
Tak berapa lama, Magdalena mengikuti Niram dari belakang. Dia memang enggan untuk menjadi seorang cleaning service. Karena itu dia pun tidak berminat untuk memasukkan surat lamarannya ke kantor ini. Namun, sebagai seorang teman yang baik. Magdalena pasti akan memberikan support untuk Niram.
"Semangat, Ram!" bisik Magdalena setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Niram.
"Terima kasih, Len," balas Niram sembari tersenyum manis menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.
Tiba di meja resepsionis.
"Maaf, Mbak. Jika saya ingin melamar pekerjaan sebagai cleaning service, ke mana saya harus menyerahkan surat lamaran ini?" tanya Niram.
"Oh, Mbak bisa simpan saja di sini terlebih dahulu," jawab Hana.
Dahi Niram mengernyit. "Apa tidak langsung di-interview?" tanyanya.
Hana tersenyum. "Tidak, Mbak. Untuk prosedurnya, kami akan mengumpulkan terlebih dahulu surat lamaran yang masuk sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Setelah pendaftaran ditutup, kami akan menyeleksi terlebih dahulu, mana-mana saja calon pekerja yang layak dan memenuhi kriteria persyaratan. Setelah itu, baru kami akan menghubungi mereka untuk melakukan interview," papar Hana dengan jelas.
Niram tersenyum tipis. Sedangkan Magdalena bergumam pelan. "Huh, mau jadi tukang bersih-bersih aja, prosesnya ribet banget!"
Hana yang mendengar gumaman Magdalena, hanya bisa tersenyum. Hatinya memang kesal, tapi sebagai seorang resepsionis, Hana dituntut untuk memiliki attitude yang baik. Termasuk ramah dan bersabar.
"Maaf, Mbak. Memang sudah seperti itu proseduralnya," kata Hana, sopan.
Kembali Niram tersenyum seraya berkata, "Iya, tidak apa-apa, Mbak."
"Ya sudah, cabut yuk!" ajak Magdalena sembari menarik pelan ujung kerudung Niram.
"Sebentar, Len!" Tahan Niram. "Maaf, Mbak. Kira-kira berapa lama saya harus menunggu hasil seleksi berkas-berkas?" tanya Niram kepada Hana.
"Pendaftaran ditutup dua hari lagi. Biasanya, setelah tiga atau empat hari pendaftaran ditutup, pengumuman lolos kualifikasi berkas akan diumumkan kepada para pelamar," tutur Hana.
"Oh, lama juga, ya," sahut Niram.
"Ditunggu saja, Mbak. Yang penting nomor telepon yang akan kami hubungi, harus jelas dan aktif. Supaya kami mudah memberikan kabar," lanjut Hana.
"Iya, Mbak. Insya Allah, nomor yang saya tulis di sana sudah jelas dan aktif juga. Kebetulan itu nomor ponsel paman saya," jawab Niram, polos.
"Baiklah, nanti akan saya kabari begitu pengumuman seleksi berkasnya sudah dibuka," balas Hana.
"Terima kasih, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Niram.
Setelah dipersilakan, Niram dan Magdalena keluar dari kantor berita Inspirasi dan Realita.
"Huh, benar-benar banyak aturan ni kantor," gerutu Magdalena begitu tiba di tepi jalan raya.
"Sudah, ah! Nggak ada manfaatnya ngedumel terus," tegur Niram. "Sekarang kita ke mana, nih?" tanyanya.
"Kita ke Mangga Dua, yuk! Siapa tahu di sana ada outlet-outlet yang buka lowongan pekerjaan," ajak Magdalena.
"Kamu mau jadi pramuniaga?" tanya Niram.
__ADS_1
"Yaa, daripada jadi cleaning service, sepertinya aku lebih tertarik jadi pramuniaga," jawab Magdalena. "Lumayan, 'kan, bisa cuci mata," imbuhnya.
"Hmm, ternyata ada maunya," ledek Niram seraya menonyor pelan salah satu bahu Magdalena.
"Kan sambil menyelam, minum air, Ram. Hahaha,..." jawab Magdalena, tertawa renyah.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.50. Itu artinya, hanya tersisa waktu 10 menit lagi sebelum absen kepulangan shift pertama.
Halim segera berkemas. Dia meneguk kopi hitamnya yang masih tersisa seperempat. Sejurus kemudian, Halim menyimpan peralatan keamanannya di loker yang tersedia di pos penjagaan. Halim mulai mengenakan jaket. Begitu pula dengan rekannya, Akhtam.
Sepanjang berbenah, senyum Halim tidak pernah sirna. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk pulang dan memberitahukan kabar gembira tentang kenaikan jabatannya kepada anak dan istrinya.
Hmm, mungkin ini yang namanya rezeki anak, atau anak membawa rezeki. Sekarang, Halim tidak harus kebingungan mencari penghasilan tambahan untuk biaya anak kembarnya yang masih berada dalam kandungan sang istri.
Kriiiiing!
Jam beker di atas meja kerja berbunyi tepat di pukul 17.00. Kedua penjaga keamanan shift dua pun sudah memasuki pos penjaga.
"Katanya ada yang naik jabatan, nih," kata Eman.
"Eh, tahu dari mana?" tanya Halim, heran.
"Wah, seharian gue enggak pegang HP tuh," balas Halim.
"Hahaha, ya sudah, selamat ya Bro!" kata Eman.
Secara bergantian, Eman dan Diman mengucapkan selamat seraya menjabat tangan Halim.
"Makasih, Bro!" sahut Halim.
.
.
Sepanjang hari, Niram dan Magdalena berkeliling di pusat perbelanjaan yang berada di Mangga Dua. Mereka menyambangi toko-toko untuk mencari pekerjaan. Namun, dari puluhan toko yang mereka sambangi, tak ada satu pun yang membutuhkan karyawan baru.
Setelah beristirahat sejenak, Niram dan Magdalena memutuskan untuk pulang. Mereka kembali menaiki bus yang akan membawa mereka kembali ke halte tempat pertama mereka membuat janji temu.
"Apa besok kita akan mencari pekerjaan lagi, Len?" tanya Niram.
"Minggu depan aja deh, Ram. Kakiku rasanya pegel banget setelah dua hari berturut-turut ngukur jalanan," jawab Magdalena memasang muka kusut.
"Hehehe, ya sudah, kita istirahat saja dulu untuk beberapa hari. Senin depan, kita ketemuan lagi di sini. Gimana?" usul Niram.
"Boljug, tuh!" sahut Magdalena.
__ADS_1
"Boljug?" ulang Niram, heran.
"Hehehe, boleh juga maksudnya," balas Magdalena.
"Aih, kamu ... Ya sudah, aku duluan ya. Assalamu'alaikum!" pamit Niram seraya menghentikan angkot.
Magdalena hanya melambaikan tangan untuk menjawab salam Niram. Setelah angkot yang ditumpangi Niram melaju, Magdalena mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
"San, jemput gue. Cape banget!" rengek Magdalena.
"Oke!"
.
.
Niram tiba di rumah bertepatan dengan motor Halim yang baru saja distandarkan.
"Assalamu'alaikum, Paman!" sapa Niram.
Halim mendongak. Senyumnya terbit ketika melihat keponakannya datang.
"Wa'alaikumsalam, Nak," jawab Halim. "Gimana interview-nya? Lancar?" imbuh Halim.
"Belum di-interview, Paman. Hanya memasukkan lamaran saja," jawab Niram.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting ada usaha," timpal Halim.
"Oh iya, Paman. Tadi Niram mencantumkan nomor telepon Paman di dalam surat lamaran Niram. Katanya untuk menghubungi pengumuman lolos berkas. Paman enggak keberatan, 'kan?" tanya Niram.
"Tentu saja Paman tidak keberatan, Ram," jawab Halim. "Maaf, ya. Paman belum bisa membelikan kamu ponsel untuk berkomunikasi," sesal Halim seraya mengusap pucuk kepala Niram.
"Tidak apa-apa, Paman. Lagi pula, Niram belum terlalu membutuhkannya juga," jawab Niram.
"Tidak usah khawatir, Nak. Paman janji, bulan depan, Paman akan membelikan kamu ponsel. Supaya lebih mudah untuk berkomunikasi," tutur Halim.
Imas yang mendengar percakapan Halim dan Niram dari ruang tamu, sontak keluar.
"Memangnya, punya uang dari mana sampai Abang menjanjikan beliin dia HP. Udah deh ... enggak usah terlalu banyak ngayal," cibir Imas kepada suaminya.
Halim tersenyum. Meskipun merasa kesal dengan cibiran istrinya yang selalu menganggap remeh setiap usaha dia. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk marah, emosi ataupun bersedih. Ada kabar bahagia yang Halim ingin bagi bersama keluarganya.
"Sudahlah, Ma. Papa enggak punya waktu buat nanggepin hinaan kamu. Hari ini, Papa lagi bahagia banget. Dan Papa ingin berbagi kebahagiaan bersama kalian. Sebanyak apa pun cibiran Mama, Papa tidak peduli," sahut Halim.
"Kabar bahagia?" ulang Niram, mengernyit, "kabar bahagia apaan, Paman?" tanya Niram yang merasa ikut senang mendengarnya.
"Sebentar lagi, Paman akan diangkat menjadi kepala divisi keamanan!" seru Halim penuh semangat.
"Alhamdulillah...."
__ADS_1