
"Hai, nama saya Sugistiawan, tapi kamu bisa panggil saya Bang Sugis," ucap pria tegap itu seraya mengulurkan tangannya.
Halim yang tengah duduk bersila, sedetik kemudian dia berdiri untuk menyambut kedatangan teman satu tendanya.
"Halim," ucap singkat Halim, menyambut uluran tangan pria tersebut.
"Senang berkenalan dengan Anda, Bung," kata Sugistiawan.
"Begitu juga dengan saya. Semoga kita bisa menjadi tim yang solid," timpal Halim.
"Hmm, pastinya," sambung Sugistiawan. "Oh iya, Anda dari perusahaan mana?" lanjutnya.
"Saya dari perusahaan Nanda's Beauty and Care," jawab Halim, "Bung sendiri?" imbuhnya.
"Saya dari kantor berita Inspirasi dan Realita," sahut Sugistiawan.
Setelah berkenalan satu sama lain. Kedua pria itu pun saling bercakap-cakap seputar profesinya.
.
.
Ahsan mengeluarkan motor besar yang selalu menemaninya selama dia liburan di Jakarta. Jika sudah merasa bosan berdiam diri di rumah, Ahsan menggunakan motor itu untuk mengelilingi kota metropolitan.
Seperti pagi ini. Keributan di kamar kedua orang tuanya, telah memancing Ahsan untuk keluar rumah.
"Hhh, sebaiknya aku temui Natasya di tempat kostnya," gumam Ahsan sambil menghela napas. Sejurus kemudian, Ahsan pun melajukan kendaraannya keluar dari gerbang pintu rumah.
Perjalanan menuju tempat kost Natasya, hanya memakan waktu satu jam saja. Namun, karena ini weekend dan jalanan cukup padat, akhirnya setelah melewati waktu selama dua jam, Ahsan pun tiba di tempat kost-an putri.
Ahsan memarkirkan motornya di depan kantor pos keamanan tempat kost tersebut. Sesaat kemudian, dia turun dan berjalan kaki menuju pos keamanan.
"Assalamu'alaikum, pagi Pak!" sapa Ahsan kepada seorang penjaga paruh baya yang sedang menyesap kopi hitamnya.
Harun yang mendengar sapaan dari balik jendela pos penjagaan, segera meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Dia menatap seorang pemuda berjambang tipis yang tengah berdiri di depan jendela pos keamanan. Kening Harun mengernyit saat menyadari jika dia tidak mengenali pemuda tersebut.
"Cari siapa?" todong Harun tanpa basa-basi.
"Saya ingin bertemu dengan Natasya. Apa dia ada?" jawab Ahsan mengutarakan maksudnya.
"Sampeyan pacarnya?" Harun malah bertanya yang lebih privasi lagi.
Ahsan menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut.
"Bukan, Pak. Saya hanya temannya. Emmh tepatnya ... sahabat Natasya," jawab Ahsan, jujur.
"Ah, dasar anak muda. Pake sok tidak ngaku segala. Kalo iya, ya bilang saja. Toh saya juga pernah muda. Pernah mengalami apa itu pacaran. Jadi enggak usah malu-malu. Hmm, pacaran sih boleh-boleh saja, asal jangan kebablasan juga," cerocos Harun tanpa jeda.
__ADS_1
Lagi-lagi, Ahsan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ah, sudahlah ... seberapa detail pun Ahsan menjelaskan, toh pria paruh baya ini tidak akan pernah bisa mengerti kalau pikirannya sudah terkontaminasi dengan rasa-rasa su'udzon seperti itu, pikir Ahsan.
"Jadi, bagaimana nih, Pak. Apa saya diizinkan untuk masuk dan bertemu Natasya?" Ahsan kembali bertanya.
"Tentu saja diizinkan, Anak Muda, tapi dengan satu syarat," ucap Harun.
"Syarat?" Ahsan bertanya sambil mengernyitkan kening.
"Iya, syarat," ulang Harun.
"Apa syaratnya, Pak?" tanya Ahsan.
"Ngobrolnya harus di teras depan!" tegas Harun.
"Astaga, Pak ... Bapak pikir saya mau ngapain? Mau mesum? Ish, saya masih punya iman, Pak!" Ahsan menggerutu kesal mendengar ucapan si penjaga keamanan.
"Ya siapa tahu. Hati orang, 'kan tidak bisa diselami," bantah Harun. "Lagi pula ya, andaipun Sampeyan punya iman, tapi jika sudah berduaan di dalam kamar dengan lawan jenis, nah yang ketiganya pasti setan. Emang Sampeyan mau, ke-usap setan sampai berbuat hal yang tidak senonoh?" ujar Harun terkesan menyindir.
"Jangan su'udzon dulu, Pak. Entar timbulnya fitnah!" Peringat Ahsan, kesal.
"Eh, saya bukan su'udzon, ya. Saya cuma ngingetin aja. Saya itu kasihan sama Sampeyan. Masih muda, kok mau berduaan. Kalau kepergok dan dilaporin sama RT, gimana? Bisa nikah muda Sampeyan ini. Memangnya, Sampeyan sudah siap buat nikah muda?" Harun memberikan ceramah.
Ahsan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perkataan Harun yang panjang bak gerbong kereta api.
Tiba-tiba....
Ahsan menoleh. Dia sedikit tersenyum ketika melihat sahabatnya berjalan mendekat.
"Gue sengaja datang ke sini buat nemuin lu, Sya. Ada sesuatu yang harus gue omongin sama lu," jawab Ahsan.
"Ya udah, masuk yuk!" ajak Natasya. "Pak Harun, bisa tolong bukain pintu gerbangnya!" pinta Natasya kepada penjaga keamanan tempat kost putri yang sudah dia tempati selama tiga minggu ke belakang ini.
"Tapi pemuda ini?" tanya Harun seraya menunjuk Ahsan dengan dagunya.
"Tidak usah khawatir, Pak. Pemuda ini cuma teman saya," jawab Natasya, berusaha meyakinkan Harun.
"Baiklah," jawab Harun seraya beranjak dari tempat duduknya.
Harun keluar pos. Dia berjalan ke arah pintu gerbang untuk membuka pintunya.
"Yuk, masuk!" ajak Natasya yang sudah nangkring di atas boncengan motor Ahsan.
Pemuda berjambang tipis itu mengangguk. Dia mulai menyalakan mesin motor dan melajukannya.
"Masuk dulu ya, Pak. Makasih!" seru Natasya saat melintas di hadapan Harun.
"Jangan lupa, ngobrolnya di teras!" pesan Harun sambil berteriak.
__ADS_1
Natasya hanya nyengir kuda mendengar teriakkan Harun. Sedangkan Ahsan, pria bertubuh atletis itu terlihat menggelengkan kepalanya mendengar pesan si penjaga keamanan.
Ih, dasar orang aneh, gerutu Ahsan dalam hatinya.
Tiba di depan kamar kost sahabatnya, Ahsan mematikan mesin motor dan memarkirkannya. Setelah Natasya turun, Ahsan pun turun dan mengikuti Natasya yang sudah berjalan duluan untuk membuka kunci pintu kamar kostnya.
"Lu tunggu di sini ya, San. Gue ganti baju dulu. Bau keringat," ucap Natasya seraya mencium kaosnya.
Ahsan hanya mengangguk menanggapi perintah sahabatnya. Dia pun mulai duduk di kursi yang disediakan pihak pengelola kost-kostan di setiap teras depan kamar.
Setelah menunggu selama setengah jam. Natasya datang sambil membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi latte dan setoples camilan. Natasya meletakkan nampan itu di pagar pembatas antara teras kamar dan halaman depan.
"Lama banget sih, Sya!" Ahsan menggerutu, kesal.
"Sorry, San. Gue gerah banget. Karena itu gue mandi dulu. Abisnya badan gue lengket, enggak nyaman!" sahut Natasya, berterus terang.
"Uuh, pantas saja lama," timpal Ahsan sambil meraih cangkir kopi miliknya.
Ahsan mulai menyesap kopi latte kesukaannya sedikit demi sedikit. Begitu juga dengan Natasya. Hingga setelah meletakkan kembali cangkir kopinya, Natasya mulai bertanya tentang maksud kedatangan Ahsan.
"Lu ngapain ke sini, San? Kok, tumben," ujar Natasya yang sebenarnya sudah bisa menebak maksud dan tujuan Ahsan datang ke tempat kostnya.
Seperti sahabatnya, Ahsan pun meletakkan cangkir kopinya. Untuk sejenak, dia hanya bisa menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan.
Melihat sikap Ahsan, Natasya semakin yakin jika diamnya Ahsan, ada sangkut pautnya dengan keluarganya.
"Apa ini tentang nyokap lagi?" terka Natasya.
Ahsan mengangguk. "Semalam, nyokap lu datang ke rumah gue," jawab Ahsan.
"Ish, mau ngapain lagi dia?" Terdengar nada bicara yang amat kesal dari bibir Natasya.
"Ya apalagi Sya, kalau bukan untuk meminta gue bujuk lu pulang," jawab Ahsan. "Awalnya sih, dia minta alamat kost-an lu ke gu–"
"Tapi lu enggak ngasih, 'kan?" selak Natasya terlihat cemas.
"Ish, enggak usah nyelak dulu pembicaraan, Neng," jawab Ahsan, kesal. "Tentu saja gue enggak ngasih. Gue, 'kan udah janji ke elu buat rahasiain tempat ini. Ya mana bisa gue ngelanggar janji gue. Sekalipun itu ke nyokap lu," tutur Ahsan.
Natasya tersenyum lebar. Dia tahu jika Ahsan adalah teman yang bisa dia andalkan dalam situasi apa pun.
"Thanks ya, San," kata Natasya.
"Tapi Sya ... kalau gue boleh kasih saran. Sebaiknya lu pulang ke rumah. Tante Karen berjanji ke gue, jika dia enggak bakalan lagi nyuruh-nyuruh lu buat kuliah, apalagi menikah. Asalkan lu mau pulang ke rumah," tutur Ahsan.
"Halah, omongan nyokap dipercaya. Lu kek enggak kenal nyokap gue aja, San. Dia itu plin plan. Sekarang bilang A, besoknya bisa lain lagi menjadi B," sewot Natasya.
Lagi-lagi, Ahsan hanya bisa diam. Gadis itu memang sangat keras kepala, hingga Ahsan selalu kehabisan kata-kata kalau berdebat dengannya.
__ADS_1
"Ya sudah, terserah lu aja!"