Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Keluar Kandang Singa, Masuk Kandang Buaya


__ADS_3

Niram terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Kakinya sudah terasa sakit, tapi dia tidak menghiraukannya. Dia tidak ingin tertangkap lagi dan disekap orang-orang jahat itu lagi.


Niram menghentikan langkahnya setelah berhasil keluar dari gerbang samping rumah sakit. Dia sedikit membungkukkan badan untuk melepas lelah. Sejenak, Niram menarik napas panjang. Sedetik kemudian, Niram pun kembali berlari dan semakin menjauhi rumah sakit.


Entah ke arah mana Niram berlari. Dia benar-benar merasa asing berada di kota Jakarta yang begitu luas. Setelah menyadari dia sudah cukup jauh berlari, Niram kemudian memperlambat ritme langkahnya.


Kaki Niram sudah sangat pegal. Namun, dia tidak boleh menghentikan langkahnya. Terseok-seok Niram terus berjalan menyusuri trotoar. Untuk menghindari keramaian, Niram kemudian berbelok arah menuju sebuah gang.


Tak sanggup lagi berjalan, Niram menghentikan langkahnya di pertengahan gang sempit. Dia mengedarkan pandangannya. Tak ada siapa pun yang melintas di gang ini. Tebingnya yang menjulang tinggi, menandakan jika mungkin saja gang itu adalah pembatas antara bangunan pabrik yang satu dengan pabrik yang lainnya. Begitulah dalam pikiran Niram.


Merasa lelah yang amat sangat, Niram menyandarkan punggungnya pada dinding tebing. Wajahnya mendongak. Keringat sudah bercucuran di sekitar kening dan kedua pelipisnya. Tiba-tiba, Niram teringat kembali kejadian pahit yang menimpanya


Ya Tuhan ... kenapa tante Imas tega membohongi aku? Dan kenapa ayahnya tante Imas menjualku kepada orang-orang menyeramkan itu? A-apa memang mereka sudah bersekongkol? Apa memang sebelumnya mereka sengaja membodohi aku? Apa sebelumnya, mereka sudah punya niat untuk menjual aku?


Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam hati Niram. Dan Niram begitu menyesalinya karena terlalu mempercayai Imas. Seharusnya dia sadar. Saat dia datang, Imas sudah sangat tidak menyukainya. Mana mungkin dia berubah menjadi baik tanpa alasan.


"Argh ... bodoh-bodoh ... kamu benar-benar bodoh, Ram!" umpat Niram kepada dirinya sendiri.


Brugh!


Sepertinya, kedua kaki Niram sudah tidak mampu menopang lagi tubuhnya. Terlebih lagi, ketika bayangan senyum kedua orang tuanya melintas dalam benak Niram. Dadanya pun terasa sesak.


"Astaghfirullahaladzim!" gumam Niram yang mulai menundukkan wajahnya.


Niram sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Dia bingung, tapi dia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan kebingungan ini. Tempat ini begitu asing baginya. Terlebih lagi di malam hari. Niram hanya mampu berdo'a. Semoga Tuhan mengirimkan malaikat penolong untuknya di malam yang semakin gelap gulita.


Tanpa Niram sadari, sepasang mata sedang mengawasi gerak-geriknya sedari tadi.


"Hmmm sepertinya, ini malam keberuntungan aku," gumam si pengintai, menyeringai.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Pertanyaan seorang pemuda sontak membuat Niram mendongakkan wajahnya. Matanya yang bengkak dan buram karena terhalang linangan air mata, membuat Niram menyipitkan sebelah mata untuk melihat pemuda itu dengan jelas.

__ADS_1


Niram kembali mengedarkan pandangannya. Tidak ada orang lain yang berlalu lalang di gang sempit ini selain dia dan pemuda itu. Seketika, nyali Niram menciut membayangkan kemungkinan buruk yang dia alami.


Melihat perubahan pada wajah gadis itu, si pemuda merasa kebingungan. Dia paham jika gadis itu mungkin saja merasa takut padanya. Secara, malam sudah semakin larut, dan di gang sempit ini pun hanya ada mereka berdua.


"Tenanglah, Nona. Aku bukan pemuda berandalan seperti yang kamu kira," ucap pemuda itu.


Niram tidak menjawab. Dia hanya mendekap kedua lututnya dengan erat.


Sedetik kemudian, pemuda itu berjongkok di hadapan Niram. Kedua tangannya terulur untuk menyentuh kedua lutut Niram. Namun, sebelum dia berhasil menyentuhnya, gadis itu berteriak keras. Membuat si pemuda hanya mengangkat kedua tangannya.


"Pergi kamu!" jerit Niram.


"Wow-wow! Tenanglah Nona, aku hanya ingin menolong kamu. Jadi jangan terlalu histeris seperti ini, oke?" ujar pemuda itu.


Niram tidak menjawab. Dia hanya menatap pria itu dengan tajam.


"Ayolah, Nona ... sedikit bekerja samalah denganku. Aku hanya merasa prihatin padamu. Dari tadi, aku perhatikan kamu seperti sedang kebingungan. Karena itu aku menghampiri kamu. Barangkali, ada yang bisa aku bantu? Lagi pula, sedang apa kamu di luar malam-malam seperti ini?" oceh pemuda itu.


Niram diam. Dia mencoba mencerna ocehan pemuda berjaket itu. Dari penampilannya, pemuda itu terlihat cukup sopan meskipun mengenakan jaket. Dia tidak seperti pemuda-pemuda berandalan yang selalu mengganggu Niram di ujung gang rumah kontrakan pamannya.


Pemuda itu kembali mengoceh. Namun, sepertinya Niram enggan menanggapi ocehannya.


"Hhh, ya sudah ... terserah kamu saja! Jika memang kamu betah melamun sendirian di sini, silakan! Aku sih ogah harus dikerubutin nyamuk seperti ini," keluh pemuda itu seraya beranjak dari atas paving blok.


Baru tiga langkah kakinya melangkah, teriakan Niram menghentikannya.


"Tolong antarkan aku ke terminal Kampung Rambutan!" teriak Niram.


Pemuda itu menautkan kedua alisnya. Uuh, merepotkan saja. Kampung Rambutan, 'kan cukup jauh jaraknya dari sini, batinnya.


Sedetik kemudian, pemuda itu membalikkan badan. "Memangnya kau mau pergi ke mana?" tanyanya.


Niram berdiri. Sejurus kemudian, dia mengayunkan langkahnya menghampiri pemuda itu.

__ADS_1


"A-aku hanya i-ngin pulang ke kampung halamanku. Apa kau bisa mengantarkan aku ke terminal?" pinta Niram seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah. Motorku di ujung gang. Apa kamu masih sanggup berjalan?" tanya pemuda itu.


Niram mengangguk.


Sesaat kemudian, mereka berjalan beriringan keluar dari gang sempit itu.


.


.


Semakin malam, Ahsan semakin tidak bisa memejamkan mata. Entah kenapa, bayangan gadis itu masih terus saja menggangunya.


Astaghfirullah, padahal aku sudah mendo'akan kamu, nona. Aku berharap kamu baik-baik saja, tapi entah kenapa kamu masih menggangguku? Kenapa kamu masih menari-nari dalam pikiranku? Monolog Ahsan dalam hatinya.


"To-long a-aku!"


Kembali kalimat lirih gadis itu menggema di telinga Ahsan. Lagi-lagi Ahsan beristighfar. Bahkan, kali ini peluh membasahi sekujur tubuhnya.


Klik!


Ahsan menarik tombol lampu tidurnya. Dia meraih gelas dari atas nakas dan mereguk isinya. Hatinya benar-benar tidak nyaman. Mimpi tentang seorang gadis yang tengah teraniaya, kembali menyergap pikirannya.


"Ya Tuhan ... firasat apa sebenarnya ini?" gumam Ahsan meraih jam bekernya. "Pukul dua. Sebaiknya aku tahajud saja," imbuhnya.


.


.


Udara malam semakin dingin. Perjalanan yang dilewati pun sudah semakin jauh. Kini, perjalanan melewati rimbunan pepohonan yang minim pencahayaan. Tiba-tiba saja, motor yang dikendarai pemuda itu berbelok menuju sebuah taman yang sepi.


"Ke-kenapa jalannya sepi dan gelap sekali?" tanya Niram, gugup.

__ADS_1


"Ini jalan pintas, Nona. Kalau melewati jalan raya, bisa subuh kita sampai di terminal," balas pemuda itu.


Niram diam. Sedikit pun dia tidak menaruh curiga kepada pemuda tersebut. Hingga di saat pemuda itu membelokkan motornya menuju rumah yang gelap tanpa pencahayaan, Niram mulai tersadar. Dia telah keluar kandang singa, tapi masuk ke kandang buaya


__ADS_2