Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Tamu Pertama


__ADS_3

Keesokan harinya, dengan diantarkan kedua orang tuanya, akhirnya Natasya tiba di bandara Soetta. Di tempat tunggu, sudah ada Ahsan dan kedua orang tuanya. Karen dan Brama saling berjabat tangan dengan kedua orang tua Ahsan.


"Maaf, Mbak. Saya jadi merepotkan orang tuanya Mbak di Jogja," ucap Karen saat mengutarakan keinginan Natasya untuk berkuliah dan tinggal di kediaman orang tua Kania.


"Ish, enggak apa-apa, Jeng. Orang tua saya pasti akan merasa senang dengan kehadiran Tasya," sahut Kania.


"Inget, Sya. Jaga pergaulan di sana. Satu lagi, kamu harus nurut apa kata mbah akung sama eyang putri. Enggak boleh ngebantah," nasihat Brama.


"Iya, Pa," jawab Natasya.


"Enggak usah khawatir, Bram. Ada Ahsan yang bakalan menjaga putri kamu di sana," tutur Kusuma.


"Iya, Mas. Saya percaya Ahsan bisa menjaga Tasya. Bukankah selama ini, cuma Ahsan yang bisa ngebujuk Tasya kalau lagi merajuk," gurau Brama.


"Papa, ih ..." rengek Natasya.


"Halah, so jaim lu," ledek Ahsan kepada sahabat masa kecilnya.


"Ish, apaan sih. Enggak juga," tukas Natasya seraya mengerucutkan bibirnya.


Para orang tua hanya bisa mengulum senyum mendengar perdebatan kedua muda mudi tersebut.


Tak lama kemudian, panggilan untuk para penumpang dengan tujuan Jogja mulai terdengar. Ahsan dan Natasya menghentikan perdebatannya. Mereka berdua lantas berpamitan kepada orang tuanya masing-masing sebelum akhirnya menaiki pesawat


.


.


Pukul 8 pagi. Kuburan untuk tempat peristirahatan terakhir Imas, telah selesai dibuat. Dengan diantarkan anak, suami, kedua orang tua dan beberapa orang tetangga terdekat, jenazah Imas pun mulai diusung menuju tempat pemakaman umum milik DKM kampung setempat.


Tiba di TPU, Halim, Sukma dan seorang ulama setempat, turun untuk menerima jenazah dari dalam liang lahat. Sementara ketua RT dan beberapa pemuda karang taruna kampung, mengeluarkan jenazah dari dalam keranda dan menyerahkannya kepada Halim, Sukma dan ulama tersebut.


Proses pemakaman Imas terlihat begitu sepi. Hanya bisa dihitung jari para tetangga yang mengantarkannya ke tempat peristirahatan yang terakhir. Tetangga yang tidak ikut mengantar, umumnya beralasan tidak terlalu mengenal Imas dan keluarganya.


Memanglah benar, kenyataannya, keluarga Imas selain dikenal sebagai keluarga yang penuh drama, mereka juga bukan orang-orang yang pandai bergaul di lingkungannya.


Selesai pemakaman. Kedua orang tua Imas kembali ke rumah. Para tetangga dekat yang mengantar pun sudah membubarkan diri. Termasuk Sugistiawan. Pria itu berpamitan pulang tak lama setelah talqin mayit selesai dibacakan.


Tinggal Halim dan anaknya masih setia berjongkok di samping makam yang tanahnya masih berwarna merah. Kesedihan mendalam, begitu kentara di raut wajah ayah dan anak itu. Namun, sudah tidak ada air mata lagi yang menetes. Sepertinya, baik Halim maupun Rayyan, keduanya sudah sangat ikhlas melepaskan kepergian wanita itu.

__ADS_1


Saat tengah berdo'a, dering telepon Halim terdengar begitu nyaring. Halim pun segera merogoh saku celananya. Dahinya mengernyit tatkala melihat deretan nomor ponsel yang tidak dia kenal.


"Halo, assalamu'alaikum!" sapa Halim.


"Dengan Bapak Halim?" tanya suara seorang perempuan di ujung telepon.


"Iya, benar. Ini siapa, ya?" Halim mulai bertanya.


"Saya Suster Agni dari rumah sakit tempat bayi kembar Anda dirawat," tutur orang itu yang ternyata salah seorang perawat dari rumah sakit daerah.


"Ah, iya Sus. Maaf, saya belum bisa menjenguk putri saya. Di sini, pemakaman ibunya baru selesai dilaksanakan," jawab Halim.


"Iya, Pak. Saya paham dengan keadaan di sana. Begini, Pak. Saya hendak mengabarkan jika salah satu putri kembar Bapak mengalami kondisi yang cukup buruk. Untuk itu, kami sangat menunggu kedatangan Bapak siang ini juga. Agar dokter bisa berdiskusi untuk penanganan selanjutnya terhadap putri Anda," papar Suster Agni.


Deg!


Jantung Halim seakan berhenti berdetak mendengar kabar yang baru saja dia dengar. Belum selesai kepedihan di hati akan kepergian sang istri tercinta, kini Halim pun harus menerima kenyataan pahit tentang salah satu putri kembarnya.


"Baik, Sus. Saya akan segera ke rumah sakit," pungkas Halim.


.


.


Semenjak Niram hadir di tempat tersebut. Rumah bordil milik Mama Rossa pun semakin banyak dikunjungi para pria hidung belang dari berbagai kalangan. Mereka merasa penasaran dengan kecantikan Niram. Meskipun tidak pernah bisa ada yang menyentuhnya. Namun, mereka menikmati pelayanan Niram yang hanya sebatas menemani berkaraoke.


Hingga setelah tiga hari, Mama Rossa menemui Niram di kamarnya.


"Pakailah ini!" perintah Mama Rossa seraya menyerahkan gaun berwarna merah kepada Niram.


"Apa ini, Ma?" tanya Niram seraya membentangkan minidress yang begitu halus serat kainnya.


"Itu baju pembawa keberuntungan. Hari ini, hari pertama kamu bekerja. Semoga saja kamu bisa mendapatkan tamu yang sepadan menghargai pelayanan kamu," tutur Mama Rossa.


Niram tersenyum kecut. "Meskipun ini hari pertama aku, tapi ini bukan malam pertama juga, Ma." Lirih Niram.


"Aku tahu, tapi kamu tidak usah khawatir. Kamu sudah turuti apa yang aku perintahkan, 'kan?" tanya Mama Rossa.


"Iya, Ma," jawab Niram.

__ADS_1


"Jamu dan pil-nya kamu minum dengan teratur, 'kan?" Lagi-lagi Mama Rossa bertanya.


Niram mengangguk.


"Baguslah. Cepat ganti pakaian dan berdandanlah yang cantik. Setelah itu, Akas akan mengantarkan kamu ke hotel Bintang," ucap Mama Rossa.


"Ho-hotel?" tanya Niram, terkejut.


"Ya. Tamunya menunggu di hotel Bintang. Kamu bisa melayaninya di sana."


"Ta-tapi kenapa harus di hotel, Ma? Ke-kenapa di-dia ti-dak datang kemari?" tanya Niram, gugup.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" Selidik Mama Rossa.


"Bu-bukan begitu, Ma. Sa-saya hanya tidak tahu saja harus bagaimana memulainya," ungkap Niram mengemukakan alasannya.


"Kamu tidak perlu memulai. Biarkan saja dia yang memulai dan memandu kamu. Secara alamiah, hubungan itu pasti akan terjadi. Kamu hanya perlu menikmatinya saja. Jangan pernah dianggap sebuah beban!" Jelas Mama Rossa. "Buruan ganti baju! Sebentar lagi rapatnya selesai. Akas akan mengantarkan kamu sampai ke kamarnya. Kamu harus sudah berada di sana sebelum dia datang. Paham!" imbuhnya.


"Baik, Ma."


Setengah jam berlalu. Niram semakin terlihat cantik dan bergairah dengan gaya pakaian yang diberikan oleh ibu asuhnya.


"Semoga berhasil," bisik Yura sesaat sebelum Niram pergi menemui tamu pertamanya.


.


.


Di hotel Bintang.


"Tuan Alfaruk, Kamar 203 di lantai 4," ucap sang resepsionis hotel saat Akas bertanya tentang kliennya.


Akas mengajak Niram untuk menaiki lift. Setelah menemukan kamarnya, Akas segera menempelkan cardlock untuk membuka pintu. Sepersekian detik kemudian, pintu terbuka.


"Masuklah, dan tunggu Tuan Alfaruk di kamar," perintah Akas.


Niram mengangguk. Sedetik kemudian, dia memasuki kamar hotel yang begitu luas dan megah.


Niram duduk di atas sofa kamar. Matanya menatap lurus ke depan. Pandangannya terlihat begitu kosong. Rupanya, Niram sedang tenggelam dalam lamunannya.

__ADS_1


Tuan Alfaruk? Siapa tuan Alfaruk yang akan menjadi tamu pertamaku. Apakah dia seseorang yang masih muda, atau bahkan sebaliknya?


__ADS_2