Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Seperti Benalu


__ADS_3

Menjelang isya, Ahsan tiba di rumahnya. Sebuah rumah megah, tapi terlihat begitu sepi. Ahsan hanya tersenyum kecut tiba di depan gerbang rumahnya. Percuma juga dia menekan bel pintu, Pak Gun tidak akan pernah mendengarnya.


Pria tua yang masih dipekerjakan sebagai penjaga itu memang sedikit kehilangan pendengarannya akibat demam tinggi yang pernah dia alami beberapa tahun yang lalu. Karena itu, Ahsan mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi seseorang di dalam rumah. Hingga tak lama berselang, gerbang rumah yang menjulang tinggi pun terbuka.


"Ah, Den Ahsan!" pekik seorang wanita paruh baya, "syukurlah Aden sudah kembali," lanjutnya.


Ahsan tersenyum. "Kok rumah sepi, Mbok?" tanyanya.


"Mami Aden sudah tiga hari pergi ke Paris. Beliau sedang ada pekerjaan penting di sana. Sedangkan papinya Aden, dia belum pulang dari kantornya," papar wanita yang dipanggil Mbok itu.


Mbok Jum. Nama aslinya Jumiati, wanita kelahiran Mojokerto yang sedari gadis bekerja di rumah kedua orang tua Kania, ibu kandungnya Ahsan.


Mbok Jum menikah dengan Pak Gun yang bekerja sebagai satpam di rumah keluarga Kania. Setelah Kania menikah, pasangan itu pun diperintahkan orang tua Kania untuk menjaga putri mereka satu-satunya.


Bertahun-tahun membina rumah tangga, tapi pasangan itu belum juga dikaruniai anak hingga sekarang. Namun, keharmonisan rumah tangga mereka, mengalahkan keharmonisan rumah tangga anak majikannya, Kania.


Tak pernah sekali pun pasangan itu bertengkar. Tak memiliki anak, tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap menjaga rumah tangganya. Bagi mereka, kehadiran Ahsan yang terlahir dari wanita karir seperti anak majikannya, sudah sangat mewarnai kehidupan mereka.


Ya, kedua orang tua Ahsan begitu sibuk dengan pekerjaannya. Karena itu, mereka tidak memiliki waktu untuk bermain bersama putranya. Sayangnya, menginjak remaja. Ahsan memutuskan untuk tinggal di Jogja bersama orang tua dari pihak ibu, yang tak lain majikan Mbok Jum dan Pak Gun.


"Sudah malam begini, tapi papi belum pulang, Mbok?" tanya Ahsan.


Mbok Jum menggelengkan kepala.


Ahsan membuang napas dengan kasar. "Huh, apa saja yang papi lakukan di luar sana," gerutunya kesal.


Mbok Jum yang melihat raut kesal di wajah anak asuhnya, segera mengajak Ahsan untuk masuk rumah. Dia paham jika Ahsan sedang merasa kesal dengan sikap kedua orang tuanya.


"Ya sudah, kita masuk yuk, Den!" ajak Mbok Jum. "Aden pasti merasa lelah setelah melewati perjalanan jauh," imbuhnya.


Ahsan melangkahkan kaki memasuki halaman rumahnya yang begitu luas. Diikuti oleh ibu asuhnya. Di depan rumah, sudah ada Pak Gun yang sedang menanti kedatangannya.


"Selamat datang, Nak!" ucap Pak Gun menyambut kedatangan Ahsan. Mereka berdua saling berpelukan untuk mengungkapkan kerinduan.


.


.


Niram begitu terkejut ketika menyadari benda berharga pemberian kedua orang tuanya, hilang. Dia merogoh tas selempangnya. Mungkin saja dia lupa menaruh benda itu di sana. Namun, dia sama sekali tidak menemukan gelangnya.


Niram meraih tas jinjingnya. Dia kemudian mengeluarkan pakaiannya satu per satu untuk mencari keberadaan benda tersebut. Namun, di dalam tas itu pun, Niram tidak menemukan gelangnya.


Ya Tuhan, di mana tertinggalnya gelang pemberian ibu? Aku ingat betul jika sebelum berangkat kemari, aku mengenakan gelang itu di pergelangan tangan kanan. Tapi kenapa bisa hilang? batin Niram.

__ADS_1


Hampir di setiap sudut kamar, Niram mencari gelang berliontin huruf-huruf yang merangkai namanya. Namun, dia masih tidak bisa menemukannya. Pada akhirnya, Niram menyerah dan mencoba mengikhlaskan jika benda itu mungkin bukan rezekinya.


.


.


Azan subuh terdengar dari mushalla yang berada tak jauh dari rumah kontrakan. Halim mengerjapkan mata. Seperti biasa, dia pergi ke dapur untuk melakukan pekerjaan rumah.


Kehamilan istrinya sudah sangat besar. Hasil USG menyatakan jika Imas sedang mengandung bayi kembar berjenis kelamin perempuan. Karena itu, semenjak usia kandungan Imas menginjak lima bulan, Halim mulai mengambil alih tugas Imas sebelum berangkat bekerja.


Ting!


Bunyi notifikasi pesan terdengar dari ponselnya. Halim yang sedang mencuci beras, segera berhenti. Dia melangkahkan kaki untuk mengambil ponsel dari atas lemari pendingin.


Jantung Halim berpacu dengan sangat cepat. Tubuhnya terasa lemas setelah membaca pesan di layar ponselnya.


"Astaga, apa yang harus aku katakan pada Niram?" gumam Halim, bingung.


"Mengatakan apa, Bang?" tanya Imas.


Halim terkejut mendengar pertanyaan istrinya dari arah belakang. Sontak dia membalikkan badan. Tampak Imas sudah berdiri di ambang pintu dapur.


"Sudah bangun, Ma?" tanya Halim.


Halim bergeser dan memberi Imas jalan untuk mengambil air dingin dari dalam kulkas. Sesaat kemudian, dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Apa yang harus kamu katakan pada Niram? Memangnya dia kenapa?" Selesai meneguk minumannya, Imas kembali bertanya kepada Halim.


"Ti-dak, Ma. Tidak ada apa-apa," jawab Halim.


"Jangan bohong, Bang. Imas tak suka!" ucap Imas, ketus.


Halim kembali menghentikan pekerjaannya. Dia membalik badan dan menatap istrinya.


"Barusan ada pesan dari bagian HRD. Katanya untuk posisi OG sudah terisi," jawab Halim.


"Itu artinya, Niram tidak jadi bekerja di kantor kamu?" tanya Imas, penuh selidik.


"Sepertinya begitu," jawab Halim.


"Ya sudah, kamu tinggal katakan saja yang sebenarnya pada anak itu, dan suruh dia untuk kembali ke kampung halamannya," ujar Imas, tanpa berbelas kasih.


"Aku akan mengatakannya, Ma. Tapi aku tidak akan menyuruh dia untuk pulang," jawab Halim.

__ADS_1


"Ish, Bang. rumah kontrakan kita ini sudah begitu sempit untuk kita tinggali, belum lagi setelah bayi kembar lahir. Jika dia masih tetap tinggal di sini, rumah kita akan semakin sempit saja, Bang. lagi pula, Kalau dia tetap tinggal di sini tanpa bekerja, dia hanya akan menjadi benalu saja," gerutu Imas, semakin kesal.


"Cukup, Mas! Niram satu-satunya keponakanku. Dia anak kakakku, jadi dia anakku juga. Aku kepala keluarga di rumah ini, dan aku juga yang bertanggung jawab atas rumah ini. Jadi sudah aku putuskan jika Niram akan tinggal bersama kita sampai dia mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup mandiri. Paham kamu!" tegas Halim.


Saat Halim hendak pergi ke kamar mandi, tanpa sengaja dia melihat Niram yang sedang berlari menjauhinya.


"Niram, tunggu" teriak Halim, memanggil keponakannya.


Niram menghentikan langkahnya. Sedetik kemudian, Halim mendekati Niram.


"Paman yakin kalau kamu pasti sudah mendengar perdebatan Paman dan tante kamu," kata Halim.


Niram hanya menundukkan wajahnya.


"Tidak usah khawatir, Niram. Selama di kota ini, kamu adalah tanggung jawab, Paman. Tenang saja, Paman akan menghubungi teman-teman Paman untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Paman yakin, kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan secepatnya," kata Halim, mencoba menghibur Niram.


Gadis bertubuh semampai itu tidak menjawab. Dia hanya semakin menundukkan wajahnya.


Tak tega melihat kesedihan di raut wajah keponakannya, Halim meraih Niram ke dalam pelukannya.


"Jangan terlalu dipikirkan, Nak. Paman akan usahakan supaya kamu bisa secepatnya bekerja di kota ini," janji Halim.


Niram hanya menganggukkan kepala, menanggapi janji pamannya.


.


.


Hari berganti hari. Sudah satu minggu Niram menumpang di rumah kontrakan pamannya. Niram cukup tahu diri. Sebisa mungkin, dia selalu membantu Halim untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sedangkan Imas, semakin hari semakin terlihat malas saja. Dia selalu menjadikan kehamilannya sebagai alasan untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah.


Siang ini, Niram diminta Imas untuk merapikan seisi rumahnya. Dia sudah merasa bosan dengan penataan rumah yang dia lakukan setahun yang lalu. Imas menginginkan suasana baru untuk rumahnya. Karena itu, dia meminta Niram untuk memindahkan perabotan rumahnya.


Menjelang dzuhur, Niram memutuskan untuk beristirahat sebentar. Karena merasa lapar akibat kehabisan tenaga, Niram pergi ke dapur untuk makan siang. Namun, alangkah terkejutnya ketika Niram membuka tudung saji di meja makan. Makanan yang dia masak tadi pagi, ludes tak bersisa.


"Kenapa? Lapar?" tanya Imas dari arah pintu dapur.


Niram terperanjat. Dia pun menoleh ke arah bibinya.


"Mangkanya, kerja dong! Mau sampai kapan kamu numpang hidup di rumah paman kamu. Ingat ya, Niram. Paman kamu itu sudah berkeluarga. Jadi dia enggak punya kewajiban untuk ngurusin kamu. Ngerti!" seru Imas penuh penekanan.


Niram tidak menyahut. Dia hanya melangkahkan kaki menuju kamarnya. Sementara itu, samar-samar Imas masih terdengar menggerutu karena merasa kesal terhadap sikap Niram yang tidak meladeni ucapannya.


Tiba di kamar, Niram merebahkan diri di atas dipan. Apa yang dikatakan bibinya memang benar. Tidak seharusnya dia menumpang hidup di keluarga pamannya. Dia sudah dewasa, sudah cukup umur untuk bekerja. Menunggu kabar pekerjaan dari pamannya bukan satu-satunya solusi yang terbaik. Niram harus berani keluar dari zona nyamannya. Meskipun kota ini asing bagi Niram, tapi dia harus membiasakan diri untuk beradaptasi dengan lingkungan dan suasana di kota metropolitan.

__ADS_1


Huh, aku sudah seperti benalu saja di sini! Sebaiknya, besok aku coba keluar rumah untuk mencari pekerjaan.


__ADS_2