
Kedua lutut Imas benar-benar terasa lemas. Tak ayal lagi, Imas pun ambruk di atas lantai dapur. Dia begitu shock mendengar ancaman kaki tangannya rentenir kejam itu.
Niram yang mendengar suara gedebuk dari arah dapur, segera pergi ke sana. Di balik pintu dapur, dia melihat bibinya telah duduk bersimpuh. Tak ada reaksi apa pun dari sang bibi. Hanya gemeletuk giginya saja yang terdengar sangat jelas.
"Astaghfirullahaladzim, Tan! Tante kenapa?" tanya Niram panik. Dia pun ikut duduk bertumpukan kedua lututnya di hadapan Imas.
Namun, sepertinya Imas tidak mendengar pertanyaan Niram. Dia masih terlihat membisu dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Apa perut Tante sakit? Apa Tante mau melahirkan?"
Niram semakin panik melihat kebisuan bibinya. Seketika, dia teringat dengan HPL sang bibi yang hanya tinggal menghitung waktu.
Ish, apakah mungkin tante Imas mengalami kontraksi? batin Niar.
Tak ingin terlambat menolong bibinya, Imas mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Imas berdiri.
"Ayo, Tan. Imas bantu untuk berdiri!" kata Imas, tulus.
Dan entah kenapa. Imas yang biasanya tidak pernah ingin bersentuhan dengan Niram. Kini terbalik. Masih dengan tangan gemetar, Imas memegang tangan Niram dengan kuat, dan berusaha untuk sendiri.
Dengan susah payah, Niram membantu Imas berdiri. Hingga akhirnya mereka tiba di meja makan. Niram pun membantu Imas untuk duduk di kursi. Sedetik kemudian, dia menuju meja dispenser untuk mengambilkan air minum.
"Minum dulu, Tan!" tawar Imas, menyodorkan segelas air putih kepada Imas.
Dengan tangan yang bergetar pula, Imas menerima gelas tersebut dan mereguk isinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengembalikan gelas tersebut kepada Niram.
Niram menarik kursi yang berada di samping Imas. Sesaat kemudian, dia menggenggam tangan bibinya dan kembali bertanya.
"Tante kenapa? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiran Tante? Jika iya, Tante bisa membaginya dengan Niram. Supaya hati Tante bisa lega," tutur Niram, hati-hati.
Imas menoleh. Entah kenapa dia merasa senyum Niram itu seperti sebuah ejekan untuknya. Seketika, kemarahan mulai menjalar. Dengan menggerutu kesal, Imas beranjak dari tempat duduknya.
"Huh, jangan sok tahu, kamu!" dengus Imas sambil berlalu pergi dari hadapan Niram.
Astaghfirullahaladzim ... padahal aku hanya ingin meringankan apa yang menjadi beban pikirannya saja, tapi kenapa tante begitu marah sekali. Jika saling terbuka, siapa tahu kita menemukan solusi untuk masalah yang sekarang dia hadapi, batin Niram, menghela napas cukup berat.
Imas tiba di kamarnya. Setelah mengunci pintu kamar, Imas kembali duduk terpaku di atas kasur. Pikirannya seakan buntu, hingga Imas merasa tidak pernah menemukan solusi bagaimana cara membayar uang yang dia pinjam dari Bos Engkong. Seorang tuan tanah yang cukup terkenal di kampungnya.
Sementara Imas mengurung diri di kamarnya, lain lagi dengan Niram. Meskipun dia sangat shock karena harus melihat langsung kebrutalan para preman. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang.
__ADS_1
Sejujurnya, tadi Niram ingin mengatakan maksud kedatangan para preman itu kepada Imas. Namun, mengingat kondisi Imas seperti tadi, Niram pun merasa tidak tega.
Niram kembali ke ruang tamu. Untuk beberapa detik, dia menatap barang-barang yang sudah hancur berantakan di atas lantai.
Niram menarik napasnya dengan cukup panjang. Hmm, sebaiknya aku bereskan kekacauan ini sebelum Rayyan pulang dari MDA, batin Niram seraya pergi ke dapur untuk mengambil sapu dan pengki.
Setelah mendapatkan kedua benda tersebut. Dengan telaten Niram membereskan pecahan beling di atas lantai. Dia juga mengumpulkan benda-benda yang sudah tidak terlihat lagi bagaimana bentuk aslinya.
Televisi, tape, pigura, bahkan kursi pun, semua benda yang ada di rumah tamu, menjadi sasaran kedua preman yang selalu datang untuk menagih utang kepada bibinya.
Ya Tuhan ... haruskah aku mengatakan semua ini kepada paman?
.
.
Hari Minggu. Ahsan sudah terlihat berpakaian rapi, membuat dahi ibunya mengernyit seketika.
"Kamu mau ke mana, San?" tanya Kania saat Ahsan lewat di hadapannya.
"Seminggu lagi liburan Ahsan berakhir, Mi. Ahsan mau keliling kota Jakarta dulu," jawab Ahsan.
"Sendiri?" tanya Kania lagi.
Mendengar nama Natasya, senyum Kania mengembang. Ah, anak itu ... bagaimana kabarnya dia sekarang, ya? batinnya.
"Kemarilah, San. Bunda mau bicara dulu," pinta Kania seraya menepuk sofa di sampingnya.
Ahsan bukan tipe anak pemberontak. Meskipun waktunya sudah cukup mepet. Namun, Ahsan tetap memenuhi panggilan ibunya. Ahsan pun duduk di samping ibunda tercinta.
Kania merangkul pundak anaknya.
"Kamu sudah besar, Nak. Sudah tingkat dua. Apa kamu belum kepikiran untuk punya pacar?" tanya Kania cukup serius.
"Bhuahahaha,...."
Mendengar pertanyaan konyol ibunya, Ahsan hanya bisa tertawa.
"Ish, Ahsaaaan, ..." rengek Kania sambil cemberut.
__ADS_1
Ahsan kembali terkekeh.
"Hehehe, iya maaf, Mi. Ahsan minta maaf, Insya Allah, Ahsan belum ada niat untuk menyukai lawan jenis secara berlebihan, Mi. Lagi pula, dari sekian banyak temen perempuan Ahsan di kampus, semuanya belum ada yang bisa menarik perhatian Ahsan."
"Lantas, Tasya?" tanya Tania.
Dan lagi-lagi Ahsan tertawa terpingkal-pingkal mendengar nama Natasya keluar dari bibir ibunya.
"Ahsan dan Natasya itu hanya berteman, Mi. Tidak lebih!" tegas Ahsan. "Udah ah, Mi. Ahsan jemput Natasya dulu. Entar telat," pungkasnya mengakhiri pembicaraan tentang perempuan bersama ibunya.
Kania hanya tersenyum tipis seraya menatap punggung Ahsan yang mulai mengecil dari pandangannya.
Ahsan berjalan menuju garasi. Kali ini, dia mengeluarkan mobil sport berwarna merah sebagai hadiah ulang tahun ke-17 dari kedua orang tuanya.
"Baiklah, Reddy!" panggil Ahsan pada mobil yang diberi nama Reddy. "Sekarang ayo kita berpetualang," lanjutnya sembari menyalakan mesin mobil.
Ahsan menunggu sebentar supaya mesin mobil mulai terasa panas. Sudah lama juga mobilnya hanya menjadi penunggu setia garasi. Karena itu, Ahsan memanaskannya sebelum menggunakan.
Sepuluh menit kemudian, Ahsan melajukan kendaraannya keluar dari halaman rumah megah kedua orang tuanya.
Setelah melewati perjalanan selama satu jam penuh, Ahsan tiba di tempat kost sahabatnya. Kali ini, sangat mudah membujuk Harun supaya mengizinkan dia masuk. Mungkin semua itu atas sikap santunnya Ahsan juga, hingga Harun yakin jika Ahsan adalah pemuda yang baik.
"Sudah siap?" tanya Ahsan begitu dia melihat sahabatnya sudah nangkring di kursi depan.
"Hmm, lu pikir gue dah dandan secantik ini buat apa, hah?" ucap Natasya mendengus kesal karena keterlambatan Ahsan.
"Hahaha, ... maaf," balas Ahsan. "Hmm, tadi nyokap ngajakin gue ngobrol bentar," imbuhnya.
"Hhh, ya udah ... kalau udah berhubungan dengan nyokap, gue enggak bisa protes," keluh Natasya.
"Udah ah, enggak usah ngerajuk terus! Sekarang kita mau jalan ke mana nih?" tanya Ahsan mulai mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya, gue pengen ngenalin temen baru gue sama lu. Tapi sayangnya, gue enggak punya alamat Niram?" jawab Natasya, yang sedikit tidak bersemangat saat menyadari kebodohannya yang tidak pernah meminta alamat Niram tinggal.
"Niram?" gumam Ahsan, mengernyit.
Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana? batin Ahsan sambil berpikir keras.
Tiba-tiba saja, dia tersenyum lebar saat menyadari untaian huruf-huruf di gelang rantai yang pernah dia temukan.
__ADS_1
Hmm, apakah dia orang yang sama dengan pemilik gelang bernama Niram? batin Ahsan yang tiba-tiba menjadi penasaran dengan orang yang dimaksud sahabatnya.
"Ayo!"