
Setelah merasa dikhianati, Alfaruk akhirnya menutup semua akses kemewahan Niram. Dia memblokir kartu sakti yang pernah diberikannya kepada wanita itu.
Begitu juga dengan apartemen yang sudah dipersembahkan kepada Niram. Tanpa sepengetahuan Niram, Alfaruk meminta pihak pengelola apartemen untuk menyewakan bangunan tersebut.
“Apa Anda yakin?” tanya Pak Abas selaku pengelola apartemen.
“Ya, saya yakin sekali," sahut Alfaruk.
“Lalu, bagaimana jika nona Niram datang kembali ke apartemen ini,” lanjut Pak Abas.
“Anda boleh mengusirnya,” tegas Alfaruk. "Jangan lupa, perintahkan salah satu pegawai Anda untuk segera mengemasi barang wanita itu,” imbuhnya.
“Baik, Tuan,” jawab Pak Abas.
Setelah urusannya dengan pengelola apartemen selesai, Alfaruk segera pergi dari apartemen itu. Hari ini, Alfaruk memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia sadar, dia sudah begitu menyakiti perasaan sang istri.
Namun, Alfaruk tidak punya pilihan lain. Hubunngannya dengan Karen terjadi atas balas budi. Karena itu, dia tidak pernah merasa mencintai Karen. Dan dia mencari kepuasannya di luar rumah.
Tiba di rumahnya, Alfaruk merasa heran melihat Karen tengah mendorong koper ke depan teras. Tak lama berselang, sebuah taksi bercat biru, memasuki pekarangan rumah Alfaruk.
Kening Alfaruk mengernyit menyaksikan pemandangan di hadapannya. Alfaruk segera keluar dari mobil. Setengah berlari, dia menghampiri Karen yang sedang meminta sopir untuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi.
“Mau ke mana kamu?” tanya Alfaruk.
“Aku mau ke Dubai, Mas?” jawab Karen.
“Kapan kembali?” Alfaruk kembali bertanya.
“Sepertinya, aku tidak akan pernah kembali, Mas,” jawab Karen.
“Maksud kamu?” tanya Alfaruk.
“Aku sudah cukup lelah berurusan denganmu, Mas. Aku sudah cukup lelah menanti cinta dan perhatian kamu. Aku menyerah, Mas. Terlebih lagi, saat ini kamu telah memiliki kebahagiaan sendiri. Sebentar lagi kamu akan menjadi ayah yang sesungguhnya. Karena itu aku mengalah, Mas. Aku tidak bisa begitu egois sehingga harus memisahkan ayah dari anaknya,” tutur Karen panjang lebar.
Setelah puas mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, Karen mulai menaiki taksi yang sedari tadi tengah menunggunya.
“Tapi dia bukan anakku!” tegas Alfaruk.
Pernyataan Alfaruk, sontak menghentikan langkah kaki Karen. Sesaat, Karen menatap wajah pria berahang tegas itu.
"Bayi yang ada dalam kandungannya, dia bukan anakku. Wanita itu sudah hamil jauh sebelum aku berhubungan dengannya,” lanjut Alfaruk.
“Terserah, kau akan mempercayainya atau tidak, tapi aku katakan sekali lagi jika janin itu, bukan darah dagingku. Kau ingin kembali ke Dubai, aku tidak akan pernah menghalangi kamu. Namun, jika Natasya bertanya, kau jelaskan sendiri apa alasanmu memilih pergi dari rumah ini!"
Kalimat yang cukup panjang. Tanpa paksaan. Namun mengandung begitu banyak tekanan. Hingga beberapa menit berlalu, Karen pun meminta taksi itu kembali. Dia mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke dalam rumah menyusul sang suami yang sudah terlebih dulu masuk.
__ADS_1
Astaga … kenapa aku selalu lemah di hadapannya, keluh karen di dalam hati.
.
.
Setelah hampir sepekan mennjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Niram diizinkan pulang.
“Apa lu mau pulang ke rumah gue, Nir?” tanya Yura.
“Sepertinya, aku pulang ke apartemen saja, Mbak,” jawab Niram.
“Apa lu yakin?” tanya Yura lagi.
“Iya, Mbak. Sudah lama juga aku meninggalkan apartemen. Aku sendiri tidak tahu kondisinya seperti apa saat ini. Pasti sangat beratakan, mengingat apa yang terjadi terakhir kali,” tutur Niram.
“Ya sudah, biar gue temani lu untuk membereskannya,” lanjut Yura.
Niram tersenyum sedetik kemudin, dia pun mengangguk pertanda menyetujui ucapan sahabatnya.
“Oh iya, Mbak. Apa Mbak sudah membayar biaya tagihan rumah sakitnya?” tanya Niram lagi.
“Sudah, Nir. Tadi pake ATM gue dulu buat lunasin tagihannya,” jawab Yura.
“Emh … sepertinya, kartu lu di blokir sama Alfaruk, Nir,” cicit Yura.
“Apa? Kok bisa?” pekik Niram.
"Entahlah … tapi kartu lu udah enggak bisa dipake lagi. Kata perawatnya sih, kemungkinan diblokir sama pihak Bank," tutur Yura.
Niram semakin terkejut.
Apa mungkin ini ada sangkut pautnya dengan kejadian kemarin? batin Niram.
“Ya sudah, Nir. Engggak usah dipikirin juga. Yuk kita pulang!” ajak Yura, "gue udah enggak sabar nih, pengen berendam air hangat,” imbuhnya.
Niram tersenyum kecil. Sesaat kemudian, dia meraih tasnya dan mengikuti Yura yang sudah melangkah terlebih dahulu keluar dari kamar rawat.
Tiba di depan rumah sakit, Yura segera memesan taksi online. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, taksi online yang dipesan pun datang.
“Sesuai dengan titik ya, Mbak?” tanya sopir taksi itu.
“Yup!” sahut Yura.
“Oke, siap meluncur. Gaskeuun!” imbuh si sopir taksi yang membuat Yura tergelak dan Niram tersenyum tipis.
__ADS_1
Setelah melewati perjalan selama setengah jam, akhirnya taksi berhenti di depan lobi apartemen. Yura segera membayar ongkos taksi. Setelah itu, dia memapah Niram untuk memasuki lobi apartemen.
Pada saat dia hendak menaiki lift, tiba-tiba Pak Abas sebagai pengelola apartemen, memanggil Niram.
“Maaf, Mbak Niram. Apa kita bisa bicara sebentar?” tanya Pak Abas.
Niram menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran dengan pertanyaan Pak Abas yang tiba-tiba.
“Ada apa ya, Pak Abas?” tanya Niram.
“Sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja, Mbak. Enggak enak juga kalau berbicara di tempat umum,” lanjut Pak Abas.
Sejenak Niram menatap Yura. Namun, anggukan Yura membuat Niram menyanggupi ajakan Pak Abas.
"Silakan duduk, Mbak,” ucap Pak Abas mempersilakan kedua tamunya untuk duduk.
Niram dan Yura mengangguk. Sedetik kemudian, mereka mendaratkan bokongnya di atas sofa tamu.
“Ada apa ya, Pak?” ulang Niram.
“Begini, Mbak. Mulai sekarang, Mbak tidak bisa tinggal lagi di apartemen ini,” kata Pak Abas memulai perbincangan.
Niram terkejut. Dia menatap heran kepada pengelola apartemen itu. Entah atas dasar apa pihak pengelola melarang dia untuk menempati apartemen yang sudah menjadi miliknya.
“Tapi kenapa, Pak? Bukankah apartemen itu atas nama saya, dan tuan Alfaruk juga sudah membayar lunas untuk unit yang saya tempati," jawab Niram.
“Itu memang benar, Mbak. Tuan Alfaruk memang sudah membeli apartemen ini. Akan tetapi, pemindahan atas nama Mbak, masih dalam proses, jadi Mbak belum sepenuhnya memiliki hak atas unit yang kemarin Mbak tempati. Dan sekarang, atas permintaan tuan Alfaruk juga, apartemen ini sudah dijual kembali. Dan kebetulan, saat ini sudah ada yang membeli unit tersebut. Bahkan sudah ditempati dari dua hari yang lalu," tutur Pak Abas.
Niram semakin terkejut mendengar penuturan pengelola apartemen.
“Lantas, barang-barang saya? Kenapa Bapak tidak bilang terlebih dahulu kepada saya?” tanya Niram.
“Maaf, Mbak. Saya hanya menjalankan perintah tuan Alfaruk saja. Untuk barang-barang milik Mbak, tidak usah khawatir, saya sudah membereskan barang-barang Mbak, dan Mbak bisa membawanya kapan saja Mbak mau," jawab Pak Abas.
Niram hanya melongo mendengar jawaban pihak pengelola apartemen. Kenapa semuanya sudah seperti disiapkan saja? Apa ini akibat dari kemarahan Alfaruk setelah mengetahui dirinya hamil?
"Apa ini artinya … dia telah membuangku?" gumam Niram yang masih bisa didengar oleh Yura.
Tak tega menyaksikan apa yang terjadi kepada sahabatnya, Yura kemudian merangkul Niram.
“Tidak apa-apa, Nir. Kita pulang ke rumah gue sekarang,” kata Yura.
Niram tidak menjawab. Kepalanya terasa begitu berat. Dadanya seolah dihantam benda yang begitu berat. Sesak dan menyakitkan. Saat ini, Niram seolah kembali ke titik nol. Titik di mana dia harus memulai kembali segala sesuatunya dari awal.
“Ayo kita pergi, Nir!"
__ADS_1