
"Ugh!"
Niram sangat terkejut ketika sesuatu yang besar menerobos memasuki kubangan kecil miliknya.
Ringisan kecil mulai terdengar dari bibir mungil milik Niram. Sesaat, Alfaruk menjeda hentakannya.
Niram membuka mata ketika Alfaruk menjeda aktivitasnya. Kini, bayangan wajah pria berahang tegas yang mulai berpeluh, tampak jelas di hadapan Niram.
"Sakit?" tanya Alfaruk ketika dia melihat raut wajah Niram yang meringis.
Niram mengangguk pelan.
"Baiklah, akan aku buat sepelan mungkin. Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman dengan permainan ini. Istirahatlah, kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya lagi," tutur Alfaruk bersiap untuk mengangkat senjata dari sarungnya.
"Ti-tidak, Tu-an. A-aku bisa menahannya. Bagaimana mungkin aku bisa pandai, ji-jika Tuan memberikan pelajarannya setengah ... setengah," jawab Niram seraya menahan perih yang mendera hebat di bawah sana.
Alfaruk tersenyum senang.
"Baiklah, Nona. Ini adalah permintaanmu, bersiaplah untuk menerima pelajaran yang kedua," bisik Alfaruk.
Pria itu melanjutkan hentakannya. Perlahan, tapi tepat sasaran. Membuat Niram merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Niram diam. Hatinya merutuki semua perbuatan dia. Akan tetapi, bahasa tubuhnya berkata lain. Perlakukan lembut laki-laki yang hampir mendekati usia 50 tahun itu, tanpa sadar telah menjebak Niram dalam perasaan nyaman. Hingga pada akhirnya, bahasa tubuh Niram berbicara untuk menyeimbangi hentakan demi hentakan Alfaruk.
Begitu juga dengan Alfaruk. Selama dia berpetualang dengan perempuan, baru kali ini dia merasakan sebuah kesempurnaan. Bahkan, malam pertama yang dia lakukan dengan sang istri pun, tidak semenggigit yang dia rasakan saat ini.
Hampir satu setengah jam telah berlalu. Berkali-kali Niram mengatakan jika dia ingin buang air kecil. Namun, Alfaruk mengabaikannya.
"Itulah pipis yang sejati, Sayang. Jangan kau tahan, atau kau akan merasa kesakitan," ucap Alfaruk.
"Lalu, a-apa yang harus a-aku la-kukan?" tanya Niram di sela-sela napas yang tersengal karena ulah hentakan pinggul Alfaruk.
"Lepaskan saja, kau akan tahu bagaimana nikmatnya sebuah pelepasan," sahut Alfaruk yang masih terus bergerak berirama di atas tubuh polos wanitanya.
"Ra-rasanya sakit se-kali, Tu-an. A-aku su-dah berusaha untuk mengeluarkannya, ta-tapi tak bisa. Aah!" ucap Niram dengan peluh yang semakin bercucuran.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Kenapa kenikmatan ini terasa begitu menyiksaku, batin Niram.
__ADS_1
Kepala Niram mulai bergerak ke kanan dan ke kiri. Kedua tangannya memeluk erat tubuh pria yang masih asyik bergoyang di atas pinggulnya. Merasakan sakit yang begitu hebat, tanpa sadar kuku-kuku jari Niram menancap di kulit si pria.
"Aargh, Tu-tuan, a-aku sudah ti-dak tahan!" pekik Niram.
Alfaruk tersenyum senang melihat kegelisahan di wajah wanita kecilnya. Dia mulai mempercepat ritme gerakannya. Hingga di hentakan terakhir, Alfaruk menekannya begitu kuat. Milyaran pasukan pun mulai berlomba-lomba memasuki kubangan kecil yang menyimpan segudang kenikmatan.
"Aaargh, ini nikmat sekali Niram!" racau Alfaruk di sela-sela pelepasannya.
.
.
Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin itulah peribahasa yang menggambarkan keadaan Halim saat ini. Kuburan istrinya masih belum kering, kini dia harus menggali kuburan lagi untuk salah satu anak kembarnya.
Halim menatap kuburan kecil yang baru saja ditimbun tanah merah. Perkataan dokter anak yang menangani putri kecilnya, masih terekam jelas dalam memori Halim.
"Bersabarlah, Pak. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk putri Anda. Secara medis, diberikan umur panjang pun, kasihan."
Halim hanya bisa pasrah. Dia tahu, semua ini qadarullah. Sejauh apa pun Halim menolak, tetap sama ... dia tidak bisa menghindari takdir hidupnya.
Tak ada sepatah kata pun yang mampu Halim ucapkan di depan pusara anak dan istrinya. Hampa! Hanya kehampaan yang bisa dia rasakan saat ini.
Halim menoleh. Apa yang dikatakan Sugistiawan memang benar. Hari ini, Khanza –putri bungsu Halim– telah diizinkan untuk pulang oleh pihak rumah sakit.
"Aku bingung, Bang. Aku-aku tidak tahu bagaimana cara mengurus bayi tanpa ibunya," ucap Halim.
"Sebelumnya, gue minta maaf, Lim. Gue enggak bermaksud lancang sama lu, tapi jika lu mengizinkan. Biarkan gue ma bini yang ngurusin anak lu. Kebetulan, gua sama bini belum diberikan kepercayaan untuk memiliki keturunan. Tapi lu jangan salah paham dulu, Lim. Gue enggak bermaksud mengambil hak asuh anak lu. Gue cuma–"
"Aku ngerti, Bang. Aku tahu jika niat Abang sama Mpok Leha sangat tulus. Aku berterima kasih untuk itu. Tentu saja aku enggak keberatan Abang dan Mpok Leha mengasuh anakku," jawab Halim.
"Alhamdulillah ... makasih, Lim. Lu enggak usah kuatir, gue ma Leha, bakalan nganggap Khansa seperti anak kandung kita sendiri. Dan gue ama Leha juga enggak bakalan ngebatasi pertemuan kalian. Kapan pun kalian ingin berkunjung, pintu rumah gue terbuka untuk kalian," timpal Sugistiawan.
.
.
Di hotel Bintang.
__ADS_1
Kedua insan berbeda generasi itu masih terlelap meskipun matahari mulai meninggi. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Niram berhasil menguasai permainan. Bahkan, di penghujung malam, dia yang menjadi pemimpin dalam permainan ranjang yang semakin panas.
Alfaruk mengerjapkan mata ketika sinar matahari menyeruak memasuki celah jendela kamar. Dia meraih jam tangan yang tersimpan di atas nakas.
"Uh, sudah jam 11," gumam Alfaruk seraya menyimpan kembali jam tersebut.
Alfaruk melirik wanita yang tengah mendengkur halus di sampingnya. Wanita yang masih bergelung selimut itu terlihat lebih cantik ketika sedang terlelap. Bahu yang terlihat putih mulus, membuat gelanyar aneh di hati Alfaruk. Pria itu menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah wanitanya.
Alfaruk menyeringai senang melihat tato kebiruan hasil karyanya, bertebaran di sekitar ceruk leher Niram. Bahkan tidak hanya sampai di sana. Dada Niram yang putih mulus pun, menjadi sasaran Alfaruk untuk menciptakan stempel kepemilikan di sana.
"Kau sungguh cantik, wanita kecilku," gumam Alfaruk, tepat di telinga wanitanya.
Niram menggeliatkan tubuhnya ketika merasakan embusan napas seseorang di telinganya. Perlahan, dia membuka mata. Tampak Alfaruk masih anteng menatapnya.
"Tu-tuan, kenapa menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?" jawab Niram yang merasa khawatir jika wajah bantalnya mengganggu sang tamu.
"Ya, ada sesuatu di wajahmu yang telah berhasil membangunkan milikku," jawab Alfaruk menyeringai.
"Ma-maksud, Tu-tuan?" tanya Niram, gugup.
Bukannya menjawab pertanyaan Niram, Alfaruk malah berbaring dan menyibakkan selimut. tubuh polosnya pun terekspos sempurna.
"Naiklah!" perintah Alfaruk.
"Ta-tapi Tu-an?"
"Aku suka permainan kamu. Naiklah!" Kembali Alfaruk memberikan perintah seraya menarik tangan Niram.
Meskipun merutuk kesal di dalam hatinya, akan tetapi Niram tidak bisa menolak. Senjata Alfaruk sepertinya sudah siap untuk bertempur.
Alfaruk memejamkan kedua matanya saat merasakan kehangatan mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Hentakan Niram yang mulai berirama, memberikan sensasi yang berbeda dalam kisah percintaan Alfaruk.
Entah kenapa, Alfaruk begitu menikmati permainan yang disuguhkan Niram. Sebenarnya, ini bukan pengalaman pertama Alfaruk dengan seorang wanita. Akan tetapi, wajah sendu Niram mampu meluluhlantakkan hatinya. Baru kali ini Alfaruk bermain rasa ketika bercinta dengan seorang wanita malam.
"Kau milikku, Niram! Aku tidak ingin orang lain merasakan kenikmatan darimu. Hanya aku yang berhak atas tubuhmu, Niram. Hanya aku!" racau Alfaruk di sela-sela kenikmatan yang sedang dia reguk saat ini.
"Tapi kenapa, Tuan. Bukankah pekerjaan aku hanya seorang penghibur? Jadi, siapa pun yang membeli tubuhku, aku wajib melayaninya bukan?" tanya Niram, masih asyik bergerak berirama di atas pinggul tamunya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Niram. Alfaruk sontak membuka mata. Dengan cepat, dia menarik kedua tangan Niram hingga wanita itu jatuh menimpa dada bidangnya. Dengan cekatan, Alfaruk merubah posisi hingga terbalik. Kini, dia yang mulai memimpin permainan. Alfaruk menghentakkan senjatanya begitu kuat.
"Karena kau, wanitaku!"