Tobatnya Primadona Malam

Tobatnya Primadona Malam
Pingsan


__ADS_3

Sebuah pukulan telak, mendarat tepat di rahang kanan Togar. Pria sangar yang tangannya dipenuhi tato kalajengking itu, seketika terjengkang ke belakang. Sedetik kemudian, Togar kembali berdiri dan menatap heran kepada rekannya.


"Eh, brengsekk lu! Kenape lu mukul gue, Dan?" teriak Togar, tak terima dengan sikap Hamdan yang sudah berani memukulnya.


"Elu yang brengsek, Bang! Kanape juga lu sentuh ntu bocah!" Hamdan balas berteriak seraya menunjuk Niram yang duduk meringkuk, mendekap kedua kakinya.


"Lah, siapa yang mau nyentuh itu bocah," elak Togar, tersenyum sinis.


"Udah deh, Bang. Lu enggak usah ngelak begitu. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, kalau lu mau nyium tuh gadis. Bener, 'kan?" desak Hamdan.


"Sotoy, lu!" tukas Togar. "Kalaupun iya, apa urusannya sama elu!" ketus Togar, membuang napasnya dengan kasar.


"Gila lu, Ban! Harusnya lu berterima kasih sama gue. Kalau mamih tahu kelakuan lu di belakangnya, lu bisa langsung digorok, Bang!" ucap Hamdan, geram.


"Halah ... terserah lu!"


Togar mendengus kesal. Sedetik kemudian, dia pun pergi dari kamar tempat Niram disekap.


Setelah rekannya menghilang dari balik pintu, Hamdan mendekati Niram. Dia berjongkok di hadapan Niram seraya menekukan salah satu kakinya.


"Makanlah!" ucap Hamdan, menyodorkan piring yang dibawa Togar tadi.


Niram menggelengkan kepalanya. "A-aku tidak mau ma-makan," ucapnya terbata.


Hamdan hanya bisa menghela napas. "Makanlah, atau kamu bisa kehilangan tenaga untuk esok hari," ucap Hamdan.


"To-tolong ke-luarkan a-aku dari sini. A-ku mohon ..." pinta Niram seraya mengatupkan kedua tangannya.


Hamdan hanya bisa menatap gadis itu dengan tatapan iba. Sejujurnya, dia merasa kasihan setiap melihat gadis baru yang dibawa para makelar untuk dijual di tempat ini. Namun, pekerjaan Hamdan memaksa dia untuk berbuat tega. Bertindak tanpa mengenal rasa.


"Jangan mempersulit diri sendiri. Makanlah!" tegas Hamdan seraya berdiri.


Tak lama kemudian, Hamdan mengayunkan langkahnya ke luar dari kamar penyekapan.


.


.

__ADS_1


Di lain tempat.


"Serius, Bapak sudah bawa duitnya?" tanya Imas.


"Iya, semuanya 650 juta!" seru Sukma di ujung telepon.


"E-enam ra-ratus li-ma pu-luh juta?!" pekik Imas, "banyak sekali, Pak!" imbuhnya sembari membulatkan kedua bola matanya.


"Iya. Kalau lu kagak percaya, lu datang aja ke rumah. Bapak masih di jalan. Baru pulang dari Bank," lanjut Sukma.


"I-iya, Pak. Sekarang juga, Imas jalan ke rumah Bapak," pungkas Imas sembari menutup teleponnya.


650 juga? Astaga ... berapa nol-nya, tuh? batin Imas menyeringai.


.


.


Di kediaman Lila.


"Iya, Oma. Ahsan memang masih libur kuliah, tapi Ahsan masih punya tugas di rumah," jawab Ahsan menolak halus tawaran Lila.


Natasya mendekati Ahsan seraya berkata, "Lu seriusan mau pulang?"


"Serius, Sya. Besok gue ada janji nganterin suaminya si Mbok ke THT. Gue enggak enak kalau harus ingkar janji," jawab Ahsan.


"Ya sudah, hati-hati di jalan," lanjut Natasya.


Ahsan mengangguk. Dia kemudian berpamitan kepada Lila.


"Oma, Tasya anterin Ahsan ke depan dulu ya," izin Natasya.


"Iya, Nak," balas Lila. "Hati-hati di jalan Nak Ahsan!" pesannya.


Natasya dan Ahsan berjalan beriringan. Membuat wanita tua itu tersenyum melihat pemandangan di hadapannya.


Sungguh, jika saja ada takdir jodoh di antara mereka, tentunya mereka akan menjadi pasangan yang serasi, pikir Lila.

__ADS_1


.


.


Suasana di malam hari yang begitu terang benderang dan ramai, membuat tubuh lemas Niram bergerak. Dengan sisa kekuatan yang masih dimilikinya, Niram berdiri mendekati pintu.


Di atas pintu tersebut terdapat sebuah bovenlis. Niram mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sesuatu yang bisa dia jadikan pijakan untuk melihat suasana di luar lewat bovenlis tersebut.


Tiba-tiba, pandangan Niram terkunci pada kursi rias. Dengan gontai, Niram melangkahkan kaki mendekati meja rias.


Tak ada tenaga untuk mengangkat kursi tersebut. Sejak pagi, selain sarapan dan segelas teh hangat, Niram belum menyentuh makanan apa pun lagi. Makanan yang tadi siang disuguhkan, kini sudah sedikit berlendir. Sehingga tidak layak dikonsumsi. Karena itu Niram memutuskan untuk tidak memakannya. Niram pun hanya bisa mendorong kursi tersebut dengan perlahan.


Sedikit demi sedikit, Niram terus mendorongnya. Hingga pada akhirnya, kursi itu pun menyentuh daun pintu. Perlahan, Niram mulai naik ke atas kursi tersebut. Dia begitu penasaran dengan kegaduhan yang bersumber dari luar ruang penyekapannya.


Sedikit berjinjit, kedua tangan Niram berpegang pada sisi bawah bovenlis. Kelap-kelip lampu berwarna-warni, membuat Niram membelalakkan matanya untuk melihat apa yang terjadi di luar sana. Dentuman musik tidak jelas iramanya, samar-samar mulai terdengar di telinga Niram.


Gadis berhijab itu semakin penasaran dengan suasana di luar. Terlebih lagi saat dia melihat puluhan wanita berdandan cantik, dan berpakaian kurang bahan, berlalu lalang di depan kamarnya.


Sepertinya, ada banyak kamar berjejer di hadapan ruang penyekapan Niram. Dan yang lebih membuat Niram semakin heran. Ada banyak pria yang keluar masuk kamar-kamar tersebut. Dimulai dari pria berdasi dan memakai jas, ataupun pria yang hanya mengenakan jaket saja. Namun, di antara pria-pria yang Niram lihat, satu per tiganya, pria-pria itu telah berumur.


Niram bergidik ngeri tatkala melihat wanita muda memasuki sebuah kamar yang berada tepat di hadapannya. Wanita itu berjalan memasuki kamar dengan seorang pria yang terlihat sudah tua. Dan yang lebih membuat bulu kuduk Niram meremang, pasangan yang lebih pantas disebut ayah dan anak itu melakukan perbuatan tidak senonoh di ambang pintu.


"Astaghfirullahaladzim ..." gumam Niram sembari turun dari atas kursi.


Untuk sejenak, Niram berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang, mencoba mencerna satu per satu apa yang baru saja dia lihat.


Gemerlap lampu berwarna-warni, dentuman musik yang begitu keras, dan hingar bingarnya suasana malam di tempat ini, seperti sebuah tempat untuk berpesta. Tapi pesta untuk merayakan apa? pikir Niram.


Perlahan, Niram melangkahkan kakinya menuju ranjang. Dia mulai duduk mematung di tepi ranjang.


Wanita-wanita berbalut bahan seadanya. Pria-pria paruh baya yang memasuki kamar. Sepasang insan yang bercumbu di luar kamar. Erangan dan lenguhan panjang yang saling bersahutan. Membuat dadanya memanas dan bergemuruh.


Mungkinkah ini sebuah tempat untuk bermaksiat? Di mana para pria hidung belang melampiaskan hasrat yang bukan pada tempatnya.


Erangan kuat di kamar sebelah semakin membuat kepala Niram hampir pecah. Dia tidak pernah menyangka akan berada di tempat terkutuk seperti ini.


Tidak!Tidak!" teriak Niram yang mulai merasakan tubuhnya semakin lemas. Di detik selanjutnya, Niram terjatuh dan tak mampu melihat dan mendengar apa pun lagi.

__ADS_1


__ADS_2