Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Pukul 9 malam, Halim akhirnya mengajak keluarganya untuk pulang. Sungguh, malam ini mereka sangat bersuka cita. Melihat rona kebahagiaan terpancar di wajah keluarganya, Halim pun sangat senang.


Rasa syukur tidak henti-hentinya dia gumamkan dalam hati.


"Semoga semua ini menjadi awal yang baik untuk kehidupan keluarga kami ke depannya." Do'a Halim.


"Ayo Rayyan, bersih-bersih dulu sebelum bobo!" perintah Halim. "Jangan lupa, tangan dan kakinya dicuci. Gosok gigi juga! Dari tadi di restoran, Rayyan makan coklat mulu!" tegur Halim.


Rayyan tersenyum lebar. "Abis kue coklatnya enak, Pa."


"Bener tuh, Dek. Coklatnya meleleh," timpal Niram.


"Huh, jelas saja enak. Orang kuenya dibandrol dengan harga selangit," celetuk Imas.


"Iya, ya Tan. Mahal banget. Padahal, kalau di kampung Niram. Bisa dapet ratusan kue dengan harga segitu," balas Niram.


"Yeayy ... jangan samakan kampung kamu dengan kota, dong!" tegur Imas. "Harusnya kamu bersyukur, karena sekarang kamu sudah jadi anak kota. Jadi, biasakan diri untuk menjadi wanita yang berkelas. Entah itu dari cara berpakaian, cara makan, cara bicara. Enggak kek model kamu sekarang, yang kampungan itu!" ejek Imas.


Mendengar hinaan yang kembali dilontarkan bibinya, Niram hanya bisa menghela napas. Dia pun berniat pergi ke kamar mandi untuk menghindari perdebatan bibi dan pamannya. Dia sangat tahu, bagaimana Halim begitu menyayangi dirinya dan selalu membelanya ketika sang bibi memperlakukan Niram dengan buruk.


"Paman, Tante ... Niram ke kamar dulu," pamit Niram.


"Iya, silakan Nak. Kamu pasti lelah, istirahatlah!" jawab Halim.


.


.


Keesokan harinya.


Seperti biasa, keluarga Halim menjalankan rutinitas kesehariannya. Perbincangan hangat pun kembali terjadi di meja makan saat sarapan.


"Hari ini, ada rencana melamar pekerjaan ke wilayah mana, Ram?" tanya Halim, membuka pembicaraan.


"Rencananya, hari ini Niram libur dulu mencari pekerjaan, Paman. Kaki teman Niram sakit, dan kami memutuskan untuk berhenti dulu. Ya, sekalian nunggu jawaban lolos kualifikasi dari kantor yang kemarin," tutur Niram.


"Oh, baiklah kalau begitu. Nanti, semisal Paman sudah berangkat untuk latihan, kalau ada kabar dari kantor, akan Paman kirimkan langsung ke nomor bibi kamu," lanjut Halim.


"Baik, Paman," jawab Niram.


Imas hanya memutar kedua bola matanya. Dia merasa jengah melihat keakraban Halim dan Niram.


"Oh iya, Ram. Apa selepas dzuhur, ibu kamu ada di rumah?" tanya Halim.

__ADS_1


Niram menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran mendengar pertanyaan pamannya tentang sang ibu.


"Memangnya kenapa, Paman?" Niram balik bertanya.


"Enggak, Paman mau menghubungi pak RT. Ingin memberi tahu ibu kamu tentang kabar bahagia ini," sahut Halim.


Niram tersenyum. "Iya, Paman. Selepas dzuhur, ibu selalu ada di rumah, karena beliau memang harus mengurus ayah juga," kata Niram.


"Hmm, ya sudah. Nanti, saat jam istirahat kantor, Paman hubungi mereka," lanjut Halim.


"Titip salam untuk ibu sama ayah, Paman," ucap Niram.


Halim tersenyum. "Tentu saja, Nak."


.


.


"Ayolah pulang, Sya! Mau sampai kapan lu ngambek terus?" bujuk Ahsan kepada sahabatnya.


"Enggak, San. Pokoknya gue enggak mau pulang sebelum bisa buktiin kemampuan gue ke bokap sama nyokap," sahut Natasya.


"Jujur, Sya. Sebenarnya gue enggak peduli, lo mau ngambek kayak apa pun. Tapi tolong jangan libatkan gue," balas Ahsan, memelas.


"Ish, siapa juga yang mau libatin lu. Gue enggak pernah nyuruh-nyuruh lu buat datang kemari, ya!" bentak Natasya.


"Yaelah, San ... lu perhitungan banget sih, sama gue," ucap Natasya.


"Bukan perhitungan, Sya. Gue cuma bersikap realistis saja. Kalau lu emang mau keluar dari rumah, setidaknya jangan nyeret-nyeret orang lain. Emangnya lu enggak tahu, hampir setiap hari nyokap lu telepon gue dan minta gue buat ngebujuk lu supaya lu pulang," jawab Ahsan. "Lagian lu kenapa sih, enggak kuliah aja? Setidaknya, saat lu kuliah dan memilih kampus yang cukup jauh, lu bisa ngehindari pertengkaran bokap nyokap lu," imbuh Ahsan.


"Kek elu?" celetuk Natasya.


Ahsan hanya bisa menggaruk kepalanya. "Ya enggak gitu juga kali, Sya," jawabnya serba salah.


"Elu mah enak, kuliah di luar kota tapi masih bisa bareng sama keluarga, yaitu kakek dan nenek lu. Dan otak lu juga sangat encer. Lah gue ...? Udah otak gue pas-pasan, eh kakek dan nenek gue juga udah enggak ada," keluh Natasya.


Ahsan hanya tersenyum kecut mendengar keluhan sahabatnya sedari kecil.


.


.


Sementara itu, selepas dzuhur Halim menyempatkan waktu untuk menghubungi ketua RT yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah kakaknya.

__ADS_1


Halim menunggu beberapa saat, hingga sebuah pesan, masuk di ponselnya. Halim tersenyum. Dia kembali menelepon ketua RT tempat kakaknya tinggal.


"Halo, assalamu'alaikum Lim!" sapa Halimah di ujung telepon.


"Wa'alaikumsalam, Ceu," jawab Halim.


"Ah syukurlah kamu menelepon, Lim. Eceu sudah kehabisan kata-kata untuk kakak ipar kamu. Huh, hampir setiap hari dia menanyakan keadaan Niram. Mungkin dia sudah sangat merindukan putrinya itu," tutur Halimah.


"Hehehe, maaf Ceu. Halim baru punya waktu luang. Karena itu Halim baru bisa menghubungi Eceu," sahut Halim.


"Iya, tidak apa-apa Lim. Eceu bisa ngerti kesibukan kamu. Oh iya, gimana kabarnya Niram, Lim? Apa dia sehat? Dia sudah bekerja?" cecar Halimah.


Untuk sejenak, Halim tidak menjawab. Dia merasa bingung harus menjawab seperti apa. Bagaimanapun, dia telah gagal memasukkan Niram bekerja di kantornya.


"Lim!" panggil Halimah yang langsung membuyarkan lamunan Halim.


"Alhamdulillah, kabar Niram baik-baik saja, Ceu. Sekarang, dia mulai sibuk dengan urusan pekerjaannya," sahut Halim, berbohong.


"Ah syukurlah kalau dia sudah bekerja. Eceu senang mendengarnya," sahut Halimah terdengar gembira.


"Oh iya, Ceu. Halim ingin menyampaikan kabar gembira sama Eceu," lanjut Halim.


"Benarkah? Kabar apa itu, Lim?" tanya Halimah menjadi penasaran.


"Halim naik jabatan, Ceu!" seru Halim penuh semangat.


"Waaah ... selamat ya, Lim. Eceu ikut senang mendengarnya," balas Halimah memekik gembira.


"Iya, terima kasih, Ceu," ucap Halim.


"Emak sama bapak pasti ikut senang di alam sana, Lim," lanjut Halimah, terharu.


Halim tersenyum tipis. "Iya, Ceu."


Tak ingin membuat kakaknya lebih bersedih lagi, Halim pun berniat untuk memutuskan sambungan teleponnya.


"Ceu, sudah dulu ya. Halim harus kembali bekerja. Salam buat kang Ana," imbuh Halim.


"Iya, Lim. Nanti Eceu sampaikan kepada kakak ipar kamu," jawab Halimah. "Lim, tolong jaga Niram dengan baik, ya. Ingatkan dia untuk shalat lima waktu," pinta Halimah kepada adik satu-satunya.


"Iya, Eceu tidak usah khawatir," pungkas Halim mengakhiri pembicaraannya.


Telepon terputus. Untuk sejenak, Halim hanya bisa mematung di tempat duduknya. Dia merasa menyesal karena telah berbohong tentang pekerjaan Niram kepada sang kakak.

__ADS_1


Namun, Halim tidak dengan sengaja melakukan semua itu. Halim terpaksa berbohong demi kebaikan semuanya. Dia tidak mau kakak dan kakak iparnya menjadi bersedih, karena mendengar keadaan Niram yang sama sekali belum bisa mendapatkan pekerjaan.


"Maafkan Halim, Ceu!" Hanya itu yang keluar pelan dari bibir Halim.


__ADS_2