Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Rudapaksa


__ADS_3

Menyadari hidupnya dalam bahaya, Niram melompat dari atas motor. Perbuatan nekat Niram, sontak membuat pemuda itu menghentikan motornya.


Setelah menstandarkan motornya, dengan sigap pemuda itu mengejar Niram yang kesulitan untuk berlari. Gelapnya suasana malam, memperlambat gerakan Niram.


Grep!


Pemuda itu mencekal pergelangan tangan Niram. Dengan kekuatan penuh, pemuda itu menyeret Niram menuju sebuah rumah tua.


Brak!


Hanya dengan satu tendangan, pintu langsung terbuka lebar. Pemuda itu terus menarik lengan Niram hingga Niram berjalan terseok-seok.


Niram sudah berusaha untuk melawan. Namun, cengkeraman tangan pemuda itu begitu kuat.


"Lepaskan aku! Lepas!" teriak Niram, memberontak. Tangan kanan Niram berusaha untuk membuka genggaman kuat pemuda itu.


"Lepaskan aku! Lepaskan ... aku mohon!"


Kini, teriakan Niram berubah menjadi sebuah permohonan. Namun, pemuda itu tidak menghiraukan permohonan Niram. Meskipun suara Niram terdengar sangat memilukan.


"Tolong ...! Tolong aku!"


Niram tidak ingin menyerah. Memang rasanya mustahil untuk mendapatkan pertolongan seseorang di tempat sepi. Namun, Niram masih mencoba berusaha.


Rumah tua ini begitu menyeramkan. Tak ada pelita yang bersinar di rumah ini. Akan tetapi, entah kenapa pemuda itu berjalan dengan mudahnya menaiki tangga. Padahal, Niram harus berulang kali tersandung anak tangga saat mengikuti langkah pemuda itu.


Ceklek!


Tiba di lantai atas, pemuda itu menekan handle pintu salah satu kamar di sana. Dengan sekali dorongan, Niram terjerembab di atas ranjang yang berdebu.


"Uhuk-uhuk!"


Debu yang bertebaran, membuat dada Niram terasa sesak. Niram pun mulai terbatuk-batuk. Di saat dia tengah lengah, tiba-tiba ....

__ADS_1


Sret!


Pemuda itu menarik kerudung Niram hingga terlepas. Dia pun menyeringai ketika melihat rambut hitam legam Niram tergerai. Dalam remangnya cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela kamar, wajah pucat Niram semakin terlihat mempesona.


Dengan tatapan liarnya, pemuda itu seakan tengah menelanjangi tubuh Niram. Sontak Niram pun menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Niram sadar jika dia tengah mengenakan blouse yang memiliki belahan dada cukup rendah.


Melihat tingkah Niram, pemuda itu semakin menyeringai. Perlahan, dia mendekati Niram yang sudah duduk di atas ranjang.


"Jangan mendekat!" teriak Niram seraya beringsut di atas ranjang.


"Jangan mendekat! Atau aku ... aku ...."


Niram mengedarkan pandangannya. Mencoba mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membela diri. Namun, nihil! Gelapnya kamar, membuat Niram kesulitan untuk melihat.


"A-atau a-ku akan membunuhmu. Jangan mendekat!"


Niram kembali berteriak. Bahkan, kali ini dia melayangkan sebuah ancaman kepada pemuda itu. Namun, lagi-lagi si pemuda tidak menggubris ancaman Niram. Dia malah merangkak mendekati Niram yang sudah tersudut di atas kasur.


Srekk!


Pemuda itu menarik kuat kedua pergelangan kaki Niram. Sontak Niram jatuh telentang di hadapannya. Dan hal itu, membuat si pemuda semakin tersenyum lebar. Dengan satu kali gerakan, pemuda itu menindih tubuh Niram.


Niram memberontak. Seluruh tenaganya dia kerahkan untuk menahan pergerakan wajah si pemuda yang semakin mendekati wajahnya. Namun, pemuda itu tidak kehabisan akal. Kedua tangannya mencekal kedua pergelangan tangan Niram, menarik dan menahannya di atas kepala Niram. Dengan brutal, bibirnya mulai meraup penuh bibir mungil Niram dan mengisapnya dengan kuat.


"Hump ... humph!"


Niram masih berusaha berteriak seraya menggerak-gerakkan kepalanya untuk menghindari ciuman itu. Namun, tekanan bibir pemuda itu begitu kuat. Hingga membuat wajah Niram tertahan. Dengan rakusnya, si pemuda melu'mat penuh bibir berwarna merah muda milik Niram.


Tangan kanan si pemuda masih mencekal dan menahan pergelangan tangan Niram. Sedangkan tangan kirinya mulai menyusup di balik blouse yang dikenakan Niram. Tak puas hanya dengan memegang dan memilin, pemuda itu pun menarik kuat belahan blouse Niram. Kedua bukit kembar pun, sontak menyembul dari sarangnya.


Kenyal, penuh dan pastinya belum terjamah. Itu yang ada dalam benak si pemuda.


Dengan beringas, pemuda itu mengalihkan wajahnya. Bibir tebalnya mulai melahap buah khaldi' yang begitu segar. Layaknya seorang bayi, dia mengisapnya dengan penuh kenikmatan.

__ADS_1


"Le-paskan a-ku ba-jingan!"


Niram masih berusaha berteriak. Dia pun mulai mengumpat. Namun, yang keluar dari bibir mungilnya, hanya ucapan lirih saja.


"Ish!"


Niram bahkan meringis ketika deretan gigi rapi si pemuda, mulai menggigit kecil puncak salah satu bukit kembar miliknya.


Pemuda bertubuh tegap itu pun bangun. Namun, sedetik kemudian, dengan cekatan dia mulai melucuti helai demi helai kain yang melekat di tubuh Niram. Hingga tak membutuhkan waktu lama, hamparan tubuh putih bersih sudah terlihat begitu menakjubkan di depan matanya.


Niram sudah sangat tidak berdaya. Sisa tenaga yang dia miliki selepas kabur dari rumah sakit pun, kini sudah habis. Dia hanya mampu memejamkan mata ketika merasakan tangan jahil si pemuda, dengan paksa membuka seluruh pakaiannya.


Pergerakan si pemuda terhenti untuk beberapa menit. Perlahan, Niram mencoba membuka kedua matanya. Namun, Niram begitu terkejut ketika melihat benda asing, berdiri dengan pongahnya. Sontak Niram menutup matanya kembali. Dia berusaha kuat untuk menghindari serangan si pemuda.


Akan tetapi, lagi-lagi kepayahan mendera tubuh Niram. Pergerakannya yang lemah dan lambat, membuat si pemuda itu berhasil menangkapnya dengan mudah. Dengan satu kali dorongan, Niram kembali terjerembab di atas ranjang.


Sepersekian detik kemudian, pemuda itu mengungkung tubuh Niram dengan kuat. Kedua kakinya dengan paksa membelah jenjang kedua kaki milik Niram.


"Ja–"


"Aargh!"


"Tidak!"


Niram mengerjapkan matanya. Peluh mulai membasahi kening dan kedua pelipisnya. Rudapaksa itu terjadi dua tahun yang lalu. Namun, entah kenapa Niram masih belum mampu melenyapkannya dari dalam kepala.


"Sssht ...."


Niram kembali menepuk-nepuk bokong anaknya dengan perlahan. Teriakan Niram telah membangunkan Baby G yang sedang tertidur pulas.


"Tidurlah, Nak" gumam Niram seraya menyenandungkan sebuah shalawat.


Setelah melihat anaknya terlelap kembali. Niram pun mulai berganti posisi. Dia merebahkan tubuhnya di samping Baby G. Seluruh tulangnya terasa remuk setelah melayani hasrat gila si Tuan Subrata Kusuma.

__ADS_1


__ADS_2