Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Tolong Aku!


__ADS_3

Tepat pukul 10 malam, Ahsan tiba di rumahnya. Setelah meminta pak Gun menyimpan motornya, dengan langkah ringan Ahsan memasuki rumah. Dia yakin jika kedua orang tuanya belum pulang dari tempat kerja masing-masing.


Ahsan berjalan terburu-buru menaiki anak tangga. Namun teguran ibunya menghentikan langkah Ahsan.


"Masih ingat pulang kamu, Ahsan!" tegur Kania.


Ahsan menoleh. Dia melihat sang ibu yang sudah berdiri di bawah anak tangga terakhir sembari melipat kedua tangan di dadanya.


"Maaf, Mi," jawab Ahsan.


"Pergi tak pamit, dan jam segini kamu baru pulang. Bahkan seharian tidak ada kabar. Apa kamu senang membuat orang tua khawatir?" Kania kembali menegur putranya.


Uh, tumben sekali mami perhatian. Ah, manisnya, batin Ahsan seraya berjalan menuruni tangga.


Ahsan merangkul kedua pundak Kania sambil memapahnya menuju ruang keluarga. Tak lama berselang, ibu dan anak itu pun duduk berdampingan.


"Ada apa, Mi? Apa ada yang ingin Mami ceritakan sama Ahsan?" tanya Ahsan.


Pemuda itu tahu betul tabiat sang ibu. Jika sudah merecoki perbuatannya, itu artinya wanita yang sudah melahirkannya sedang memiliki banyak pikiran.


"Oh, Ahsan tahu! Mungkin Mami penat dengan pekerjaan Mami, bener, 'kan? Gimana kalau besok, Mami cuti sehari dan kita pergi jalan-jalan berdua. Mami mau?" tawar Ahsan.


"Mami tidak penat dengan pekerjaan, San. Mami hanya penat dengan sikap papi kamu," keluh Kania.


"Maksud Mami?" tanya Ahsan, bingung.


"Mami sudah ada di rumah, tapi entah kenapa papi kamu selalu punya alasan untuk pulang larut malam. Mami takut, San. Jika papi kamu main serong di luaran sana," tutur Kania.


"Hus, Mami! Enggak boleh su'udzon gitu ah!" tukas Ahsan.


"Mami enggak su'udzon, San. Mami hanya curiga saja," dalih Kania.


"Ya sudah, besok kita atur jadwal untuk piknik bertiga. Mumpung Ahsan masih liburan juga. Mami setuju, 'kan?" lanjut Ahsan.


Kania hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan anaknya.


"Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat, Nak. Kamu pasti lelah setelah seharian keluar rumah," kata Kania.


"Iya, Mi. Besok kita diskusikan lagi urusan liburan," timpal Ahsan.


.


.


Ceklek!


Pintu ruangan penyekapan Niram terbuka. Seorang wanita tua datang dengan membawa nampan berisikan sepiring nasi. Dahinya berkerut ketika melihat gadis berhijab itu terbaring sembarang arah di tepi kasur.


"Ish, apa kakinya tidak kebas, semalaman menjuntai seperti itu?" gumam Muniroh seraya meletakkan nampan di atas meja rias.


Muniroh mendekati gadis itu. Dia bermaksud membangunkannya untuk sarapan. Namun, ketika Muniroh menyentuh lengan sang gadis, kedua matanya membelalak sempurna. Sontak punggung tangannya dia tempelkan di kening gadis itu.


"Astaga! Sepertinya dia demam," gumam Muniroh.

__ADS_1


Wanita tua itu mengguncang pelan bahu Niram untuk membangunkannya. Namun, sedikit pun gadis itu tidak bergerak. Muniroh cemas, dia berlari keluar untuk menemui majikannya.


Tok-tok-tok!


Muniroh mengetuk pintu kamar sang majikan.


Di dalam kamar, Imelda yang sedang asyik bermimpi, sontak terbangun. Ketukan kencang di pintu kamarnya, telah menghancurkan mimpi Imelda.


"Huh, siapa yang menggangu tidurku di pagi-pagi begini?" sungut Imelda, kesal.


Imelda bangun. Dia meraih kimono yang tersampir pada dashboard ranjang. Sedetik kemudian, Imelda mengayunkan langkahnya untuk membuka pintu.


"Astaga, Emak! Ngapain datang ke kamar Imel di jam segini?" seru Imelda semakin kesal ketika mengetahui orang yang telah mengganggu tidurnya.


"Maafkan Emak, Nak. Emak tidak bermaksud mengganggu tidur ka–"


"Tapi kenyataannya, Emak sudah membangunkan Imel. Huh, menyebalkan!" dengus Imelda, memotong ucapan wanita tua itu.


"I-iya. Ma-maaf, Nak ... tapi ini sangat mendesak sekali," jawab Muniroh.


"Kenapa? Emak butuh uang belanja lagi?" tebak Imelda.


"Bukan, Nak. Bukan tentang itu," sangkal Muniroh.


"Lalu?" Imelda kembali bertanya.


"I-ini tentang gadis yang kamu kurung di kamar itu, Nak," jawab Muniroh.


"Kenapa dia?" tanya Imelda.


"Apa? Demam? Astaga ... ada-ada aja," pekik Imelda, "ayo, Mak. Kita ke sana!" ajak Imelda kepada ibu asuhnya.


Dengan tergesa-gesa, Imelda dan Muniroh berlari menuju kamar Niram. Dan benar saja, di tepi kasur, Niram nampak terbaring dengan wajah yang sangat pucat pasi.


Imelda meraba kening Niram. "Panas, Mak," ucapnya sembari menatap Muniroh.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, Nak," usul Muniroh.


Imelda mengangguk. Dia kemudian berteriak memanggil kedua bodyguard-nya.


.


.


Pagi-pagi sekali, Ahsan sudah terlihat rapi. Dengan langkah ringan, dia berlari kecil menuruni anak tangga satu per satu. Tiba di ruang makan, Ahsan tidak menemukan siapa pun di sana.


Keningnya mengernyit. Tidak biasanya ruang makan kosong di jam sarapan. Ahsan melirik ke arah Mbok Jum yang sedang merapikan peralatan bekas masak. Sedetik kemudian, dia menghampiri ibu asuhnya.


"Mami sama papi kok tumben belum keluar kamar untuk sarapan ya, Mbok," kata Ahsan.


Mbok Jum menoleh. Raut kesedihan tampak jelas di wajahnya yang sudah keriput.


"Tuan tidak pulang semalam, Den. Sedangkan nyonya, tadi pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor," jawab Mbok Jum.

__ADS_1


Ahsan hanya bisa menghela napasnya. Lagi dan lagi ... selalu seperti ini. Merasa kesepian di rumah yang begitu besar dan megah.


"Gimana Pak Gun, hari ini kita jadi pergi ke rumah sakit, 'kan?" tanya Ahsan ketika melihat Pak Gun yang sedang membuat kopi.


"Tidak usah, Den. Dengungan di telinganya sudah sedikit berkurang, kok." Mbak Jum membantu memberikan jawaban saat melihat suaminya hanya bengong saja.


"Berkurang, Mbok. Bukan hilang!" timpal ahsan. "Sudah Mbok, sebaiknya Mbok dandani dulu Pak Gun, biar Ahsan panasin dulu mobilnya," lanjut Ahsan, "yang namanya penyakit, enggak baik jika dibiarkan begitu saja," imbuhnya.


Mbok Jum tersenyum. Setelah merapikan peralatan bekas masak. Wanita paruh baya itu mendekati suaminya dan mengajaknya ke kamar.


.


.


Atas perintah Imelda, Togar mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Cepatlah, Togar! Kita tidak boleh membiarkan anak ini pergi begitu saja. Huh, bisa rugi Mamih kalau begini caranya!" sungut Imelda sambil sesekali melirik ke arah Niram yang sedang terbaring di kursi belakang.


"Iya, sabar Mih. Ini juga Togar lagi ngebut. Mamih tidak usah khawatir, tidak akan terjadi hal yang buruk padanya. Lagian, dia cuma demam saja," jawab Togar.


"Ish, sok tahu kamu!" dengus Imelda, kesal.


Sayup-sayup, Niram mendengar percakapan mereka. Namun, entah kenapa kepalanya begitu berat. Kedua matanya tidak mampu dia buka. Akan tetapi, Niram bisa merasakan udara yang lepas.


Apa ini artinya ... aku telah keluar dari kamar yang pengap itu? batin Niram.


Tiba di depan lobi rumah sakit, Togar menghentikan mobilnya. Dengan sigap, Togar membopong tubuh Niram dan membawanya memasuki rumah sakit.


"Minta brankar, cepat!" teriak Togar, menggema di lobi rumah sakit.


Seorang perawat laki-laki menghampiri Togar seraya mendorong brankar. "Silakan baringkan di sini, Pak!" ucapnya.


Togar mengangguk. Dia pun membaringkan Niram di atas brankar.


"Sebaiknya Bapak urus dulu pendaftaran pasien," saran perawat itu.


"Enggak perlu ngajarin gue!" bentak Togar, "lu tangani aja dia, atau gue obrak-abrik nih rumah sakit!" ancamnya.


"Ta-tapi, Pak ...."


"Jalan!"


Bentakan Togar bak petir yang menggelegar di siang bolong. Dan bentakan Togar juga yang membuat kedua mata Niram terbuka.


Niram mengedarkan pandangannya. Di sini banyak orang berlalu lalang dan mengenakan pakaian yang sopan. Niram tersenyum tipis saat menyadari tempat yang dia lihat. Dahi Niram seketika berkerut saat kembali merasakan guncangan.


Astaghfirullah ... hendak dibawa ke mana aku, batin Niram.


Brankar terus melaju. Pandangan Niram mulai buram. Namun, sebelum kedua matanya terpejam, dia berpikir jika dia harus melakukan sesuatu.


Grep!


Niram mencekal jari jemari seseorang yang melintas di samping brankar-nya.

__ADS_1


"To-tolong a-aku!" gumam Niram, lirih.


__ADS_2