Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Berdebat


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Tan!" sapa Niram begitu tiba di depan pintu rumah kontrakan pamannya.


Imas menoleh, dia sangat terkejut melihat keponakan suaminya sudah berdiri di depan rumah. Imas mendongak untuk melihat pria botak itu. Dan ternyata, pria itu pun belum pergi jauh. Bahkan kemungkinan dia sempat berpapasan dengan Niram. Jika itu terjadi, sudah barang tentu Niram pasti sudah lama berdiri di sekitar rumahnya.


Ish, apa dia mendengar pembicaraanku dengan bang Sagar? batin Imas.


"Assalamu'alaikum, Tante!" Niram kembali mengucapkan salam.


Imas yang sedang melamun, sontak merasa kaget. Dia kembali menggerutu kesal melihat sikap Niram.


"Sekali aja cukup, Niram! Tante enggak budek!" pekik Imas.


"Iya, maaf Tante," jawab Niram, menyesal.


"Ya udah, masuk sana! Noh, piring kotor udah numpuk di ember!" perintah Imas.


"Baik, Tante," jawab Niram seraya menyimpan sepatu kets-nya di rak sepatu.


Imas hendak memasuki rumah. Namun langkahnya terhenti dengan panggilan Niram.


"Maaf, Tan. Tadi Niram melihat seorang pria botak menyeramkan sedang berdiri di depan pintu. Apa dia temannya paman Halim?" tanya Niram.


"Huh, jangan kepo kamu, Niram! Sudah, buruan masuk!" Imas kembali memberikan perintah seraya memelototi keponakan suaminya.


Tak ingin menambah kemarahan sang bibi, Niram pun segera menuruti perintah Imas. Dia masuk rumah tanpa banyak bertanya lagi.


.


.


Malam harinya. Seperti biasa, selepas shalat magrib keluarga Halim berkumpul untuk makan malam. Makanan yang dihidangkan, tentunya buah karya dari tangan Niram yang begitu lihai dalam memasak. Lama-lama lidah Imas semakin terbiasa dengan masakan Sunda yang Niram masak. Bahkan, kini dia pun mulai ketagihan dengan makanan tersebut. Dan hal itu tentunya membuat dia semakin merasa malas untuk memasak.


Hmm jika aku punya koki di rumah. Ngapain juga aku masak, batin Imas menyeringai licik.


"Gimana pengalaman hari pertama cari kerjanya, Sayang?" tanya Halim membuka perbincangan selepas makan malam.


"Masih belum ada rezekinya, Paman," jawab Niram.


"Sudah, tidak apa-apa. Masih ada hari esok," jawab Halim.


"Emang susah kalau ngelamar kerja cuma ngandelin ijazah SMA. Tante aja yang sarjana, susah. Apalagi SMA," timpal Imas.


"Sebenarnya ada sih beberapa perusahaan yang tertarik dengan nilai ijazah Niram. Namun ...."


Niram menggantungkan kalimatnya.

__ADS_1


"Namun Apa, Sayang?" tanya Halim.


"Namun, mereka meminta Niram untuk tidak mengenakan kerudung," cicit Niram.


"Astaghfirullahaladzim ... memang seperti inilah kehidupan di kota, Nak. Terkadang, hukum rimba pun berlaku di sini," cerita Halim.


Niram hanya tersenyum tipis menanggapi cerita pamannya.


"Kenapa kamu tidak turuti saja keinginan mereka? Huh, bodoh sekali," ejek Imas.


Niram tersenyum kecut. Percuma juga dia menjelaskan tentang prinsipnya kepada sang bibi. Toh semua itu tidak akan merubah sikap bibinya terhadap dia.


"Maaf, Paman, Tante ... Niram ke dapur dulu," pamit Niram seraya membawa piring kotor bekas makannya ke dapur.


"Eh, jangan lupa kamu beresin ini juga. Tante ngantuk, mau tidur!" perintah Imas.


Niram hanya menganggukkan kepala menjawab perintah bibinya.


.


.


"Uhuk-uhuk-uhuk!"


Hanafi tak henti-hentinya batuk. Udara malam semakin dingin. Ditambah lagi, sejak sore hujan turun. Tubuh Hanafi yang kurus, hanya bisa meringkuk berselimutkan kain samping.


"Uhuk-uhuk-uhuk!"


"Diminum dulu teh-nya, Yah!" kata Halimah seraya membantu Hanafi untuk bangun.


Tubuh ringkuh Hanafi mulai bergerak dan duduk bersandar pada tembok. Tangan kurusnya terulur untuk mengambil cangkir berisi teh jahe buatan sang istri. Sesaat kemudian, Hanafi mereguknya. Rasa hangat mulai menjalari tenggorokan Hanafi hingga bermuara di perutnya.


"Sudah seminggu lebih Niram ikut bersama pamannya, tapi kenapa Halim belum mengabari kita tentang keadaan Niram di sana, Bu?" kata Hanafi membuka obrolan.


Halimah mengambil cangkir kosong dari tangan suaminya. Setelah itu, dia menyimpan cangkir tersebut di atas meja kecil di samping kasur yang digelar.


"Entahlah, Yah. Pak RT juga belum mengabari kita tentang pesan Halim. Itu artinya, Halim memang belum menghubungi pak RT," sahut Halimah.


"Ayah cemas, Bu. Apa mungkin Niram belum mendapatkan pekerjaan? Jika memang iya, Ayah hendak meminta dia untuk pulang, Bu. Ayah takut dengan pergaulan kota," kata Hanafi, mengungkapkan kecemasan di hatinya.


"Tidak mungkin Niram belum bekerja, Yah. Bukankah Halim bilang dia disuruh bosnya untuk mencari karyawan baru?" tukas Halimah. "Sudah, Yah. Jangan terlalu berpikiran buruk juga. Mungkin saja Niram memang sudah bekerja, dan dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Kita do'akan saja yang terbaik untuk putri kita, Yah. Ayo, sebaiknya Ayah tidur lagi," pungkas Halimah mengakhiri obrolan dengan suaminya.


Tanpa menolak, Hanafi kembali merebahkan tubuhnya. Dia hanya mengusap wajah, mencoba untuk menghilangkan pikiran buruk yang bergelayut dalam benaknya.


Semoga apa yang dikatakan ibu memang benar, batin Hanafi.

__ADS_1


.


.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu begitu nyaring di antara sepinya suasana malam. Ahsan yang sudah terlelap setelah menunaikan shalat magrib, kembali mengerjapkan mata. Sesaat kemudian, dia meraih jam beker di atas nakas.


"Pukul 10 malam. Ish, siapa yang malam-malam datang ke kamar," gumam Ahsan sedikit menggerutu.


Ahsan beranjak dari tempat tidurnya. Sesaat, dia mengenakan sandal rumah. Sedetik kemudian, Ahsan mulai berjalan mendekati pintu kamar.


Ceklek!


Pintu terbuka, tampak seorang wanita berusia sekitar 45 tahunan menghambur ke arah Ahsan.


"Maulana Ahsan, gantengnya Mami. Uuh, Mami kangen sekali sama Ahsan. Maaf ya, Mami baru bisa pulang malam ini. Pesawatnya sedikit delay, Sayang," cerocos wanita itu yang tak lain orang yang telah melahirkan Ahsan.


Kania memeluk erat putra satu-satunya itu. Sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Ahsan.


"Iya, Mi. Enggak pa-pa," sahut Ahsan, mencoba memahami kesibukan ibunya.


Untuk beberapa saat, ibu dan anak itu saling berpelukan, menyalurkan kerinduan mereka.


"Huh, akhirnya kamu ingat pulang juga," tegur Tuan Kusuma yang sudah berdiri di ambang pintu.


Kania menguraikan pelukannya. Dia memasang senyum yang termanis untuk suami tersayangnya.


"Kenapa, Papi kangen ya?" ledek Kania. "Ish, Papi ... kita ini sudah tua, enggak perlu kangen-kangenan," imbuhnya.


"Halah, siapa juga yang kangen sama Mami," elak Tuan Kusuma.


"Itu, tadi ... biasanya Papi cuek aja tuh kalau Mami ada kerjaan di luar. Tapi sekarang, ngapain pula Papi kirim pesan supaya Mami cepet pulang. Kangen, 'kan tandanya," imbuh Kania.


"Jangan ge'er kamu, Mi. Papi kirim pesan cuma buat ngingetin kamu kalau bulan ini waktunya Ahsan libur semester. Sekali-sekali, kamu diam di rumah lah kalau anakmu sedang liburan. Enggak usah ngambil job sana-sini. Sudah cukup Papi saja yang enggak kamu urusin. Jangan sampai Ahsan juga kamu telantarin. Paham kamu!" tekan Tuan Kusuma.


"Udah deh, Pi. Jangan mulai lagi ... Mami capek, baru pulang kerja. Udah enggak ada tenaga buat nanggepin ocehan Papi. So, ngomelnya besok-besok saja, ya. Mami mau istirahat. Dah Ahsan ... sekarang Ahsan bobo lagi, ya. Besok kita cerita-cerita," cerocos Kania seraya mencium kening anaknya. Tak lama kemudian, wanita yang masih sangat cantik itu pun pergi dari kamar anaknya.


"See!" Tunjuk Tuan Kusuma kepada anaknya. "Itu tuh, begitu kelakuan mami kamu kalau diingatkan sama kewajibannya," kata Tuan Kusuma mengadukan sikap istrinya kepada putranya.


Ahsan tersenyum kecut. Jujur saja, dia tidak mengerti dengan urusan rumah tangga, karena itu Ahsan tidak bisa menanggapi aduan papinya.


"Maaf, Pi. Ahsan mau shalat isya dulu," kata Ahsan.


"Oh, ya sudah Nak. Papi keluar dulu," balas Tuan Kusuma.

__ADS_1


Sesaat setelah ayahnya pergi, Ahsan pun mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi. Sejenak, dia menatap dirinya di depan cermin wastafel. Entah apa yang salah dalam dirinya sehingga harus terlahir dari orang tua yang selalu berdebat jika bertemu.


Mami pulang bukan atas inisiatifnya sendiri. Lantas, apa arti aku di mata mami?


__ADS_2