Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Kesadaran Ahsan


__ADS_3

"Mana bagian Imas, Pak?" Todong Imas seraya menadahkan tangan kepada Sukma.


"Halah, lihat duit aja ... mata lu langsung ijo, Neng," celetuk Sukma.


Imas terkekeh, menampilkan deretan giginya yang putih bersih. Tak lama berselang, dengan susah payah dia mencoba duduk di atas sofa ruang keluarga yang mulai usang.


"Anak lu belum mau brojol juga, Mas?" tanya Sukma yang merasa cemas melihat kepayahan Imas dalam bergerak.


"Masih betah kali, Pak," jawab Imas, asal.


"Hhh, beset aja Neng. Biar cepet keluar," tukas Sukma seraya menghela napas.


"Basat beset-basat beset, emang belum waktunya kali, Pak," dengus Imas, kesal. "Udah buruan ah, mana jatah Imas! Udah enggak sabar nih, mau belanja ke mall," imbuhnya.


"Hahaha ... dah gatel ye tangan lu, pengen ngeborong?" ledek Sukma kepada anaknya.


"Ish, buruan ah!" sewot Imas, kembali menadahkan tangan kanannya.


Sukma semakin tergelak melihat tingkah laku anak semata wayangnya. Dia kemudian mengambil amplop besar berwarna coklat yang sedari tadi tergeletak di atas bufet TV dan melemparkannya ke arah Imas.


Blug!

__ADS_1


Amplop itu jatuh tepat di atas meja di hadapan anaknya. Imas pun meraih amplop tersebut. Kedua bola matanya membulat sempurna ketika melihat gepokan uang berwarna merah.


"300 juta. Kes!" timpal Sukma.


"Wow!" seru Imas. "Terima kasih, Bapak. kau memang yang terbaik," imbuhnya.


Noor hanya mendelik melihat tingkah ayah dan anak itu.


.


.


Tiba di ruang pemeriksaan, seorang dokter paruh baya segera memeriksa Niram. Dahinya mengernyit setelah mendengarkan detak jantung Niram melalui stetoskopnya. Tak lama kemudian, Dokter Ilham menepuk-nepuk perut Niram. Dia juga membuka kelopak mata Niram untuk memeriksa retinanya. Setelah selesai, Dokter Ilham kembali menuju kursi kebesarannya.


"Imelda, Dok. Saya Imelda tantenya pasien," jawab Imelda.


"Begini, Bu. Keponakan Ibu mengalami dehidrasi. Di samping itu, sepertinya ada sesuatu hal yang membuat dia shock. Untuk itu, saya sarankan supaya keponakan Ibu dirawat barang sehari atau dua hari saja," tutur Dokter Ilham.


"Dirawat, Dok?" ulang Imelda, terkejut.


"Benar, agar kami bisa memantau kesehatannya," lanjut Dokter Ilham.

__ADS_1


Imelda diam. Dia berpikir, jika Niram menjalani rawat inap, mungkin saja saat sadar nanti, anak itu akan menceritakan penyekapan yang dilakukannya. Namun, jika dia tidak mengijinkan ... dokter tua itu pasti akan curiga dan bertanya ini dan itu.


"Bagaimana, Bu? Jika Ibu sudah setuju, saya akan meminta perawat untuk mengatur ruang rawatnya," lanjut Dokter Ilham.


"Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk keponakan saya," sahut Imelda.


.


.


Sementara itu, di tempat lain. Ahsan masih terus memikirkan kejadian tadi. Entah kenapa, wajah gadis itu seakan tidak asing dalam penglihatannya. Ahsan semakin penasaran dan mencoba mengingat kembali apa yang hendak diucapkan gadis itu.


"To ... long a ... a-ku," gumam Ahsan sembari memejamkan mata membayangkan gerak bibir gadis itu yang sempat dilihatnya.


Tolong aku? Eh ... apa maksudnya tolong aku? Apa gadis itu sedang membutuhkan pertolongan? batin Ahsan terkejut.


Entah kenapa, perasaan Ahsan langsung tidak nyaman ketika menyadari kalimat yang terucap dari gerak bibir gadis itu. Dan tatapannya ... tatapan sayu gadis itu pun membuat hati Ahsan bergemuruh hebat. Kedua mata yang memerah, kelopak mata yang membengkak ....


Astaghfirullah, apa memang dia sedang membutuhkan pertolongan seseorang? pekik Ahsan dalam hatinya.


Sontak Ahsan berdiri ketika menyadari situasi yang mungkin mengancam keamanan gadis itu. "Aku harus menolongnya," gumam Ahsan seraya berlari menuju ruang pemeriksaan. Ruang di mana dia tadi melihat brankar gadis itu memasukinya.

__ADS_1


Semoga dia baik-baik saja.


__ADS_2