Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Transaksi


__ADS_3

"Gimana? Mantap, 'kan Pak," bisik Imas di telinga ayahnya.


"Uih ... ini mah lebih dari mantap, Neng!" sahut Sukma.


"Kira-kira, berapa duit, Pak?" tanya Imas.


"Satu milyar juga bisa ini mah, Neng," jawab Sukma.


"Apa?! Satu milyar!" pekik Imas.


"Ssst!" Sukma menempelkan telunjuk di atas bibirnya. "Jangan kenceng-kenceng atuh, Neng. Nanti kedengeran emak lu, bisa riweuh lagi," tegur Sukma.


"Eh, maaf-maaf, Pak!" sahut Imas, pelan.


"Ya udah, yuk kita samperin ntuh bocah!" ajak Sukma.


Imas mengangguk. Sepersekian detik kemudian, ayah dan anak itu menghampiri Niram yang masih berdiri di teras depan


"Ram, kenalin ini bapaknya Tante, namanya Pak Sukma," ucap Imas memperkenalkan ayahnya, "dan ini namanya Noor, ibu tiri Tante," sambungnya


"Huh, dasar bocah gendeng! Enggak usah disebut ibu tiri juga kaleee," ledek Noor.


Imas hanya memutar kedua bola matanya mendengar ucapan sang ibu sambung.


Niram mengulurkan kedua tangannya untuk bersalaman kepada orang tua Imas. Meskipun merasa risih karena melihat tatapan tajam dari pasangan paruh baya itu. Namun, Niram mencoba untuk tetap tenang dan bersikap senatural mungkin.


Tiba-tiba, ponsel Imas berdering, membuat orang-orang yang sedang bersalaman itu menoleh ke arahnya. Imas tersenyum mesem, sedetik kemudian dia mengangkat teleponnya.


"Ya, Bu ..." ucap Imas seraya menjauhi Niram dan kedua orang tuanya. Tak lama kemudian, Imas pun menghilang di balik pintu.


"Jadi, kamu ponakannya Halim?" tanya Sukma berbasa-basi.


"Benar, Paman," jawab Niram.


"Ayo, silakan duduk!" kata Sukma, mempersilakan tamunya untuk duduk.


Setelah itu, mereka bertiga bercakap-cakap tentang keadaan Niram di kampungnya. Hingga tak lama berselang, Imas datang dengan wajah yang terlihat cemas.


"Ram, sepertinya kita harus membatalkan rencana kita untuk pergi ke kafe teman Tante," kata Imas, terdengar penuh penyesalan.


"Ada apa, Tante? Memangnya siapa yang menelepon?" tanya Niram yang mulai gusar.


"Tadi telepon dari sekolahnya Rayyan. Katanya Rayyan demam dan Tante harus menjemput Rayyan di sekolah," tutur Imas.


Niram terlihat kecewa. Namun, dia juga tidak bisa mengabaikan kabar itu begitu saja. Kasihan Rayyan.

__ADS_1


"Iya, Tan. Tidak apa-apa ... mungkin bukan rezekinya Niram," jawab Niram.


"Memangnya kalian mau ke mana?" tanya Sukma yang mulai nimbrung berbicara ketika melihat Imas memberikan isyarat lewat kedipan matanya.


"Bapak tahu Melda temen Imas, 'kan? Itu loh, yang punya kafe di daerah Tawang," ucap Imas.


"Ah, iya ... Bapak tahu. Memangnya kenapa?" tanya Sukma.


"Kemarin si Melda telepon, dia sedang butuh karyawan untuk kafenya. Maklum lah ... kafenya, 'kan mulai ramai pengunjung," jawab Imas.


"Terus, ponakan kamu mau ngelamar di kafe Melda?" terka Sukma.


"Rencananya sih begitu, Pak," sahut Imas, "tapi sepertinya enggak jadi, karena Imas harus menjemput Rayyan yang sakit di sekolah," lanjutnya.


"Kalau gitu, biar Bapak saja yang antarkan, Mas." Sukma menawarkan diri untuk mengantarkan Niram ke tempat tujuan.


"Emangnya, Bapak enggak sibuk?" Imas balas bertanya.


"Enggak, Mas. Kebetulan Bapak kerja shift malam. Jadi bisa bantuin kamu buat nganterin ... emh, siapa namanya?" Sukma kembali menatap Niram.


"Niram, Pak," jawab Imas.


"Ya! Si Niram biar Bapak kamu saja yang antarkan ke kafenya temen kamu itu. Kasihan juga, 'kan ... masa sudah sampai sini harus balik lagi," timpal Noor, penuh perhatian.


Widiiih, kalian emang pada hebat banget dah, aktingnya, batin Imas seraya menatap kedua orang tuanya bergantian.


"I-iya, Tante. Niram tidak apa-apa," jawab Niram.


Imas dan kedua orang tuanya tersenyum lebar mendengar jawaban Niram. Sebuah senyum misterius yang hanya mereka sendiri yang tahu apa artinya.


.


.


Motor Ahsan sudah terparkir di depan pintu gerbang kost-an Natasya. Hari ini, Ahsan akan kembali mengantarkan Natasya untuk mencari pekerjaan.


Setelah hampir sepuluh menit menunggu. Gadis berambut panjang bergelombang itu pun datang menghampirinya.


"Yuk, San!" ajak Natasya.


Ahsan mendongak. Dia tersenyum manis menampilkan deretan giginya yang putih bersih. Senyum yang mampu menggetarkan hati Natasya untuk beberapa detik.


"Kita cari sarapan dulu ya, Sya. Gue belum makan nih," kata Ahsan.


"Tapi jangan lama-lama, ya. Gue enggak mau temen gue nunggu kita kelamaan," tukas Natasya.

__ADS_1


"Iya, gampang ..." timpal Ahsan.


Setelah Natasya naik, Ahsan pun melajukan motornya.


Tiba di sebuah warung nasi yang cukup higienis, Ahsan menepikan motornya. Mereka berjalan beriringan memasuki warung nasi tersebut. Ahsan dan Natasya mulai memesan sarapannya masing-masing.


Sembari menunggu makanan datang, kedua sahabat itu berbincang riang. Untuk sejenak, mereka melupakan permasalahan dalam keluarganya masing-masing. Hingga saat makanan pun datang, mereka masih asyik berbincang.


.


.


"Ayo, Nak Niram!" ajak Sukma setelah selesai mengenakan jaket kulitnya.


"Iya, Paman," jawab Niram, beranjak dari tempat duduknya.


Niram menghampiri Noor untuk berpamitan dan meminta do'a. Namun, lagi-lagi perempuan paruh baya itu menepiskan tangannya. Niram hanya menghela napasnya mendapatkan perlakukan sinis dari ibu tiri sang bibi.


Selama dalam perjalanan, hanya kebisuan yang mengiringinya. Niram tidak berani bertanya, takut mengganggu konsentrasi pria tua itu.


Hingga setelah dua jam berputar-putar di jalanan, motor yang dikendarai Sukma berhenti di sebuah rumah yang cukup sepi. Sukma memasuki pekarangan rumah yang cukup luas.


"Turunlah, Nak!" perintah Sukma.


Niram mengangguk. Sedetik kemudian, dia turun dari boncengan dan menghampiri Sukma.


"Apa tempatnya memang di sini, Pak? Kok sepi banget." Niram bertanya sembari mengedarkan pandangannya.


"Di sini memang sepi, Nak, tapi di dalam cukup ramai. Ayo masuk!" sahut Sukma seraya menyambar pergelangan tangan Niram.


Gadis berhijab itu sungguh terkejut mendapati perlakuan Sukma. Dia mulai menarik-narik tangannya supaya bisa terlepas dari genggaman kuat tangan Sukma. Akan tetapi, genggaman tangan Sukma begitu kuat, hingga Niram tak mampu melepaskan diri.


"Spadaaaa!" teriak Sukma yang menyelonong begitu saja memasuki rumah.


Seorang wanita paruh baya yang sedang terpejam menikmati sensasi pijatan seorang pemijat handal, seketika mengerjapkan mata mendengar suara cempreng teman satu kampungnya.


Dia sudah sangat marah dengan kegaduhan yang dibuat Sukma. Namun, ketika melihat seorang gadis cantik berdiri di samping Sukma, senyum menyeringai pun terukir di kedua sudut bibirnya. Sepersekian detik kemudian, Imelda memberikan isyarat kepada kedua bodyguard nya untuk menutup pintu rapat-rapat.


"Ah, akhirnya lu datang juga!" seru Imelda.


"Hahaha, tentu saja Imelda! Bukankah Gue tidak pernah ingkar janji?" jawab Sukma. "Bagaimana, apakah cocok? Gue jamin barangnya tidak akan mengecewakan lu. Ini murni! Sangat murni dan masih ranum juga," corocos Sukma seraya menghampiri Imelda.


"Dan guy yakin, dia akan menjadi primadona di sini!" bisik Sukma di telinga Imelda.


"Hmmm, lu benar juga," ucap Imelda tanpa mengalihkan pandangannya dari Niram.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Apa kita bisa bertransaksi sekarang?" tanya Sukma.


"Transaksi?!


__ADS_2