Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Jengah


__ADS_3

Niram menautkan kedua alisnya ketika melihat Yura berdandan cantik di jam segini. Bukan hanya terlihat cantik, make up yang dipoles Yura di wajahnya begitu tebal. Bahkan warna gincu yang digunakan sangat menyala, hingga terkesan menantang.


Dan pakaiannya? Uuuh, pakaian itu terlihat sangat kurang bahan dan begitu ketat. Lekukan tubuh Yura yang seperti gitar Spanyol, tergambar dengan jelas dari balik pakaian yang dikenakan Yura.


"Nir, gue pergi dulu, ya. Lu kalau mau makan, tinggal buka kulkas aja. Banyak makanan instan yang bisa lu angetin di microwave. Atau, kalau lu mau masak mie, di lemari dapur ada banyak mie instan dari berbagai merk. Lu pilih aja mana yang lu suka," tutur Yura seraya memasang anting yang cukup besar di kedua daun telinganya.


"Me-memangnya, Mbak Yura ma-mau ke mana?" tanya Niram terbata.


Jujur saja, rasa penasaran mulai menggelitik di relung hati Niram tatkala melihat Yura berpakaian begitu menggoda.


"Gue kerja dulu, Nir," sahut Yura.


"Kerja?!" seru Niram. "Di jam segini?" lanjutnya.


Yura mengangguk seraya meraih tas selempang yang tergantung.


"Ta-tapi ker-ja apa, Mbak?" tanya Niram lagi.


Yura menoleh. Dia menatap lekat kepada orang yang baru ditolongnya semalam. Untuk ukuran teman yang baru bertemu, rasanya Yura tidak harus menjelaskan tentang kehidupan pribadinya.


"Gue pergi dulu, Nir. Dan ingat pesan gue baik-baik!" tegas Yura.


Setelah mengenakan sepatu heels-nya, Yura pun keluar dari kamar.


Di dalam kamar, Niram hanya bisa duduk termangu melihat tingkah Yura. Sejenak, kedua matanya kembali menyisir ruangan bernuansa hijau wardah. Mencoba mencari petunjuk tentang gadis yang sudah menolongnya. Akan tetapi, Niram tidak menemukan satu petunjuk pun tentang siapa dan bagaimana Yura sebenarnya.


Satu-satunya yang bisa dia temukan di kamar teduh ini, hanyalah foto Yura bersama seorang pemuda. Serta bingkai bertuliskan namanya.


Siapa pemuda itu? Apa dia kekasihnya mbak Yura? batin Niram seraya menautkan kedua alisnya.


.


.

__ADS_1


Sementara itu. Halim terus berjalan mondar-mandir di ruang depan. Wajahnya terlihat begitu khawatir. Sesekali, pria itu menyibak tirai untuk melihat derap langkah kaki di depan rumah kontrakannya.


Halim berharap, langkah kaki itu milik keponakannya. Meskipun Imas mengatakan, Niram sudah bekerja dan memilih pindah ke tempat kost, tapi bagi Halim, rasanya semua itu mustahil.


"Apa mungkin Niram lupa jalan pulang?" gumam Halim.


Pikir Halim, kemungkinan itu pasti bisa terjadi. Mengingat Niram baru pertama kali menginjakkan kaki di kota metropolitan ini. Hmm, sebaiknya besok pagi aku tanyakan Ega saja, batinnya.


Lelah berpikir, akhirnya Halim memutuskan untuk kembali ke kamar. Malam sudah semakin gelap. Dengkuran halus Imas pun terdengar nyaring di suasana malam yang mulai sepi.


Halim merangkak di atas kasur. Dia membaringkan tubuhnya di samping Imas yang tengah pulas mendengkur. Sesaat, dia menatap perut Imas yang sudah semakin besar. Halim tersenyum lebar membayangkan kedua kedua putri kembarnya kelak lahir. Hmm, semakin ramai saja nanti di rumah ini, batin Halim sambil mengusap pelan perut sang istri.


Tiba-tiba, tubuh Imas bergerak tak beraturan. Ada gumaman yang tidak begitu jelas. Hanya saja, bulir keringat mulai tampak di sekitar kening dan pelipisnya. Kepalanya bergerak ke sana kemari. Halim terpaku melihat raut wajah Imas yang seperti sedang ketakutan.


Apa yang sebenarnya menjadi mimpi sang istri? Kenapa keringatnya semakin mengucur deras? Apa mungkin Imas menyembunyikan sesuatu? pikir Halim.


.


.


Natasya masih asyik bergelung selimut di atas kasurnya. Meskipun matahari mulai menampakkan diri. Namun, hal itu tidak membuat mata si gadis cantik, terbuka.


Merasa silau akan cahaya sang raja siang yang masuk melalui celah jendela kamarnya, Natasya malah membalikkan badan dan membelakangi jendela tersebut. Hal itu, membuat Karen menggelengkan kepalanya.


Karen mengayunkan langkah mendekati ranjang sang putri. Sudah hampir dua bulan ranjang itu tidak ditempati pemiliknya. Sampai detik ini, Karen masih tidak percaya jika Natasya sudah kembali mendengkur halus di atas ranjang tersebut.


Syukurlah kamu sudah pulang, Nak. Kalau tidak ... Mama bisa mati berdiri karena mengkhawatirkan keadaan kamu di luar sana, batin Karen seraya duduk di tepi ranjang.


"Uuh...."


Natasya bergumam ketika merasakan sentuhan dingin di salah satu pipinya. Dia kembali membalikkan badan seperti posisi semula. Sebelah mata Natasya menyipit untuk melihat tangan siapa yang sedang menyentuhnya. Natasya pun tersenyum mendapati sang bunda sedang tersenyum penuh kehangatan.


Natasya beringsut. Dia sedikit mengangkat kepala dan akhirnya berbaring di atas pangkuan sang bunda. Hmm, sudah lama dia tidak merasakan empuknya bantal dari pangkuan ibunya. Natasya pun kembali terlelap.

__ADS_1


Rasa kantuk masih mendera. Terlebih lagi, lembutnya sapuan tangan sang ibu di kepalanya, membuat kedua mata Natasya semakin berat saja.


Karen tidak berani membangunkan putrinya. Meskipun ada banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada Natasya, tentang masa ketika dia berada di luar rumah. Namun, Karen enggan mengusik rasa nyaman anaknya saat ini. Karena itu, dengan setia dia terus mengelus-elus rambut sang putri.


Hingga setelah beberapa menit berlalu. Tiba-tiba Karen dikejutkan oleh suara Brama yang memanggil namanya. Karen merasa bingung, Natasya masih terlihat nyenyak tidur di pangkuannya. Membuat Karen tidak tega untuk membangunkan. Akan tetapi, suara Brama masih terus menggelegar memanggil namanya.


Di kamar.


Brama mendengus kesal saat Karen tidak menyahuti panggilannya. Satu dua kali, Brama masih bisa bersabar. Hingga di panggilan ketiga, keempat dan kelima tak mendapat sahutan juga. Brama mulai naik pitam.


"Ke mana perginya wanita itu?" gerutu Brama seraya membuka kasar pintu kamarnya.


"Karen!" panggil Brama. "Apa kamu tuli, hah? Sampai-sampai tidak bisa mendengar panggilanku?" Kembali Brama bertanya sembari berteriak.


"A-anu, Tu-tuan. Se-sepertinya tadi Mimin ngelihat nyo-nya me-masuki ka-kamar non Tasya," ucap asisten rumah tangga di kediaman Brama.


Tak berniat untuk bertanya lebih lanjut, Brama mengayunkan langkah lebarnya menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Brak!


Brama membuka pintu kamar anaknya begitu kasar. Membuat Karen dan si empunya kamar, terlonjak kaget. Kedua bahu Karen bergerak ke atas. Sedangkan Natasya langsung terduduk begitu mendengar suara pintu terbuka.


Brama tidak peduli dengan rasa terkejut kedua wanita itu. Hatinya sudah terasa panas karena Karen mengabaikan panggilannya. Dia memasuki kamar dan mencekal pergelangan tangan istrinya.


"Rupanya kamu sudah tuli, hah? Sampai kamu tidak bisa mendengar panggilan dariku!" teriak Brama seraya menarik tangan Karen.


Mau tidak mau, wanita berusia 47 tahun itu pun berdiri. Untungnya Natasya sudah bangun dari atas pangkuannya.


"Maaf, Pa. Tadi Mama enggak bisa jawab karena takut mengganggu tidurnya Tasya," jawab Karen, mencoba membela diri.


"Halah, alasan saja!" dengus Brama tak percaya. "Anakmu sudah bangun Seperti itu, kamu masih mau ngeles juga?" imbuh Brama.


"Demi Tuhan, Pa. Natasya tadi tertidur di pangkuan aku," jawab Karen, mencoba meyakinkan suaminya.

__ADS_1


Namun, Brama masih tidak percaya juga. Cekcok pun tidak bisa terelakkan lagi. Keduanya mempertahankan argumen masing-masing. Membuat Natasya kembali jengah


"STOP!"


__ADS_2