Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Hidup Itu Maju, Bukan Mundur!


__ADS_3

Natasya mempercepat langkahnya. Sedikit lagi, dia hampir sampai di depan pintu gerbang. Namun, tiba-tiba penjaga keamanan di rumahnya segera mengunci pintu gerbang. Uuh, ini pasti ulah papa, keluh Natasya dalam hatinya.


"Buka!"


Natasya memberikan perintah. Namun, Mang Karman tidak mau membukanya.


"Ma-maaf, Non. Mamang cuma menjalankan perintah tuan saja," sahut Mang Karman seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Huft! Lagi-lagi perintah tuan arogan itu yang dituruti," dengus Natasya kesal.


"Masuklah, Nak. Kita bicarakan baik-baik di dalam rumah," pinta lembut Karen begitu tiba di hadapan anaknya.


"Pembicaraan apa lagi, Ma? Baru kemarin sore Mama sama papa berjanji untuk tidak pernah melakukan apa yang membuat Tasya tidak betah di sini, tapi kenapa kalian malah berdebat lagi di depan Tasya?" keluh Tasya, lirih.


"Papa minta maaf, Nak." Tiba-tiba Brama sudah berdiri di samping istrinya.


"Minta maaf itu mudah, Pa. Tapi Tasya bosan jika setiap kali kalian melakukan kesalahan, hanya cukup kata maaf yang keluar dari bibir kalian. Setidaknya, selain kata maaf, cobalah untuk berubah sedikit demi sedikit," ungkap Natasya.


"Baiklah, kita bicarakan semua ini di dalam rumah. Ayo!" lanjut Brama seraya mencekal pergelangan tangan anaknya.


Mau tidak mau, Natasya pun mengikuti langkah kaki sang ayah.


"Duduklah!" pinta Brama begitu tiba di ruang keluarga.


Natasya menurut. Dia kemudian menghempaskan bokongnya di atas sofa. Kedua tangannya terlipat di atas dada. Bibirnya masih terus mengerucut dengan raut wajah yang terlihat semakin kecut saja.


"Papa minta maaf jika sikap Papa membuat kamu tidak betah di rumah ini. Namun, satu hal yang perlu kamu ketahui. Watak itu bawaan, dan itu sangat sulit untuk dirubah. Kamu sendiri tahu darah siapa yang mengalir di tubuh Papa, 'kan? Jadi wajar jika Papa memiliki nada bicara yang cukup tinggi. Karena Papa dibesarkan di keluarga TNI," ungkap Brama.


Natasya diam. Meskipun terlahir dari keluarga militer, tapi bukan berarti dia harus berteriak sesuka hatinya, 'kan? gerutu Natasya dalam hatinya.


"Baiklah, Nak. Sekarang ... apa yang harus kami lakukan supaya kamu mau memaafkan kesalahan kami," timpal Karen.


"Izinkan Tasya kuliah di Jogja!" tegas Natasya.


"Apa?!" sahut Karen dan Brama berbarengan.

__ADS_1


"Ta-tapi kenapa harus Jogja?" imbuh Karen.


"Iya, Nak. Kenapa memilih Jogja? Bukankah di Jakarta dan sekitarnya juga bertebaran universitas di mana-mana? Kamu tinggal pilih mau yang mana. UI, Trisakti, Atmajaya? Kamu pilih saja salah satunya, Nak," timpal Brama.


"Enggak, Pa. Tasya ingin cari pengalaman. Jadi izinkan Tasya melanjutkan pendidikan di Jogja," pinta Natasya.


"Tapi Jogja terlalu jauh, Nak. Di sana kamu mau tinggal di mana? Kita tidak memiliki saudara yang tinggal di daerah itu," lanjut Karen.


"Tasya bisa tinggal di rumah kakeknya Ahsan," jawab Natasya yang membuat kedua orang tuanya tercengang seketika.


.


.


Tak ingin terlalu larut dalam pemikirannya tentang apa pekerjaan sang penolong, akhirnya setelah berganti pakaian, Niram kemudian pergi ke dapur. Yura benar. Hidup terus berlanjut. Meskipun Niram tidak mampu melupakan kejadian buruk dalam hidupnya. Namun, Niram tidak mungkin berpangku tangan di rumah ini. Setidaknya, dia masih memiliki seorang penolong sejati seperti Yura.


Tiba di dapur, Niram mulai membuka lemari pendingin. Dia melihat beberapa jenis bahan makanan di dalam lemari pendingin tersebut. Sedetik kemudian, Niram mengambil bahan makanan instan tersebut. Rencananya, Niram hendak membuat nasi goreng untuk sarapan mereka yang kesiangan.


Beberapa menit berlalu. Yura menggeliatkan tubuhnya tatkala indera penciumannya mencium aroma yang membuat air liurnya menetes. Seketika, perut Yura pun keroncongan saat wangi aroma yang menggugah selera, masuk menyeruak di kedua lubang indera penciumannya.


"Uuh, dari aroma yang aku cium, sepertinya masakan ini akan terasa lezat," gumam Yura, mengerjapkan kedua matanya.


Kening Yura berkerut ketika wangi aroma tersebut tercium dari arah dapur rumahnya. Yura meraih kimono tidur yang tersampir di dashboard ranjang. Setelah mengenakannya, Yura pun pergi ke dapur.


Semakin dekat, aroma itu semakin terasa kuat. Bahkan, kini bunyi perpaduan antara spatula dan wajan semakin terdengar. Yura semakin dibuat penasaran. Dia kemudian menyembulkan kepalanya di balik pintu dapur.


"Niram!" pekik Yura, "ngapain lu di sini?" lanjutnya.


Niram menoleh ketika seseorang memanggil namanya. Sedetik kemudian, dia mengalihkan pandangannya ketika mengetahui siapa yang tengah berdiri di ambang pintu dapur.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari teman barunya, Yura mengayunkan langkah memasuki dapur. Dia lantas mengambil air minum dan mendekati Niram.


"Masak apaan, Nir?" tanya Yura.


Niram menoleh. "Nasi goreng, Mbak," sahut Niram.

__ADS_1


Yura yang melihat penampakan nasi goreng buatan Niram, seketika semakin merasa lapar.


"Masih lama ya, Nir?" tanya Yura yang sepertinya sudah tidak sabar ingin mencicipi nasi goreng buatan Niram.


"Sebentar lagi, Mbak. Silakan, Mbak duduk saja di sana!" Tunjuk Niram pada sebuah meja makan.


"Siap!" sahut Yura mengangkat tangan kanan dan menempelkan ujung jarinya di pelipis kanan.


Niram tersenyum tipis melihat kelakuan teman barunya itu.


Setelah dirasa nasinya sudah matang, Niram mengangkatnya dari atas wajan. Dia membagi nasi goreng tersebut menjadi dua bagian.


"Ini untuk Mbak," ucap Niram seraya menyodorkan piring yang sudah terisi penuh oleh nasi goreng buatannya.


"Makasih, Nir," ungkap Yura, mengambil piring yang disodorkan Niram.


"Sama-sama," jawab Niram.


"Ya udah, ayo makan bareng!" ajak Yura.


Niram menuangkan sisa nasi goreng dari dalam wajan ke atas piring miliknya. Setelah menyimpan wajan kotor di atas wastafel, Niram ikut duduk berhadapan dengan Yura. Sedetik kemudian, mereka makan bersama.


"Gue seneng lu udah mulai bangkit, Nir," ucap Yura, membuka perbincangan.


"Maksud Mbak?" tanya Niram tak mengerti.


"Maksud gue, lu udah mulai turun dari ranjang dan menyiapkan sarapan di dapur. Bagi gue, itu perkembangan yang cukup pesat. Mengingat apa yang telah terjadi sama lu, itu bukan kejadian yang sepe–"


"Mbak, apa bisa kita ganti topik pembicaraan? Jujur, aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi," tutur Niram, memotong kalimat Yura.


"Ide bagus," sahut Yura, "tidak ada manfaatnya juga kita membicarakan masa lalu, yang terpenting saat ini, adalah masa depan. Karena hidup itu terus maju, bukan mundur!" imbuh Yura berapi-api.


Niram hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Yura.


"Iya, Mbak bener. Hidup itu terus maju, tidak mundur. Tidak ada gunanya terus meratapi nasib buruk yang telah menimpa kita," lanjut Niram.

__ADS_1


Yura mengangkat kedua jempolnya. Pertanda setuju dengan argumen kawan barunya.


"Gue suka gaya lu!" ungkap Yura, mengerlingkan sebelah mata ke arah Niram.


__ADS_2