, sebaiknya Ayah makan sekarang. Bukankah Ayah harus minum obat?" pungkas Halimah seraya menyodorkan makan malam suaminya.
.
.
"Niram...! Buruan, Nak!" teriak Halim.
Niram yang baru saja selesai shalat magrib, langsung keluar kamar untuk menemui pamannya.
"Ada apa, Paman?" tanya Niram begitu sampai di hadapan Halim.
__ADS_1
Halim mengernyitkan keningnya. "Kok belum ganti baju?" tanya Halim.
"Ganti baju? Memangnya kita mau ke mana, Paman?" Niram balik bertanya.
"Malam ini, kita akan makan malam di luar, Kakak," celetuk Rayyan yang sudah terlihat rapi.
"Benarkah?" Niram kembali bertanya dengan wajah berseri-seri.
"Iya, Kakak. Kata Papa, kita semua mau makan malam di luar untuk ngerayain naik jabatannya Papa," imbuh Rayyan.
"Ya, hitung-hitung tasyakuran saja, Ram," timpal Halim. "Ya sudah, buruan ganti baju gih! Entar keburu terlalu malam," perintah Halim kepada keponakannya.
"Siap, Paman!"
Niram membalikkan badan. Dia berlari kecil menuju kamarnya. Tiba di kamar, Niram pun segera berganti pakaian. Niram tidak ingin membuat pamannya menunggu lama. Karena itu, setelah memoles wajahnya dengan bedak tipis, dia meraih kerudung bergo berwarna hitam favoritnya dan langsung mengenakannya.
Tak lupa Niram juga menyambar dompet kecil dari atas meja yang tersimpan di sudut kamar.
Sepuluh menit kemudian, dia sudah ikut bergabung bersama keluarga pamannya di teras depan.
Setelah Niram datang, Halim pun mengajak keluarganya untuk berjalan kaki sampai ujung depan gang.
"Dengan Bapak Halim?" tanya sopir taksi online tersebut seraya menyembulkan kepalanya dari jendela mobil.
"Iya, benar," jawab Halim.
"Oh iya, saya taksi online yang Bapak pesan," imbuh si sopir taksi itu.
"Ah, ya. Baiklah," jawab Halim.
Sesaat kemudian, Halim mulai memerintahkan anak, istri dan keponakannya untuk masuk ke dalam mobil tersebut.
"Alamatnya sesuai dengan peta, kan, Pak?" tanya sopir taksi.
"Ya," jawab Halim, singkat.
__ADS_1
Setelah dirasa semuanya telah siap. Sopir taksi online itu pun mulai melakukan mobilnya membelah jalanan ibu kota.
Perjalanan menuju tempat makan yang dituju, diiringi oleh celotehan Rayyan. Bocah laki-laki berusia tujuh tahun itu, terlihat sangat gembira. Tidak terkecuali dengan Niram. Kembang desa itu membelalakkan kedua bola matanya ketika melihat suasana kota metropolitan di malam hari.
"Subhanallah ... indah sekali," gumam Niram saat melihat gemerlap lampu berwarna-warni yang melilit pada batang-batang pohon yang berjejer di tepi jalan.
Halim tersenyum mendengar gumaman keponakannya. Dia pun merasa bahagia ketika melihat keponakannya bahagia.
Berbeda dengan Imas yang raut wajahnya terlihat tidak bersahabat.
"Huh, dasar anak kampung!" ejek Imas.
Niram masih bisa mendengar ejekan bibinya. Namun, dia tidak ingin merusak suasana hatinya hanya dengan merasa tersinggung oleh hinaan sang bibi. Niram pun menulikan kedua telinganya sembari terus memandang takjub gemerlap malam di ibu kota.
Setengah jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi berbelok menuju sebuah tempat yang begitu indah dan megah. Halim membayar ongkos taksi online-nya. Setelah itu, dia dan keluarganya turun dari taksi.
Niram mengedarkan pandangannya. Dia semakin berdecak kagum melihat pemandangan menawan di depan matanya. Sebuah restoran besar dengan gaya romansa klasik berdiri begitu megahnya. Restoran mewah yang menjadi icon kota metropolitan.
Imas tersenyum lebar. Sudah lama dia memendam keinginan untuk bisa makan malam romantis di restoran mewah ini. Dan sekarang, keinginannya terwujud. Meskipun tidak sesempurna dengan apa yang dia pikirkan selama ini, karena kehadiran Niram yang sama sekali tidak pernah dia anggap sebagai anggota keluarga.
"Waaah ... mewah banget, Pa!" Rayyan berseru, takjub. Dia kembali mengalihkan pandangannya kepada sang ayah.
"Beneran kita makan malam di sini?" tanya Rayyan, sumringah.
Halim berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak.
"Hmm, tentu saja kita akan makan malam di sini, Nak," jawab Halim.
"Tapi ini, 'kan mahal, Pa," tukas Rayyan.
"Tidak apa-apa, Nak. Sekali-kali kita cicipi juga makanan yang enak dan mahal seperti orang-orang kaya," balas Halim.
"Tapi sayang, 'kan uangnya, Paman," timpal Niram.
Halim berdiri. Kedua tangannya kemudian menyentuh kedua pundak keponakannya.
__ADS_1
"Kebahagiaan kalian jauh lebih penting daripada harga makanan di restoran ini," jawab Halim sambil tersenyum hangat kepada Niram.
"Mau sampai kapan kalian ngobrol terus? Masuk yuk, ah!" ajak Imas seraya melangkahkan kaki memasuki restoran mewah langganan artis papan atas dan juga para pejabat.