Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Kabur


__ADS_3

"Nak Ahsan, mau ke mana?" tanya Pak Gun.


Akan tetapi, Ahsan tidak menghiraukan pertanyaan Pak Gun. Instingnya berkata, jika gadis itu sedang membutuhkan pertolongan. Ahsan pun mempercepat langkahnya supaya segera tiba di ruang pemeriksaan yang dia lihat tadi.


Tok-tok-tok!


Ahsan mengetuk pintu ruang pemeriksaan. Membuat seorang perawat jaga mengayunkan langkah untuk membuka pintu


"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat sembari mengernyitkan keningnya.


"Maaf, Sus. Apa gadis itu masih menjalani pemeriksaan?" Ahsan balik bertanya.


Sang perawat semakin menautkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti dengan arah pembicaraan pemuda yang tengah berdiri di hadapannya.


"Maksud, Mas?" tanya perawat itu.


"Tadi saya melihat seorang gadis masuk ke ruang pemeriksaan, Sus. Saya ingin menemuinya," tutur Ahsan.


"Waduh, gadis yang mana ya, Mas? Terus terang saja, sejak tadi pagi ada banyak puluhan gadis yang masuk ke ruang pemeriksaan ini. Kalau boleh tahu, siapa nama gadis yang Mas maksud, buar saya lebih mudah mencarinya," jawab perawat itu panjang lebar.


Ahsan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jujur saja, dia memang tidak tahu nama gadis itu. Namun, Ahsan belum ingin menyerah. Dia yakin jika gadis itu sedang membutuhkan pertolongan.


"Sa-saya tidak tahu nama gadis itu, Sus. Tapi ..." Ahsan mencoba mengingat-ingat sesuatu, "emh ... kalau tidak salah, gadis itu mengenakan hijab, Sus," imbuhnya.


Lagi-lagi perawat itu tersenyum. "Gadis yang pakai jilbab dan masuk ke ruang ini banyak, Mas. Sebaiknya Mas ingat-ingat lagi namanya. Jika sudah ingat, Mas bisa menemui saya lagi. Mohon maaf, saya sedang bekerja jadi saya tidak punya waktu untuk bercanda seperti ini," kata perawat itu yang mulai sinis menanggapi Ahsan.


Sedetik kemudian, perawat itu hendak menutup pintu ruang pemeriksaan. Namun, Ahsan mencegahnya


"Tunggu, sus!"


Perawat itu memutar kedua bola matanya, jengah.


"Ada apa lagi sih, Mas?" tanya perawat itu.

__ADS_1


"Saya ingat sesuatu, Sus. Gadis itu dibawa ke ruangan ini mungkin sekitar 15 menit yang lalu. Didorong dengan menggunakan brankar dan di sampingnya ada seorang ibu paruh baya dengan dandanan yang cukup mencolok," papar Ahsan.


"Oh perempuan itu ... iya, tadi memang dia datang bersama tantenya, tapi sekarang mereka sudah pulang," jawab perawat itu, yang tidak ingin memperpanjang lagi perdebatan dengan pemuda di hadapannya.


"Pu-pulang, Sus? Memangnya dia sakit apa?" tanya Ahsan semakin penasaran.


"Hhh, dia hanya sakit perut. Biasa ... sedang datang bulan," jawab asal perawat itu.


Ahsan hanya ber-oh ria. Akan tetapi, jauh di lubuk hatinya, dia merasa heran. Jika hanya datang bulan, kenapa gadis itu terlihat lemas seperti itu, pikir Ahsan.


Dengan langkah gontai, Ahsan pun kembali ke poli THT.


.


.


Malam semakin larut. Imelda menyuruh Muniroh untuk menjaga Niram di kamar rawat. Sementara itu, dia meminta Togar berjaga-jaga di luar kamar. Imelda sengaja menugaskan Togar di sana. Agar setelah Niram sadar nanti, gadis itu tidak mengadu kepada siapa pun perihal apa yang sudah menimpanya.


Namun, rupanya wanita tua itu sudah terlelap begitu nyenyak.


Niram terus meracau meminta air. Bibirnya telah begitu kering. Begitu pula dengan tenggorokannya yang mulai terasa sakit. Akan tetapi, Muniroh masih asyik dengan mimpi-mimpinya. Bahkan, dengkuran halus pun mulai berubah sedikit kencang.


Niram mengerjapkan matanya. Dia mengedarkan pandangannya untuk melihat setiap sudut ruangan. Keningnya sedikit mengernyit ketika mendapati wanita tua terlelap di kursi tunggu.


Dengan kekuatan yang masih sedikit tersisa, Niram mencoba bangun dan menyandarkan punggungnya pada tembok. Tangan lemahnya mencoba menggapai botol air mineral yang berada di atas lemari kecil. Entah milik siapa botol yang isinya hanya tinggal setengah itu. Namun, Niram benar-benar haus sehingga dia mengabaikan su pemilik botol minuman tersebut.


Niram mereguk air di dalam botol hingga tak bersisa. Tenggorokannya kini sudah tidak kering lagi. Ada sedikit rasa segar yang mulai menjalari tubuhnya. Niram kembali mengedarkan pandangannya. Mencoba mencari orang-orang yang telah dia kenali wajahnya, dan dia anggap penjahat.


Sekelebat, Niram melihat bayangan hitam yang berjalan mondar-mandir di balik pintu. Dia mulai turun dari atas ranjang. Dengan langkah mengendap-endap, Niram mencoba mengintip siapa orang yang tengah berjalan mondar-mandir di balik pintu itu.


Deg-deg-deg!


Jantung Niram berdegup kencang ketika menyadari orang itu adalah Togar. Pria bertubuh tegap yang kemarin sore berani menyentuhnya. Merasa jijik dengan sentuhan tangan bertato di pipinya, tanpa sadar Niram mengusap kasar kedua pipinya.

__ADS_1


Niram mulai menyadari jika dia berada di sarang para penjahat. Dan dia tidak ingin kembali ke sana. Karena itu, Niram mencari cara untuk kabur dari cengkeraman para penjahat itu.


Ini kesempatan aku untuk kabur. Aku yakin tempat itu bukanlah tempat yang baik. Aku tidak ingin kembali ke tempat itu, aku harus segera pergi dari sini, batin Niram.


Perlahan, Niram kembali mengayunkan langkahnya menuju ranjang tempat dia dirawat.


.


.


Di rumah yang cukup megah. Ahsan masih berdiri di tepi balkon kamarnya sembari melipat kedua tangannya di dada. Pikirannya kembali melayang mengingat pertemuan dia dengan gadis bermata sayu itu.


Sungguh, Ahsan merasa sangat bersalah karena terlambat menyadari permintaan tolong yang terucap dari bibir gadis itu. Ish, kejadian apa yang sebenarnya menimpa diri gadis itu? Kenapa dia bisa terbaring tak berdaya di sana? Apa dia mencoba melakukan sesuatu yang buruk? Apa dia mencoba sedang menganiaya dirinya sendiri?


Batin Ahsan terus dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dia temukan jawabannya.


Apa pun yang terjadi padanya, siapapun dia. Semoga dia baik-baik saja. Do'a Ahsan seraya memasuki kamarnya.


.


.


Malam terus merangkak. Niram masih berusaha untuk melawan kantuknya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari cengkeraman orang-orang jahat itu. Dengkuran di kamarnya mulai semakin keras. Niram melihat jika wanita tua itu sudah tidur pulas. Dengan sangat hati-hati, Niram mencabut jarum infus di punggung tangannya.


Ish!


Niram sedikit meringis. Namun, dia segera membekap mulutnya agar wanita tua itu tidak mendengar ringisannya. Perlahan, Niram turun dari atas ranjang. Dia berjalan berjinjit mendekati pintu.


Dengan sangat hati-hati, Niram membuka pintu kamar. Dia melihat jika pria bertato itu pun sudah terbang ke alam mimpinya. Kembali Niram berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara.


Niram berjalan seraya menundukkan wajahnya. Dia tidak ingin seseorang melihat wajahnya dan menaruh curiga kepadanya. Setelah di ujung koridor, Niram tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Dengan sisa kekuatan yang masih dimilikinya, Niram lari sekuat tenaga melewati pintu samping rumah sakit yang masih terbuka.


Tolong lindungi hamba, Tuhan ....

__ADS_1


__ADS_2