
Di dalam kamar, Imas berjalan mondar-mandir tidak karuan. Dia benar-benar kebingungan dan tak memiliki jawaban jika suaminya bertanya tentang Niram. Rayyan masih bisa dia bohongi, tapi Halim?
Ish, apa yang kudu gue bilang sama bang Halim kalau dia nanyain ponakannya? Apa bang Halim bakalan percaya kalau gue bilang si Niram nge-kost? Ah ya, enggak ada salahnya gue ngarang alasan kek gitu. Gue harus bisa berakting senatural mungkin, supaya bang Halim percaya, batin Imas seraya menjentikkan jari.
.
.
Sementara di tempat lain, Halim semakin penasaran dengan apa yang diucapkan anaknya. Dia kemudian memutuskan untuk bertanya kepada Imas. Namun, saat dia memasuki rumah, Imas sudah tidak nampak di ruang tamu. Halim menduga jika Imas pergi ke kamar.
"Kamu ganti baju dulu ya, Nak. Papa juga mau ganti baju. Uh, baunya udah enggak sedap," kelakar Halim sembari mencium pakaiannya yang memang sudah terlihat lusuh.
"Ih, Papa jorok. Huh, pantas saja dari tadi Abang cium bau enggak enak. Rupanya bau pakaian Papa, ya," gurau Rayyan ikut menimpali kelakar sang ayah.
Halim hanya terkekeh mendengar gurauan anaknya. Tak lama berselang, mereka pun berpisah untuk memasuki kamar masing-masing.
"Mas, bisa kita bicara sebentar, Abang mau berta–"
"Ish, bentar ya, Bang. Imas kebelet ke kamar mandi dulu," sela Imas memotong ucapan suaminya.
Halim hanya bisa melongo melihat Imas berjalan terburu-buru melewatinya.
"Uh, selamat-selamat," gumam Imas sembari terus melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
.
.
Selepas makan siang, Natasya pun berpamitan kepada neneknya.
"Hati-hati di jalan ya, Nak," pesan Lila. "Hubungi Oma jika sudah sampai di tempat kost kamu," imbuhnya.
"Baik, Oma," sahut Natasya.
"Oh iya, Sya. Sebaiknya kamu pikir-pikir lagi ucapan Oma kemarin. Ingat, Nak ... waktu itu tidak pernah kembali, jadi jangan pernah disia-siakan," sambung Lila.
"Iya, Oma. Nanti Tasya pikirkan lagi," jawab Natasya.
Lila tersenyum. Sesaat kemudian dia melirik ke arah Ahsan yang sedang mengenakan sepatunya.
"Oma titip Tasya ya, Nak Ahsan. Tolong jaga dia, dan tolong juga bujuk Tasya supaya tidak menyia-nyiakan masa depannya," pinta Lila.
Ahsan sontak berdiri. Sejenak, dia menatap Tasya yang tengah menundukkan wajahnya karena merasa malu atas permintaan sang nenek. Sepersekian detik kemudian, Ahsan kembali menatap Lila.
__ADS_1
"Insya Allah, Oma. Do'akan saja supaya hati Tasya segera terbuka untuk menerima ajakan Ahsan berkuliah, Oma," sahutnya, berkelakar.
Lila terkekeh mendengar jawaban Ahsan, sedangkan Natasya semakin salah tingkah mendengar kelakar sahabatnya.
"Ya sudah Oma, kami permisi dulu. Takut kemalaman juga sampai di Jakarta," imbuh Ahsan.
Lila mengangguk. "Hati-hati di jalan ya, Nak. Ingat, jangan ngebut-ngebut. Biar lambat, asal selamat," pesannya kepada kedua anak muda itu.
.
.
Di dalam kamar mandi, Imas mengeluarkan ponselnya. Diam-diam, dia menghubungi Sukma untuk meminta solusi tentang permasalahan yang dia hadapi saat ini.
"Gimana, Pak. Apa yang kudu Imas lakuin?" tanya Imas melalui pesan WhatsApp yang dikirimkan kepada ayahnya.
Imas terlihat cemas. Dia kembali berjalan ke sana kemari di kamar mandi. Tangan kanannya mencengkeram benda pipih dengan kuat. Sedangkan tangan kirinya mengusap-usap perutnya yang terasa kram. Mungkin karena efek stres, si kembar pun ikut tegang di dalam rahimnya.
Tak lama kemudian, ponsel Imas bergetar. Sontak Imas mengusap layar ponsel untuk membaca pesan balasan dari dari sang ayah.
"Lu bilang aja ntuh cewek udah dapet kerjaan."
"Tapi gimana kalau bang Halim nanyain tempat kerjaan ponakannya?" Tulis Imas.
Ponsel kembali bergetar.
"Lu bilang aja dia diajakin temennya kerja, dan lu enggak tahu kerja di mana. Gitu aja kok, repot. Udah ah, gue mau mandiin si Jalu dulu, biar besok dia fit."
"Aish, si Jalu terus yang diutamain," gerutu Imas sembari mengantongi ponselnya ke dalam saku celana.
Saat Imas hendak cuci muka, ketukan di pintu kamar mandi mulai terdengar. Imas terlonjak kaget, jantungnya kembali berdetak cepat. Harus dia akui, dia belum siap untuk memberikan jawaban kepada Halim tentang kepergian Niram.
"Siapa di dalam? Papa, Mama ... buruan dong, Abang kebelet pipis!" teriak Rayyan dari balik pintu.
Huft!
Imas membuang napas dengan kasar. Dia merasa sedikit lega karena ternyata, orang yang mengetuk pintu adalah anaknya.
"Iya sebentar, Bang. Mama cuci tangan dulu!"
.
.
__ADS_1
"San, kita bisa nongkrong dulu di coffee shop enggak?" tanya Natasya, sembari menumpukan dagunya di pundak Ahsan.
"Boleh," jawab Ahsan, "di tempat biasa, ya," imbuhnya.
Natasya hanya mengangguk menanggapi ucapan Ahsan. Tak lama berselang, Ahsan mempercepat laju motornya agar segera sampai di tempat tujuan.
Tiba di coffee shop yang biasa mereka singgahi, Ahsan segera memarkirkan motornya. Sedetik kemudian, mereka berjalan beriringan memasuki coffee shop.
"Seperti biasa ya, Mbak!" ucap Ahsan setelah tiba di tempat pemesanan.
"Siap, Mas!" jawab pelayan tersebut.
Ketika liburan, hampir setiap sore Ahsan menghabiskan waktu di sini. Beberapa kali dia juga mengajak Natasya untuk menikmati senja di roof top Coffee shop.
Seperi saat ini. Ahsan menggandeng tangan Natasya untuk menaiki anak tangga menuju roof top. Kebetulan, cuaca tidak begitu panas hari ini. Mungkin karena menjelang asar juga, hingga matahari mulai meredup.
"Aaah, enggak terasa ... hanya tinggal menghitung hari," gumam Ahsan seraya mendaratkan bokongnya di atas kursi.
"Maksud kamu?" tanya Natasya, ikut menarik kursi di hadapan Ahsan dan mendudukinya.
"Liburanku hanya tinggal minggu ini, Sya. Hari Sabtu nanti, aku sudah harus balik lagi ke ponpes," tutur Ahsan.
Deg!
Jantung Natasya seakan berhenti berdetak mendengar penuturan Ahsan. Entah kenapa, tiba-tiba kesedihan menyergapnya. Rasanya, dia belum siap untuk mengakhiri kebersamaan ini.
"San, bi-bisakah lu cariin gue kampus di sana?" pinta Natasya, lirih.
Ahsan menautkan kedua alisnya. "Lu mau lanjutin kuliah, Sya?" tanyanya sumringah.
Natasya mengangguk pelan. Demi elu, San. Demi untuk tidak berpisah lagi dengan lu, batin Natasya.
"Ah, syukurlah! Ya sudah, besok lu balik ke rumah lu, dan kita bisa bicarakan keinginan lu ke orang tua lu," urai Ahsan. "Gue yakin, mereka pasti seneng dan bakalan menyetujui rencana lu," lanjutnya.
Natasya hanya tersenyum menanggapi perkataan sahabatnya.
"Semoga keputusan gue ini, keputusan yang bener, San," gumam lirih Natasya.
Ahsan menggenggam kedua tangan Natasya. "Gue yakin, ini adalah keputusan terbaik sepanjang hidup lu, Sya. Dan gue yakin, lu enggak pernah menyesal karena telah mengambil keputusan ini," ucapnya mendukung keputusan sahabat kecilnya.
Natasya tersenyum tipis. Seandainya lu tahu kalau gue ngambil keputusan ini karena tidak ingin jauh dari lu, apa lu bakalan ngomong seperti ini juga, San? batin Natasya, menatap lekat pemuda yang semakin terlihat mempesona.
"Maaf sudah menunggu lama Mas, Mbak. Selamat menikmati."
__ADS_1
Ucapan pelayan yang menyajikan pesanan mereka, sontak memutus tatapan mata Natasya. Gadis itu langsung menatap jauh hamparan kota Jakarta sembari mencoba mengatur ritme jantungnya yang sedang berdetak tak karuan.