Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Cemburu


__ADS_3

"Apa maksud lu menebus dari Mama Rossa, Nir? Dan siapa itu Mas Alfar?"


Yura mencecar Niram dengan berbagai pertanyaan. Jujur saja, Yura sendiri tidak mengerti dengan kata menebus. Entah perjanjian apa yang tidak dia ketahui antara Niram dan orang yang telah menyelamatkan hidupnya.


Selama hampir sepekan, Niram tinggal di tempat Mama Rossa. Bahkan, Yura sendiri tidak pernah bisa menemui Niram, karena Mama Rossa memang melarang dia untuk bertemu dengan kawan barunya itu.


Niram kembali mereguk air kunyit. Perlahan, darahnya seperti mulai mengalir kembali di setiap pembuluh darah. Hingga wajah pucat Niram, kini terlihat memerah.


"Tuan Alfaruk, dia orang yang telah membeli tubuhku untuk pertama kalinya," tutur Niram mulai bercerita.


"Lantas?" Yura sepertinya semakin penasaran dengan pekerjaan Niram yang pertama kali baru dilakoninya.


"Dia telah memberikan sejumlah uang kepada Mama Rossa dengan satu syarat ..." jawab Niram menjeda kalimatnya.


Yura sedikit berdecak kesal karena cerita Niram tertahan. Dia lantas menyerahkan gelas yang berisi sisa air kunyit dan meminta Niram untuk menghabiskannya.


"Habiskan! Biar lu punya tenaga untuk bercerita!" titahnya.


Niram tersenyum tipis. Dia lantas mengambil kembali gelas itu dan mereguk isinya hingga tandas.


"Ceritakanlah sedetail-detailnya, biar gue enggak mati penasaran!" lanjut Yura.


"Hehehe, Mbak bisa saja," sahut Niram.


"Ish udah, enggak usah cengengesan kayak gitu, enggak lucu! Ayo, teruskan ceritanya!" titah Yura sambil meraih gelas kosong dari tangan Niram.


"Hhh ..." Niram menghela napasnya. "Sepertinya, dia sangat puas dengan servis yang Niram berikan, Mbak. Sampai dia melarang Niram untuk melayani tamu yang lainnya," imbuh Niram.


"Benarkah?" pekik Yura dengan wajah terkejut dan semakin penasaran.


"Iya. Dia bilang, Niram hanya boleh melayani dia saja. Dia berjanji, apa pun yang Niram minta, dia akan memenuhinya, asalkan Niram hanya menjadi pemuasnya saja," tutur Niram.


"Terus ... apa lu bersedia?" tanya Yura yang rasa penasarannya semakin membuncah.


"Awalnya Niram tidak bersedia, Mbak. Jika dia memang menginginkan Niram untuk melayaninya saja, Niram minta dia menikahi Niram," lanjut Niram.

__ADS_1


"Apa?!"


Yura semakin terkejut mendengar kenekatan seorang Niram. Bagaimana bisa dia melakukan semua itu? Menurut Yura, di dalam kamus dunia malam, tidak ada kata menikah bagi seorang wanita yang berprofesi sebagai wanita penghibur.


"Lantas, apa yang dia jawab?" Kembali Yura bertanya.


"Dia tidak bisa menikahi Niram dengan alasan tidak ingin mengkhianati pernikahannya!" Niram tersenyum getir. "Cih, tidak ingin mengkhianati, tapi sering bermalam dengan wanita penghibur. Apa bedanya," cebik Niram.


"Hahaha, sudahlah Nir. Itu bukan urusan kita. Selama kita mendapatkan bayaran atas pelayanan kita, selebihnya kita tidak punya hak untuk mencampuri kehidupan pribadi mereka," tutur Yura.


"Ya, Mbak benar," timpal Niram.


"Lalu, bagaimana kelanjutannya. Kenapa lu tolak tawaran dia? Bukankah selama ini, dia akan menjamin semua kebutuhan lu, termasuk kebutuhan finansial lu," sambung Yura.


"Aku tidak mau berjalan tanpa status, Mbak. Dia mampu membohongi istrinya. Lantas, bagaimana jika dia membohongi aku? Bagaimana jika tiba-tiba dia tidak memenuhi janjinya? Apakah aku harus menunggu pria bajingan seperti dia hingga kelaparan? Saat ini, aku bukan Niram yang bodoh lagi, Mbak. Yang selalu percaya begitu saja kepada orang lain. Terlebih lagi, orang sepintas," lanjut Niram.


"Lalu?" Yura kembali bertanya.


Bukannya menjawab, Niram malah meraih tas selempangnya. Sedetik kemudian, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempang. Sesuatu yang membuat kedua bola mata Yura, membulat seketika.


"Blackcard?" pekik Yura.


"Tunggu! Jangan bilang ... jika kamu menjadi simpanannya laki-laki itu," tebak Yura.


"Sudahlah, Mbak. Menjadi simpanan ataupun bukan, itu tidak jadi masalah selama kita pegang uang. Nanti malam, Mbak liburlah bekerja. Kita akan bersenang-senang menggunakan kartu ini. Tadi mas Alfar sudah memberitahu Niram bagaimana cara menggunakannya," balas Niram.


"Memangnya nanti malam lu, free?" tanya Yura.


"Mas Alfar ada meeting mendadak ke luar kota selama dua hari. Jadi, dua malam ke depan, aku bebas," sahut Niram.


Yura tersenyum. "Jangan lupa nabung, Nir. Kita enggak tahu apa yang bakalan menimpa kita di masa depan nanti," imbuh Yura.


Niram mengangguk.


.

__ADS_1


.


Hari demi hari terus terlewati. Halim masih mencoba mencari keberadaan Niram. Sempat terpikir oleh Halim untuk menghubungi kakaknya di kampung. Namun, Halim takut jika Niram memang tidak pernah pulang kampung. Lantas, apa yang akan Halim jawab jika kakaknya bertanya tentang Niram? Halim pun mengurungkan niatnya.


Setiap pulang kerja, Halim menyusuri jalanan ibu kota untuk mencari keberadaan Niram. Namun, tak ada satu pun petunjuk yang bisa dia temukan. Satu-satunya orang yang terakhir bertemu dengan Niram, adalah mendiang istrinya.


Terkadang, Halim merasa frustasi. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Niatnya untuk membantu mendapatkan pekerjaan bagi keponakannya, justru malah membuat Halim kehilangan keponakannya.


Ya Tuhan ... ke mana lagi aku harus mencari Niram? batin Halim.


Di lain tempat. Niram semakin asyik dengan dunianya. Dia mulai terbiasa dengan aktivitas dunia malam. Bukan sekali dua kali, Alfaruk mengajak Niram untuk menikmati dugem di berbagai club malam yang ada di Jakarta. Dan Niram mulai menikmati status barunya. Menjadi sugar baby.


"Sayang, besok aku harus terbang ke Dubai. Mungkin untuk sepekan, kamu tidak keberatan, 'kan?" tanya Alfaruk seraya mengenakan kemejanya.


Niram yang masih bergelung selimut, seketika beranjak dari tempat tidur. Dia mendekati Alfaruk dan membantu pria itu untuk mengancingkan pakaiannya.


"Kau pergi sendirian?" tanya Niram, yang dengan lincah, jari-jemarinya memasukkan kancing ke lubangnya satu per satu.


"Tidak, aku pergi dengan istriku," jawab Alfaruk.


Seketika, Niram menghentikan aktivitasnya. Dia sadar, seharusnya wanita yang berprofesi sepertinya, tidak pernah punya hak untuk cemburu. Apalagi terhadap istri sah tamunya. Namun, entah kenapa Niram merasa tidak suka saat seorang wanita disebut oleh Alfaruk di kala mereka sedang bersama.


"Oh, ayolah Sayang ... jangan bilang kamu cemburu. Aku hanya pergi untuk berbisnis, sedangkan dia pergi untuk menemui saudaranya yang tinggal di sana," sahut Alfaruk yang menyadari perubahan raut wajah wanita kecilnya.


"Apa pun yang akan kalian lakukan, itu bukan urusanku!" dengus Niram terlihat kesal.


Niram kemudian membalikkan badan untuk menghindari tatapan menggoda Alfaruk. Namun, nahasnya ... kaki Niram menginjak ujung selimut hingga mau tidak mau, Niram pun limbung.


"Eh, awas!" Dengan sigap Alfaruk menarik selimut agar Niram tidak terjatuh ke lantai.


Bugh!


Niram terjatuh dengan posisi yang menguntungkan Alfaruk. Akibat tarikan tangan pria itu, selimut yang menutupi tubuh polosnya tersingkap sempurna. Menampakkan tubuh mulus Niram yang selalu membuat gelanyar aneh di hati Alfaruk.


"Astaga, Niram! Kau selalu tahu bagaimana membuat aku betah bersamamu. Hup!" ucap Alfaruk seraya menggendong tubuh polos Niram.

__ADS_1


Langkah tegap pria itu kembali mendekati ranjang. Dia membaringkan wanitanya di atas ranjang dengan kaki yang terjuntai ke bawah. Alfaruk mengambil posisi berjongkok. Dia membelah kedua jenjang kaki milik Niram. Dengan penuh gairah, indera perasa Alfaruk mulai mulai menikmati kubangan kecil itu.


"Ah, ribuan kali aku mencicipinya, entah kenapa rasanya selalu menyegarkan," ucap Alfaruk menyeka bibirnya yang mulai basah.


__ADS_2