
Selama dalam perjalanan pulang, Halim tampak tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, di ujian terakhir yang penuh rintangan, Halim hampir saja kehilangan kesempatan untuk menyelesaikannya. Namun, dukungan dari Sugistiawan, membuat Halim kembali fokus dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan mudahnya.
"Terima kasih, Bang. Semoga saja kita masih bisa bersilaturahmi meskipun sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing," gumam Halim.
Saat melihat jejeran kios buah, Halim pun menepikan kendaraan roda duanya. Setelah memarkirkan motor tua itu di tempat aman, Halim mulai menyusuri kios buah untuk mencari buak kesukaan Rayyan.
"Ah, itu dia!" seru Halim tatkala melihat tumpukan buah pir yang begitu segar. Halim kemudian menghampiri kios buah tersebut.
"Sekilo berapa, Bu?" tanya Halim kepada si penjual buah.
"Itu pir import, Bang. Sekilonya 50 ribu," sahut si pedagang.
"Waduh, Bu. Hari gini masih import aja, bukankah produk lokal lebih baik, hehehe,..." gurau Halim.
"Hhh, bukannya enggak cinta produk lokal, Bang. Tapi produk lokal emang sulit didapatkan. Maklum lah, para petani lokal sudah semakin sedikit di negara kita ini," tutur ibu pedagang menimpali ucapan Halim.
Halim hanya tersenyum tipis mendengar penuturan pedagang itu. Entah memang itu sebuah kebenaran atau cuma alasan si pedagang, Halim tidak ingin berkomentar lebih jauh lagi.
"Ya sudah, Bu. Saya beli dua kilo saja," lanjut Halim.
"Baik, Bang."
Dengan cekatan, ibu yang berusia sekitar 35 tahunan itu mulai memilih buah pir segar.
.
.
Menjelang dzuhur, Ahsan tiba di rumah Lila. Senyumnya mengembang tatkala dia melihat Natasya sudah duduk di beranda rumah neneknya. Ahsan pun segera memarkirkan motornya.
Natasya beranjak dari kursi untuk menyambut kedatangan Ahsan. Entah kenapa, tiba-tiba saja kedatangan Ahsan membuat hatinya berbunga-bunga. Entah apa sebabnya. Namun, Natasya merasa senang jika Ahsan mementingkan permintaannya.
"Sorry, Sya. Jalanan cukup macet, karena itu gua telat," ungkap Ahsan begitu tiba di beranda rumah Lila.
"Iya, San. Enggak pa-pa kok. Kita masuk dulu, yuk! Oma ngajakin kita makan siang terlebih dahulu sebelum pulang," ajak Natasya seraya meraih tangan Ahsan.
__ADS_1
Pemuda berjambang tipis itu tersenyum. "Boleh, kebetulan gua juga lagi lapar nih," sahutnya.
Kedua pasangan yang terlihat cocok itu pun, saling bergandengan tangan memasuki rumah Lila. Tiba di ruang makan, tampak wanita tua itu sedang menata meja makan. Natasya mempercepat langkahnya untuk membantu sang nenek menyiapkan makan siang.
"Eh, ada Nak Ahsan, duduklah!" ucap Lila ketika mengetahui cucunya datang membawa teman.
"Hmm, wangi sekali Oma. Masak apa?" tanya Ahsan seraya menarik kursi dan mendudukinya.
"Ini ada ayam goreng, perkedel sama sayur sop," jawab Lila.
"Wah, menu komplit nih ... bikin perut menjerit-jerit saja," gurau Ahsan seraya mengelus perutnya.
"Kamu bisa saja, Mak," timpal Lila. "Ayo, Sya ... ambilkan piring untuk Nak Ahsan!" perintah Lila kepada cucunya.
"Baik, Oma," jawab Natasya.
Gadis bertubuh bak foto model itu berjalan mendekati rak piring. Tak lama kemudian, Natasya kembali mendekati kursi sahabatnya. Dia pun menyodorkan piring kosong kepada Ahsan.
"Ini piringnya, San!" ucap Natasya.
"Ah ya ... makasih cantik," jawab Ahsan yang tak lama kemudian, dia mulai menyendok nasi yang berada dalam bakul.
"Sudah jangan ngelamun terus, Sya," tegur Lila, "ayo, temeni Nak Ahsan makan!" titahnya.
"Baik, Oma," jawab Natasya.
Natasya pun menarik kursi yang berada di samping sahabatnya. Dia mulai duduk dan menyendok nasi dan juga lauk pauk yang sudah disediakan Lila. Tak lama berselang, denting sendok dan garpu mengiringi acara makan siang kedua sahabat berbeda jenis itu.
Tak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya sesekali saja, mereka saling melempar senyum seraya mengunyah makanannya.
.
.
Halim kembali melajukan kendaraannya setelah mendapatkan buah tangan untuk keluarga. Anaknya begitu menyukai buah pir, dan Halim ingin memberikan kejutan kecil untuk anaknya dengan pir-pir tersebut.
__ADS_1
Halim tidak tahu apakah Niram akan menyukai oleh-oleh yang dibawanya atau tidak. Namun, satu hal yang pasti Halim ketahui, Niram tidak pernah menolak buah tangan apa pun yang dibawakan Halim.
Suka ataupun tidak suka, gadis berhijab itu pasti menerimanya, karena Niram tipe anak yang tahu bagaimana caranya menghargai pemberian orang lain.
Masih dengan senyumnya yang semakin lebar, motor Halim mulai berbelok menuju gang rumah kontrakannya. Tiba di depan rumah, Halim mematikan mesin motor dan menuntunnya ke teras. Setelah motornya dia standarkan, Halim kemudian mengetuk pintu rumah.
Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Meskipun berulang kali Halim mengetuk pintunya. Namun masih tetap tidak ada orang yang membukakan pintu. lelah menunggu, Halim akhirnya berjalan mendekati kursi.
Sambil menunggu orang rumah membuka pintu, Halim lantas duduk di kursi plastik yang berada di teras. Sejenak, dia menyandarkan tubuh dan menengadahkan wajahnya. Kedua matanya terpejam, merasakan lelah yang amat sangat. Hingga akhirnya, rasa kantuk mulai menyerang Halim sampai tertidur pulas.
Beberapa menit telah berlalu, terdengar deru motor yang kemudian berhenti tepat di depan rumahnya. Halim pun mengerjapkan mata. Sedetik kemudian, dia mendongak. Dahinya berkerut ketika melihat motor yang dikendarai istrinya.
"Papa!"
Teriakan Rayyan menarik Halim dari lamunannya. Sejurus kemudian, Halim beranjak dari tempat duduk. Melihat Imas kesusahan menstandarkan motornya, Halim mendekati untuk membantunya.
Brugh!
Rayyan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Halim begitu melihat ayahnya telah selesai men-standarkan motor. Halim pun segera menggendong putra sulungnya.
"Rayyan senang Papa pulang," ucap Rayyan sembari menciumi kedua pipi Halim.
"Bukan hanya Rayyan, Papa juga seneng karena Papa bisa secepatnya pulang. Uuh, Papa kangen banget sama Bang Rayyan," sahut Halim, membalas ciuman anaknya.
"Ya sudah, kita masuk saja. Ngobrolnya di rumah, di sini panas," timpal Imas, mengajak kedua jagoannya untuk memasuki rumah.
Halim menurunkan Rayyan dari pangkuannya. Dia kemudian menggenggam tangan putranya dan berjalan beriringan memasuki rumah mereka.
"Eh, tunggu Bang," ucap Halim seraya mendekati kursi plastik. Halim kemudian menyambar bungkusan plastik yang dia bawa tadi. "Nah, ini buat Abang," imbuhnya seraya memberikan bungkusan itu kepada anaknya.
"Wah, oleh-oleh apa ini, Pa?" tanya Rayyan membulatkan kedua matanya.
"Nanti bisa Abang buka kalau sudah masuk rumah. Jangan lupa, bagi dua sama kak Niram, ya," pesan Halim, mengingatkan putranya untuk selalu berbagi.
"Tapi kak Niram, 'kan sudah enggak tinggal di sini," celetuk Rayyan.
__ADS_1
Halim terkejut. Seketika dia menoleh kepada anaknya. Sedangkan Imas yang tanpa sengaja mendengar percakapan anak dan suaminya, sontak gemetar. Kedua lututnya terasa lemas. Dia pun mempercepat langkahnya memasuki kamar.
"Ish, aku harus melakukan sesuatu."