Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Pertemuan Halim dan Niram


__ADS_3

Takbir masih terus berkumandang. Niram kembali meraih jam beker di atas nakas. Penunjuk waktu berhenti di angka 3. 15.


"Ah, sebentar lagi azan awal. sebaiknya aku membereskan rumah sekarang, mumpung Ghio masih tidur juga," gumam Niram seraya beranjak dari atas tempat tidur.


Sebelum pergi ke dapur, Niram pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Pekerjaannya memang sangat kotor. Namun, Niram tahu jika Tuhan maha pengampun. Entah semua amalannya bisa diterima ataupun tidak, hanya Tuhan yang berhak menentukan.


.


.


Sementara itu, di lain tempat.


Halim masih terus mengisap rokoknya yang hanya tinggal beberapa senti lagi. Sejak tadi siang, Rayyan merajuk karena harus merayakan lebaran di perantauan lagi.


Ini, adalah tahun ketiga Halim berlebaran di negeri orang. Sejak mengetahui kebenaran tentang Niram, Halim pun memutuskan untuk tidak pernah kembali ke kampung halamannya.


Setiap tahunnya, Halim harus mencari alasan untuk disampaikan kepada sang kakak. Beruntungnya, baik Halimah ataupun Hanafi, mereka tidak pernah mencurigai keputusan Halim untuk merayakan lebaran di perantauan.


"Ya Tuhan ... Ram. Kenapa kamu menempatkan paman pada posisi seperti ini?" dengus Halim merasa kesal.


Masih teringat pertemuan Halim dengan keponakannya beberapa waktu silam.


Halim yang merasa panik karena Rayyan bercucuran darah setelah jatuh dari sepeda, segera melarikan Rayyan ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit, dokter segera membawa Rayyan ke UGD.


Saat Halim tengah menunggui anaknya di samping brankar, tiba-tiba seorang perawat mendorong brankar yang di atasnya berbaring seorang wanita hamil yang tidak sadarkan diri.


'Sepertinya, kita harus segera mengambil tindakan. Tolong hubungi dokter kandungan," pinta salah seorang dokter jaga kepada perawat.


"Tolong selamatkan teman saya, Dok," pinta Yura seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Tenanglah Yura, Niram pasti akan baik-baik saja," ucap salah seorang perawat yang mengenal baik mereka.


Ya, sikap nekat Niram yang selalu ingin melenyapkan anaknya, membuat Yura harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menyelamatkan keduanya.


"Iya, Sus. Semoga saja keduanya bisa selamat," ucap Niram.


"Kali ini, apa lagi yang dia lakukan?" tanya perawat tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya, dia mengkonsumsi obat tidur terlalu banyak, Sus. Aku yang salah, karena membiarkan obat-obatan tersebut tergeletak begitu saja," sesal Yura.


"Sudahlah, sekarang sebaiknya kamu berdo'a. Semoga, kali ini pun, Niram dan anaknya bisa lolos dari maut," balas perawat itu.


Jleb!


Entah kenapa tiba-tiba jantung Halim seperti tertusuk sebilah pisau yang sangat tajam ketika tanpa sengaja mendengar percakapan mereka. Dengan segenap keberanian yang ada, dia mencoba menyibak tirai yang membatasi bilik anaknya dan bilik wanita yang bernama Niram itu.


Kedua lutut Halim seketika terasa lemas melihat wajah yang selalu dia rindukan, tengah terbaring tak sadarkan diri. Detak jantungnya pun berirama cepat saat melihat perubahan dalam tubuh Niram.


"Ha-hamil? Ni-niram hamil," gumam Halim, lirih.


Saat Halim tengah kebingungan. Tiba-tiba brankar Niram didorong kembali ke luar UGD. Untuk menyelamatkan anak dan ibunya, dokter memutuskan melakukan tindakan operasi sebagai jalan kelahiran anaknya Niram.


Rasa penasaran semakin menyelimuti Halim. Namun, dia tidak bisa mengikuti brankar itu karena terkendala anaknya yang juga tengah merintih kesakitan.


"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi, jahitannya selesai," ucap salah seorang perawat yang sedang menenangkan Rayyan.


Halim kembali fokus kepada anaknya. Meskipun dalam benaknya, timbul berbagai pertanyaan atas diri Niram yang baru saja dia lihat.


Setelah melihat anaknya selesai diberikan penanganan, Halim mendekati perawat tersebut.


"Ah, tidak perlu, Pak. Lukanya tidak terlalu dalam. Cukup rawat jalan saja. Nanti, setelah jahitannya kering, Bapak bisa kembali lagi untuk kontrol dan buka jahitan," sahut perawat itu.


"Baiklah, Sus. Apa sekarang saya bisa membawa anak saya pulang?" Halim kembali bertanya.


"Tentu saja, Pak. Ini resep obat untuk meredakan rasa sakitnya. Bapak bisa menebus di apotek," jawab perawat itu seraya menyerahkan secarik kertas resep kepada Halim.


Halim mengangguk. Setelah menerima resep obat tersebut, Halim kemudian mendorong kursi roda yang kosong. Setelah itu, dia mendudukkan anaknya di kursi roda dan mendorongnya keluar dari kamar UGD.


Ketika Halim mendorong kursi roda putranya menuju apotek, Halim menelepon sahabatnya. Dia meminta Sugistiawan untuk menjemput Rayyan. Halim masih merasa penasaran atas apa yang terjadi pada perempuan hamil yang diakui sebagai keponakannya.


Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Ram? Ke-kenapa keadaan kamu seperti ini? batin Halim, masih tetap setia mendorong kursi roda anaknya.


Setengah jam kemudian, Sugistiawan datang ke rumah sakit. Dia menghampiri Halim yang tengah melamun di kursi tunggu di depan apotek.


"Apa obatnya sudah keluar?" tanya Sugistiawan.

__ADS_1


Pertanyaan Sugistiawan sontak mengejutkan Halim. Pria itu mendongak dan menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sugistiawan.


"Ya sudah, biar gue yang nungguin Rayyan. Lu pergilah, selesaikan urusan lu sendiri. Biar lu bisa fokus ngurus Rayyan nantinya," perintah Sugistiawan.


"Iya, Bang. Makasih," jawab Halim.


Setelah meminta izin pergi kepada anaknya, Halim pun berpamitan. Dia menaiki lantai atas menuju ruang tindakan.


Tiba di depan koridor yang menghubungkannya dengan ruang operasi, jantung Halim semakin berdegup kencang. Dari kejauhan, dia sama sekali tidak melihat seorang pria di depan ruang operasi. Yang ada, hanya seorang wanita yang tengah berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.


Dengan langkah gontai, Halim mendekati wanita tersebut.


"A-apakah wanita yang tengah dioperasi itu bernama Niram Kirana?" tanya Halim begitu tiba di belakang wanita itu.


Yura sontak menoleh. Keningnya mengernyit ketika melihat seorang pria di hadapannya.


"Anda?" kata Yura sesaat setelah mengenali pria tersebut.


Ya, Yura ingat jika pria yang tengah berdiri di hadapannya, adalah pria yang dipanggil paman oleh sahabatnya saat tanpa sengaja bertemu di rumah sakit, dulu.


"Jadi benar, dia Niram Kirana?" Halim kembali mengulang pertanyaannya.


Yura mengangguk. Tidak mungkin dia berbohong kepada satu-satunya saudara yang Niram miliki di kota ini. Yura juga merasa cemas. Sesuatu yang buruk bisa terjadi, untuk itu, Yura berpikir jika sebaiknya, pamannya Niram mengetahui jika orang yang tengah berjuang di meja operasi itu, adalah keponakannya.


"La-lalu, di mana suaminya? Apa dia tidak datang untuk menemani Niram melahirkan?" tanya Halim, mengedarkan pandangannya.


Yura tersentak kaget mendengar pertanyaan Halim. Dia sendiri bingung harus menjawab apa.


"Ma-maaf, Paman. Niram tidak pernah menikah," jawab Yura lirih.


"Apa?!"


Halim sangat terkejut. Dia sempat menduga hal seperti ini, tapi dia masih berusaha menyangkalnya.


"Lalu, anaknya? A-pa kekasihnya tidak ingin bertanggungjawab? Apa dia hanya memanfaatkan Niram saja?" cecar Halim sedikit emosi.


"Niram korban rudapaksa."

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2