Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Apa yang Kita Tanam, Itu yang Kita Tuai


__ADS_3

"Jangan gila kamu, Nir!" pekik Yura.


Sungguh, Yura tidak pernah ingin mempercayai pendengarannya barusan. Jauh di lubuk hatinya, Yura merutuki pekerjaan ini, tapi dia tidak punya pilihan lain. Yura berharap, di dunia ini, tidak akan ada Yura-Yura yang lain, yang harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dengan bergelimang dosa.


"Aku enggak gila, Mbak. Aku tahu, ini adalah keputusan terhina yang aku buat. Namun, aku juga sama seperti Mbak. Aku punya orang tua yang harus aku penuhi kebutuhan hidupnya. Di kampung, ayahku sakit keras dan butuh pengobatan yang sangat serius. Sedangkan ibuku, beliau sudah tua renta. Tidak bisa bekerja lagi. Satu-satunya pekerjaan yang masih beliau miliki, hanyalah memayet kain kebaya. Dan upahnya tidak sebanding dengan waktu yang beliau luangkan," tutur Niram panjang lebar.


"Tapi, Nir ..."


Yura masih tidak mengerti dengan keputusan yang Niram ambil. Jika saja perempuan itu adalah adiknya, tentu Yura akan menampar keras pipi merona perempuan belia itu. Bagi Yura, ini bukan keputusan final akan hidup Niram yang masih panjang.


"Aku mohon, Mbak. Ajak aku ke dunia Mbak," pinta Niram sembari mengatupkan kedua belah tangannya.


"Hhh ...."


Yura menghela napasnya cukup berat. Seperti ada puluhan burung yang terbang mengitari kepalanya, Yura pun merasa pusing. Entah masuk akal ataupun tidak tentang alasan Niram meminta pekerjaan itu, tapi Yura sadar, Yura tidak punya hak untuk mengatur hidup perempuan yang sepertinya sudah merasa frustasi.


"Kita lihat saja nanti, Nir! Aku mandi dulu," pungkas Yura seraya beranjak dari tempat duduknya.


Niram duduk terpaku selepas kepergian Yura. Dia hanya bisa menopang dagunya sembari terus membayangkan kedua orang tua yang sudah renta.


Tidak! Ayah dan ibu tidak harus tahu apa yang terjadi pada diriku. Seperti Mbak Yura yang mengambil keputusan ini demi adiknya, maka aku pun akan mengambil keputusan ini demi orang tuaku. Demi kesembuhan ayah dan demi kesejahteraan ibu, tekad Niram dalam hatinya.


.


.


Melihat telunjuk ibunya mengarah ke kamar, Rayyan pun segera berlari menuju kamar orang tuanya. Tiba di kamar, kedua mata Rayyan menyisir seluruh isi kamar untuk mencari ponsel milik ibunya.


Cukup lama Rayyan mencari benda pintar itu. Hingga akhirnya, ujung mata Rayyan menangkap benda pipih berwarna navy tersembul di bawah bantal sang ibu. Rayyan segera mengambil benda itu dan membawanya keluar.


"Ini ponselnya, Bu!" ujar Rayyan seraya menyerahkan benda pipih berwarna navy tersebut kepada ibunya.


"Hu-hubungi pa-pa kamu. Ce-pat!" pinta Imas.


Rayyan mengangguk. Dia mulai mencari nomor kontak Halim. Setelah beberapa detik, Rayyan pun mulai men-dial nomor tersebut.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi kepada ayahnya Rayyan. Berulang kali Rayyan memanggil nomor ayahnya. Akan tetapi, tidak satu pun panggilan itu diangkat oleh Halim.


"Ayolah, angkat dong Pa ..."gumam Rayyan yang masih bisa didengar oleh ibunya.


"Papa enggak angkat, Bang?" tanya lirih Imas.


Rayyan menggelengkan kepalanya.


"Ish, ke mana orang itu? Ini sudah lewat jam pulang, tapi kenapa bang Halim belum pulang? Apa dia sedang mencari keponakan sialan itu?" gerutu Imas, kesal.


Tiba-tiba ....


"Assalamu'alaikum, Papa!" sapa Rayyan setelah teleponnya tersambung.


"Wa'alaikumsalam, ada apa Abang telepon Papa, Nak?" tanya Halim di seberang telepon.


"Ini, Pa. Perut Mama kesakitan. Mama bilang, sepertinya dedek bayinya sudah mau lahir," tutur Rayyan.


"Astaghfirullahaladzim! Papa masih jauh, Nak. Begini saja, sekarang juga kamu minta bantuan Ibu Retno, tetangga sebelah. Minta tolong sama Bu Retno supaya membawa mama kamu ke rumah sakit. Kabari papa di rumah sakit mana mama ditangani, nanti Papa nyusul," ucap Halim, memberikan nasihat kepada anaknya.


"Baik, Pa. Kalau begitu, Abang tutup teleponnya. Assalamu'alaikum!" pungkas Rayyan.


Di ruang tengah, Imas masih duduk berselonjor. Berulang kali dia menarik napas dan membuangnya dengan kasar. Hal itu dia lakukan untuk meredakan rasa sakit di perutnya. Namun, percuma. Rasa sakitnya semakin mendera hebat. Hingga tanpa sadar, Imas meraung-raung memanggil nama almarhumah ibunya.


Di luar. Rayyan masih mencoba mengetuk pintu rumah tetangga. Namun, tak ada sahutan dari dalam rumah. Hingga tetangga depan rumah Bu Retno, menyembulkan kepalanya dari balik jendela.


"Ngapain kamu ketuk pintu rumah Bu Retno, Ray?" tanya wanita paruh baya, tetangga depan rumah.


"Rayyan mau minta tolong sama Bu Retno, Bu," jawab Rayyan.


"Minta tolong apa, Ray? Memang kamu kenapa? Saya lihat ... kamu baik-baik aja," tukas tetangga itu.


"Bukan untuk Ray, Bu, tapi untuk mama Ray," sahut Rayyan.


"Memang, mama kamu kenapa?" Si tetangga kembali bertanya.

__ADS_1


"Sepertinya, mama mau melahirkan, Bu. Papa kebetulan masih di jalan. Jadi papa nyuruh Rayyan buat minta bantuan Bu Retno," papar Rayyan.


"Mau kamu ampe gedor-gedor ntu pintu, Bu Retno enggak bakalan keluar. Orang dia enggak ada di rumah," timpal tetangga depan rumah.


Rayyan terkejut. Dia mulai kebingungan harus berbuat apa. Sementara di dalam rumah, ibunya pasti sedang sangat kesakitan.


"A-apa Ibu bi-sa membantu saya untuk membawa mama ke rumah sakit?" pinta Rayyan, memohon.


"Idih, ogah! Selama ini, Ibu kamu tuh enggak pernah baik sama gue. Kerjaannya cuma nyinyirin gue aja. Idih, mana gue mau nolongin tuh emak-emak yang mulutnya pedes. Tukang fitnah pula," dengus tetangga depan Bu Retno.


Rayyan memang tidak mengerti apa-apa tentang permasalahan orang dewasa. Akan tetapi, melihat raut wajah tetangga yang menggerutu kesal, Rayyan paham jika ibu itu tidak pernah ingin menolong ibunya. Karena itu, Rayyan berlalu pergi dari depan rumah tetangganya.


Tiba di teras rumah, Rayyan pun menghubungi ayahnya lagi.


.


.


Halim kembali menepi ketika merasakan ponselnya bergetar lagi. Setelah itu, dia merogoh saku jaket untuk mengeluarkan ponselnya. Halim kemudian mengangkat panggilan dari anaknya.


"Assalamu'alaikum, Bang. Gimana?" tanya Halim.


"Wa'alaikumsalam, Pa. Ibu Retno sedang tidak ada di rumah, Pa," tutur Rayyan.


"Apa ada tetangga lainnya yang bisa kamu mintai tolong, Nak?" Halim kembali bertanya.


"Tetangga depan rumah Bu Retno tidak mau menolong mama, Pa. Katanya, mama terlalu sering nyinyirin dia, karena itu dia tidak ingin membantu kita," papar Rayyan menceritakan percakapannya dengan tetangga depan rumah.


"Huft!"


Sejenak, Halim membuang napasnya dengan kasar. Dia memang kecewa dengan sikap tetangga itu, tapi dia juga tidak bisa menyalahkannya. Halim menyadari jika selama Ini, Imas memiliki sifat tidak terpuji. Dia terlalu sering ikut campur urusan orang lain. Bahkan, terkadang perkataannya tidak pernah disaring, asal ceplos dan sering menyakitkan.


Huh, mungkin ini yang namanya, apa yang kita tanam, itu yang kita tuai, batin Halim.


"Gimana ini, Pa?"

__ADS_1


Pertanyaan anaknya di ujung telepon, sontak membuyarkan lamunan Halim.


"Ya sudah, temani dulu mama kamu. Sebentar lagi Papa sampai!" pungkas Halim seraya menutup teleponnya.


__ADS_2