Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Terlilit Utang


__ADS_3

Halim mengetuk pintu kamar Niram. Namun, tidak ada sahutan dari dalam kamar. Hanya terdengar dengkuran halus dari balik pintu. Sepertinya, si empunya kamar sudah terlelap ke dalam mimpi.


"Hmm, sebaiknya besok saja aku kabari tentang lowongan kerja dari Egga," gumam Halim.


Halim sadar, mungkin Niram kelelahan setelah jauh berjalan menyusuri jalanan ibu kota hanya untuk mencari pekerjaan.


.


.


Keesokan harinya. Seperti biasa, Niram bangun sebelum orang-orang di rumah Halim bangun. Dia mengambil wudhu untuk menunaikan shalat sunat tahajud. Setelah itu, Niram mulai mencuci beras dan menanak nasi. Selesai dengan pekerjaan dapur, Niram pergi ke kamar mandi untuk mencuci pakaian keluarga Halim.


Setelah beres dengan cucian dan menjemurnya. Niram pun kembali ke dapur. Dia membuka lemari pendingin. Hanya ada wortel, sawi, bakso juga tahu tempe yang masih tersedia di sana. Mungkin ini tanggal tua, karena itu tidak ada daging, ikan ataupun ayam di dalam kulkas.


Niram pun mengeluarkan bahan-bahan alakadarnya itu. Dia mulai mengupas wortel dan mengirisnya tipis-tipis. Tak lupa, Niram juga mencuci sawi dan bakso. Menu yang akan dibuat Niram pagi ini, adalah capcay sayur bakso dan mendoan tempe.


Setelah bahan-bahan sudah siap, kumandang azan subuh mulai terdengar dari surau. Niram menghentikan aktivitasnya di dapur. Sejurus kemudian, dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan menjalankan shalat subuh.


Selepas shalat, Niram kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini, dia ada janji dengan teman barunya untuk kembali mencari pekerjaan. Sembari memasak, Niram bersenandung shalawat. Entahlah, hatinya selalu terasa damai saat melantunkan shalawat.


"Masak apa, Nak?"


Tiba-tiba, Halim sudah berdiri di ambang pintu dapur seraya bertanya kepada keponakannya. Sontak Niram pun terkejut mendengar suara sang paman.


"Ish, Paman ... ngagetin aja," jawab Niram seraya mengerucutkan bibir tipisnya.


Halim hanya tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Niram. Meskipun sudah berusia 19 tahun. Namun, bagi Halim Niram tetaplah gadis kecil yang sangat imut.


"Hehehe, iya ... maaf, Nak. Lagian, kamu asyik banget masaknya. Lagi masak apa, Ram?" Halim kembali bertanya.


"Ini, Paman. Niram lagi masak capcay sayur bakso sama mendoan," jawab Niram seraya menunjukkan bahan-bahan yang sudah diaduknya di dalam wajan.


Halim mendongak, tampak campuran sayuran dan bakso di dalam wajan. Seketika, Halim teringat masa kecilnya. Makanan itu salah satu menu wajib yang selalu ada di meja makan. Hampir setiap hari sang kakak memasak makanan tersebut. Hingga akhirnya, menjadi makanan favorit Halim hingga sekarang.


"Oh iya, Ram. Kemarin Paman diberi tahu karyawan OG di kantor Paman. Katanya, di kantor suaminya sedang membutuhkan karyawan, tapi untuk cleaning servis. Apa kamu berminat?" tutur Halim mencoba menawarkan lowongan pekerjaan itu kepada keponakannya.


"Tukang bersih-bersih seperti itu, 'kan tugasnya, Paman?" sahut Niram.


"Iya, Ram. Ya tugasnya memang menjaga kebersihan kantor, tapi gajinya tetap UMR juga," balas Halim.


"Tidak apa-apa, Paman. Apa pun pekerjaannya, yang penting halal," jawab Niram, bersemangat.


"Nir, kalau boleh jujur, sebenarnya Paman keberatan kamu ambil pekerjaan itu," ujar Halim.


"Loh, kenapa Paman?" tanya Niram, heran.

__ADS_1


"Mungkin itu pekerjaan terendah yang ada di sebuah perusahaan. Orang yang tidak sekolah pun bisa menjadi cleaning servis asalkan dia rajin dan bertanggung jawab. Kamu lulusan SMA, apa enggak sayang harus disejajarkan dengan orang-orang yang hanya lulusan SMP atau SD. Bahkan, sama sekali tidak berpendidikan," tutur Halim.


"Tidak apa-apa, Paman. Anggap saja sebagai batu loncatan," jawab Niram.


"Ya sudah, nanti kita bicara lagi. Sekarang Paman mau ke kamar mandi dulu," pungkas Halim seraya pergi memasuki kamar mandi.


.


.


Pukul 06.00. Sarapan telah tersedia di atas meja. Niram lantas pergi ke kamar Rayyan untuk membangunkannya. Sejak Niram hadir di rumah ini, tugas untuk membangunkan dan menyiapkan semua keperluan Rayyan pun seolah dilimpahkan kepadanya. Bahkan, dengan telaten Niram menyempatkan diri untuk menyuapi Rayyan agar anak itu tidak terlambat sekolah jika bangun kesiangan.


"Ayo cepat, Dek. Entar kamu kesiangan lagi kayak kemarin," ucap Niram seraya menarik tangan adik sepupunya.


"Lima menit lagi, Kakak. Please ..." rajuk Rayyan.


"Ish, enggak ada lima menit-lima menitan. Buruan bangun ah," balas Niram.


Akhirnya, dengan susah payah, anak kecil itu pun membuka matanya. Sedetik kemudian, Niram mengajak Rayyan ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi pagi sebelum berangkat sekolah.


Pukul 06.30, semuanya sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Semuanya sudah mandi karena hendak berangkat untuk beraktivitas. Kecuali Imas, dia masih terlihat semrawut karena baru bangun tidur. Namun, meskipun demikian, Halim tidak bisa mencegah istrinya itu untuk sarapan bersama. Ya, buah hatinya lah yang selalu membuat Halim mengalah pada kekeraskepalaan sang istri.


"Ini alamatnya, Ram. Tapi maaf, sepertinya Paman tidak bisa mengantarkan kamu ke sana," ucap Halim, mengawali perbincangan.


"Iya, tidak apa-apa Paman. Nanti Niram perginya sama Lena saja," jawab Niram.


"Eh, iya Paman. Lena itu teman baru Niram saat kemarin kami sama-sama mencari pekerjaan," jawab Niram. "Rencananya, hari ini kami akan mencari pekerjaan lagi," lanjutnya.


"Hati-hati kamu bergaul, Ram. Jangan sampai salah memilih teman," timpal Imas.


"Insya Allah enggak, Tan. Lena itu gadis baik-baik," jawab Niram.


"Hallah ... awalnya aja baik, ke sininya, 'kan kita enggak tahu," tukas Imas.


"Iya, Tan," sahut Niram, mengalah.


"Ya sudah. Ayo, lanjutkan lagi makannya!" perintah Halim.


Ketika mereka sedang menikmati sarapannya, tiba-tiba terdengar gedoran di pintu depan rumah Halim.


Dug-dug-dug!


"Buka pintunya!" teriak seseorang.


Di meja makan, Halim Niram, dan Imas hanya saling pandang mendengar teriakan itu. Sedangkan Rayyan, anak laki-laki itu segera berpindah tempat mendekati kakak sepupunya.

__ADS_1


"Ray ta-takut, Kakak," guman anak itu seraya memeluk Niram.


"Cepat buka pintunya Imas! Aku tahu kamu ada di dalam. Mana suami kamu? Cepat suruh dia keluar!" Kembali orang itu berteriak.


Halim mengernyitkan keningnya ketika mendengar orang itu memanggil nama sang istri.


"Dia memanggil nama kamu, Mas. Apa kamu mengenalnya?" tanya Halim kepada istrinya.


"Ish, mana Imas tahu," jawab Imas, santai.


Apa orang yang datang itu, pria botak yang kemarin? batin Niram.


Dug-dug-dug!


Gedoran di pintu kembali terdengar. Membuat Rayyan semakin mengencangkan pelukannya.


"Hei, kamu kenapa, Dek?" tanya Niram, heran.


Namun, Rayyan hanya menutup matanya rapat-rapat.


"Kalian tunggu di sini. Biar Papa buka pintunya," kata Halim seraya beranjak dari kursinya.


Tiba di depan. Halim segera membuka pintu. Dahinya berkerut ketik melihat dua pria yang sama sekali tidak dia kenal.


"Maaf, cari siapa?" tanya Halim, baik-baik.


"Apa kamu orang yang bernama Halim?" Bukannya menjawab, salah satu pria itu malah balik bertanya.


"Iya, saya Halim. Kalian siapa?" Halim kembali bertanya.


"Hmm, baguslah kalau begitu. Mana uangnya?" ujar si pria botak seraya menadahkan tangannya.


"Uang?" ulang Halim, "tapi uang apa?" lanjutnya tak mengerti.


"Dengar, Bung! Istri kamu tuh meminjam uang pada bos kami. Dia janji akan membayarnya dalam waktu sebulan. Namun sudah sampai tiga bulan dia sama sekali belum membayarnya. Jangankan bunganya, pokoknya pun dia belum mencicilnya sama sekali," tutur pria botak itu panjang lebar.


Halim terkejut. Pinjam uang? Bagaimana mungkin? Untuk apa istrinya meminjam uang kepada orang lain? pikir Halim.


"Maaf, Bang. Memangnya siapa bos Abang? Dan kenapa istri saya meminjam uang kepada bos Abang?" tanya Halim lagi.


"Huh, mana saya tahu untuk apa istri kamu pinjam uang sama Bos Engkong," jawab si pria botak.


"Apa?! Bos engkong?" pekik Halim.


"Ya, istri kamu meminjam uang kepada Bos Engkong sebesar 50 juta, dan itu belum termasuk bunganya!" tegas pria itu.

__ADS_1


Seketika kedua lutut Halim terasa lemas. Dia benar-benar tidak menyangka jika istrinya terlilit utang dengan seorang rentenir penghisap darah seperti Bos Engkong. Astaghfirullah ....


__ADS_2