Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Karen semakin merasa kesepian tinggal di rumahnya. Sudah hampir dua bulan, Natasya tinggal di Jogja untuk menuntut ilmu. Sedangkan suaminya, ah entah kenapa akhir-akhir ini suaminya selalu lembur di kantor. Bahkan terkadang tidak pulang ke rumah. Tender yang telah dimenangkannya di Dubai tempo hari, memaksa sang suami untuk berkerja keras hingga sampai bermalam di kantor.


Kesibukan Karen di butik untuk menghilangkan rasa sepinya, tak mampu mengusir kesepian tersebut dengan sempurna. Karena nyatanya, Karen masih saja tetap merasakan kesepian.


"Ya Tuhan ... kenapa hidupku menjadi seperti ini?" gumam Karen menatap pantulan dirinya di cermin rias. Sejenak, Karen melakukan ritual perawatan tubuhnya sebelum tidur.


Ketika Karen asyik mematut diri di depan cermin hias, tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp, masuk di ponselnya. Karen melirik si pengirim pesan.


"Bella?" gumam Karen. "Ish, ada apa Bella mengirimkan pesan di jam segini?" imbuhnya seraya melirik jam di atas nakas.


Dengan sekali usap, Karen membuka kunci layar ponselnya. Dia pun membuka pesan gambar dari salah satu tim designer butiknya.


Deg-deg-deg!


Jantung Karen berdegup kencang ketika melihat foto yang dikirimkan bawahan sekaligus sahabatnya. Sebuah foto yang didalamnya terdapat sang suami yang tengah bersandar manja pada seorang wanita yang masih belia.


Bukankah ini suamimu? tulis Bella di bawah foto tersebut.


Karen tidak bisa menunggu lama. Jarinya terasa kaku untuk dia gunakan mengetik. Sedetik kemudian, dia menghubungi sahabatnya.


"Halo! Kamu di mana?" tanya Karen begitu telepon tersambung.


"Aku lagi di jalan, Ren. Lagi ngikutin mobil suami kamu," jawab Bella di seberang telepon.


"Apa? Jadi benar itu mas Bram?" tanya Karen memastikan.


"Ish, mana mungkin aku salah mengenali orang. Mobilnya juga sama persis dengan mobil pemberian dari almarhum papa kamu dulu," sahut Bella.


"Arah mana?" Karen kembali bertanya.


"Mobilnya berbelok menuju apartemen Shanrila. Apa suami kamu punya apartemen di sana?" Bella balik bertanya.


"Setahu aku, tidak," jawab Karen.


"Apa mungkin itu apartemen selingkuhannya?" imbuh Bella.


Lagi-lagi, jantung Karen berdegup kencang. Cemburu, marah, penasaran, semuanya menjadi satu. Dadanya bergemuruh hebat.


"Tolong shareloc alamat apartemennya, Bel. Sekarang juga aku keluar," pinta Karen.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban oke dari sahabatnya, Karen kemudian memutus sambungan telepon.


.


.


"Semua bahannya sudah ada, 'kan, Sayang?" tanya Alfaruk, ujung matanya melirik Niram yang masih asyik membaca resep makanan permintaannya di layar ponsel.


Niram melirik belanjaan yang tadi ditaruh di kursi belakang.


"Sepertinya sudah lengkap, Mas," jawab Niram.


"Memangnya kamu bisa, masak makanan ala-ala Jepang?" tanya Alfaruk menggoda wanitanya.


"Dicoba aja dulu, Mas. Niram, 'kan enggak tahu kalau belum mencobanya. Hmm, semoga aja berhasil, tapi kalau enggak berhasil ... jangan diledek, ya" sahut Niram dengan suara mendayu.


Ah, suara yang selalu Alfaruk rindukan di setiap malamnya.


"Sudah, Nir. Kita beli yang siap saji saja. Daripada tangan kamu bau amis nantinya," bujuk Alfaruk.


"Ish, air kran, 'kan masih banyak, Mas. Apa susahnya tinggal cuci tangan. Udah deh, Mas diem aja ... pokoknya Niram jamin enggak bakalan gagal," lanjut Niram.


Alfaruk ketagihan dengan pelayanan Niram. Entah itu pelayanan secara lahir, maupun pelayanan secara batin.


Tiba di apartemen, Alfaruk segera memarkirkan mobilnya. Dia kemudian membantu Niram untuk membawa barang-barang belanjaan yang tadi mereka beli di supermarket.


Memasuki lift. Niram menekan lantai 9. Tanpa mereka sadari, sepasang mata terus mengawasi gerak-gerik mereka.


"Ish, Mas ..." desis Niram saat Alfaruk mengendus ceruk lehernya di dalam sebuah lift.


"Hehehe, sedikit Sayang," jawab Alfaruk, terkekeh.


"Tapi ini tempat umum, Mas. Siapa saja bisa masuk kapan pun," tolak Niram memberikan alasan.


Apa yang dikatakan Niram memang benar, tapi Alfaruk sudah tidak bisa mengendalikan hasratnya.


"Rasanya sakit sekali, Nir," keluh Alfaruk dengan wajah yang mulai memerah.


Niram merasa kasihan melihat reaksi Alfaruk. Dia hanya bisa mengusap-usap rahang tegas itu. Mencoba untuk memenangkan sesuatu yang sudah bergejolak hingga ke ubun-ubun.

__ADS_1


Ting!


Pintu lift terbuka. Niram dan Alfaruk mempercepat langkahnya supaya segera sampai di unit.


Tiba di unit apartemen yang sudah hampir tiga minggu Niram tempati. Alfaruk, menyimpan kasar barang belanjaannya di atas meja. Dengan sigap, kedua tangannya memanggku Niram dengan gaya bridal style.


"Ish, Mas! Humph ... umh ...."


Niram sudah tidak mampu menolak lagi. Secepat kilat, bibir sensual itu telah menyambar dan melu'mat habis bibir mungilnya.


Brugh!


Pasangan insan yang terpaut jarak usia sekitar 30 tahunan, mulai jatuh di atas ranjang. Dengan lincah, mereka saling melucuti kain yang melekat pada tubuh pasangannya. Pahatan bidang yang masih berpetak-petak, membuat tubuh Niram terasa panas. Dua bukit kembar yang masih kenyal dan padat, membuat darah Alfaruk berdesir hebat.


Alfaruk segera menerjang Niram yang masih duduk di atas ranjang. Tak ayal lagi, keduanya mulai bergumul untuk memberikan sensasi kenikmatan satu sama lain.


Puas dan saling memuaskan! Hanya kalimat itu yang terus menggema hingga mereka melakukan semua cara untuk mewujudkannya.


Satu jam berlalu. Kedua insan itu sudah bermandikan peluh. Erangan kenikmatan seolah tidak ingin berakhir dari laju pacuannya. Hingga berkali-kali, lenguhan hebat menggema di kamar yang ranjangnya sudah berantakan akibat perbuatan kedua insan tersebut.


Hingga tiba-tiba ... suara buzzer apartemen Niram mulai berdengung. Suara itu pun sontak menghentikan kegiatan panas mereka.


"Apa kau sedang mengundang seseorang?" Selidik Alfaruk.


"Maaf, Mas. Aku tidak tahu kalau malam ini kamu bakalan kemari, karena itu aku dan Mbak Yura berencana untuk nonton drakor di sini," cicit Niram. "Aku lupa bilang sama Mbak Yura kalau sekarang Mas bermalam di sini," imbuhnya pelan.


Alfaruk terlihat sedikit kesal dengan sikap Niram. Namun, dia sendiri tidak bisa menyalahkan Niram sepenuhnya. Alfaruk sendiri lupa memberi kabar terlebih dahulu jika dirinya hendak menginap di apartemen kekasih gelapnya.


"Ya sudah, temui sana dan suruh dia pulang!" perintah Alfaruk.


Niram mengangguk. Hanya dengan berbalut selimut, dia turun dari tempat tidur untuk menemui Yura.


Niram menautkan kedua alisnya saat tidak melihat Yura di ruang tamu. Padahal, dengan kecanggihan teknologi yang terpasang di apartemen ini, Niram sudah membuka pintu dari jarak jauh.


Ah, mungkin Yura kesulitan karena membawa belanjaannya. Bukankah tadi dia bilang, dia mau sekalian belanja isi kulkas, batin Niram yang tanpa curiga, membuka pintu apartemennya.


Niram terkejut. Dia merasa tidak mengenali tamunya yang tak diundang.


"Maaf, cari siapa?"

__ADS_1


__ADS_2