
"A-aku tidak tahu ba-bagaimana harus menjalani hidup tanpa mamanya anak-anak, Bang!" sahut Halim mulai terisak.
"Kamu harus kuat, Lim. Demi anak-anak kamu. Bagaimana mungkin Rayyan bisa kuat jika ayahnya lemah," ucap Sugistiawan, mencoba menyemangati Halim.
"Pa-pa!"
Panggilan Rayyan sontak menyadarkan Halim. Dia pun mendekap erat tubuh mungil anaknya.
"A-apa mama tidak akan pernah bersama kita lagi, Pa?" tanya Rayyan terbata.
Halim tidak menjawab. Hanya tubuhnya saja yang semakin berguncang. Tak lama berselang, pintu kembali terbuka. Sugistiawan meraih pundak Halim sebagai isyarat supaya Halim berdiri. Sejurus kemudian, kedua perawat keluar dengan mendorong brankar yang membawa jenazah Imas.
"Mama!" Tangis Rayyan pecah ketika melihat brankar itu melintas di hadapannya.
Untuk menenangkan putra sulungnya, Halim meraih Rayyan ke dalam gendongannya.
"Lu tenangin dulu anak lu, biar gue urus kepulangan jenazah almarhumah," kata Sugistiawan kepada Halim.
.
.
"Hai, Ra!" sapa seorang wanita yang dandanannya tidak jauh berbeda dengan Yura. "Siapa tuh? Anak baru?" tanyanya.
"Uh, mau tahu aja," cebik Yura, terlihat masa bodoh.
Wanita itu pun terlihat memutar kedua bola matanya. Tatapan sinis dan penuh selidik mengiringi langkah Yura dan Niram yang sedang berjalan berdampingan menuju sebuah kamar utama.
"Kita mau ke mana, Mbak?" tanya Niram sembari menautkan kedua alisnya saat mereka tiba di depan sebuah kamar berpintu besar.
"Kita mau ketemu Mama Rossa," jawab Yura.
"Mama Rossa? Siapa itu Mama Rossa?" tanya Niram lagi.
"Pemilik tempat ini," jawab Yura, "tepatnya, wanita yang nolongin gue," imbuhnya.
Niram diam. Dia sendiri tidak punya kata-kata untuk menimpali jawaban Yura. Saat ini, Niram hanya bisa pasrah pada keadaan dan takdir yang harus dia lalui.
Tok-tok-tok!
"Ma, apa Yura boleh masuk?" tanya Yura sembari mengetuk pintu besar tersebut.
"Masuklah!" perintah suara merdu dari dalam kamar.
Trek!
Kriet!
Yura menekan gagang pintu yang cukup panjang. Dia kemudian mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.
Niram mencoba memberanikan diri untuk melihat siapa dan bagaimana rupa dari Mama Rossa, malaikat penolong Yura. Alangkah terkejut Niram, ketika menatap wajah milik Rossa yang ternyata serupa dengan wanita yang diketahuinya sebagai pemilik kafe.
__ADS_1
A-apa dia orang yang sama? batin Niram yang mulai mundur beberapa langkah.
Mama Rossa yang sedang bercermin, sedikit menautkan alisnya ketika melihat keberadaan orang asing. Dia pun membalikkan badan dan mulai menatap intens kepada Niram.
"Siapa yang kamu bawa kemari?" tanya Mama Rossa. Dagunya menunjuk Niram yang sudah terlihat pucat.
"Oh iya, Ma. Kenalin, ini temen barunya Yura. Namanya Niram," ucap Yura memperkenalkan Niram.
"Teman baru kamu? Terus, kenapa dibawa kemari?" tanya Mama Rossa, menyelidik.
"Emh ... sebenarnya dia datang kemari untuk mencari pekerjaan, Ma," jawab Yura.
"Jangan nyeleneh kamu! Aku sudah tidak butuh tukang cuci piring di tempat ini!" ketus Mama Rossa.
Yura merangkul bahu ibu angkatnya.
"Oh ayolah, Ma ... masak dandanan kayak gitu Mama bilang pembantu," guraunya.
"Lah terus?" tukas Mama Rossa.
"Maksud Yura, bekerja sebagai ... itu tuh," lanjut Yura seraya menaikturunkan kedua alisnya.
"Yakin?" tekan Mama Rossa.
"Yup!" jawab Yura.
"Hmm, tapi dia sudah ngerti enggak, pembagiannya di sini?" lanjut Mama Rossa mulai menyelidik.
"Oke!" imbuh Mama Rossa.
Sesaat kemudian, Mama Rossa menghampiri Niram. Dia menelisik Niram dari ujung rambut hingga ujung kepala.
"Hmm, sempurna," gumam Mama Rossa. "Apa kamu masih perawan?" tanyanya.
Deg-deg-deg!
Jantung Niram berdegup kencang tatkala mendengar pernyataan Mama Rossa. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab sebuah pertanyaan yang bersifat privasi.
Ih, apa memang di kota, pertanyaan seperti ini bukanlah hal yang tabu? batin Niram.
"Jawab aku! Apa kamu masih gadis, menikah atau sudah janda? Apa kamu sudah berhubungan badan dengan lawan jenis, atau belum sama sekali?" cecar Mama Rossa membuat Niram mundur selangkah demi selangkah.
"Woy, selow Ma ... selow!" seru Yura menghampiri wanita yang pernah menolongnya. "Biar aku beri tahu," lanjutnya.
Mama Rossa mendelik. Namun, dia tidak punya pilihan lain selain mendengarkan ocehan anak angkatnya.
"Sebenarnya ... Niram ini, sama seperti aku, Ma. Dia gadis, tapi bukan perawan. Bedanya, aku terlibat pergaulan bebas dengan laki-laki brengsek itu. Sedangkan Niram ... dia korban rudapaksa beberapa minggu yang lalu," papar Yura.
"Astaga! Tragis sekali nasib kamu," ucap Mama Rossa yang merasa prihatin dengan nasib Niram. "Baiklah, Mama izinkan kamu mencari uang di sini, tapi dengan satu syarat," imbuhnya.
"A-apa sya-syaratnya, Ma?" tanya Niram.
__ADS_1
"Gunakan alat kontrasepsi! Mama enggak mau anak-anak asuh Mama tiba-tiba melendung!" tegasnya.
"Mama tenang aja, Yura udah kasih dia pil, kok. Dan dia juga udah meminumnya," timpal Yura.
"Kapan?" selidik Mama Rossa dengan bertanya kepada Niram.
"Tadi, Ma. Sebelum berangkat kemari," jawab Niram.
"Apa? Tadi?" pekik Mama Rossa. "Astaga, Yur ... lu ngarti apa kagak sama cara kerja tuh alat? Ish, gegabah banget. Sudah, pulang sana!" usir Mama Rossa kepada Niram.
"Ta-tapi, Ma," sahut Niram.
"Ish, gue enggak mau ngambil risiko, ya? Setidaknya lu minum dulu obat pencegah kehamilan itu secara rutin. Minimal tiga hari. Setelah itu, baru lu bisa balik lagi kemari," tutur Mama Rossa.
Niram dan Yura hanya bisa saling pandang.
"Sudah-sudah. Cepat sana pergi! Tamu kamu udah nunggu di kamar kamu, Ra. Dan kamu!" Tunjuk Mama Rossa kepada Niram, "tinggalah di sini untuk beberapa waktu. Sekalian perhatikan juga cara bekerja senior-senior kamu, supaya aku tidak harus mengajari kamu bagaimana cara melayani kamu. Paham!" tegasnya kepada Niram.
"Ba-baik, Ma."
"Bagus! Sekarang, pergilah ke dapur. Buatkan aku secangkir teh pahit!" Kembali Mama Rossa memberikan perintah.
"Ayo, Nir. Aku antar kamu ke dapur," ajak Yura.
.
.
Proses kepulangan jenazah sudah selesai. Dengan diantar ambulan, jenazah Imas pun tiba di rumah duka, yaitu di tempat kediaman ayahnya Imas. Tangis Sukma pecah ketika keranda yang membawa jenazah putrinya memasuki rumah.
"Imas, anakku! Huhuhu ... apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, Neng? Huhuhu,..." kata Sukma seraya menangis tersedu-sedu.
Noor hanya bisa memutar kedua bola matanya. Dia merasa kesal melihat sikap sang suami yang menurutnya terlalu dibuat-buat.
"Emh, lebay banget sih," gumam Noor.
Tidak banyak tetangga yang melayat. Karena keluarga Sukma memang tidak terlalu bersosial dengan masyarakat setempat. Hanya kerabat jauh dan tetangga kiri kanan rumah Sukma saja yang mengunjungi Imas satu per satu.
"Yang sabar ya, Pak Halim!" ucap para tetangga memberikan dukungan moril kepada Halim.
Pria itu tidak mampu menjawab apa-apa. Dia hanya bisa mengangguk dan kembali menangis ketika melihat jenazah Imas terbujur kaku di hadapannya.
"Bagaimana dengan liang lahatnya, Pak? Apa sudah digali?" tanya Halim sesaat setelah para pelayat pulang.
Sepertinya kita baru bisa menguburkan jenazah Imas besok saja, jawab Sukma.
"Tapi kenapa, Pak?" tanya Halim lagi.
"Ini sudah malam, Lim. Tidak akan ada orang yang mau menggali makam di malam hari," tutur Sukma.
Halim hanya mampu bergeming. Apa yang diutarakan mertuanya memang ada benarnya. Kini, Halim hanya bisa pasrah menerima keputusan Ayah mertuanya.
__ADS_1