Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Kupu-kupu Malam


__ADS_3

Natasya langsung berdiri di atas kasur. Dia berkacak pinggang melihat perdebatan kedua orang tuanya. Teriakkan Natasya begitu menggelegar di kamarnya. Membuat Brama dan Karen sontak menoleh ke arah Natasya. Teriakannya begitu menggelegar.


"Inilah alasan yang membuat aku tidak betah di rumah! Inilah alasan yang membuat aku memilih keluar daripada harus tinggal bersama kalian. Apa kalian tidak sadar dengan usia kalian, hah? Kalian itu bukan anak kecil lagi yang bisa berdebat di depan siapa saja. Jika memang ingin bertengkar, setidaknya lakukan itu di belakang putri kalian. Paham!"


Tak sanggup membendung emosinya, Natasya turun dari atas ranjang setelah puas menumpahkan isi hati. Kondisi seperti ini yang harus dia lihat setiap hari di rumahnya, membuat Natasya merasa frustasi.


"Tasya, tunggu, Nak!" panggil Karen yang melihat putrinya berlalu keluar kamar begitu saja.


Namun, Natasya tidak menghiraukan teriakan sang ibu. Dia terus mengayunkan langkahnya menuruni anak tangga satu per satu.


"Semua ini gara-gara kamu! Awas saja kalau anakku sampai pergi lagi dari rumah," ancam Karen sesaat sebelum dia meninggalkan suaminya.


"Astaga!" gumam Brama sembari mengusap kasar wajahnya. Sedetik kemudian, Brama ikut berlari untuk menyusul anaknya yang entah akan pergi ke mana.


.


.


Di kediaman Kusuma.


Ahsan tanpak bersiul kecil seraya memasukkan pakaiannya satu per satu. Mbok Jum yang hendak mengantarkan sarapan, sedikit mengernyitkan keningnya ketika melihat tingkah laku anak asuhnya.


"Bukannya liburan Aden masih lama? Kok sudah mengemasi pakaian segala?" tanya Mbok Jum seraya memasuki kamar Ahsan.

__ADS_1


Pria berjambang tipis itu tersenyum lebar melihat kedatangan ibu asuhnya. Perhatian Mbok Jum terhadap dirinya, membuat Ahsan begitu menyayangi wanita yang sudah beruban tersebut.


"Liburan Ahsan tinggal seminggu lagi, Mbok. Karena itu, Ahsan packing dari sekarang. Biar nanti, tidak terlalu keteteran saat menjelang kembali ke Jogja," jawab Ahsan.


"Emh, begitu ya, Den. Ya sudah, Aden sarapan dulu gih! Biar Mbok yang lanjutin," perintah Mbok Jum.


"Iya, Mbok. Bentar lagi, tanggung ini. Tinggal sedikit lagi, kok," jawab Ahsan.


Mbok Jum hanya tersenyum mendengar jawaban anak majikannya. Dia tahu jika Ahsan masih cukup lama mengemasi pakaiannya. Hanya saja, Ahsan bukan tipe anak yang selalu bergantung kepada orang lain. Sekalipun punya pembantu, selama dia mampu mengerjakan, dia akan kerjakan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.


"Sudah, Den. Anggap saja ini sebagai bentuk perhatian seorang ibu. Sekarang, Aden makan dulu. Selesai makan, baru Aden bisa melanjutkan pekerjaan Aden," bujuk Mbok Jum sembari mengambil alih pakaian dari tangan Ahsan.


"Tapi, Mbok!"


"Sama-sama, Nak!"


.


.


Niram yang sudah bisa bangun dan berdiri, sesaat memandang wajah lelah milik Yura. Penolongnya itu sedang terlelap seraya mendengkur halus. Tidurnya terlihat begitu nyenyak. Sampai pergerakan Niram pun tidak mengganggunya sama sekali.


Tubuh Niram terasa lengket setelah seharian kemarin tidak menyentuh air. Kekotoran yang melekat di tubuhnya pun membuat Niram enggan untuk mensucikan diri. Bayangan tangan nakal yang menggerayangi tubuhnya dengan paksa, membuat Niram lemah hingga merasa malu untuk menghadap Sang Pemilik Hidup. Pada akhirnya, seharian itu Niram sama sekali tidak melakukan ibadah apa pun. Dada Niram terasa sesak kembali, mengingat semua lembaran dosa-dosanya.

__ADS_1


Niram mencoba untuk berdiri. Meskipun terasa aneh, tapi dia berusaha untuk berjalan menuju kamar mandi. Niram sedikit kesusahan ketika melangkahkan kakinya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di antara kedua pangkal paha. Lagi-lagi, gadis itu berurai air mata ketika menyadari kesuciannya terenggut paksa oleh laki-laki biadab yang tidak dia ketahui namanya.


Seumur hidup, aku tidak akan pernah melupakan wajah kamu, bajingan! Semoga hidup kamu sengsara selamanya! rutuk Niram dalam hati.


Tiba di kamar mandi. Niram melucuti pakaiannya. Setelah itu, dia mulai mengguyur seluruh tubuhnya. Dinginnya air masih tidak bisa menghilangkan gemuruh di hati Niram. Semakin deras air mengguyur tubuhnya, semakin deras kutukan dan sumpah serapah Niram atas dirinya yang sudah tidak berharga lagi.


Lelah mengumpat kehancuran hidupnya. Niram hanya mampu duduk di sudut kamar mandi. Sekujur tubuhnya terlihat memerah karena sapuan keras tangan Niram yang mencoba menghapus noda kotor di tubuhnya. Niram bahkan tidak segan-segan menggunakan sikat cuci untuk membersihkan sisa-sisa sentuhan pria tak bermoral itu. Luka lebam terlihat sedikit sudah berkurang. Namun, luka di hatinya semakin mendalam.


Tubuh Niram sudah menggigil. Bahkan bibirnya pun terlihat membiru. Dengan susah payah, Niram berdiri dan meraih handuk yang tergantung di tempatnya. Setelah membalut tubuh dengan handuk tersebut. Niram keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar.


Niram mematung ketika melihat Yura masih terlelap di balik selimut. Hmm, wajar saja dia masih asyik bermimpi meski matahari mulai meninggi. Menjelang subuh gadis bertubuh sintal itu baru kembali ke rumah.


Kening Niram langsung berkerut ketika menyadari satu hal. Subuh tadi, Niram mendengar deru kendaraan yang berhenti tepat di depan kamarnya. Dari balik tirai jendela berwarna putih, Niram sempat melihat bayangan dua orang. Satu orang tentu saja bayangan milik Yura. Namun, satu orang lagi entah bayangan siapa. Satu yang bisa dipastikan, itu adalah bayangan seorang pria bertubuh pendek dan sedikit gendut.


Sesaat sebelum bayangan itu memasuki mobilnya, Niram mendengar suara-suara aneh yang cukup lama. Niram merasa penasaran hingga akhirnya, dia memberanikan diri untuk mengintip dari balik tirai jendela. Alangkah terkejutnya Niram melihat Yura berdiri di antara impitan sisi mobil bagian luar dan tubuh pria gempal yang sudah tua.


Wajah si pria menyusup di ceruk leher Yura. Sementara kedua tangannya terus bergerilya di sekitar dada Yura. Entah apa yang pria itu lakukan, sehingga membuat tubuh Yura terlihat bergerak tak karuan.


Jantung Niram kembali berdetak kencang mengingat apa yang dia lihat dini hari tadi. Sesaat kemudian, Niram mendekati Yura yang masih tampak nyenyak. Kimono Yura tersibak, menampakkan stempel merah kebiruan di sekitar dada dan ceruk lehernya.


A-apa pekerjaan Yura se-sebagai seorang wa-nita penghibur? A-apa ini yang dia maksud pri-primadona malam? A-apa Yura seorang wanita malam?


Berbagai pertanyaan timbul dalam benak Niram. Tato merah kebiruan yang tersebar di jenjang mulus Yura, semakin menguatkan dugaan Niram tentang status pekerjaan wanita yang telah menolongnya. Niram yakin jika Yura adalah kupu-kupu malam yang akan hinggap di sebuah taman yang menyuguhkan kenikmatan dunia.

__ADS_1


__ADS_2